Home » Han Suk Kyu » Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 19 – 2

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 19 – 2

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 19 – 2, bercerita tentang Dong Joo yang akhirnya tak marah lagi pada Guru Kim setelah dia mendengar cerita dari dr Nam, kalau orang yang sudah menyelamatkan masa mudanya adalah Guru Kim. Ya, Guru Kim lah yang sudah menanggung semua kerugian yang Dong Joo sebabkan karena dia mengamuk di IGD RS Geodae. Selain itu, Guru Kim juga mendapat bukti tentang operasi bayangan yang di lakukan Direktur Do.

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 19 – 1

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 19 – 2

sumber gambar dan konten dari SBS

Dr Song membuat pengumuman kalau semua staf yang ikut operasi akan di undang oleh Direktur Do. Eun Tak bertanya apa Guru Kim akan ikut dan dr Song menjawba kalau Guru Kim tak akan datang walau di undang. Mendengar itu, Eun Tak pun berkata kalau dia tak akan datang karena Guru Kim tak datang. Yeon Hwa yang tak ikut berpartisipasi dalam operasi juga ikut Eun Tak keluar.

Dr Song tak terlalu mempermasalahkannya karena hanya In Bum, Seo Jung dan Dong Joo lah yang menjadi tokoh utama dalam operasi itu. Sebelum ketiganya menjawab akan datang atau tidak, In Soo bertanya tentang dirinya. dr Song pun menjawab kalau selagi mereka semua keluar rumah sakit, maka In Soo lah berjaga di IGD. Tentu saja In Soo hal itu langsung membuat In Soo kecewa.

Dong Joo kemudian berkata kalau dia tidak ikut karena ada pasien yang harus dia urus. Seo Jung juga berkata hal yang sama karena dia harus mengawasi Ketua Shin. Melihat Dong Joo dan Seo Jung keluar ruangan, In Bum juga ikutan dan dia mengaku tak bisa ikut ke Seoul karena merasa kalau ayahnya tidak akan suka jika dia datang sendirian kesana.

Istri dari pasien yang perutnya tertusuk pecahan kaca, lagi-lagi melakukan protes pada pegawai IGD. Sekarang masalahnya adalah dia tak terima suaminya di letakkan di ruang hybrid setelah operasi. Dia merasa suaminya di abaikan. Dia tak mau mendengar penjelasan suster Oh yang berkata kalau mereka tidak mengabaikan si pasien, mereka meletakkan pasien di ruang hybrid karena mereka kekurangan ranjang di ruang ICU. Masih tak puas dengan penjelasan suster Oh, si isteri pun minta dipanggilkan Dong Joo.

Seo Jung menghampiri Dong Joo dan bertanya apa dia sudah berbaikan dengan Guru Kim. Karena Dong Joo masih diam, Seo Jung pun mengerti dan kemudian mengganti topik obrolan. Dia memberitahu Dong Joo kalau tadi ibunya menelpon dan Seo Jung yang mengangkatnya. Mendengar Seo Jung ngobrol banyak dengan ibunya, Dong Joo pun sedikit merasa senang, terlihat dari ekspresi wajahnya yang tak lagi murung.

Tepat disaat itu suster muncul dan memberitahu kalau ada pasien yang kejang-kejang. Itu adalah pasien yang Dong Joo operasi sebelum pasien luka tusuk kaca. Kebetulan Guru Kim juga ada di ruang ICU, namun dia hanya melihat Dong Joo dan Seo Jung menangani pasien. Karena pasien adalah pencadu alkohol, maka dia mengalami delirium tremens.

Kondisi pasien masih belum stabil dan Dong Joo mengajak si istri bicara. Dia menjelaskan kalau pasien mengalami delirium tremens karena dia pencandu alkohol, sekarang pihak rumah sakit sedang mengatasinya dengan obat-obatan, namun jika pasien terus begitu, dia bisa gagal jantung. Sang istripun meminta Dong Joo untuk menyelamatkan hidup suaminya, walau si suami bukanlah suami yang baik, tapi dia tetap tidak bisa hidup tanpanya.

Tepat disaat itu istri pasien yang tertusuk kaca datang dan protes pada Dong Joo, karena meletakkan suaminya di IGD, bukan di ruang ICU. Dong Joo menjelaskan kalau mereka kekurangan tempat tidur di ICU, selain itu kondisi si pasien juga sudah membaik setelah di bedah. Jadi tak akan lama lagi si pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, namun si istri tak mau tahu, dia ingin suaminya segera di pindahkan ke ruang ICU.

Istri dari pasien yang mengalami delirium tremens yang sudah geram dengan istri dari pasien kena pecahan kaca, langsung ikut bicara. Dia menyebut istri dari pasien kena pecahan kaca sudah sedikit kelewatan, karena pasien kena pecahan kaca sudah membuat suaminya dioperasi dengan terburu-buru dan sekarang dia sekarat di ruang ICU. Namun istri dari pasien kena pecahan kaca tak terima, dia menyalahkan pasien delirium tremens yang sudah membuat pasien kena pecahan kaca jadi terlambat di operasi.

Dong Joo berusaha menengahi dan dia memberi penjelasan pada istri pasien pencandu alkohol karena dia sudah salah paham. Dengan nada kesal dia berkata kalau dia tak pernah tidak berhati-hati dalam membedah. Tak hanya kesal pada si istri pasien pencandu alkohol, Dong Joo juga berkata dengan kesal pada istri dari pasien tertusuk kaca. Dia mengatakan padanya kalau yang menentukan urutan siapa yang gawat adalah dokter.

Namun si istri tak mengerti, dia tetap meminta suaminya dipindahkan ke ruang ICU, kalau tidak dia akan menuntut RS Doldam.

Tepat disaat itu, suster keluar dan memberitahu Dong Joo kalau pasien gagal jantung. Dong Joo pun langsung masuk dan ternyata di dalam sudah ada Guru Kim yang memberikan CPR pada pasien. Dong Joo mengambil alih dan dia menggunakan alat paju jantung untuk mengembalikan detak jantung pasien, namun dia gagal, pasien tak terselamatkan.

Dong Joo keluar dan mengatakan pada istri pasien kalau Lee Dong Soo sudah meninggal. Masih tak bisa menerima hal itu, si istri pun berkata, “JIka kau memang tak akan menyelamatkannya.. kenapa kau mengatakan dia harus dibedah? Jika kau membedahnya dengan baik… suamiku tidak akan mati.”

Dengan suara lemas, dia meminta Dong Joo untuk mengembalikan suaminya. Tak terima dengan pernyataan itu, dengan nada tinggi Dong Joo menjawab kalau Tuan Lee meninggal bukan karena pembedahannya, melainkan akibat alkohol. Dia meninggal akibat delirium tremens. Seo Jung kemudian keluar dan membawa istri pasien untuk menemui suaminya.

Dong Joo kemudian melihat ke arah istri pasien kena pecahan kaca dengan nada sinis berkata kalau suaminya sekarang sudah bisa di tempatkan di ruang ICU. Dong Joo pergi dan dari dalam ICU, Guru Kim melihat apa yang dia lakukan.

Guru Kim kemudian menemui Dong Joo diruangannya. Dia bertanya kenapa Dong Joo bersikap seperti tadi? Dengan kesal Dong Joo menjawab kalau semua itu karena istri pasien terus menerus meragukan pembedahannya, padahal dia sudah berusaha semampunya. Selain itu, bukan salah dia kalau ruang ICU penuh dan bukan salah dia juga si pasien banyak minum.

“Kenapa dia menyalahkan pembedahanku? kenapa?!” teriak Dong Joo. “Ya, aku tahu. Kau pasti ingin berteriak padaku seperti itu. Kau hendak mengatakan.. kau tak punya pilihan lain selain keputusan itu terhadap ayahku. Bahwa kau telah berusaha sebaik mungkin sebagai dokter. Karena itu! Aku seharusnya tidak menyalahkanmu. Kemungkinan itu yang sedang kau pikirkan bukan? Aku paham dengan baik. Aku sangat paham dan rasa amarahnya membuatku gila. Aku sangat ingin menyalahkanmu sampai mati… tapi sekarang aku tidak bisa lagi. Karena aku seorang dokter,” ungkap Dong Joo dengan emosi.

Guru Kim kemudian berkata kalau hal yang sering di dengar oleh seorang ahli bedah adalah”Jika kau tidak bisa menyelamatkannya, kenapa kau membedahnya?” dan “Sebelumnya dia baik-baik saja.. tapi setelah di bedah kondisinya memburuk.”

“Yang kita lakukan disini…. adalah menyelamatkan nyawa seseorang, tapi apa boleh buat… kita juga harus menerima keluhan dan disalahkan disaat bersamaan. Bagaimanapun juga… kita memotong orang dengan pisau,” sambung Guru Kim yang kemudian meminta Dong Joo untuk meminta maaf pada keluarga pasien ketika pikirannya sudah jernih. Karena dengan begitu tanggung jawab Dong Joo terhadap pasien selesai.

Dong Joo meneteskan air mata dan kemudian meminta maaf karena dia tak bisa menerima kata-kata itu untuk saat ini. Dong Joo keluar ruangan dan dr Nam yang sepertinya sejak tadi mendengar pembicaraan antara Dong Joo dan Guru Kim, langsung memanggilnya dan mengajaknya bicara.

Sustre ahjumma memberitahu reporter Oh kalau Guru Kim tik melakukan kesalahan apapun dan alasan dia keluar dari RS Geodae karena dia merasa bertanggung jawab.

Flashback!
Guru Kim mengatakan pada Direktur Do kalau dia akan melawan RS, agar Direktur Do dan para petinggi rumah sakit sadar dengan kesalahan mereka sehingga tak mengulanginya lagi. Tentu saja Direktur Do tak mau kalah, dia mengancam Guru Kim dengan mengatakan kalau 7 anggota tim bedah yang membedah untuk Guru Kim yang akan tersakiti. Direktur Do juga memastikan kalau apapun yang Guru Kim lakukan, dia tak akan bisa menyentuh Direktu Do, karena yang akan terluka dan di depak keluar adalah 7 anggota tim bedah itu. Bahkan mereka tidak hanya akan di depak, mereka semua tidak akan diterima oleh RS mana pun.

Mendengar ancaman itu, Guru Kim yang tadinya berani mulai surut dan hanya bisa menahan emosinya. Direktur Do menyuruh Guru Kim untuk pergi dan menghilang karena dengan begituke 7 anggota tim bedah itu akan hidup dengan damai. Dari ketuju anggota tim bedah itu ada dr Song dan juga ahjumma pemilik kedai, karena dia dulu adalah seorang suster.
Flashback End!

Reporter Oh menyimpulkan bahwa alasan Guru Kim pergi dan menerima semua kesalahan karena untuk melindungi ketujuh anggota tim bedahnya.

Kita kembali ke Dong Joo yang bertanya kenapa dr Nam ingin menceritakan masa lalu Guru Kim dan apa hubungan hal itu dengannya. Ya, sama seperti ahjumma penjaga kedai, dr Nam juga sudah menceritakan tentang 7 anggota tim bedah. Dr Nam kemudian berkata kalau sebenarnya bukan hanya 7 anggota tim bedah itu saja yang Guru Kim lindungi saat itu, ada satu orang lagi.

“Pada hari pemakaman Jang Hyun Joo… Seorang anak SMA mendobrak pintu IGD dan membuat kegaduhan. RS meminta ganti rugi pada ibunya… dengan segala jenis aduan termasuk kerusakan properti. Ibu anak itu di tuntut 2 miliar. Mereka bahkan berusaha menjatuhkan hukuman pidana pada anak itu, karena dia sudah berusia diatas 14 tahun… itu bisa saja,” ungkap dr Nam dan kemudian bertanya apa Dong Joo tidak pernah merasa curiga selama ini, setelah membuat kegaduhan sebesar itu, bagaimana semuanya bisa berlalu begitu saja. Dong Joo pun terlihat memikirkan semuanya.

loading...

Kembali ke ahjumma yang berkata kalau saat itu mereka semua tidak ada keberanian untuk mengaku dan mereka pun merasa lega ketika Guru Kim menerima semua kesalahan mereka lalu memutuskan pergi dari RS Geodae.

Reporter Oh bertanya satu pertanyaan lagi, kalau bukan Guru Kim yang mengoperasi semua pasien itu, jadi siapa yang melakukannya dan si ahjumma menjawab Direktur Utama saat ini, Direktur Do.

Mengetahui semua itu, reporter Oh pun teringat kembali perkataan Guru Kim yang berkata “Jika kau tahu kebenarannya… apa kau memiliki keberanian mengungkapkanya pada dunia?”

Dia juga teringat perkataan Direktu Do yang berkata, “Mari buat dunia ini… menjadi sebuah tempat yang adil.”

Guru Kim masuk ruangannya dan di atas meja kerjanya sudah tergeletak sebuah amplop yang berisi berkas tentang “Daftar orang yang melakukan bedah bayangan.” Di dalam amplop itu juga ada catatan bedah yang sesungguhnya dari pasien yang mereka operasi, termasuk catatan bedah milik Jang Hyun Joo.

Melihat semua itu, Guru Kim langsung menghubungi reporter Oh dan bertanya, “ada apa dengan semua ini.” Reporter Oh menjawab kalau itu adalah data pasien yang dibedah oleh ahli bedah bayangan. Bahkan catatan tentang orang-orang yang disuap oleh RS Geodae sebelum mereka di tuntut juga ada disana. Batas waktu untuk menuntut perkaranya sudah habis, jadi Guru Kim tak bisa menuntut Direktur Do, tapi dia masih bisa menjadi senjata berguna untuk melawan Direktur Do.

“Selamat atas kembalinya dirimu. Sampai jumpa,” ucap Repoter Oh dan menutup telepon lalu pergi dari RS Doldam.

Dalam berkas itu juga ada catatan kecil dari reporter Oh yang berisi, “Walau aku tidak bisa memberitahu kebenarannya pada dunia…. aku ingin memberikan ini kepada orang yang harus tahu kebenarannya.”

Disisi lain, Dong Joo menangis menyadari semua yang Guru Kim lakukan untuknya. Dia kemudian pergi ke UGD dan menemui istri dari pasien yang kena tusuk kaca. Berbeda dari sebelumnya dimana dia marah-marah, kali ini Dong Joo meminta maaf atas perbuatannya yang tadi. Seo Jung melihatnya dari dalam ruang ICU.

“Tetapi… Aku harap Anda tahu satu hal ini. Semua pasien di RS Doldam setara dengan yang lain. Para dokter disini lebih tulus daripada orang lain… menyangkut keselamatan nyawa pasien,” tambah Dong Joo dan si istri pasien langsung berkata kalau dia tak pernah menyebut Dong Joo tidak tulus. Namun melihat Dong Joo meminta maaf seperti itu, istri pasien jadi tak enak sendiri dan memilih pergi.

Dari dalam ruang ICU, Seo Jung berkata kalau Dong Joo hebat. Tak hanya Seo Jung yang mendengar ucapan Dong Joo dari ruang ICU, Ketua Shin juga ikut mendengarkannya.

Seo Jung turun ke lobi dan disana dia bertemu dengan dr Song yang berusaha mengajak Seo Jung untuk datang ke acara syukuran yang Direktur Do buat. Namun jawaban Seo Jung masih sama, dia tak bisa hadir jika Guru Kim tak hadir. Tepat disaat itu Guru Kim muncul dan bertanya undangan apa? Seo Jung pun menjelaskan undangan dari Direktur Do yang akan menyelenggarakan syukuran atas keberhasilan memasang jantung buatan untuk Ketua Shin. Tapi semua anggota tim bedah tak ada yang mau karena merasa tak enak pada Guru Kim, jadi dr Song meminta Guru Kim untuk memberitahu mereka semua kalau dia merasa tak masalah.

“Lalu kenapa aku tidak diundang? Katamu itu syukuran untuk operasi Ketua Shin. Kepala Ahli Bedah operasi itu adalah aku. Kenapa kau meninggalkan aku?” tanya Guru Kim dan dr Song berkata kalaupun di undang Guru Kim pasti juga menolaknya. Namun Guru Kim menyuruh dr Song untuk mengundangnya dulu, baru setelah itu dia akan menentukan akan datang atau tidak.

“Apa kau bisa datang?” tanya dr Song dan Guru Kim menjawab, “Tentu saja.” Mendengar jawaban Guru Kim, dr Song langsung kaget.

“Yoon Seo Jung, kau juga ikutlah denganku. Ini bagus bisa sesekali pergi ke Seoul. Kau tak masalah kan?” tanya Guru Kim dan Seo Jung menjawab iya dengan ekspresi kaget, karena dia juga tak menyangka Guru Kim akan menerima undangan itu. Guru Kim kemudian menemui Suster Oh untuk mengajaknya.

Kebetulan semua staf RS Doldam sedang berkumpul di IGD, jadi Guru Kim mengumumkannya disana bahwa dia menerima undangan dari Direktur Do. Guru Kim mengajak Suster Oh, dr Nam, In Bum dan juga manager Jang. Sedangkan untuk urusan IGD bisa diserahkan pada In Soo dan Yeon Hwa dengan ahli bedah dr Song.

“Yaa, Kang Dong Joo… Kau juga… akan ikut pergi bersama kami kan?” tanya Guru Kim pada Dong Joo.

“Ya… aku akan ikut… Jika Dokter pergi… aku juga akan ikut pergi,” jawab Dong Joo dan dr Nam bersorak kalau semua itu hal yang bagus karena mereka bisa jalan-jalan ke Seoul. Semua orang yang mengetahui ketegangan antara Guru Kim dan Dong Joo ikut merasa lega karena sekarang mereka sudah baikkan kembali. Dong Joo sudah tak marah lagi pada Guru Kim.

Dr Song masuk ruangannya dengan perasaan bingung. Dia bingung harus mengatakan semua itu pada Direktur Do atau tidak. Tak mau kena marah, dia pun memutuskan untuk tidak mengatakannya.

Suster Oh menemui Guru Kim di ruangannya dan bertanya apa yang akan Guru Kim lakukan jika dia pergi ke Seoul.

“Apa lagi? Hal yang tidak dapat kulakukan 14 tahun yang lalu. Aku akan melakukannya kali ini,” ucap Guru Kim.

Guru Kim dan rombongan tiba di RS Geodae. Guru Kim datang dengan membawa berkas dari reporter Oh.

Direktur Do yang tak tahu akan kedatangan Guru Kim, sedang menyapa tamu yang datang. Tepat disaat itu dr Song menelpon dan Direktur Do bertanya keberadaannya. Namun dr Song tak memberitahu yang sebenarnya, dia hanya berkata kalau mereka sebentar lagi sampai. Saat di tanya apa maksudnya dengan “mereka”, dr SOng tak bisa menjawab, dia mengeluh sakit perut dan kemudian menutup telepon.

Para reporter yang datang mulai mengambil gambar Direktur Oh dan salah satu dokter yang datang lalu bertanya kapan para pegawai dari RS Doldam akan datang. Direktur Oh pun menjawab kalau dia dikabari bahwa mereka sebentar lagi sampai.

Mata mereka semua kemudian menunjukkan keterkejutan ketika melihat kedatangan Guru Kim. Direktur Do menghampiri Guru Kim dan bertanya kenapa dia datang dan dengan santai Guru Kim menjawab kalau dia harus datang karena ini adalah acara syukuran untuk operasi pergantian jantung buatan.

Guru Kim kemudian mengatakan pada semuanya kalau merekalah pahlawan dalam operasi itu dan dia tersenyum pada Direktur DO.

Flashback!
“Kau tahu apa hal paling sulit didunia? mengalahkan dirimu sendiri,” ucap Reporter Oh pada Direktur Do.

“14 tahun yang lalu, Bu Yong Joo adalah seorang pengecut,” ucap Guru Kim pada reporter Oh di telepon.

“Sebenarnya… dia hanya tak tahu bagaimana caranya menang,” ungkap reporter Oh pada Direktur Do.

“Dia tetap diam saja,” sambung Guru Kim.

“Dia tak ingin membuat alasan apapun,” sambung reporter Oh.

“Dia melarikan diri,” sambung Guru Kim.

“Dia mengira itulah caranya dia bisa bertanggung jawab,” ungkap reporter Oh pada Direktur Do setelah mengetahui semuanya. Namun Direktur Do tak mengerti apa yang reporter Oh katakan.

Reporter Oh tak menjelaskannya lebih detail, dia hanya memberitahu Direktur Do kalau mulai sekarang, semuanya akan terasa sulit bagi Direktur Do.
Flashback End!

Direktur Do bertanya pada Guru Kim tentang maksud kedatangannya, apa Guru Kim mau melawannya sekarang?

“Kenapa? apa kau gugup?” tanya Guru Kim dengan tatapan serius.
bersambung

loading...
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *