Home » Kim Ha Neul » Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 1

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 1

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 1, bercerita tentang Do Woo dan Soo Ah yang kembali bertemu di pesawat. Saat mereka bicara empat mata di depan toilet, Joo Hyun melihatnya. Disisi lain, terkuat fakta kalau ternyata Jin Suk adalah mantan pacar Mi Jin sebelum Jin SUk menikah dengan Soo Ah. Tak bisa menahan perasaannya, setiap kali bertemu dengan Do Woo, Soo Ah pun akhirnya memberitahu alasan dia mengenal Do Woo. Semua itu karena Soo Ah ingin memberitahu Do Woo kalau sebelum Annie kecelakaan, Soo Ah sempat bertemu dengannya, tapi Soo Ah tak menyangka kalau akhirnya akan jadi seperti ini. Ingin baca cerita lengkap episode ini? yuk baca sinopsis dibawa ini:

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 4 – 1

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 4 – 2

Sinopsis On The Way To The Airport Episode 5 – 1

sumber gambar dan konten dari KBS 2

Saat mengecek bangku penumpang, Joo Hyun meminta maaf pada Soo Ah, karena dia sudah mengatakan hal yang tidak-tidak tentang istri Kapten Park, padahal Soo Ah ketika itu ada di depannya. Soo Ah mengaku kalau dia sendiri tak mengingat hal itu, jadi Joo Hyun tak perlu meminta maaf padanya.

Soo Ah kemudian pergi ke tempat penyimpanan dan memeriksa ponselnya, disana ada SMS dari Doo Woo yang mengajaknya ketemuan, karena Doo Woo merindukannya. Bingung harus menjawab apa, Soo Ah pun memutuskan untuk me-nonaktifkan ponselnya.

Doo Woo sendiri masih berada di kursi dimana dia terakhir kali ketemuan dengan Soo Ah. Dia memejamkan mata dan membayangkan Annie berada di padang rumput itu dan menunggu seseorang. Annie selalu menunggu di tempat yang sama, karena dia berharap orang yang dia tunggu akan datang. Dia hanya menunggu dan menunggu…

Soo Ah keluar pintu pesawat untuk menerima daftar penumpang dan diapun langsung melihatnya. Bersama Joo Hyun, Soo Ah menyambut para penumpang yang datang. Karena sudah sepi, Joo Hyun pun berkata kalau semua penumpang mereka sudah naik, namun Soo Ah langsung menjawab belum, masih ada satu penumpang yang belum datang.

Menunggu Doo Woo masuk pesawat, Soo Ah pun teringat ketika pertama kali dia dan Doo Woo bertemu, saat itu…. Doo Woo juga datang terlambat untuk naik pesawat. Dia datang dengan berlari. Tapi kali ini, Doo Woo datang dengan berjalan santai. Dia berjalan dengan langkah yang pasti menuju Soo Ah, eh salah… dia menuju pintu pesawat. Melihat Doo Woo, Soo Ah hanya terdiam. Jadi Joo Hyun lah yang bicara dan mempersilahkan Doo Woo masuk dan segera menempati bangkunya.

Hyun Jung keluar rumah Hye Won sambil berkata kalau dia sengaja datang larut malam karena berharap bisa bertemu dengan Doo Woo, tapi Doo Woo malah tak ada di rumah. Hye Won menjawab kalau dia sendiri juga tak bisa menghubungi Doo Woo saat ini. Melihat ekspresi Hyung Jung yang serius, Hye Won pun jadi panik dan bertanya apa hal yang ingin dia katakan pada Doo Woo penting? Dan bisakah Hyun Jung menceritakannya dulu padanya? Namun Hyun Jung menjawab, “nanti saja.”

Hye Won dan Hyun Jung berjalan keluar dan mereka berdua bertemu dengan Nyonya Hong yang sedang berdiri di depan rumah. Nyonya Hong berkata kalau dia sangat menyukai rumah itu, bahkan dia menyukainya sejak dia masih kecil. Nyonya Hong kemudian menemui Nyonya Ko yang masih berbaring di kasurnya dan Ny. Ko berkata kalau seharusnya Ny. Hong tak perlu datang.


“Sakit kepalaku hilang… Setiap kali aku datang ke sini… Dan hatiku bisa tenang. Aku selalu datang kesini saat aku sedang sakit perut. Saat aku datang dan berbaring, Kau akan menyentuh perutku untuk membuatnya merasa lebih baik. Kemudian semuanya akan terasa baik-baik saja. Tanganmu selalu menakjubkan,” ucap Ny Hong dan Ny Ko tertawa mendengarnya. Ny Ko kemudian bertanya apa anak ketiga Ny Hong berusia 1 tahun sekarang? Namun Ny Hong menjawab kalau dia datang bukan untuk membicarakan itu.

Kita beralih pada Hyun Jung yang memberitahu Hye Woo kalau putri sulung putra ketiga Ny Hong akan berusia satu tahun dan karena masalah itulah, dia ingin bertemu dengan Doo Woo.

“Ini penting. Kami sudah menerima bantuan dari rumah ini selama bertahun-tahun,” ucap Hyun Jung dan Hye Won berkata kalau Hyun Jung bisa membicarakan semuanya pada dia. Namun Hyun Jung tak mau karena itu adalah rahasia.

Ny Hong mengaku kalau dia ingin menghentikan Ji Eun dan Do Woo untuk meneruskan bisnis mereka, karena Ny Hong melihat apa yang mereka lakukan dan dia berpikir akan membuatnya menjadi waralaba.

“Aku suka bagaimana hal ini terjadi. Hanya Do Woo yang bisa memikirkan hal seperti itu. Dia menyatukan aset budaya manusia… Untuk menggabungkan kemampuan artistik mereka dengan cara praktis. Kedengarannya bagus,” ucap Ny Hong.

“Ini tentang tumbuh secara alami… Atau meninggal secara alami. Mereka perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Kau seharusnya hanya berdiri dan mengawasi,” saran Ny Ko.

“Tentu saja. Do Woo yang melakukannya,” jawab Ny Hong.

Kita beralih pada Hyun Jung yang mengajak Hye Won untuk membuat merek dengan bantuan Ny Ko dan kemungkinan besar, Do Woo yang menjadi sutradaranya, bahkan Hyun Jung juga sudah mengirim Ji Eun ke Sydney untuk hal itu, karena ada sebuah pameran.

“Ji Eun yakin dia pergi ke sana agar tetep tenang,” ucap Hyun Jung dan Hye Won masih tak mengerti maksud dari membuat merek tersebut. Dia tak tahu itu merek apa dan ada apa juga dengan nama Ny Ko.
Hyun Jung menjawab kalau Ny Hong ingin mempopulerkan nama Ny Ko dan untuk spesifik-nya mereka akan tahu setelah Ny Hong bertemu dengan Do Woo. Selain itu, Ny Hong akan memberitahu hal tersebut melalui Hye Won mulai sekarang dan tentu saja Hye Won kaget mendengarnya, karena dia merasa dia tak tahu apa-apa.

Kita beralih kembali ke pesawat dimana Do Woo terus menatap Soo Ah dan itu membuat Soo Ah tambah merasa tak nyaman. Namun dia berusaha menutupi rasa tak nyamannya itu. Ketika Soo Ah melewati kursi penumpang Do Woo, Do Woo sengaja memanggil Soo Ah dan minta diberikan segelas anggur. Karena tugas seorang pramugari adalah melayani, jadi Soo Ah pun menuangkan anggur itu ke gelas Do Woo.

Saat Soo Ah menuangkan anggur, Do Woo bertanya apa dia bisa meminta bantuan disaat dia dalam keadaan darurat dan tentu saja Soo Ah mengiyakan. Do Woo bisa memanggilnya kapanpun. Soo Ah kembali menuangkan anggur dan secara perlahan tangan Do Woo di naikkan ke atas gelas, sehingga membuat tangan mereka berdekatan.

Setelah menuangkan anggur ke gelas Do Woo, Soo Ah langsung pergi ke ruang penyimpanan dan memasukkan tangnnya ke es lalu menempelkannya ke pipi. Soo Ah berusaha mendinginkan wajahnya yang panas karena tingkah dan tatapan Do Woo. Hadeuy…

Malam tiba, Soo Ah menyalakan lampu di ruang penumpang dan lagi-lagi Do Woo terus menatap ke arah Soo Ah, namun Soo Ah pura-pura tak melihatnya. Tepat disaat itu seorang penumpang memanggil Soo Ah dan Soo Ah pun menghampirinya. Kesempatan itu di gunakan Do Woo untuk memegang punggung Soo Ah karena dia ingin melewati Soo AH. Di sentuh oleh Do Woo, tentu saja membuat Soo Ah bergetar.

Soo Ah hendak langsung pergi setelah membantu penumpang yang memanggilnya, namun Do Woo memanggilnya dengan alasan dia butuh bantuan. Saat Soo Ah berjalan menemui Do Woo dan Do Woo langsung menutup tirai, kebetulan Joo Hyun melihatnya.

Dasar Do Woo, gak ada rasa takutnya. Di pesawat yang banyak orang seperti itu, dia malah mengajak Soo Ah bicara di ruang penyimpanan. Kalau orang melihat pasti akan merasa curiga. Soo Ah merasa tak nyaman hanya berdua dengan Do Woo seperti itu, tapi Do Woo malah asik memandangi wajah Soo Ah. Bahkan tangan Do Woo perlahan-lahan diangkat dan hendak menyentuh wajah Soo Ah, namun tak jadi karena dia sadar apa yang hendak dia lakukan, tak boleh di lakukan.

“Aku tidak percaya aku berlari ke sini… Di tengah-tengah segala hal untuk menemuimu. Berapa lama kau akan berada di Cebu?” tanya Do Woo.

“Aku tidak akan tinggal. Aku segera terbang pulang,” jawab Soo Ah dan ketika ditanya jam berapa pesawatnya berangkat, Soo AH terlihat kebingungan. Dia lupa pada jadwalnya sendiri karena ngeblak.

“Kau tahu bahwa kita berjalan di atas es tipis, Benar, kan?” tanya Do Woo dan kemudian berkata kalau mereka berdua harus kembali bersama-sama. Tepat disaat itu Joo Hyun masuk dan tentu saja Soo Ah langsung kaget. Bersikap biasa saja, Do Woo langsung pamit pergi. Setelah Do Woo pergi, Soo Ah juga pergi, dia pergi tanpa mengatakan apapun pada Joo Hyun.

Joo Hyun kemudian pergi ke ruang loker dan meminta daftar penumpang pada Soo Ah. Tujuan Joo Hyun melihat daftar penumpang adalah untuk mengetahui nama pria yang bicara dengan Soo Ah tadi dan dari daftar itu, dia tahu kalau namanya adalah Seo Do Woo.

Joo Hyun kemudian bertanya apa Soo Ah kenal dengan orang yang bicara dengannya di depan toilet tadi. Mendapat pertanyaan itu, Soo Ah pun menjawab kalau pria itu adalah ayah dari teman putrinya. Joo Hyun bertanya lagi apa ada sesuatu yang buruk terjadi? Karena tadi Soo Ah terlihat serius. Namun Soo Ah tak mau menjawab, dia menyuruh Joo Hyun untuk pergi dengan keranjang bebas bea. Joo Hyun pun mengiyakan karena dia tak bisa membantah Soo Ah, secara Soo Ah adalah seniornya.

Do Woo sudah berada di tempat pembelian tiket dan Soo Ah sudah kembali terbang ke Cepu. Saat melihat kursi yang sebelumnya Do Woo gunakan, Soo Ah pun teringat ajakan Do Woo yang mengajaknya kembali bersama-sama. Kemana Do Woo? Ternyata dia tak ikut terbang bersama Soo Ah, dia masih berada di bandara dan melihat pesawat yang membawa Soo Ah terbang sambil membawa tiket.

Soo Ah sudah berada di bandara dan dia berkata dalam hati, “Dia berkata kita harus kembali bersama-sama, Tapi aku pergi sendirian. Perasaan sendirian menjadi bersama-sama…Menjadi tak tertahankan.”

Mi Jin sudah di bandara Incheon dan bertemu dengan Ji Eun yang hendak pergi ke Sydney. Dia kesana untuk menjalankan tugas bisnis ibunya. Mi Jin kemudian menanyakan kabar Do Woo, karena yang dia dengar putrinya meninggal dunia.

“Dia sangat mencintainya. Mereka benar-benar dekat… Meskipun mereka tidak berhubungan darah,” ucap Ji Eun dan Mi Jin terkejut mendengarnya.

Mi Jin langsung memberitahu Soo Ah tentang hal itu dengan mengiriminya SMS, “Annie bukan putri kandung Do Woo. Aku tahu pria lajang saat aku melihatnya. Aku benar. Jangan merasa terlalu bersalah. Apakah aku orang yang jahat karena mengatakan itu?” isi SMS dari Mi Jin dan setelah mengetahui fakta itu, Soo Ah langsung menelpon Do Woo, namun nomornya tak aktif.

Soo Ah berjalan pergi dan tepat disaat itu, Do Woo menelponnya balik. Nomor Do Woo di ponselnya dia beri nama “Bandara”. Keduanya sama-sama bertanya keberadaan mereka dan mereka sama-sama berada di Bandara. Soo Ah langsung celingukan mencari Do Woo dan ternyata Do Woo berada tak jauh dari tempat dia berdiri.

“Aku harus mengatakan sesuatu,” ucap Soo Ah dan melihat ke arah Do Woo, tapi dia tak memberitahu Do Woo kalau dia melihatnya.

“Dimana kau? Aku akan menemuimu,” ajak Do Woo.

Namun Soo Ah tak menjawab, dia hanya berkata, “Kau memintaku ikut denganmu dan aku tidak mau. Aku merasa seperti aku mengingkari janji. Itu bahkan bukan janji. Rasanya seperti hal yang berantakan. Aku pikir aku terlalu tua untuk ini. Aku tidak bisa menangani hal ini. Aku tidak bisa menangani… Dengan emosiku sendiri. Ini salah. Itu tidak benar.”


loading...

“Apa kau sudah selesai?” tanya Do Woo

 

“Tidak,” jawab Soo Ah dan Do Woo langsung menoleh kesamping dan melihat Soo Ah disana. Do Woo hendak mendekat namun Soo Ah memintanya untuk tidak mendekat, karena Soo Ah ingin bicara dengan posisi seperti itu.

“Aku melihat Annie. Aku melihat dia setelah bertemu Hyo Eun. Dia berada di bandara. Aku menabrak anak itu… Dan dia menjatuhkan kelereng. Itu menggelinding ke arahku. Aku tidak bisa menghentikannya tepat waktu. Dia berlari ke kerumunan dan… Setelah aku naik ke pesawat, Aku melihat nama Eun Woo pada daftar. Jika aku bisa menhentikannya tepat waktu, Aku bisa menyelamatkan putrimu. Pikiran itu sendiri membuatku merasa sengsara. Tapi itu jadi lebih buruk. Ketika aku mendengar bahwa Annie bukan putri kandungmu, Aku berpikir dalam hati. “Mungkin…” “Mungkin tidak apa-apa untuk merasa tidak begitu bersalah.” “Mungkin aku bisa memberitahunya…” “Bahwa aku melihatnya.” Itulah yang aku pikirkan. Aku mencoba untuk mencari-cari alasan dengan kematian Annie. Seperti itulah kita bertemu. Aku sudah mencoba memberitahu diriku sendiri tentang ini, Tapi… Tidak seharusnya seperti ini. Sejak awal, Semuanya… Kaulah… Yang tidak bisa aku hadapi dengan semua ini. Aku sungguh minta maaf,” ungkap Soo Ah dan menutup telepon lalu naik bis.

Do Woo sendiri hanya terdiam mendengar itu semua. Saat mengendarai mobilnya, Do Woo teringat pada ucapan Annie yang berkata, “Melihat matahari terbit adalah tanda keberuntungan. Mari kita pergi melihatnya lagi nanti. Terima kasih ayah.”

Do Woo kemudian menghentikan mobilnya dan mengambil gambar matahari terbit. “Apakah kau melihat…Matahari terbit?” ucap Do Woo dalam hati.

Soo Ah pulang dan mendapati ibu mertuanya duduk di meja makan, ternyata Ny Kim tak bisa tidur sampai pagi karena memikirkan nilai Hyo Eun yang buruk. Ny Kim mengajak Soo Ah membicarakan hal itu, tapi Soo Ah malah menguap, jadi Ny Kim pun menyuruhnya untuk mencuci muka dulu. Di minta cuci muka, Soo Ah malah teringat pada Do Woo yang hampir menyentuh wajahnya dan itu membuat Soo Ah enggan mencuci muka, dia mengaku pada sang mertua kalau dia tak ngantuk, jadi mereka bisa meneruskan pembicaraan mereka.

“Bagaimanapun, kau mendapatkan gaji setiap bulan. Itu adalah keinginanku, untuk menerima gaji setiap bulan. Aku sudah mengatakannya, kau tahu? Aku merasa senang bahwa kau bekerja. Seorang ibu sangat bertanggung jawab untuk nilai bagus di SD. Kau perlu lebih memperhatikan pendidikan anakmu. Kau harus memeriksa PR-nya juga,” ucap NY Kim dan Soo Ah berjanji akan melakukan yang terbaik. Tapi dia kembali teringat pada Do Woo yang menaikkan tangannya ke gelas Wine.

“Aku minta maaf. Apa kata ibu tadi? Keinginan apa yang ibu katakan tadi?” tanya Soo Ah.

“Gaji bulanan,” jawab sang ibu ragu.

“ Aku akan memberikannya kepadamu. Aku akan memberikan gaji bulanan selama enam bulan. Berikan nomor rekeningmu. Aku akan mengirimkannya,” ucap Soo Ah dan Ny Kim terlihat senang mendengarnya dan diapun dengan semangat berkata akan menaikan nilai Hyo Eun mulai sekarang. Selesai bicara dengan Ny Kim, Soo Ah masuk kamat dan melihat Hye Eun masih tertidur pulas.

Min Suk menemui Ny Ko dan setelah Ny Ko meminum obatnya, dia bertanya apa Eun Woo ( Annie ) pernah menyebut ayah kandungnya? Mendengar pertanyaan itu, Ny Ko tertawa kecil lalu berkata kalau Annie pernah mengatakan kalau ayahnya punya tangan yang trampil sama seperti Annie sendiri. Ny Ko pun bertanya balik, dia bertanya alasan Min Suk menanyakan hal tersebut.

“Doh Woo pergi menemui ayah kandungnya,” ucap Min Suk dan Ny Ko bertanya bagaimana Do Woo tahu ke mana harus pergi.

“Dia membatalkan liburnya beberapa kali sebelumnya. Eun Woo ingin bertemu dia, Tapi Hye Won tidak ingin dia bertemu. Itulah sebabnya. Dia tidak bisa menemukan ayahnya,” ucap Min Suk dan Ny Ko beranggapan kalau Annie pasti mendatangi tempat yang salah.

“Aku ragu dengan itu,” ucap Min Suk dan tiba-tiba Ny Ko teringat saat dia mengancingkan baju Annie, saat itu ada seorang pria mengintip mereka. Mengingat hal itu membuat Ny Ko berkeringat. Melihat Ny Ko tak sehat, Min Suk pun tak mau membahasnya lagi. Dia membenarkan tebakan Ny Ko yang berkata kalau Do Woo pasti salah tempat.

Ny Ko kemudian menyuruh Min Suk tinggal di rumahnya, dari pada Min Suk harus bolak balik ke rumah Ny Ko. Tentu saja Min Suk tak mau, dengan alasan dia tak akur dengan Hye Won. Sambil kembali berbaring, Ny Ko berkata kalau dia sangat rindu rumah yang penuh dengan suara-suara, jadi dia minta Min Suk tinggal di tempatnya dan membantu Do Woo. Mendengar permintaan itu, Min Suk hanya menghela nafas.

 

Kemana Do Woo, dia berada di lapangan basket dimana ada anak-anak remaja sedang bermain. Dia duduk di pinggir lapangan dan teringat kembali saat Annie memberitahunya kalau dia mendapatkan sebuah kelereng dari Ny Ko. Do Woo juga ingat pengakuan Soo Ah yang berkata kalau sebelum Annie meninggal, dia sempat bertemu dengannya di bandara dan saat itu Annie menjatuhkan kelerengnya.

Tepat disaat itu, bola basket yang sedang di mainkan anak-anak itu terlempar ke arah Do Woo dan Do Woo menangkapnya dengan santai. Do Woo kemudian berdiri dan melempar bola tersebut ke ring basket dan wow! Bolanya masuk padahal Do Woo berada di luar lapangan. Melihat apa yang Do Woo lakukan, semuanya langsung berdecak kagum.

Soo Ah masuk kamar Hyo Eun dan membawakan susu untuk Hyo Eun, tapi Hyo Eun malah sudah tertidur di meja belajarnya. Dibangunkan, Hyo Eun langsung terperanjat dan kembali belajar. Melihat tingkah anaknya, Soo Ah pun tersenyum dan menyuruhnya tidur. Di suruh tidur, Hyo Eun pun langsung naik tempat tidur dan memejamkan mata.

Tepat disaat itu, Do Woo menelpon, namun tak diangkat oleh Soo Ah. Do Woo pergi ke studionya dan disana sudah ada Hye Won yang menunggunya. Soo Ah datang karena dia tak bisa menghubungi Do Woo, dia pikir Do Woo merasa khawatir karena Ji Eun tiba-tiba pergi. Tapi Do Woo sama sekali tak mengkhawatirkan hal tersebut, karena dia saja tidak tahu kalau Ji Eun pergi. Hye Won kemudian mengaku kalau dia datang untuk membicarakan masalah Ji Eun.

Tapi sebelum bicara, Hye Won meluruskan sofanya sambil berkata kalau dia akan tidur di tempat itu malam ini. Hye Won mengajak Do Woo untuk mengembalikan pernikahan mereka malam ini. Do Woo tak langsung menjawabnya, dia berkata kalau sebaiknya mereka bicara lebih dulu. Namun Hye Won tak mau

“Aku tidak berpikir kau akan sangat senang. Ini hal yang akan kau benci,” jawab Hye Won dan berjalan pergi.

“Ini waktu yang buruk,” gumam Do Woo pada dirinya sendiri.

Hye Won sudah mengenakan pakaian tidur dan membawa beberapa bantal. Dia kemudian menggenggam tangan Do Woo dan berkata, “Kau tahu tentang mimpiku. Mengembalikan Mongyudowondo ke Korea. Apa yang ingin kulakukan adalah… Untuk melindungi nilai-nilai lama… Dan membuatnya lebih berharga. Jangan pernah lupakan itu. Suatu hari, kau akan memahamiku.”

“Hye Won,” panggil Do Woo dan Hye Won tiba-tiba langsung mencium dan memeluknya. Hye Won mencium Do Woo dengan penuh nafsu tapi Do Woo hanya diam saja.

Ya, karena orang yang sedang ada di pikiran Do Woo sekarang adalah Soo Ah. Dimana Soo Ah sekarang sedang minum bir sendirian sambil menatap langit. Tepat disaat itu, Jin Suk menelpon dan meminta Soo Ah untuk menjauhkan nilai-nilai Hyo Eun dari ibunya. Soo Ah pun berjanji akan menyembunyikannya secepat yang dia bisa mulai sekarang.

“Juga….. aku sudah tiba,” ucap Jin Suk.

“Apa?”

“Aku sudah tiba. Kenapa ? apakah itu aneh?” tanya Jin Suk bingung.

“Yah… Kau tidak pernah mengatakan kepadaku hal-hal ini. Jadi aneh,” jawab Soo Ah dan Jin Suk kembali mengatakan kalau dia sudah tiba lalu menutup teleponnya. Sendirian di kamar, Jin Suk kemudian membuka kontak telepon Mi Jin.

Mi Jin sedang bersama Ji Eun di kamar hotel ketika Jin Suk menelponnya dan tak di angkat oleh Mi Jin.

“Segala hal tidak berjalan baik denganku. Aku harus pergi dan merusak segalanya dengan Dh Woo,” aku Ji Eun dan bertanya apa yang sedang Mi Jin lakukan, Mi Jin hanya menatap aneh pada ponselnya. Mi Jin pun menjawab tidak ada apa-apa dan meletakkan ponselnya di meja.

“Aku datang tanpa memberitahu Do Woo. “Ibuku memberitahuku untuk mengakhirinya denganmu. Maaf.” Bagaimana aku bisa mengatakan itu?” keluh Ji Eun dan tepat disaat itu, bel pintu mereka berbunyi. Ji Eun hendak membukanya, namun di larang oleh Ji Eun. Setelah mengetahui kalau orang yang datang adalah para junior Mi Jin, diapun membolehkannya untuk membuka pintu. Hmmm… Mi Jin mengira kalau orang yang datang adalah Jin Suk.

Yang datang adalah Eun Joo dan dia mengajak Mi Jin untuk minum bir bersama, karena kata Soo Ah ada tempat bir yang enak di tempat itu. Mendengar itu, Mi Jin langsung menyarankan agar mereka tak pergi kesana, karena kalau mereka ke sana, hidup mereka akan jadi berantakan. Eun Joo dan temannya pun pergi.

Setelah mereka pergi, Ji Eun langsung tertawa dan bertanya apa yang Mi Jin katakan tadi adalah tentang dirinya sendiri? Dan Ji Eun mengatakan kalau dia masih ingat betul dengan apa yang Mi Jin katakan saat dia mabuk.

“Kau bilang kau bertemu mantan pacarmu di tempat bir,” ucap Ji Eun dan Mi Jin mencoba membantahnya.

“Kau begitu mabuk dan menceritakan semuanya. Dia tinggal sepertiga tahun di rumahmu, Tiga tahun di negara lain… Dan sepertiga terakhir… Dengan gadis-gadis di seluruh dunia. Kemudian dia menikah dengan temanmu. Kau mengatakan dia brengsek… Yang mendapatkan kepercayaan diri dengan bantuan wanita,” ucap Mi Jin.

“Lupakan masa laluku yang mengerikan,” pinta Mi Jin.

“Tentu saja. Aku tidak akan memberitahu siapa pun,” janji Ji Eun yang kemudian bertanya siapa orang itu? Apakah seorang pramugari? Dengan cepat Mi Jin menjawab kalau orang itu bukan pramugari.

Ternyata Jin Suk adalah mantan pacar Mi Jin dan sekarang dia sudah berada di bar. Dia terus melihat ke arah ponselnya.

bersambung

loading...

Yang banyak dicari

  • on the way to the airport
  • sinopsis on the way at the airport
  • sinopsis on the way to the airport ep 6
  • sinopsis on the way to the airport episode 5
  • sinopsis on the way to the airport episode 6
  • on the way to the airport sinopsis episode 5
  • sinoosis otw airport eps 5
  • Sinop on the way to the air port ep 5
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *