Home » Han Suk Kyu » Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 15 – 2

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 15 – 2

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 15 – 2, bercerita tentang Dong Joo yang memperlihatkan keahlian menjahitnya hampir sama dengan Guru Kim. Bahkan karena kepandaian yang Dong Joo punya saat ini, Guru Kim pun jadi tak perlu masuk ruang operasi untuk mengatasi operasi yang In Bum kacaukan. Untuk kisah romance-nya sendiri, pada episode ini kita akan melihat tingkah lucu Seo Jung dan Dong Joo yang berusaha menutupi hubungan mereka didepan manager Jang, saking tak maunya di ketahui kalau mereka saling suka, mereka bahkan sampai membuat drama pertengkaran di IGD. Di akhir episode Ketua Shin memutuskan untuk tetap dioperasi walau dia mengidap kanker paru-paru stadium akhir.

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 15 – 1

Sinopsis Romantic Doctor, Teacher Kim Episode 15 – 2

sumber gambar dan konten dari SBS

Dong Joo bertanya apa In Bum benar-benar pernah melakukan distal pancreatectomy dan dengan yakin In Bum mengiyakan. In Bum bertanya balik apa Dong Joo mengira dia sedang berbohong? Dong Joo pun mengingatkan In Bum kalau In Bum sebelumnya sudah berbohong mengenai boerhaave. Mendengar itu, semua orang yang ada di ruang operasi itu pun langsung melihat ke arah In Bum dan In Bum sendiri enggan membahas hal itu. Dia langsung memulai distal pancreatectomy-nya dengan melakukan diseksi terlebih dahulu. Namun baru memulai diseksi, In Bum sudah terlihat bingung dan langsung minta suster untuk menelpon dr Song lagi.

Dr Song masih bersama Guru Kim dan tak ingin Guru Kim mengetahui kalau terjadi masalah di ruang operasi, dr Song hendak pergi dan mengangkat telepon In Bum di luar. Namun Guru Kim tak membiarkannya keluar, dia menyuruh dr Song mengangkat teleponnya. Mendengar dr Song berkata kalau itu dari nomor tak dikenal, Guru Kim pun langsung merebutnya. Dr Song tak bisa berkata-kata lagi, saat Guru Kim tahu kalau itu adalah telepon dari In Bum.

In Bum langsung terkejut dan tak bisa bicara saat mendengar Guru Kim yang mengangkat teleponnya. Karena In Bum tak mau bicara, jadi Dong Joo lah yang menjelaskannya.

“Saat ini Dr. Do In Beom tengah melakukan distal pancreatectomy,” ucap Dong Joo.

“Tetapi?” tanya Guru Kim dan Dong Joo menyuruh In Bum yang menjelaskan sendiri tentang masalahnya.

“Aku telpon untuk bertanya…..apakah kau harus melakukan diseksi pada spleen-nya juga,” ucap In Bum dan Guru Kim menyuruh dr Song yang menjawab karena In Bum hendak bertanya pada dr Song.

“Tentu, tentu. Kau harus melakukan diseksi pada itu. Kenapa? Apa ada masalah?” tanya dr Song dan In Bum menjawab kalau dia kesulitan mengelupas arteri spleen-nya. In Bum takut arterinya akan ikut terpotong. Mendengar itu, Guru Kim pun menyuruh dr Song masuk ke ruang operasi untuk mengatasinya.

Dr Song sudah berada di ruang operasi dan dengan percaya dirinya, dia menunjukkan keahliannya melakukan Spleen-preserving distal pancreatectomy. Namun saat dia hendak menyelesaikan semuanya, tiba-tiba darah muncrat ke wajahnya. Melihat itu, Dong Joo berkata kalau sepertinya arteri spleen-nya terluka. Panik, dr Song langsung berusaha mencari sumber darah dan mencoba menghentikan pendarahan.

Tahu akan terjadi masalah lagi di ruang operasi, Guru Kim pun sudah berganti pakaian operasi dan bersiap masuk ruang operasi. Namun dia tak langsung masuk, dia hanya berdiri di depan pintu dan mengamati apa yang terjadi di dalam ruang operasi.

Melihat dr Song tak begitu bisa menangani pasien itu, Guru Kim pun langsung pergi mencuci tangannya. Ketika dr Song hendak mengangkat spleen-nya, Dong Joo mencegahnya. Melihat apa yang Dong Joo lakukan, Guru Kim menghentikan langkahnya. Dia berdiri di depan pintu dan Dong Joo sedang mencari sesuatu. Setelah mencari-cari, Dong Joo menemukan splenic artery-nya ada robekan. Jadi, kalau mereka hanya menjahit dibagian itu saja, maka spleen-nya masih bisa diselamatkan.

“Apa aku boleh melakukannya?” tanya Dong Joo dan In Bum tak bisa terima, karena itu adalah operasinya. Dong Joo pun menyuruh In Bum yang melakukannya, jika dia yakin bisa melakukannya. Mendengar itu, In Bum terdiam.

“Jika terjadi sesuatu yang salah….Kang Dong Joo, kau yang bertanggung jawab. Apa kau tetap mau melakukannya?” tanya dr Song.

“Kau sungguh konsisten. Hal pertama yang kau cari adalah seseorang untuk disalahkan,” jawab Dong Joo.

“Berhenti bicara omong kosong. Jadi kau akan melakukannya atau tidak?” teriak dr Song dan Dong Joo langsung meminta loupe. Dr Nam pun mengikuti keputusan Dong Joo, dia memasangkan loupe-nya pada Dong Joo. Hanya suster Oh masih terlihat ragu, tapi setelah dia mendapatkan persetujuan dari Guru Kim, suster Oh pun membiarkan Dong Joo melakukannya.

“Fokus….,” ucap Dong Joo sebelum memulai jahitannya. Mendengar itu, semua tim medis RS Doldam yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arah Dong Joo. Ya, mereka semua tahu kalau itu adalah gaya Guru Kim dan Dong Joo menirunya. Dong Joo mulai menjahit dan dia menjahit dengan sangat cepat, hampir sama dengan Guru Kim.

Bagaimana Dong Joo bisa melakukannya? Ternyata setelah dia melihat guru Kim menjahit, Dong Joo diam-diam belajar sendiri dan setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Dong Joo berhasil menjahit dengan kecepatan yang dia inginkan.

Karena itulah, Dong Joo percaya diri untuk menjahit splenic artery-nya yang terbilang sulit, bahkan dr Song dan In Bum tak mampu melakukannya. Melihat kemajuan pesat Dong Joo, Guru Kim pun tersenyum dan dia langsung menurunkan tangannya. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang operasi dan mempercayakan semuanya pada Dong Joo. Selesai menjahit, dengan bangga Dong Joo memberitahu dr Song kalau spleen-nya sekarang baik-baik saja dan bertanya apa dia yang harus menutupnya juga.

Dr Song dan In Bum keluar ruang operasi dengan kesal, saking kesalnya mereka sama-sama melempar masker dan penutup kepala ke tempat sampah dengan kasar. Dong Joo kemudian memanggil In Bum dan bertanya sampai kapan In Bum akan berbohong di meja operasi? Namun In Bum tak mau mengaku kalau dia sudah melakukan kesalahan, dia beranggapan melakukan simulasi melalui video sudah sama dengan melakukan operasi sungguhan. Kesal, Dong Joo pun berkata pada In Bum kalau dia akan mengajukan masalah kebohongan In Bum itu pada komite kedokteran kalau In Bum melakukannya lagi.

Tak terima dengan apa yang Dong Joo katakan, In Bum langsung memukulnya. Tentu saja Dong Joo tak terima dipukul dan dia pun membalasnya. Mereka berdua berkelahi di depan staf rumah sakit yang lainnya. Melihat itu, suster Oh memanggil Tuan Goo dan memintanya untuk melerai kedua dokter tersebut. Tentu saja hal itu adalah hal yang mudah bagi Tuan Goo, karena tuan Goo punya tubuh dua kali lipat dari mereka berdua.

Kabar tentang pertengkaran Dong Joo dan In Bum sampai ke telinga Seo Jung. Tapi suster yang ikut operasi lebih memilih untuk membahas tentang Dong Joo yang terlihat keren di ruang operasi tadi dan menurutnya, hal itulah yang membuat In Bum kesal pada Dong Joo.

“Kang Dong Joo keren..? Apa yang terjadi?” tanya Seo Jung penasaran.

“Dia melakukan angiorrhaphy, tapi…Rasanya seperti Guru Kim hadir di tempat itu. Dia terasa benar-benar mirip seperti Guru Kim,” jawab si suster dan Eun Tak menyetujui pendapat itu, dia bahkan mempraktekkan bagaimana Dong Joo mengatakan fokus lalu mulai menjahit setelah itu bilang, “potong”.

“Apa Kang Dong Joo meniru Guru Kim?” tanya Seo Jung tak percaya.

“Bukan hanya meniru. Dia sehebat Guru Kim,” jawab Eun Tak.

“Tekniknya tidak sehebat Guru Kim, tapi…mereka mirip,” tambah suster Oh.

“Apa-apaan? Dia selalu marah pada Guru Kim karena sangat arogan,” ucap Seo Jung dan suster Oh berkata kalau sepertinya Dong Joo selalu belajar sesuatu ketika dia sedang marah. Menurut Suster Oh juga, seseorang akan jadi lebih dekat setelah mereka bertengkar.

“Jadi, mereka ada di mana?” tanya Seo Jung dan mereka berdua sekarang sudah berada di ruang Guru Kim. Guru Kim bertanya apa lagi masalah mereka sekarang, sehingga membuat mereka berkelahi seperti itu. Dong Joo tak mau menjawab jadi In Bum langsung memberitahu Guru Kim kalau alasan dia marah karena Dong Joo mengambil alih operasinya. Mendengar itu, Dong Joo pun hanya tersenyum sinis. Guru Kim lalu bertanya pada Dong Joo apa tak ada yang mau dia sampaikan dan Dong Joo menjawab tak ada, karena tak ada yang mau Dong Joo katakan, Guru Kim pun menyuruhnya keluar.

Di luar, Dong Joo bertemu dengan Seo Jung. Dia membahas tentang Dong Joo dan In Bum yang berkelahi lagi seperti anak kecil. Dong Joo pun membela diri dengan berkata kalau In Bum yang mulai, jadi dia pun membalasnya.

“Kalian seumur. Kalian bisa jadi teman akrab. Kalian berdua orang yang sangat susah…..makanya kalian tak punya banyak teman,” ejek Seo Jung.

“Apa maksudmu? Aku punya banyak teman,” ralat Dong Joo.

“Benarkah? Mungkin itulah mengapa semenjak kau pindah ke RS Doldam…..tak ada yang sama sekali menjengukmu,” ucap Seo Jung dan Dong Joo berkata kalau semua itu karena teman-temannya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

“Sunbae sendiri tak punya banyak teman, ‘kan,” ledek Dong Joo dan Seo Jung langsung menjawab kalau dia punya teman.

“Suster Eom, Dr. Jung, Perawat Park… Dan terkadang aku dan Suster Oh bersama Dr. Nam… …kami bertiga minum bir bersama. Mereka semua temanku,” tambah Seo Jung.

“Ah… Mereka semua temanmu.”

“Eum.”

“Kalau begitu para burung dan pohon di halaman belakang RS…..juga merupakan temanmu,” ejek Dong Joo.

loading...

Tak mau berdebat Seo Jung pun memutuskan pergi, namun Dong Joo mencegahnya dengan berkata kalau Seo Jung tak boleh pergi begitu saja, karena Dong Joo terluka akibat di pukul In Bum. Dengan manjanya, Dong Joo menunjukkan luka yang ada di pelipisnya. Melihat itu, Seo Jung hanya tersenyum lalu berkata, “Berikan obat pada lukamu. Aku pergi duluan.”

Seo Jung kembali berbalik dan hendak pergi. Namun langkahnya lagi-lagi berhenti karena Dong Joo mengatakan, “sarangheyo.”

Mendengar pernyataan cinta Dong Joo, Seo Jung langsung berbalik dan mengaku kalau kalimat itu begitu menggelikan. Manager Jang muncul dan Dong Joo langsung bersikap tegas pada Seo Jung. Seo Jung juga melakukan hal yang sama, jadi mereka terkesan sedang bertengkar. Namun, semakin mereka berusaha bertengkar, hal itu malah membuat Manager Jang semakin yakin kalau ada sesuatu diantara mereka berdua.

Dalam pertengkaran sandiwara itu, Seo Jung membela In Bum dan menyalahkan Dong Joo. Tak terima Seo Jung membela In Bum, Dong Joo pun menghampiri Seo Jung dan berbisik, ” Apa saat ini kau sedang memihak Do In Beom?”

“Cukup. Mulai saat ini, berhati-hatilah. Ini Rumah Sakit, bukan arena tinju,” ucap Seo Jung dan pergi.

“Mereka sama sekali tidak bisa bersandiwara,” gumam manager Jang ketika DOng Joo dan Seo Jung sudah sama-sama pergi.

Guru Kim bertanya alasan In Bum begitu kesal pada Dong Joo? In Bum menjawab kalau dia dan Dong Joo memang tidak pernah dekat dan tadi Dong Joo sudah menghalangi operasinya, jadi dia merasa kesal.

“Kau tidak jujur padaku. Atau….kau tidak jujur karena….kau tak tahu cara bicara yang jujur?” tanya Guru Kim dan kemudian menyalakan tape-nya. Karena In Bum masih belum bisa mengatakan hal dengan jujur, Guru Kim pun menyuruh In Bum keluar.

Ketika In Bum hendak melangkah keluar, Guru Kim membahas tentang operasi Ketua Shin, jadi In Bum pun berbalik lagi ke arah Guru Kim. Guru Kim memberitahu In Bum kalau dia tak akan melakukan operasi Ketua Shin, karena Ketua Shin mengidap kanker paru-paru stadium akhir. Dia sengaja memberitahu semua itu pada In Bum, agar In Bum bisa memberitahu ayahnya.

“Apa maksudmu..?” tanya In Bum pura-pura tak paham dengan perintah Guru Kim untuk mengatakan semua itu pada direktur Do.

“Itu alasanmu ada di sini, ‘kan. Dan itu juga alasan mengapa kau ingin bergabung tim bedahku. Kau tahu itu? Dibanding batu yang bundar….aku lebih memilih batu yang memiliki sisi. Jika kau batu dengan sisi….itu artinya kau punya gayamu sendiri….dan pemikiranmu sendiri. Aku ingin melihat batu  dengan sisi berhadapan…..dengan alat pahat batu. Aku tak ingin yang bundar dan membosankan. Mendorong batasku….aku ingin menjadi lebih baik….dengan keyakinan dan kepercayaanku. Aku sempat mengira bahwa…..kau salah satu dari orang-orang itu. Pada hari itu, kau melakukan sesuatu…..yang tak perlu kau lakukan,” ucap Guru Kim

“Menurutku itu bukan hanya keberanianmu dibawah bayangan Ayahmu. Kukira kau melakukannya hanya untuk pasien yang dalam bahaya. Dan kau tidak begitu buruk,” ungkap Guru Kim ketika dia pertama kali melihat In Bum mengoperasi.

“Jadi aku memintamu untuk berada di pihakku, tapi…”

“Tapi?” tanya In Bum penasaran.

“Sepertinya…..aku salah mengenai dirimu. Beritahu Ayahmu soal itu. Ketua Shin tak akan dioperasi di RS kami. Jadi…dia tak perlu gelisah tentang itu lagi. Dan aku rasa…..sebaiknya kau pergi dari RS Doldam,” jawab Guru Kim dan In Bum terlihat kecewa mendengarnya, sampai-sampai dia seperti akan menangis.

Tak membuang waktu lama, In Bum langsung menelpon ayahnya dan memberitahunya tentang apa yang Guru Kim katakan, kalau Guru Kim tidak akan mengoperasi Ketua Shin karena Ketua Shin mengidap kanker paru-paru stadiun akhir. In Bum kemudian bertanya apa dia sudah diperbolehkan pergi dari RS Doldam, namun Direktur Do tak mengiyakan. Dia menyuruh In Bum untuk tetap di RS Doldam sampai situasinya sudah pasti. Tentu saja keputusan sang ayah membuat In Bum bingung, karena disisi lain Guru Kim menyuruhnya pergi, sedangkan sang ayah tak mau menerimanya kembali.

Putri Ketua Shin terlihat sedih melihat meja kerja sang ayah. Tak lama kemudian Direktur Do masuk dan mengungkapkan rasa simpatinya pada putri Ketua Shin karena kondisi Ketua Shin. Dia juga mengaku tahu kabar tersebut dari mata-matanya yang dia letakkan di RS Doldam.

Ketua Shin bertanya pada Guru Kim, tentang apa yang seharusnya dia lakukan sekarang? dan Guru Kim menjawab kalau pada situasi seperti sekarang ini, seorang dokter hanya bisa melakukan apa yang diputuskan pasien, selain itu dokter tak bisa melakukan apa-apa lagi. Ketua Shin bertanya lagi tentang apa yang akan terjadi jika dia memutuskan untuk tetap menjalani operasi.

“Aku berniat memperbaiki jantung Pimpinan….dan terus menerus meminta uang  dengan alasan untuk menyelamatkanmu. Untuk awal, rencanaku akan gagal,” jawab Guru Kim bercanda.

“Dasar brengsek ini…Di saat seperti ini, kau masih bisa bercanda?”

“Kami tidak bisa meyakinkanmu atau menentukan….apakah jantung atau paru-parumu…..yang akan berhenti duluan, Ketua.”

“Jika….aku memutuskan untuk melakukan operasi itu?” tanya Ketua Shin.

“Bedah mengganti jantung buatan….juga memiliki tingkat resiko yang tinggi,” jawab Guru Kim dan Ketua Shin bergumam kalau tak satupun dari pilihan yang harus dia pilih adalah hal yang bagus.

Seo Jung menyapa Direktur Yeo dan ternyata Direktur Yeo sedang bersama dengan manager Jang. Melihat Manager Jang, Seo Jung jadi langsung terlihat tak nyaman, namun dia tak bisa langsung pergi.

Kesempatan itu pun digunakan manager Jang untuk menggoda Seo Jung dengan membahas tentang Dong Joo. Manager Jang berkata kalau Dong Joo adalah tipe pria yang bisa menjadi suami dan pacar yang baik. Tak nyaman dengan obrolan itu, Seo Jung pun langsung memutuskan pergi.

Pergi dari manager Jang, Seo Jung langsung menelpon Dong Joo dengan panik. Dia berkata kalau sepertinya manager Jang sudah tahu semuanya. Tanpa Seo Jung sadari, ternyata Dong Joo sudah berada di belakangnya dan tentu saja itu membuat Seo Jung terkejut.

“Maksudku, dia sepertinya curiga pada kita. Dia bicara hal yang aneh dengan Direktur Yeo. Sepertinya dia mungkin telah menyebarkan rumor aneh di RS ini,” ucap Seo Jung dan saking paniknya, dia lupa menurunkan ponselnya.

“Lalu?” tanya Dong Joo dengan tersenyum dan kemudian menurunkan ponsel Seo Jung dari telinganya.

Sebelum semua orang termakan oleh rumor yang disebar oleh manager Jang, Seo Jung menyarankan agar dia dan Dong Joo bertengkar saja. Tanpa keduanya sadari, Manager Jang melihat mereka berdua dari lantai atas.

Tak membuang waktu lama, Dong Joo dan Seo Jung pun langsung ke IGD dan bertengkar disana. In Soo yang merasa bersalah atas masalah yang sedang mereka perdebatkan, terus berusaha menghentikan pertengkaran mereka, namun Seo Jung dan Dong Joo tak menggubrisnya.

dr Nam berkata pada suster Oh kalau Seo Jung dan Dong Joo selalu saja bertengkar setiap kali mereka bertemu. Suster Oh pun mengiyakan. Tepat disaat itu manager Jang muncul dan berkata kalau pertengkaran mereka berdua hanyalah sandiwara, karena mereka berdua sedang menyembunyikan fakta kalau mereka pacaran. Namun dr Nam dan Suster Oh tak percaya dengan apa yang Manager Jang katakan.

“Bagaimana jika aku benar?” tanya Manager Jang.

“Selama satu bulan, kau boleh minum ditempatku gratis,” jawab dr Nam dan manager Jang minta makanannya juga gratis. dr Nam setuju dengan permintaan itu.

“Kenapa kalian berdua bertaruh….pada apakah mereka pacaran atau tidak?” tanya suster Oh dan secara kompak, dr Nam dan Manager Jang menjawab karena hal itu seru.

Tepat disaat itu, semua dokter mendapat sms dari Guru Kim untuk berkumpul di ruang dokter. Setelah semuanya berkumpul, Guru Kim berkata kalau pertemuan untuk operasi Ketua Kim akan ditunda. Semua itu karena hasil pindai CT Ketua Shin menunjukkan kalau Ketua Shin mengidap kanker paru-paru stadiun akhir.

“Mempertimbangkan kondisinya…operasi mengganti jantung buatannya…akan terlalu berlebihan bagi sang pasien. Karena itu, yang kita miliki..,” ucap Guru Kim dan tepat disaat itu Ketua Shin datang.

Di depan semuanya, Ketua Shin berkata kalau dia ingin operasi jantungnya tetap di lakukan seperti rencana awal mereka.

Disisi lain, direktur Do menyarankan pada putri Ketua Shin agar dia menggantikan posisi ayahnya sebagai Ketua. Karena RS Geodae membutuhkan seorang pimpinan yang muda.

“Kau menyebutku pria tua yang serakah….atau bahwa aku pikun. Tetapi… Biarpun hanya untuk satu hari dalam hidupku….aku ingin bernapas dengan nyaman. Lagipula aku akan mati. Tak apa jika aku meminta itu padamu, ‘kan? Bagaimana, Guru Kim?” tanya Ketua Shin.

bersambung

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis romantic doctor episode 15
  • Sinopsis romantic doctor teacher kim episode 15
  • sinopsis romantic doctor eps 15
  • romance doctor teacher kim episode kiss

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *