Home » Kim Yoo Jung » Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 9 – 2

Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 9 – 2

Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 9 – 2, bercerita tentang penyebab Putri Yeong Eun tak mau bicara seperti itu dan kenapa dia sangat takut setiap kali melihat Kim Hun, semua itu ternyata karena dia pernah melihat Kim Hun membunuh seorang pelayan, dimana si pelayan ingin mengungkapkan kejahatannya, karena menurut yang dikatakan si pelayan, Kim Hun lah yang bertanggung jawab atas kematian ibu Putra Mahkota. Ingin tahu lebih jelasnya? Yuk baca sinopsis di bawah ini:

Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 9 – 1

Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 9 – 2

sumber konten dan gambar dari KBS 2

Putra Mahkota bertanya pada Kim Hun tentang rasa menjadi perdana menteri, setau Putra Mahkota menjadi menteri itu akan jadi sibuk karena tugas-tugas mereka, tapi apa yang terjadi di istana sekarang, begitu tenang tanpa para menteri.

“Kau memanggilku ke sini untuk mengetahui pendapatku?” tanya Kim Hun dan Putra Mahkota berkata kalau dia akan mengadakan ujian nasional-nya, jadi dia minta Kim Hun dan yang lainnya kembali ke istana.

“Alasan kenapa aku ingin melakukan pemeriksaan di bawah komando Raja adalah karena… aku ingin pemeriksaan ini adil seperti di masa lalu, bukan karena aku ingin menentang pejabat senior,” ucap Putra Mahkota yang berjanji akan melakukan semuanya sesuai prosedur dan prinsip-prinsip yang mereka inginkan.

Ujian nasional di gelar dan salah satu sarjanawan yang ikut adalah Tuan Muda Jung. Masalah yang harus mereka semua kerjaka adalah “Siapa pemilik Joseon?”

Setelah mendapatkan pokok masalahnya, beberapa peserta ujian langsung mengeluarkan kopelan mereka, Tuan muda Jung melihatnya dan ingin protes, namun dia takut. Tepat disaat itu, Putra Mahkota muncul dan mengganti masalahnya. Dia mengganti masalahnya menjadi, “Menentang oposisi; bagaimana kau akan meyakinkan mereka?”

Yoon Sung yang ada disana untuk menjadi pengawas hanya terkejut melihat apa yang Putra Mahkota lakukan, namun dia tak mencegah sedikitpun.

“Tidak ada jawaban yang benar. Yakinkan saja aku dengan pendapatmu. Aku akan menunggu jawaban yang baru dan beragam yang bisa mencerahkan masa depan Joseon. Lanjutkan,” ucap Putra Mahkota dan semua peserta mulai menuliskan jawaban mereka.

Sam Nom berada di perpustakaan dan dia melepas gelang pemberian Putra Mahkota. Tak lama kemudian Putra Mahkota muncul.

“Kau sangat pintar dalam hal…pergi ke tempat yang tepat pada waktu yang tepat untuk menghindariku. Karena kau mengenalku lebih baik daripada siapa pun, tidak mungkin bagiku untuk menang kalau kau memutuskan untuk bersembunyi,” ucap Putra Mahkota.
“Ada banyak mata dan telinga yang terfokus ke arahmu. Kalau kau bersamaku, tidak akan ada perdamaian bahkan untuk sebentar saja,” jawab Sam Nom dan Putra Mahkota berkata apa menurut Sam Nom, dia merasa bahagia tanpa Sam Nom di sampingnya?

“Putra Mahkota, Saat aku berada di sampingmu sebagai seorang kasim… aku merasa seperti orang yang berguna untuk setidaknya 1/10 dari waktu yang ada. Bagaimanapun… bukan itu yang aku rasakan sekarang. Mungkin kau akan mendapatkan masalah, atau kau akan terluka karena aku… Aku takut untuk melangkah maju karena aku sangat khawatir,” ucap Sam Nom dan kemudian mengembalikan gelang pemberian Putra Mahkota. “Aku tahu aku tidak boleh meminta hal seperti ini, tapi kalau kau membiarkan aku keluar istana… aku akan hidup dengan baik, tidak melupakan rahmat dan kebaikanmu Putra Mahkota,” pinta Sam Nom dan Putra Mahkota bertanya apa benar-benar itu yang dia inginkan. Sam Nom pun mengiyakan.

“Aku memiliki ratusan dan ribuan hal yang ingin aku lakukan, dan bisa melakukan sesuatu untukmu…dan itu yang kau inginkan? Lari untuk hidup di pengasingan agar tidak bisa melihatku…Itu permintaan pertama dan terakhir yang ingin kau minta kepadaku ?!” tanya Putra Mahkota dengan nada marah dan Sam Nom membenarkan. Putra Mahkota yang sudah merasa sangat marah, kemudian menyuruh Sam Nom pergi. Setelah Sam Nom pergi, Putra Mahkota mengambil gelangnya dan menggenggamnya.

Putri Young Eun dengan gemetaran menahan rasa takut pergi ke gedung kosong, dia kemudian membuka sebuah lemari yang ada disana.

Flashback!
3 Tahun yang lalu…
Putri Young Eun bersembunyi dalam lemari itu, saat dia hendak keluar, tiba-tiba dia mendengar suara orang masuk, jadi diapun masuk kembali ke dalam lemari dan menutup pintunya. Saat itu, Putri Young Eun masih bisa berbicara dengan sangat baik.

Yang masuk adalah seorang pelayan yang ternyata sedang di kejar oleh Kim Hun. Si pelayan dikejar karena dia hendak memberikan sesuatu pada Putra Mahkota. Dengan berani si pelayan malah menantang Kim Hun untuk membunuhnya, kalau memang benar dia sudah menyembunyikan sesuatu yang tidak benar. Kim Hun kemudian memberi kode pada anak buahnya untuk membunuh si pelayan dan dari dalam lemari, Putri Young Eun melihat dan mendengar semuanya.

“Bahkan jika aku…mati… Aku tidak akan meninggalkan…tempat ini dan aku akan mengungkapkannya! Kematian yang tidak adil… dari… Yang Mulia Ratu,” sumpah si pelayan yang sudah dalam keadaan sekarat dan kemudian tewas.

Kim Hun seperti melihat sesuatu di dalam lemari, dia pun hendak membuka lemari, namun sebelum lemari terbuka, terdengar suara dayang-dayang yang mencari keberadaan Young Eun. Jadinya, Kim Hun pun langsung pergi dari tempat itu.
Flashback End!

Young Eun menangis mengingat semuanya dan dia langsung menutup lemarinya. Kasim Jung memberitahu Putra Mahkota tentang Young Eun yang pergi ke gedung kosong, tentu saja Putra Mahkota langsung khawatir dan langsung pergi ke sana.

Di kamarnya, Putri Young Eun sedang bersama Sam Nom yang bertanya alasan Young Eun pergi ke gedung itu. Young Eun ingin menjawab, namun dia masih belum berani berbicara, jadinya dia menuliskannya dalam kertas.

“Bukankah kau berkata seperti itu, kita akan bisa membuka pintu dengan tangan kita sendiri?” tulis Young Eun dan Sam Nom tersenyum setelah membacanya. Young Eun juga ikut tersenyum. Tanpa keduanya sadari, Putra Mahkota melihat mereka berdua.

Putra Mahkota kemudian mengajak Sam Nom bicara dan dia kemudian mengaku kalau dia menyesal, “Aku harus berpura-pura tidak tahu. Kalau aku tahu bahwa kau sedang mempertimbangkan untuk melarikan diri setiap kali kau mendapat kesempatan… kalau aku punya… aku tidak akan mengeluh entah kau seorang kasim atau wanita. Aku hanya khawatir tentang… bagaimana bisa membuatmu lebih lama… berada disampingku. Aku menyesal bahwa… Aku tidak mengerti dirimu secara mendalam,” ucap Putra Mahkota.

“Jaga dirimu, Putra Mahkota,” jawab Sam Nom dan hendak pergi namun lengannya di tangkap oleh Putra Mahkota.


loading...

“Bagaimanapun, terlepas dari segala sesuatunya… Apa kau tidak bisa menahannya? Bukan di tempat yang berbeda,tapi di sini. Disampingku,” ucap Putra Mahkota dengan mata berkaca-kaca.

Pagi tiba dan ternyata tUan Muda Jung berhasil lulus menjadi pejabat negara. Dal Bong ikut senang atas kelulusan majikannya, tapi dia harus berpisah dari Tuan Muda Jung mulai sekarang. Sebelum berpisah, Dal Bong mengingatkan Tuan Mudanya untuk berhati-hati terhadap wanita dari bukit mognalia. Membicarakan tentang wanita, Tuan Muda Jung pun jadi teringat pada putri Myung Eun.

“Tuan Putri tidak tahu wajahku,” ucap Tuan Muda Jung dengan terbata-bata.

“Hati-hati jangan sampai tertangkap,” pesan Dal Bong dan mereka pun hendak berpelukan sebagai tanda perpisahan.

Tepat disaat itu, Putri Myung Eun keluar dari tandu dan sekarang dia sudah menjadi putri yang cantik dan kurus. Ternyata dietnya di kuil benar-benar berhasil. Saat dia berjalan, tiba-tiba dia tersandung dan jatuh.

Tuan Muda Jung hendak menolongnya bangun, awalnya Myung Eun hendak menerima bantuan Tuan Muda Jung, tapi dia tiba-tiba menolak bantuannya dan berdiri sendiri. Dia berkata kalau dia baik-baik saja. Putri dan rombongan pun langsung pergi meninggalkan Tuan Muda Jung dan juga Dal Bong.

“Wanita itu… aku pernah melihatnya dari suatu tempat,” komentar Dal Bong, setelah melihat Myung Eun.

“Dia… terlihat seperti orang yang dingin. Semua tajam di sana-sini. Secara tradisional, seorang wanita seharusnya terlihat gemuk seperti Tuan Putri kita,” ucap Tuan Muda Jung dan Dal Bong merasa kasihan dengan cara pandang Tuan Mudanya terhadap wanita.

Putra Mahkota memberitahu Kim Hun kalau ujiannya berjalan lancar dan Putra Mahkota kemudian memuji keluarga Kim yang ternyata banyak juga yang lulus walau dia menggunakan prosedur yang jujur. Ada sebanyak 7 orang keluarga Kim dari 33 peserta yang lulus.

“Aku akan berjanji kepadamu, Perdana Menteri. Bahwa mulai sekarang, di bawah aturan dan prinsip-prinsip yang adil… tanpa mengizinkan adanya ketidakjujuran atau kolusi, bahwa hanya orang-orang dengan bakat… yang akan dipilih sebagai calon yang berhasil,” ucap Putra Mahkota dan Kim Hun pun hanya menganggukkan kepalanya saja dengan ekspresi tak senang.

Kasim Han memberitahu Raja kalau konferensi istana berjalan dengan baik dan Raja pun lega mendengarnya. Raja kemudian mengaku kalau dia bisa jadi Raja tak berkopeten seperti sekarang semua itu karena dia tak punya seorang pun yang mendukungnya.

“Tidak ada orang yang jujur kepadamu di istana ini. Tidak satu pun menteri dari Dewan Enam, pejabat publik atau Remonstran… Mereka semua adalah orang-orang Perdana Menteri. Aku tidak bisa membiarkan Putra Mahkota menjadi seperti aku. Tidak, kita harus membuat seseorang… Seseorang yang sepenuhnya untuk Putra Mahkota,” aku Raja dan kemudian meminta Kasim Han untuk mempersiapkan penikahan Putra Mahkota.

Putri Young Eun mengajak Sam Nom pergi dan kemudian meninggalkannya. Young Eun membawa Sam Nom untuk melihat Putra Mahkota yang saat itu sedang bersama semua pelayannya dan juga para menteri.

Di depan semuanya, Putra Mahkota melakukan bahasa isyarat terhadap Sam Nom. Itu adalah bahasa isyarat yang Sam Nom ajarkan pada Putri Young Eun dan Putri Young Eun mengajarkannya pada Putra Mahkota.

Dalam bahasa isyaratnya, Putra Mahkota mengatakan, “Aku….. suka…. padamu…. tidak… aku mencintaimu. Jadi tolong…. jangan pergi…. Tetap di sisiku.”

Sam Nom berkaca-kaca melihat semuanya. Di tengah-tengah rasa haru yang terjadi pada Putra Mahkota dan Sam Nom, Kasim Jang mendekat dan bertanya apa maksud dari gerakan yang Putra Mahkota lakukan.

Putra Mahkota kemudian menggantinya dengan gerakan mendorong yang berarti menjauhlah darinya. Karena Putra Mahkota berkata, “menjauhlah” jadi Kasim Jang pun langsung pergi menjauh.

Sam Nom sudah berada di balai pertobatan dengan semua alat make-up dan baju wanita di depannya. “Kapan kita akan… bisa membuka pintu dengan tangan kita sendiri dan melarikan diri?”

Flashback!
Sam Nom kecil bertanya sampai kapan dia harus menjadi pria dan kapan ibunya akan memberitahukan alasannya, “Saat aku berusia 10 tahun? 20 tahun? Atau kau tidak akan memberitahuku sampai aku mati?”

Sang Ibu kemudian menjawab kalau Sam Nom akan di beritahu sampai Sam Nom bisa melindungi dirinya sendiri. Saat Sam Nom bisa tumbuh besar tanpa ibunya. Jika saat itu tiba, Sam Nom bisa hidup kembali sebagai seorang gadis.

Flashback End!

Sam Nom kemudian teringat pada ucapan Putra Mahkota yang memintanya untuk tinggal disisinya. Dalam hati Sam Nom lalu berkata, “Ibu, aku baik-baik saja sekarang, bukan? Dalam sepuluh tahun terakhir tanpamu, aku sudah hidup dengan berani, karena aku sudah tumbuh sampai aku bisa melindungi diriku bahkan saat sendirian” dan tersenyum

Putra Mahkota sedang membaca buku di taman dan tak lama kemudian Sam Nom datang dengan berpakaian wanita. Tentu saja Putra Mahkota senang melihatnya. Mereka berdua kemudian berhadapan dan Putra Mahkota bertanya bagaimana dia harus memanggil Sam Nom, saat Sam Nom sebagai wanita.

“Hong Ra On, Putra Mahkota,” jawab Sam Nom

“Hong Ra On…,” ucap Putra Mahkota seperti memikirkan sesuatu. “Ra On-a..” panggil Putra Mahkota dan mereka berdua pun tersenyum.

Bersambung ke sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 10

loading...

Yang banyak dicari

  • bahasa tangan di moonlight drwan by clouds
  • putri moonlight jadi kurus
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *