Home » Han Suk Kyu » Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 21 – 1

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 21 – 1

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 21 – 1, bercerita tentang Guru Kim yang kedatangan mantan kekasihnya dan sang mantan kekasih datang dengan membawa pasien HIV untuk dioperasi. Manager Jang, dr Song dan In Bum tidak setuju mengenai hal itu, karena mengoperasi pasien HIV akan menimbulkan banyak akibat bagi rumah sakit mereka. Berbeda dengan In Bum, Dong Joo dengan senang hati menjadi asisten Guru Kim dalam operasi, yang dia khawatirkan hanyalah kondisi pergelangan tangan Guru Kim yang belum sembuh total.

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 21 – 1

sumber gambar dan konten dari SBS

Manager Jang menerima surat untuk Dong Joo dan dr Nam. Tak membuang waktu lama, diapun langsung menyampaikan pada kedua dokter tersebut. Manager Jang begitu penasaran dengan isi dua surat itu, namun kedua dokter itu sama-sama enggan membukanya di depan Manager Jang, mereka memilih pergi ke tempat sepi.

Di ruangannya Dong Joo membuka suratnya, namun belum sempat dia membaca seluruh isi surat Seo Jung masuk. Reflek Dong Joo langsung menyembunyikan suratnya dan pergi ke ICU.

Dari Manager Jang, Seo Jung tahu kalau surat yang Dong Joo baca tadi dari USA. Manager Jang juga menambahkan kalau dr Nam juga mendapatkan surat dan dia mendapatkan surat dari MA. Mendengar itu, suster Oh menebak-nebak, apa surat itu adalah hasil litigasi medis dr Nam.

Dr Nam sudah berada di ruang loker dan dia masih belum membuka suratnya karena takut. Kita kemudian mendengar suara suster Oh yang bercerita, “Itu sekitar 7 tahun yang lalu. Seorang anak usia 10 tahun meninggal di meja operasi. Dia mengalami fraktur suprakondiler siku. Dan dia meninggal karena emboli lemak. Orang tuanya menggugat Dr. Nam, mengatakan itu kesalahan anestesi. Dia kalah dalam persidangan pertama, tapi putusan itu dibatalkan dalam sidang kedua. Jadi, itu dibawa ke Mahkamah Agung.”

Dr Nam membuka suratnya dan dia langsung bernafas lega ketika melihat keputusan MA yang membatalkan bandingnya.

“Tepat setelah kejadian itu, ia berhenti dari pekerjaannya di RS Geodae….dan ia mulai bekerja sebagai freelancer. Kemudian ia datang ke Rumah Sakit Doldam…atas saran Presiden Yeo. Setelah itu, Dr. Nam membawa Guru Kim ke sini. Dan Guru Kim yang membawaku ke sini,” sambung suster Oh dan Manager Jang mengaku kalau suster Oh yang membawa manager Jang ke RS Doldam, namun suster Oh membantah, dia berkata kalau manager Jang yang mengikutinya.

Suster Oh lalu berkata kalau Guru Kim jugalah yang membawa Seo Jung ke RS Doldam dan Seo Jung lah pasien pertama yang Guru Kim operasi di RS Doldam.

Flashback!
Guru Kim menggendong Seo Jung yang tak sadarkan diri ke RS Doldam, tapi karena tak ada dokter yang bertugas malam itu, jadi Guru Kim lah yang mengoperasi Seo Jung dengan bantuan dr Nam, sebagai dokter anestesinya dan juga suster Oh.
Flashback End!

“Itu adalah awal…dari karir Guru Kim dan aku di Rumah Sakit Doldam,” ungkap suster Oh mengingat semuanya.

“Ada awal dalam segala hal,” ucap Seo Jung bernarasi.

Dong Joo membaca suratnya dan terlihat sedikit kecewa, tanpa Dong Joo sadari, Yeon Hwa mengintip apa yang dia lakukan. Sepertinya Yeon Hwa masih menyukai Dong Joo.

“Dan ada sebab dan motivasi….dalam semua awal.”

Guru Kim keluar ruangannya dan tepat disaat itu ada seorang wanita masuk ke lobi RS Doldam.

“Itu bisa jadi aku…atau orang lain. Setelah itu dimulai, itu menciptakan arah dalam hidup. Dan melalui perjalanan, itu menciptakan suatu bentuk kehidupan. Awal dari segalanya. Apakah ada sesuatu yang lebih kuat… daripada itu?” sambung Seo Jung dan kita melihat Guru Kim terkejut dengan kedatangan wanita itu.

Lampiran = Awal dari segalanya


Dengan terbata-bata Guru Kim bertanya kenapa dan bagaimana bisa wanita itu datang ke RS Doldam. Si wanita mengaku tahu tentang Guru Kim akhir tahun lalu, karena Guru Kim berhasil melakukan operasi penggantian jantung buatan.

Tepat disaat itu Manager Jang hendak ke lobi dan dia melihat pertemuan Guru Kim dan wanita itu.

Guru Kim dan si wanita sudah berada di ruangan Guru Kim. Melihat Tape dan kaset Madona, si wanita pun memutarnya. Saat ditanya kapan si wanita kembali ke Korea, si wanita menjawab sudah 3 atau 4 tahunan. Melihat Guru Kim membuat kopi sendiri, si wanita berkomentar kalau Guru Kim banyak berubah, dia bahkan sekarang punya kebiasaan membuat kopi. Si wanita juga mengaku kalau dulu dia sedikit kerepotan jika mengajak Guru Kim kencan, bahkan si wanita sampai bisa membuat makalah tentang hal tersebut. Guru Kim tertawa mendengar sikapnya dulu.

Melihat Guru Kim tertawa, si wanita kembali berkomentar kalau Guru Kim dulu tak pernah tertawa seperti itu. Guru Kim lalu bertanya apa alasan si wanita datang, karena dia sangat yakin kalau si wanita datang bukan karena ingin menemui Guru Kim.

Si wanita lalu menjawab kalau dia punya pasien orang Korea keturunan China mempunyai pheochromocytoma. Dia didiagnosis itu saat dia dirawat karena hipertensi ganas. Jadi tujuan si wanita menemui Guru Kim karena dia ingin Guru Kim yang mengoperasi pasien itu, sebab si pasien juga positif terkena HIV. Mendengar itu Guru Kim langsung terkejut.

Semua pegawai RS Doldam usia muda berkumpul di ruang staf untuk makan mie instan, hanya Dong Joo yang tak makan, dia hanya fokus dengan bukunya. Melihat Dong Joo terus terlihat murung, Seo Jung pun bergumam kalau dia penasaran dengan apa yang terjadi dengan Dong Joo. Eun Tak lalu memberitahu Seo Jung kalau Dong Joo terus bersikap seperti itu sepanjang hari. Yeon Hwa menambahkan kalau di siang hari Dong Joo membaca beberapa surat dan setelah itu sikapnya jadi seperti itu. Yeon Hwa bertanya apa mungkin isi surat itu adalah kabar buruk?

Diberitahu tentang surat, Seo Jung pun teringat ketika Dong Joo menyembunyikan sebuah surat darinya dan dia juga ingat pada ucapan Manager Jang yang mengatakan kalau Dong Joo mendapat surat dari AS.

Baru saja Seo Jung hendak memakan mie-nya, seorang suster masuk dan mengatakan kalau ada seorang wanita mengunjungi Guru Kim dan wanita itu benar-benar cantik. Tak hanya para dokter muda yang di beritahu tentang kabar tersebut, manager Jang juga memberitahu suster Oh tentang hal tersebut.

loading...

Penasaran dengan si wanita, Seo Jung dan yang lain langsung pergi ke ruang Guru kim untuk melihatnya. Bahkan Dong Joo dan In Bum juga ikut pergi. Namun mereka semua tak bisa melihat wajah si wanita dengan jelas, karena si wanita berdiri membelakangi mereka semua. Tepat disaat itu, In Bum, Dong Joo, suster Oh dan Manager Jang mendapat sms dari Guru Kim yang menyuruh mereka semua datang ke ruang Presdir Yeo.

Mereka semua dikumpulkan untuk membicarakan mengenai pasien yang didiagnosa positif HIV, namun harus segera di operasi. Tekanan darah si pasien sangat tinggi, jadi kalau dia tak segera di operasi akan sangat membahayakan nyawanya. Mendengar itu manager Jang langsung menolak hal tersebut dan penolakan itu di dukung oleh Presdir Yeo.

“Kita takkan lakukan operasi terbuka. Ini akan melalui laparoskopi. Kita akan pakai pelindung, dan kita akan ekstra hati-hati. Tidak akan ada masalah,” jelas Guru Kim dan In Bum juga menyatakan tak kesetujuannya pada rencana Guru Kim, karena akan ada banyak efeknya. Namun Guru Kim tetap bersikeras melakukan operasi demi pasien tersebut, walau Dong Joo mengingatkan Guru Kim kalau tangan Guru Kim sekarang masih belum pulih 100 %. Yang hanya Guru Kim perlukan sekarang hanyalah persetujuan Presdir Yeo sebagai pimpinan rumah sakit.

Seo Jung sudah berada di ruang staf, dia menunggu In Bum dan Dong Joo selesai rapat. Saat sendiri, Seo Jung melihat surat yang membuat Dong Joo murung dan diapun langsung melihat isinya. Melihat alamat pengirim yang tertera di amplop, Seo Jung pun terlihat bingung.

Guru Kim kembali ke ruangan kerjanya dan memberitahu mantan kekasihnya kalau dia bisa membawa pasiennya besok pagi ke RS Doldam. Setelah itu, mereka baru akan memutuskan tanggal operasinya.

Manajer Jang terus menggerutu tentang ketidak setujuannya mengenai operasi itu dan dia meminta suster Oh untuk membicarakannya lagi dengan Guru Kim. Namun Suster Oh tak mau, karena menurutnya keputusan Guru Kim tak salah, selain itu Presdir Yeo juga sudah setuju.

Sama seperti Manager Jang, In Bum juga menyarankan pada Dong Joo untuk menghentikan operasinya, dengan alasan kalau pergelangan tangan Guru Kim belum sembuh. Mendengar itu, Dong Joo menyarankan pada In Bum untuk menggantikan Guru Kim, karena In Bum lebih baik dalam laparoskopi ketimbang Dong Joo.

“Kau bercanda? Aku takkan melakukan operasi itu. Itu hal terakhir yang ingin aku lakukan,” jawab In Bum dan kemudian duduk. Dong Joo ikut duduk dan mengambil posisi di samping Seo Jung. Melihat Seo Jung melamun, Dong Joo pun memanggilnya dan bertanya kenapa? Namun dia hanya menjawab kalau dia merasa lelah. Bahkan dia tak terlalu menanggapi tentang keinginan Guru Kim yang mau mengoperasi pasien HIV. Dengan alasan ingin istrirahat, Seo Jung pun pulang. Tapi di ruang loker, Seo Jung kembali merenung seperti sedang memikirkan sesuatu dan itu membuatnya sedih.

Keesokanharinya, semua pegawai terlihat kecewa karena rumah sakit mereka akan mengoperasi pasien HIV, berita itu juga sampai ke telinga dr Song. Pasien yang terjangkit HIV datang dan semua orang menatapnya dengan tatapan sinis, sehingga mantan kekasih Guru Kim langsung membawa si pasien ke ruangan Guru Kim. Melihat si wanita, dr Song langsung berkata, “Apa itu Lee Yeong Jo?”

Mendengar itu, manager Jang langsung menghampiri dr Song dan bertanya apa dr Song kenal dengan wanita itu dan dr Song mengiyakan, karena mereka satu universitas. Yeong Jo adalah dokter bedah seperti dr Song.

“Dia itu pekerja keras. Aku dengar, dia ke luar negeri untuk bekerja dengan Dokter Tanpa Batas,” jelas dr Song yang kemudian menambahkan kalau dulu Guru Kim dan Yeong Jo adalah pasangan terkenal. Semua orang terkejut mendengar fakta itu.

Suster Oh kemudian mendapat telepon dari Guru Kim yang menyuruhnya datang. Di ruangannya, Guru Kim baru selesai memeriksa tekanan darah si pasien yang mencapai 220/120. Karena tekanan darah yang sangat tinggi, jadi Guru Kim pun berkata kalau si pasien harus segera dioperasi. Guru Kim kemudian meminta suster Oh untuk memeriksa lap OP dan menyiapkan ruang operasi.

Saat hanya berdua, Guru Kim memberitahu Yeong Jo kalau kondisi pasien lebih parah dari yang dia duga, jika ada semburan pembuluh darah di otak, tak akan ada harapan lagi untuk mereka. Yeong Jo tahu hal itu, tapi dia tetap berterima kasih pada Guru Kim karena mau menerima si pasien.

Guru Kim menemui In Bum dan Dong Joo, tak seperti biasanya dimana Guru Kim yang menunjuk asisten, kali ini Guru Kim ingin asisten yang bersedia sendiri untuk membantu. In Bum langsung pura-pura tak mendengar dan Dong Joo langsung berkata kalau dia yang akan melakukannya.

Setelah Guru Kim pergi, In Bum mengingatkan Dong Joo kalau dia akan terinveksi HIV jika nanti terjadi kesalahan. Namun dengan yakin Dong Joo menjawab kalau dia percaya, tidak akan ada yang salah dalam hidupnya.

Dong Joo menghampiri Seo Jung dan bertanya apa dia membuat salah, karena Dong Joo merasa Seo Jung cuek padanya, namun Seo Jung menjawab tidak. Walaupun mengatakan tidak ada masalah, tapi sikap Seo Jung masih berasa cuek pada Dong Joo, bahkan Seo Jung pergi begitu saja ketika In Soo memanggilnya.

Pasien HIV menelpon anaknya dan dia berbicara dengan bahasa China. Kebetulan Yeon Hwa lewat dan dia mendengar percakapan si pasien. In Bum muncul dan bertanya pada Yeon Hwa dengan siapa si pasien bicara, Yeon Hwa pun menjawab kalau pasien sedang bicara dengan putrinya dan sepertinya sang putri tidak tahu dengan penyakit ibunya.

Guru Kim memberi penjelasan pada Dong Joo dan dr Nam mengenai operasi yang akan mereka lakukan sebentar lagi. Guru Kim juga sudah melepas gips pada tangannya. Seorang suster datang dan mengatakan kalau pasien sudah berada di ruang operasi. Ketika Dong Joo dan dr Nam hendak ke ruang operasi, Manager Jang dan dr Song muncul menghalangi. Mereka menyebut Guru Kim melakukan semua itu demi mantan kekasihnya, jadi mereka meminta Guru Kim untuk memikirkannya sekali lagi demi kebaikan rumah sakit.

Yeong Jo yang mendengar hal itu langsung muncul dan dengan marah berkata kalau mereka tidak mengoperasinya maka si pasien akan mati menderita. Melihat ketegasan Yeong Jo, dr Nam terlihat senang. Suster Oh yang hendak ke ruang operasi pun berhenti sejenak untuk mendengar apa yang Yeong Jo katakan.

Dia sendiri paham, kalau mengoperasi pasien HIV memang sangat menakutkan, tapi yang lebih menakutkan adalah prasangka mereka masing-masing.

“Aku tak bisa menyalahkanmu untuk berhati-hati dengan bahaya yang tidak diketahui. Tapi jika kau mengabaikan tugasmu… karena hal itu, bukankah itu lebih buruk? Jangan anggap ini sebagai situasi yang harus dihindari. Tetapi, lihatlah ini dari perspektif yang lebih besar. Aku mohon padamu,” ucap Yeong Jo dan dr Nam memutuskan untuk langsung ke ruang operasi karena pasien sudah menunggunya. Ketika dia berpapasan dengan Yeong Jo, dr Nam berkata kalau mereka akan saling menyapa lagi nanti setelah operasi.

Tepat disaat itu Seo Jung menerima telepon dan diapun langsung memberitahu Guru Kim kalau ada pasien luka tembak. Pasien yang dimaksud datang dan petugas 119 berkata kalau pria itu tertembak ketika berburu babi di hutan, jadi alat yang di gunakan adalah senapan.

Luka pasien sudah sangat parah, ada sekitar 20 peluru yang masuk. Guru Kim kemudian menyuruh Eun Tak untuk melakukan CT Scan dan membawa pasien ke ruang operasi. Yeong Jo melihat dari luar dan dia terlihat ikut panik.

Bersambung

 

loading...
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *