Home » Kim Yoo Jung » Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 8

Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 8

Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 8, bercerita tentang Byung Yeon yang mulai mencari keberadaan anak dari Hyeong Nae dan setelah bertanya kesana kemari akhirnya dia mendapat informasi kalau putri Hyeong Nae bernama Hong Ra On. Tak hanya sampai disitu, Byung Yeon akhirnya berhasil menemukan orang yang menolong Ra On di acara festival dan dari pria itu Byung Yeon pun tahu kalau anak Byeong Nae  adalah Sam Nom dan itu berarti, Sam Nom adalah seorang wanita.

Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 7

Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 8

sumber konten dan gambar dari KBS 2

Putra Mahkota mengungkapkan semua perasaannya pada Sam Nom dalam sebuah surat, dia memutuskan untuk mengungkapkan semuanya walaupun itu cinta terlarang, walaupun yang dia tahu kalau Sam Nom adalah seorang pria. Namun apa yang terjadi ketika Putra Mahkota hendak memberikan surat tersebut…. dia tanpa sengaja melihat Sam Nom memakai baju wanita pemberian Yoon Sung dan akhirnya Putra Mahkota menemukan wanita penari yang selama ini dia cari-cari. Putra Mahkota pun merasa lega karena dia bukan menyukai seorang pria, melainkan seorang wanita.

Putra Mahkota memanggil Sam Nom ke taman dan disana dia mengungkapkan perasaannya, tanpa membahas kalau Sam Nom adalah seorang wanita. Jadi dalam pikiran Sam Nom, Putra Mahkota menyukai dia sebagai pria. Untuk membuktikan perasaannya, Putra Mahkota sampai mencium bibir Sam Nom.

Episode 8 – Meskipun Kau Tidak Tahu

Saat berada di balai pertobatan, Sam Nom bertanya pada Byung Yeon apa selama ini Putra Mahkota pernah menyukai seorang wanita. Byung Yeon pun menjawab tidak pernah, bahkan sekalipun tidak pernah, mendengar hal itu, Sam Nom jadi benar-benar yakin kalau Putra Mahkota menyukai seorang pria.

Putra Mahkota kemudian membantu Wol Hee dan Kasim Ma keluar istana agar mereka bisa bersama. Bukan hanya membantu keluar istana, Putra Mahkota juga sudah mempersiapkan tempat yang bisa menerima Kasim Ma bekerja. Putra Mahkota melakukan semuanya, karena pasangan itu sudah memberitahunya kalau ketulusan seseorang dapat menciptakan keajaiban.

Sebelum Kasim Ma pergi, Sam Nom menemuinya dan berkata kalau Kasim Ma dan Wol Hee adalah pasangan ke tiga yang berhasil dia satukan. Mendengar itu, Kasim Ma kemudian berkata kalau Sam Nom jangan hanya memikirkan orang lain, karena dia juga harus melihat sekelilingnya.

“Bukan Cuma satu, tapi ada dua. Kau tidak tahu?” tanya Kasim Ma, namun Sam Nom tak mengerti maksudnya.

Putra Mahkota sedang berdiskusi dengan Yoon Sung tentang daftar orang-orang yang lulus sebagai pegawai negara. Melihat daftarnya, Putra Mahkota bisa menebak kalau ada sesuatu yang salah disana, karena semua orang yang lulus, semuanya bermarga “KIM”. Putra Mahkota kemudian bertanya pendapat Yoon Sung tentang semua itu.

“Sebagai marga Kim, aku terima dipersalahkan, dan sebagai petugas Aku akan perbaiki yang salah dalam pemerintahan,” jawab Yoon Sung dan Putra Mahkota berkomentar kalau sampai jawaban itu di dengan Kim Hun, pasti akan kacau jadinya. Yoon Sung pun dipersilahkan pergi dan tepatdisaat itu Sam Nom muncul.

Sam Nom langsung berbalik lagi ketika dia melihat Putra Mahkota karena dia berbalik dengan terburu-buru jadi semua buku yang dia bawa jadi jatuh. Yoon Sung kemudian membantunya dan itu membuat Putra Mahkota merasa tak senang melihatnya. Putra Mahkota kemudian memanggil Sam Nom.

Ketika melihat Sam Nom dan Putra Mahkota bersama, Yoon Sung teringat saat Sam Nom mengatakan kalau dia akan tetap tinggal di istana sebagai Kasim. Mengingat hal itu dan melihat apa yang terjadi di depannya, Yoon Sung pun bisa sedikit menebak kalau alasan Sam Nom bertahan adalah karena Putra Mahkota.

Putri Myung Eun memutuskan untuk tinggal di kuil selama 15 hari, karena kalau dia makan makanan biarawan, maka wajahnya akan berkurang setengah. Dia mendapatkan ide itu dari sebuah buku dimana penulis buku menulis semua soal hubungan cinta, terutama soal menarik lawan jenis. Melihat buku itu, Ha Yeon langsung penasaran pada isinya dan dia ingin meminjamnya. Walaupun tak boleh oleh putri, Ha Yeon tetap merebutnya.

Putra Mahkota menemui Byung Yeon dan minta dicarikan putri Hong Gyeong Nae, karena hal itu yang sekarang sedang Raja khawatirkan. Dia kemudian menunjukkan topeng si perampok dan tentu saja Byung Yeon terkejut melihatnya, karena topeng itu adalah miliknya. Apalagi Putra Mahkota meminta Byung Yeon untuk mencari tahu tentang pemilik topeng. Tak bisa membantah, Byung Yeon pun hanya menjawab iya. Putra Mahkota kemudian berharap agar mereka menemukan putri Hong Gyeong Nae sebelum Perdana Menteri.

Putra Mahkota jalan-jalan bersama semua pelayannya, karena Sam Nom keberatan membawa payungnya, jadinya diapun memilih duduk di bawah pohon ditemani Sam Nom dengan diberi pembatas payung, sehingga Kasim Jang dan pelayan lain tidak tahu apa yang sedang dia lakukan.

Dasar Putra Mahkota usil, dia sengaja menggoda Sam Nom dengan mengatakan kalau dia jatuh cinta pada Sam Nom. Tentu saja Sam Nom kaget mendengarnya dan langsung menarik tangannya yang di genggam oleh Putra Mahkota. Sam Nom kemudian meminta Putra Mahkota untuk menarik kembali ucapannya, namun Putra Mahkota tak mau, dia akan bertanggung jawab dengan ucapannya.

Putra Mahkota kemudian menyandarkan kepala Sam Nom ke pundaknya, walaupun merasa tak nyaman Sam Nom tak bisa menolak. Dalam hati Sam Nom berkata kalau Putra Mahkota jangan terlalu baik padanya, karena itu akan membuatnya selalu bersandar padanya.

Ha Yeon menemui Sam Nom dan menceritakan tentang kisahnya yang menyukai seorang pria kelas tinggi, namun si pria sama sekali tak tertarik padanya, padahal Ha Yeon sudah berusaha menarik perhatiannya. Melihat ketulusan Ha Yeon pada pria itu, Sam Nom pun beranggapan kalau Ha Yeon pasti akan bahagia dengan pria tersebut. Sam Nom tidak tahu kalau pria yang Ha Yeon sukai adalah Putra Mahkota.

Sam Nom membantu Putra Mahkota berganti pakaian dan Kasim Jang terus mengucapkan kata-kata semangatnya. Namun Putra Mahkota langsung memotong dengan mengatakan kalau dia hanya butuh satu kata, yaitu kata “berjuanglah”. Kasim Jang pun mengatakan apa yang Putra Mahkota minta. “Putra Mahkota, berjuanglah.”

Putra Mahkota pun mengucapkan terima kasih. Dia kemudian bertanya apa ada yang ingin Sam Nom katakan juga, tapi Sam Nom mengatakan tidak ada, karena dia yakin Putra Mahkota akan berhasil. Mendengar kata-kata Sam Nom, Putra Mahkota pun tersenyum senang.

Putra Mahkota bersama semua pelayannya pergi ke aula utama, namun ternyata disana kosong. Tidak ada siapapun disana. Hal itu membuat Putra Mahkota sedih dan marah. Kasim Jang dan Sam Nom juga ikut sedih.

Apa yang terjadi sebenarnya? Kita beralih pada Kim Hun dan kedua anteknya. Mereka tertawa senang karena menebak kalau Putra Mahkota pasti sekarang sedang merasa terkejut karena mendapati aula utama kosong. Para menteri mengosongkan aula karena Putra Mahkota sudah membatalkan ujian nasional dan menggantinya dengan ujian sementara. Kim Hun dengan santai berkata kalau Putra Mahkota bebas melakukan apa pun yang dia mau, karena dia tak tahu sampai kapan dia bisa bertahan. Kim Hun ingin membuat Putra Mahkota menyerah dengan sendirinya. Selama ini, menteri bermarha Kim lah yang mengatur jalannya pertemuan di aula, jadi kalau mereka saja tidak mau datang, apa yang akan dilakukan Putra Mahkota sekarang.

Di aula yang kosong, Putra Mahkota membaca semua surat izin dari semua menteri. Ada yang mengaku sakit, darah tinggi dan lain-lain. Tapi tentu saja Putra Mahkota tahu kalau mereka semua sengaja tak mau datang.

Sam Nom menemui Putra Mahkota dan membawakannya makanan manis karena menurutnya, disaat mereka merasa kesal, makanan manis adalah obat terbaik. Putra Mahkota lalu bertanya apa yang akan Sam Nom lakukan jika berada di posisinya.

“Jika aku harus bertarung melawan, bukankah aku harus melakukan yang terbaik saat bertarung ? Jika itu tidak berhasil, maka kita harus mengikuti arus,” jawab Sam Nom dan Putra Mahkota mengambil satu kue-nya. Sam Nom pamit pergi tapi Putra Mahkota malah menariknya, sampai Sam Nom sampai ke pelukan Putra Mahkota.

Ketika Sam Nom hendak protes, Putra Mahkota langsung memasukkan kue yang dia ambil ke mulut Sam Nom.
“Kau benar, itu adalah obat terbaik,” ucap Putra Mahkota dan Sam Nom langsung mengeluarkannya kembali.

“Dimakan saja belum ..,” koment Sam Nom dan Putra Mahkota langsung menjelaskan kalau yang dia maksud obat adalah Sam Nom sendiri, bukan kue-nya. Tentu saja pernyataan itu membuat Sam Nom kaget, tapi Putra Mahkota tak perduli pada kekagetan Sam Nom, dia malah menyuruh Sam Nom memanggil kepala Bidang Tanaman Herbal untuk datang menemuinya.

Ui Gyo mendapat informasi kalau ada seseorang yang dekat dengan Hong Gyeong Nae beberapa tahun lalu, jadi dari orang itu mereka akan mencari tahu tentang klan Hong. Ui Gyo pun kemudian menyuruh orang suruhannya untuk cepat mencari anak Gyeong Nae sebelum para rampok menemukannya.

Karena alasan para menteri tak datang ke aula karena mereka sakit, Putra Mahkota pun pergi ke tempat mereka dengan membawa beberapa obat-obatan untuk mereka. Ui Gyo dan yang lain pun hanya bisa diam karena mereka ketahuan sudah berbohong. Tepat disaat itu Kim Hun muncul dan mengajak Putra Mahkota masuk.

Byung Yeon menemui seorang nenek dan bertanya tentang istri Gyeong Nae. Si nenek pun menjawab kalau awalnya, dia pikir istri Gyeong Nae adalah seorang janda karena tinggal berdua dengan putrinya.

“Aigoo, tapi kadang-kadang, aku dengar suara bertengkar. Kadang kala, ada lelaki mampir meninggalkan daun barley di depan pintu. Jadi, aku pikir orang itu ayahnya si anak. tapi, dia ternyata Hong Gyeong Nae,” jelas si nenek.

“Kau pernah dengar apa setelah kerusuhan ?” tanya Byung Yeon dan si nenek menjawab kalau Gyeong Nae pasti sudah mati, karena banyak pengawal yang mencarinya sampai kepelosok negeri. Tanpa Byung Yeon sadari, ada beberapa orang yang sedang memata-matainya. Byung Yeon kemudian bertanya nama anak Gyeong Nae dan si nenek menjawab kalau namanya Ra On, jadi lebih tepatnya nama si anak adalah Hong Ra On.


loading...

Pada Kim Hun, Putra Mahkota berkata kalau dia ingin membuat pertemuan negara di rumah Kim Hun saja, karena pada menteri tidak bisa datang ke istana dengan alasan sakit. Tentu saja Kim Hun tak mau, dia kemudian mengingatkan Putra Mahkota kalau dia tetap bersikeras melakukan sesuatu yang bertentangan dari kebiasan mereka, maka tak akan ada yang mau membantunya. Intinya, Putra Mahkota jangan berusaha menonjolkan diri karena itu akan menghancurkan dirinya sendiri.

Kim Hun juga menyinggung tentang Raja yang terpuruk sebab ditinggalkan Ratu 7 tahun lalu dan mulai saat itulah dia yang mengurus semuanya, jadi dia minta pada Putra Mahkota untuk tidak mengganggap kesetiaan-nya sebagai hal yang sia-sia.

“Jika butuh bantuan, silahkan temui aku kapan saja. Ada pepatah “Cincin saja sudah cukup” Cukup melakukan yang kau bisa bukanlah hal yang memalukan,” ucap Kim Hun dan Putra Mahkota hanya diam, dia diam menahan emosinya.

 

 

Ha Yeon dan Yoon Sung bertemu. Mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan, yaitu sama-sama tidak setuju dengan perjodohan mereka, karena mereka sama-sama menyukai orang lain. Ha Yeon kemudian bertanya apa yang bisa mereka lakukan dan Yoon Sung menjawab kalau mereka harus mencari cara untuk membatalkan perjodohan mereka secara damai.

Putra Mahkota berjalan di pasar dan mendapati seorang penjual gelang yang mengatakan kalau dia punya gelang yang bisa mengikat mereka dengan pasangan dalam keabadian cinta.

“Gelang abadi ? tanya Putra Mahkota penasaran.

“Jika ini digunakan dengan kekasihmu, meskipun berpisah, kalian akan berputar-putar hingga akhirnya bertemu lagi,” jelas si penjual dan saat Putra Mahkota hendak mengambilnya, kebetulan Ha Yeon muncul dan mengambilnya juga. Melihat Ha yeon, Putra Mahkota pun bertanya apa pertemuan kali ini benar-benar kebetulan dan Ha yeon pun mengiyakan. Dia malah merasa senang karena di takdirkan bertemu dengan Putra Mahkota.

Putra Mahkota kemudian melihat Byung Yeon di kejar-kejar oleh beberapa orang. Melihat itu, dia teringat kembali pada percakapan mereka tadi malam dan tadi malam, Byung Yeon berkata kalau dia akan berada di tempat pelatihan sepanjang hari, karena ada pelatihan untuk para prajurit.

Penasaran, Putra Mahkota pun pergi menemui Byung Yeon dan Ha Yeon mengikutinya. Byung Yeon sendiri sekarang sedang di kepung oleh beberapa orang. Jumlah orangnya semakin banyak dan Putra Mahkota ada di tengah-tengahnya, jadi mau tak mau dia ikut berkelahi. Putra Mahkota melindungi Ha Yeon yang terlihat shock melihat orang berkelahi.

 

Byung Yeon menyuruh Putra Mahkota lari, namun putra mahkota tak mau, dia membantu Byung Yeon mengalahkan semua orang. Salah satu penyerang lari dan Byung Yeon langsung mengejarnya. Selagi Byung Yeon mengejar orang itu, Putra Mahkota menghampiri Ha Yeon dan menanyakan keadaannya. Tak menjawab, Ha Yeon malah berkata kalau dia merasa lega karena Putra Mahkota baik-baik saja. Ha Yeon mengatakan itu sambil menggenggam tangan Putra Mahkota.

Saat berdiri, Putra Mahkota tak sengaja menemukan topeng milik si perampok. Tepat disaat itu Byung Yeon datang dan melihatnya. Namun dia langsung bersembunyi saat Putra Mahkota melihat ke arahnya.

 

Saat hanya berdua, Byung Yeon bertanya kenapa Putra Mahkota tak bertanya apapun dan Putra Mahkota menjawab kalau Byung Yeon bisa mengatakannya, pasti sudah Byung Yeon katakan sejak tadi tanpa harus ditanya.

“Yang Mulia…”

“Aku ingin jalan-jalan sebentar, kau bisa pergi,” ucap Putra Mahkota dan kemudian berjalan meninggalkan Byung Yeon. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, Putra Mahkota berhenti dan berkata pada Byung Yeon kalau dia disuruh menjawab siapa orang yang bisa dia percaya di dunia ini, maka Putra Mahkota akan menjawab Byung Yeon lah orangnya.

Putra Mahkota pergi ke makam ibunya dan dia teringat kembali saat Kim Hun berkata kalau Raja sangat tertekan karena kematian Ratu 7 tahun lalu, namun pada kenyataannya, 7 tahun lalu Raja sama sekali tak perduli, bahkan Raja tak mau mencari tahu siapa yang sudah membuat Ratu sakit..

Kembali ke istana, Putra Mahkota melihat kembali gayageum milik ibunya. Sam Nom muncul dan bertanya dari mana saja Putra Mahkota seharian. Putra Mahkota pun menjawab kalau dia baru bertemu dengan orang yang dia rindukan dan orang yang dia maksud adalah ibunya. Saat ditanya ibu Putra Mahkota seperti apa, Putra Mahkota pun menjawab kalau ibunya adalah orang yang ingin melihat dunia luar dan bosan berada di istana. Mendengar itu, Sam Nom pun berkomentar kalau ibu Putra Mahkota mirip dengan Putra Mahkota sekarang.

Selain itu, Ratu juga tidak pernah bersikap lucu jadi membuat semua staf kerajaan menderita. Sam Nom pun kembali menyamakannya dengan Putra Mahkota yang punya sifat seperti itu. Putra Mahkota menambahkan kalau ibunya punya sifat yang hangat dan lebih bijaksana dari pada orang lain. Membahas tentang ibunya, Putra Mahkota langsung sedih karena dia tak bisa melindunginya. Namun dengan kejadian itu, Putra Mahkota jadi tahu kalau dia harus menjadi kuat untuk melindungi mereka yang berharga baginya.

“Karena aku menghilang tanpa pesan, kau khawatir ?” tanya Putra mahkota dan Sam Nom hanya diam saja. “Kau tidak perlu mengatakan apapun. Berdiri saja seperti ini,” ucap putra mahkota dan kemudian mengetok kepala Sam Nom. “Bukankah kau adalah tonik buatku ?”

Di rumah, Ha Yeon menyulam dan kemudian menggunakan hasil sulamannya untuk menyampul sebuah buku. Ternyata dia menjadikan buku itu sebagai hadiah untuk Putra Mahkota. Ha Yeon juga menyelipkan sebuah surat untuk Putra Mahkota.

Setelah mendapat hadiah itu, Putra Mahkota kemudian berjalan pergi sampai-sampai dia tak dengar saat Sam Nom memanggilnya. Kemana Putra Mahkota pergi? Ternyata dia pergi menemui Ha Yeon di taman dan Sam Nom melihatnya. Melihat Ha Yeon, Sam Nom pun akhirnya tahu kalau pria yang Ha Yeon ceritakan kemarin adalah Putra Mahkota dan apa yang Ha Yeon lakukan sekarang adalah instruksi dari Sam Nom, yaitu mengungkapkan perasaannya secara tulus.

Putra Mahkota mengembalikan hadiah yang diberikan Ha Yeon tanpa membukanya terlebih dahulu, jadi dia saja tak tahu isinya apa. Ha yeon pun berkata kalau dia sudah menjahitnya semalaman, padahal dia tak suka menjahit. Walaupun begitu, Putra Mahkota tak bisa menerimanya.

Tanpa tahu kalau Putra Mahkota sudah menolak perasaan Ha Yeon, Sam Nom terlihat berkaca-kaca karena menahan rasa cemburu.

Sam Nom dan Putra Mahkota sudah berada di perpustakaan dan Sam Nom terlihat menghindari Putra Mahkota, tapi Putra Mahkota malah terus menggodanya. Tak tahan lagi menahan semuanya sendiri, Sam Nom pun mengungkapkan apa yang dia rasakan. Awalnya, Sam Nom bertanya apa Putra Mahkota pernah menyukai seorang wanita dan Putra Mahkota pun menjawab “pernah”. Mendengar itu, Sam Nom terlihat gemetar dan langsung bertanya kapan dan wanita seperti apa dia?

“Saat ini. Wanita yang sangat cantik,” jawab Putra Mahkota.

“Lalu …Kenapa Pangeran melakukan semua ini padaku ?” tanya Sam Nom dengan nada marah. Dia bahkan tak memberikan kesempatan pada Putra Mahkota untuk menjelaskan. “Sehari beberapa kali… Aku senang, lalu marah dan terluka. Ini berat buatku. Apa aku tidak boleh bertanya, dan penasaran tentang cara Pangeran memperlakukan aku ? Meskipun aku hanya kasim Istana Timur … Bukan berarti perasaanku adalah milikmu,” ucap Sam Nom dengan mata berkaca-kaca lalu berjalan pergi. Putra Mahkota pun hanya terdiam.

Saat tidur, Sam Nom teringat kembali saat Putra Mahkota memberikan hadiah pada Ha Yeon. Ya… Sam Nom tahu-nya, Putra Mahkota yang memberikan hadiah, bukan mengembalikan hadiah. Di kamarnya, Putra Mahkota terus teringat kata-kata Sam Nom.

Byung Yeon menemui ayah angkat Sam Nom. Di istana, Putra Mahkota menemui Sam Nom dan dia datang dengan membawa gelang abadi yang sudah dia beli dari penjual di pasar.

Byung Yeon menemui ayah angkat Sam Nom dan menanyakan tentang Ra On, karena dia ingin melindunginya. Ayah angkat Sam Nom pun menjawab kalau Ra On sudah pergi. Sebelum pergi, Byung Yeon berpesan kalau ada orang lain yang datang mencari Ra On, dia harus menjawab tidak tahu, atau…. sebelum mereka bertanya, ayah Sam Nom harus melarikan diri dari mereka. Ayah Sam Nom harus segera pergi dari rumahnya, karena sekarang situasinya sangat bahaya untuknya. Saat Byung Yeon hendak pergi, ayah Sam Nom bertanya, “Tidak akan terjadi apa-apa pada Ra On, bukan?”

Tak ada jawaban dari Byung Yeon, kita langsung dialihkan pada Putra Mahkota yang memasangkan gelang abadi ke tangan Sam Nom.

“Ini … apa ?” tanya Sam Nom.

“Ini perhiasan yang cocok untuk wanita cantik. Kau tidak tahu ?”

“Wanita … cantik ? Siapa ?”

“Sudah kubilang ada seseorang. Wanita yang membuatku jatuh cinta … tepat ada di depanku,” ucap Putra Mahkota dan Sam Nom langsung gemetar mendengarnya.

Ayah Sam Nom bertanya apa Byung Yeon benar-benar akan melindungi Ra On dan Byung Yeon menjawab dengan anggukan.

“Sam Nom,” ucap ayah Sam Nom

“Apa katamu ?” tanya Byung Yeon dengan tatapan tak percaya.

“Hong Sam Nom. Dia ada di istana. Dia dijual bandit untuk membayar hutang. Aku hanya dengar sejauh itu,” jelas ayah Sam Nom dan Byung Yeon tambah kaget mendengarnya.

Sam Nom melangkah mundur setelah mendengar penyataan Putra Mahkota dan Putra Mahkota langsung menggenggam tangan Sam Nom. “Mulai sekarang, aku akan memperlakukanmu sebagai wanitaku yang paling berharga. Apakah boleh ?” tanya Putra Mahkota.

Bersambung ke sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 9

loading...

Yang banyak dicari

  • Hanya orang yang menarik yang membuatku tertarik tapi menarik itu tidak hanya di mata tapi di hati
  • surat berisikan tentang memberikan gelang ke cewek
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *