Home » Kim Ha Neul » Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 2

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 2

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 2, bercerita tentang Do Woo yang mulai bingung tentang cerita ayah Annie, karena Annie dan Hye Won menceritakan hal yang berbeda. Annie berkata ayahnya masih hidup, sedangkan Hye Won berkata kalau ayah Annie sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Namun rasa pusing tentang semua itu langsung hilang jalau Do Woo sudah bertemu dengan Soo Ah. Hmmm… kisah cinta Soo Ah dan Do Woo bener-bener bikin geregetan. Mau tahu bagaimana kisah mereka selengkapnya? YUk baca sinopsis dibawah ini:

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 1

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 2

Sumber gambar dan konten dari KBS 2

Hye Won sudah berbaring dan menutup mata. Do Woo yang masih belum tidur kemudian bertanya apa Hye Won sudah tidur. Tak ada jawaban, Do Woo terus berbicara. Dia mengaku kalau kemarin dia pergi untuk menemui ayah Annie. Tapi orang-orang disana mengatakan tak ada orang seperti ayah Annie. Mendengar itu Hye Won langsung membuka mata dan bertanya, “Bagaimana kau tahu di mana dia?” sampai dua kali bertanya.

Do Woo menjawab kalau dia pernah mengantar Annie ke tempat itu. Mengetahui hal itu, Hye Won semakin terkejut dan kemudian bertanya, “Kapan? Tahun yang berapa? Berapa kali? Apa lagi yang tidak aku beritahukan padaku?”

“Aku minta maaf aku merahasiakannya, Tapi dia tidak meminta banyak. Aku menghormati hubungannya dengan ayahnya,” jawab Do Woo.

“Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau memberikan harapan palsu padanya?” tanya Hye Won dengan nada marah dan Do Woo sendiri tak mengerti kenpa hal itu di sebut memberi harapan palsu. “Apakah kau… Benar-benar ingin mengetahui kebenarannya?” tanya Hye Won dan Do Woo mengangguk.

“Annie tidak tahu di mana dia. Karena dia… Sudah meninggal,” ungkap Hye Won. “Ini sudah lama. Aku mencoba untuk menyembunyikan kematiannya darinya. Aku pura-pura seakan-akan dia masih ada. Aku tahu aku memiliki hubungan buruk dengan dia, Tapi aku tidak pernah mengatakan hal buruk tentang dia pada Annie. Aku bilang dia adalah orang yang baik, seorang seniman yang baik. Aku memberitahunya berkali-kali,” sambung Hye Won dan Do Woo bertanya apa Annie tidak tahu kalau ayahnya sudah meninggal?

Hye Won menjawab kalau Annie bahkan tak tahu siapa ayahnya, karena selama ini, Hye Won selalu berkata kalau ayahnya pergi setelah Annie lahir. Do Woo pun bertanya lagi, kenapa Annie pergi ke sana kalau dia memang tidak tahu?

“Itu tempat khayalannya. Dia selalu membayangkan ayahnya,” jawab Hye Won dan Do Woo bertanya kenapa Hye Won tak mengatakan semua itu dari awal.

“Aku memberitahumu kami tidak bersama-sama lagi. Akan sederhana seperti itu. Jika aku memberitahumu, kau akan berpikir aku masih peduli padanya. Aku tidak peduli dengan dia,” jawab Hye Won dan Do Woo bertanya kapan ayah Annie meninggal.

“Apakah kau menanyaiku? Annie adalah putriku. Aku ingin menjadi lebih baik. Kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama?Untuk siapa kau melakukan ini?Apa baiknya kalau kau mengetahui ini?Apa kau melakukan ini untuk Annie? Atau aku? Atau apa kau melakukan ini untuk dirimu sendiri? Siapa? aku hanya ingin kau menjadi ayah Annie. Itu sebabnya aku tidak membiarkan dia bicara tentang ayah kandungnya. Dia mungkin tidak suka hal itu tentangku, Tapi aku melakukannya karena aku mencintaimu. Dan aku… Akan tetap begitu. Aku lari dari apa yang tidak bisa aku tangani,” ucap Hye Won dan Do Woo ingin mendekat namun di larang oleh Hye Won. “Aku lari dari dia… Dan aku ingin lari dari Annie juga. Aku tidak bisa hidup dengan mengingat mereka. Mari kita jangan pernah menyebutkan… Annie lagi. Sudah aku katakan ini berkali-kali. Sebelum kita mulai melihat satu sama lain, Aku tidak ada… Di dunia ini,” ungkap Hye Won dan pergi.

Hye Won tak pulang, dia pergi ke bar milik Hyun Woo karena disana sudah kosong. Sedangkan Do Woo sendiri, dia terdiam di studionya. Dia kemudian ingat pada pertemuan pertamanya dengan Annie.

Flashback!
Hye Won membawa Annie ke tempat Nyonya Ko dan saat itulah Annie dan Do Woo bertemu. Saat Do Woo bertanya Annie siapa? Hye Won sedikit ragu memberitahunya.

Do Woo sudah bersama Annie di mobil dan Annie dengan bangga mengatakan kalau dia mirip dengan ayahnya. Annie mengaku kalau dia punya mata yang sama dengan ayahnya.
Flashback End!

Do Woo sedih mengingat semuanya, dalam hati dia berkata “Itu semua yang ada di kepalanya? Salah satu dari mereka pembohong…atau berbohong.”

HyeWon kembali masuk studio dan Do Woo sudah tak ada disana, dia sedang mandi. Diam-diam Hye Won mengambil kunci mobil Do Woo dan kemudian mengecek kemana saja Do Woo pergi. Namun dia tak menemukan tempat yang sekiranya Do Woo kunjungi untuk menemui ayah Annie.

Hye Won mengembalikan kunci mobil Do Woo dan dia kemudian berusaha mencaritahunya dari ponsel Do Woo. DI sisi lain, Soo Ah tak bisa tidur. Dia pergi ke taman dan melihat ponselnya. Hye Won berusaha membuka kunci ponsel Do Woo, namun tak bisa. Tepat disaat Hye Won hendak pergi, ponsel Do Woo menyala dan kontak dengan nama “Ibu Hyo Eun” menelponnya. Hye Won mengangkatnya, namun dia tak bicara. Saat Soo Ah hendak mengatakan “hallo”, Hye Won langsung mematikan telepon, karena Do Woo akan keluar dari kamar mandi.

Hye Won turun dan saat di tangga dia baru tersadar kalau dia memegang ponsel Do Woo. Tak bisa langsung pergi dan tak bisa juga kembali ke studio Do Woo untuk mengembalikan ponsel, Hye Won pun akhirnya duduk di bar Hyun Woo sambil minum kopi. Kebetulan Do Woo turun dan melihat Hye Won disana.

Pada Do Woo, Hye Won mengaku kalau dia hanya ingin minum kopi sebentar, lalu pergi ke tempat Gym dan besok dia akan pergi kerja dari sana. Ponsel Do Woo sengaja dia letakkan di meja dan dia memberitahu Do Woo kalau dia tadi mendapat panggilan.

“Siapa yang meneleponmu pada jam segini? ID penelepon menunjukkan dia ibu seseorang,” tanya Hye Won.

“Aku berkomunikasi dengan orang tua dari Malaysia. Setelah mendengar tentang Annie, mereka meneleponku,” jawab Do Woo yang sepertinya bisa menebak kalau orang yang menelponnya tadi adalah Soo Ah.

“Ini Annie lagi. Kau bahkan tidak memperhatikanku ketika aku masih magang. Kau mulai tertarik setelah melihat Annie denganku. Aku rasa aku harus hidup dengan itu,” ucap Hye Won dan hendak pergi.

“Apa kau mengatakan bahwa… Aku menikah denganmu karena Annie? Apa seperti itukah kau menganggapku? Aku sudah memperhatikanmu untuk waktu yang lama. Kau membesarkannya sendiri hanya sebagai nila tambah. Aku tidak akan menikah dengan seseorang karena simpati. Aku tahu segala hal semakin sulit, tapi jangan mempertanyakan cintaku,” jawab Do Woo.

“Mari kita sudahi ini. Seharusnya aku tidak mengungkitnya lagi.”

“Satu hal lagi. Annie… Selalu berterima kasih kepadamu. Dia tahu bahwa… Kau menyerahkan hidupmu untuk membesarkannya. Dia tidak ingin menempatkanmu di tempat yang canggung… Itulah sebabnya kami merahasiakannya. Jadi jangan merasa terlalu tersinggung dengan itu,” ungkap Do Woo dan Hye Won kemudian mengganti topik pembicaraan. Dia membahas tentang Ji Eun yang mengundurkan diri dari bisnis mereka.

“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini…dan aku memikirkannya dalam perjalanan ke sini. Kita harus bertahan. Selamat tinggal,” ucap Hye Won dan pergi.

Soo AH masih berada di tempat yang sama, saat dia hendak kembali, Do Woo menelponnya balik. Do Woo pun mengaku kalau sebelumnya dia menelpon untuk memberitahu Soo Ah, kalau dia kemarin malam berhasil memasukkan bola ke dalam ring dengan jarak 8 meter. Saat Do Woo bertanya Soo Ah dimana, reflek Soo Ah menjawab kalau dia berada di dekat sungai. Tapi dia kemudian meralatnya lagi dengan mengatakan kalau dia berada di balkon rumah yang dari tempat itu bisa melihat sungai.
“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya DO Woo.

“Itu adalah kamarku. Kebanyakan istri tinggal di sini. Di balkon,” jawab Soo Ah dan Do Woo bertanya apa mereka bisa bicara langsung? Karena Do Woo bisa datang kesana. Dengan cepat Soo Ah menjawab tidak, dia beralasan kalau dia harus mengawasi Hyo Eun.

“Sungai Han ada di arah sana, Jadi katakanlah aku menghadap dirimu. Aku ingin serius. Aku mendengar pengakuanmu bagaimana pun juga. Ini terlalu banyak untuk ditangani sendiri. Apakah itu sulit? Terkadang kita saling berbicara…dan berbicara tentang hal-hal yang berguna dan hanya saling menatap. Apakah itu terlalu sulit bagimu? Keberadaanmmu sendiri merupakan bantuan besar bagiku. Aku tidak tahu bahwa seseorang bisa begitu menghibur. Aku berhasil menghibur diriku sendiri sampai sekarang. Aku sangat sombong,” aku Do Woo.

“Ibuku pernah mengatakan sesuatu kepadaku. Dia bilang dia mendengarnya dari neneknya. Sesaat sebelum seseorang meninggal, Mereka meninggalkan sesuatu… Untuk seseorang yang mereka pedulikan. Melepaskan kerinduan. Entah bagaimana mereka menemukan cara untuk meninggalkan sesuatu… Mereka tahu orang yang mereka cintai akan membutuhkannya. Mereka merasakan sesuatu dengan kekuatan misterius mereka. Aku merasa seperti Annie adalah aku sendiri…dan dia juga menyukaiku. Ketika aku jatuh cinta dengan seseorang, Aku melakukannya habis-habisan. Tepat sebelum Annie meninggal, Dia membawa kita bersama-sama…dengan kekuatan misterius. Bagaimana… Ini bisa terjadi? Emosi yang kau katakan terlalu banyak untukmu… Aku minta maaf, Tapi aku sangat membutuhkan mereka. Aku tidak bisa melakukannya tanpa mereka. Mereka adalah hadiah dari putriku,” ungkap Do Woo dan Soo Ah menangis mendengarnya, namun Soo Ah mengaku kalau dia menangis karena angin dari sungai terlalu kuat. Tak sanggup bicara sambil menangis dengan Do Woo, Soo Ah pun menutup teleponnya dan berjanji akan menelpon lagi nanti.

“Sungai? Angin?” mendengar dua hal itu, Do Woo pun memikirkan satu tempat dan diapun langsung mengambil kunci mobil lalu pergi kesana.

Setelah emosinya stabil, Soo Ah kembali menelpon Do Woo dan Do Woo bertanya apa Soo Ah masih berada di balkon? Soo Ah pun mengiyakan. Do Woo sendiri sudah berada di mobil menuju tempat Soo Ah berada.

“Tentang Annie…Terima kasih sudah menganggapnya seperti itu,” ucap Soo Ah.

“Apakah kau merasa sedikit lebih baik?”

“Ya.Setelah aku kembali…dan berkata padamu itu terlalu banyak,Aku pikir itu benar-benar berakhir,” ucap Soo Ah dan Do Woo bertanya apanya yang harus berakhir?

“Bisakah ada… Hubungan seperti itu? Apa kau pikir ini mungkin… Antara seorang pria menikah dan wanita? Apakah ini mungkin?” tanya Soo Ah dan Do Woo mengiyakan. “Aku yakin itu tidak mungkin,” ucap Soo Ah.

“Kita tidak ditakdirkan untuk melakukan hal ini. Itu terjadi secara alami dan kita membutuhkannya. Sekarang, kita hanya perlu menjadikannya mungkin. Tapi, Kedengarannya baik dalam kata-kata, tapi emosi kita…”

“Aku merasa bersalah. Aku tidak yakin aku bisa mengatakan… Itu baik-baik saja atau itu tidak apa-apa,” aku Soo Ah dan Do Woo bertanya apa yang membuat Soo AH merasa bersalah.

“Mencari…dan menyentuh. Menginginkan dan menunggu,” jawab Soo Ah.

“Semuanya karena aku berkata aku akan terbang denganmu.”

“Tiga No. Bagaimana hubunganmu dengan “Tiga No” ini? Ini hanya akan masuk akal dalam hubungan yang aneh. Terlalu banyak hal terlalu buruk. Kita butuh kekurangan suatu hal,” ucap Soo Ah dan Do Woo bertanya kekurangan apa yang harus dimiliki?


loading...

“Menginginkan, Menyentuh…dan meninggalkan,” jawab Soo Ah.

“Apa dengan tidak memiliki ketiganya… Membuatmu merasa lebih baik? Aku akan memikirkannya,” ucap Do Woo dan Soo Ah menambahkan satu hal lagi. Soo Ah ingin agar mereka tidak menentukan seperti apa hubungan mereka itu dan disaat mereka berdua merasa tak yakin, mereka harus berhenti saat itu juga.

“Aku menyukaimu…. Aku mencintaimu…. Aku membencimu…. Kita akan mengatakan semua itu. Bahkan jika kita merasakan sesuatu, Jangan membicarakan tentang hal itu. Biarkan semuanya samar-samar,” pinta Soo Ah, karena dengan begitu hubungan mereka akan berlangsung lebih lama.

“Itulah anehnya motif. Aku akan memikirkannya. Mari kita bicara lagi nanti,” ucap Do Woo dan mematikan ponselnya.

Soo Ah menghela nafas dan bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang sedang aku bicarakan?”

Tak lama kemudian, Do Woo menelpon lagi dan dia bertanya, “Apa yang kau lakukan duduk di sana?” mendengar pertanyaan itu, Soo Ah langsung mencari Do Woo dan ternyata Do Woo ada di belakang dan sedang menuju ke arahnya. “Mari kita lakukan,” ucap Do Woo dan keduanya sama-sama jalan mendekat. Setelah berhadapan mereka secara kompak menutup telepon mereka.

“Masalah ‘Tiga No’ itu. Mari kita lakukan. Hubungan seperti apa itu…dan kenapa aku harus melakukannya… Untuk terus melihatmu… Aku ingin mencari tahu,” ucap Do Woo.

Soo Ah sekarang sudah berada di rumah dan dia hendak memajang kain pemberian ibu Do Woo. Melihat kain itu, Soo Ah pun kembali teringat pada obrolan mereka semalam.

Flashback!
“Mari kita tidak ingin atau membuat janji. Lalu bagaimana kita akan bertemu?” tanya Do Woo.

“Entah bagaimana kita pasti bisa. Dengan berpapasan,” jawab Soo Ah.

“Bagaimana kita pasti bisa dengan berpapasan? Aku benar-benar penasaran. Bagaimana jika kita melanggar aturan tiga hal tidak ini? Aku ingin mencari tahu,” ucap Do Woo dan tersenyum, dia kemudian bertanya apa itu pakaian yang Soo Ah pakai saat di rumah. Mendengar itu, Soo Ah reflek menutup bajunya dengan kardigan.
Flashback End!

Seperti biasa, Soo Ah duduk di teras sambil minum bir. Dia kembali teringat kata-kata Do Woo yang berkata, “Hubungan seperti apa itu… dan kenapa aku harus melakukannya untuk terus melihatmu…”

Soo Ah pun bergumam, “Kenapa aku harus melakukannya untuk terus… Melihatmu…”

Soo Ah makan bersama keluarganya. Mereka semua makan dalam diam, sehingga membuat Hyo Eun bertanya “Kenapa ini terasa begitu canggung?”

Selesai makan, Soo Ah dan Hyo Eun mengantar Jin Suk keluar. Soo Ah kemudian berkata kalau dia akan membeli beberapa pakaian sehingga kau dapat beristirahat di rumah ibunya, namun Jin Suk langsung berkata jangan, karena dia merasa kalau dia tak akan bisa tidur di rumah ibunya.

Do Woo pergi ke pondok kosong dan beristirahat disana. Dia terlihat memikirkan sesuatu, apa yang Do Woo lakukan, juga dilakukan oleh Soo Ah. Dia melamun ketika mengajak Nyonya Kim bertemu dengan Hyun Joo. Mereka bertemu Hyun Joo untuk mendiskusikan jadwal belajar yang tepat bagi Hye Eun.

Untuk membuat Ny Kim senang, Hyun Joo kemudian bertanya apa yang dia makan sehingga bisa membuat dia sehat dan cerdas? Selain itu, Hyun Joo juga mengatakan kalau Ny. Kimpunya kulit yang luar biasa.

“Aku minum teh gugija bukan air. Itu sangat mujarab untuk mata dan kulit. Aku hanya makan buah untuk sarapan dan apa pun untuk makan siang. Untuk makan malam, aku makan sayuran dari berbagai macam warna. Harus berbagai macam warna,” jelas Ny Kim tentang gaya hidup sehatnya. Tepat disaat itu, Soo Ah melihat brosur galeri Ny. Ko dan Soo Ah pun kemudian bertanya padanya tentang apa itu?

“Aku sering bertemu teman-temanku di dekat istana tua. Ada kebudayaan, alam dan makanan yang enak. Aku sering pergi ke sana dan mendengarkan pelajaran. Itu alasan lain kenapa aku tidak pernah menua,” jawab Ny Kim.

Kita beralih pada Do Woo yang sudah bersama Min Suk.
“Kau mengurung diri di sana setiap kali ada sesuatu yang salah. Mari kita peringkas masalahnya. Dia bercerai segera setelah Eun Woo lahir…dan membesarkannya sendirian di tengah banyak kesulitan. Ayah Eun Woo meninggal beberapa tahun yang lalu. Menurut Hye Won. Itu semua benar, Tapi Eun Woo mendapat hadiah dari ayahnya ketika ia berusia tujuh tahun, Mereka bertukar surat, Eun Woo menemukan… Dimana dia bekerja dan kau membawanya ke sana beberapa kali. Itu menurut Eun Woo. Mana yang benar?” tanya Min Suk.

“Entah Annie berbohong tentang… Ayahnya yang tidak ada… atau Hye Won berbohong tentang… seorang pria yang masih hidup atau tak satu pun dari mereka berbohong,” jawab Do Woo.

“Eun Woo benar-benar berencana untuk bertemu ayahnya di sana… dan dia benar-benar mati beberapa tahun yang lalu. Eun Woo benar-benar tidak tahu tentang itu, tapi mereka berjanji untuk… Dengan siapa dia membuat janji?” tanya Min Suk. “Akan masuk akal jika salah satu dari mereka berbohong,” ucap Min Suk yang mulai merasa pusing dengan semua itu.

“Daripada siapa yang berbohong. Aku lebih prihatin jika aku harus…bahkan mencoba untuk mencari tahu,” ungkap Do Woo dengan ekspresi sedih.

Karena Do Woo tak bisa mencari tahu, jadi Min Suk lah yang mencari tahu. Min Suk kemudian mengirim email pada Young Ji. Dia adalah pegawai yang digantikan Hye Won di galeri Ny Ko.

“Bagaimana kabarmu, Young Ji? Aku ingin menanyakan sesuatu. Sebelum kau mengundurkan diri, Kau merekomendasikan Hye Won sebagai pegawai magang berikutnya. Aku ingin melihat formulir pendaftarannya. Dimana itu? Akan lebih baik jika kau bisa mengirim foto kopinya,” tulis Min Suk.

Soo Ah sudah berada di bis dengan membawa brosur galeri milik Ny Ko. Saat melihat brosur itu, Soo Ah teringat pada obrolannya dengan Do Woo tentang bagaimana mereka bertemu. Hmmm… sepertinya Soo Ah menggunakan brosur itu untuk bertemu dengan Do Woo.

Soo Ah sampai di galeri dan Hye Won bertanya apa ada yang ingin Soo Ah tanyakan? Soo Ah pun menjawab tidak, dia berkata kalau dia hanya ingin melihat-lihat.

“Permisi. Apakah kau tahu…,” ucap Soo Ah hendak menanyakan sesuatu pada Hye Won, tapi tepat disaat itu ponsel Hye Won bunyi, jadi Hye Won pun meminta Soo Ah kembali dalam waktu 30 menit lagi, karena Hye Won juga masih menyiapkan segalanya. Soo Ah pun mengiyakan dan kemudian pergi.

Pada orang yang menelponnya, Hye Won bertanya apa dia sudah menyingkirkan barang-barang Annie dari polisi. Ternyata yang menelpon adalah Marrie dan Marri menjawab iya, karena Hye Won yang menyuruhnya melakukan itu. Setelah mendengar jawaban Marrie, Hye Won hanya berterima kasih dan langsung menutup teleponnya. Tapi ternyata Marrie berbohong, dia tidak membuang barang-barang Annie yang dia bawa saat kecelakaan, barang-barang Annie masih ada di rumahnya.

Setelah membaca email dari Min Suk, orang yang bernama Young Ji itu kemudian menelpon Min Suk dan memberitahunya kalau formulir pendaftaran Hye Won ada di gudang.

Karena disuruh menunggu 30 menit, Soo Ah pun memutuskan untuk jalan-jalan dan saat itu dia akhirnya bertemu dengan Do Woo, karena kebetulan Do Woo sedang duduk di sebuah gazebo.

“Kenapa kau di sini?” tanya Soo Ah.

“Apakah ini sebuah kebetulan?” tanya Do Woo.

“Kebetulan kita saling bertemu.”

“Apakah benar-benar itu yang terjadi?” tanya Do Woo tak percaya dan Soo Ah kemudian menghampiri Do Woo. Dia bertanya apa yang Do Woo lakukan di tempat itu? Do Woo pun menjawab kalau dia kadang-kadang bekerja di tempat itu dan juga minum di tempat itu.

“Apakah ini benar-benar kau? Wanita tiga hal tidak?” tanya Do Woo dan beranjak dari duduknya, namun secara reflek Soo Ah langsung mundur. Tepat disaat itu, Man Suk memanggil Do Woo dari jauh. Ntah apa yang di pikirkan Soo Ah, dia malah mengajak Do Woo lari. Bahkan Soo Ah sampai menarik tangan Do Woo. Tapi karena Soo Ah tak tahu jalan, jadi Do Woo yang membawanya pergi. Sebagai penuntun jalan, Do Woo mengubah pegangan Soo Ah ke tangannya menjadi genggaman tangan. Mereka kemudian masuk ke pondok yang biasa Do Woo gunakan untuk merenung.

Do Woo tersenyum melihat Soo Ah dan kemudian dia bertanya kenapa mereka bersembunyi dan Soo Ah menjawab kalau mereka harus bersembunyi saja.

“Kenapa? Kita memiliki tiga hal tidak itu. Apa yang kita lakukan?” tanya Do Woo.

“Aku tidak tahu. Kenapa kita bersembunyi?” jawab Soo Ah.

Bersambung ke sinopsis On The Way To The Airport Episode 6

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis k2 episode 8
  • 3 yang tidak boleh dilakukan dalam on the way to the airport

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *