Home » Kim So Hyun » Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 3 – 2

Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 3 – 2

Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 3 – 2, bercerita tentang Sam Nom yang berhasil mempertemukan Seok Hui dan Raja atas bantuan Byung Yeon. Awalnya, Sam Nom mengira Raja memberikan surat dengan kertas kosong, tapi dengan kepandaian Byung Yeon, mereka akhirnya tahu kalau surat itu tidak kosong, hanya saja ditulis dengan cuka apel yang mana tulisannya hanya dapat muncul jika di dekatkan dengan api.

Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 3 – 1

Sinopsis Moonlight Drawn by Clouds Episode 3 – 2

sumber konten dan gambar dari KBS 2

Dari kejauhan, Yoon Sung melihat apa yang terjadi pada Sam Nom dan diapun ikut merasa sedih. Yoon Sung kemudian muncul didepan Sam Nom dan mengajaknya pergi. Mereka berdua pergi kebelakang istana dan Yoon Sung mengatakan kalau tempat itu bisa dijadikan untuk istirahat jika Sam Nom butuh mengistirahatkan badannya.

“Tuan, selalu muncul disaat aku kesulitan. Menakjubkan…,” ucap Sam Nom dan Yoon Sung menyebut semuanya sebagai takdir mereka berdua. Yoon Sung pun selalu menyerempet-rempet untuk membahas kalau Sam Nom itu wanita, tapi Sam Nom selalu mengelak, jadi Yoon Sung pun memilih diam dan tak membahasnya.

Mereka berdua kemudian menikmati waktu istirahat mereka dengan menyenderkan badan mereka ke pohon dan menikmati udara pepohonan yang sejuk.

Sam Nom masih belum menyerah untuk memberikan surat dari Seok Hui untuk raja, tepat disaat itu dia tak sengaja menabrak kasim yang membawa gulungan-gulungan yang harus dibaca raja. Mendengar kalau gulungan-gulungan itu akan dibaca Raja, Sam Nom pun menyelipkan surat Seok Hui di salah satu gulungan. Berkat ide Sam Nom, surat Seok Hui pun sampai ke tangan Raja.

Keesokan harinya, Sam Nom dengan riang berlari ke istana Seok Hui dan memberikan surat balasan dari Raja untuk Seok Hui. Tapi ternyata kertas surat itu kosong, tak ada tulisan apapun didalamnya. Melihat surat balasan itu, Seok Hui pun beranggapan kalau sudah waktunya dia tak mengganggu raja lagi.

Sebelum Sam Nom pergi, Seok Hui memberikan semua kertas-kertas kosong dari Raja dan minta dibakarkan.

Di balai pertobatan, Sam Nom melihat kembali kertas-kertas kosong dari Raja, tepat disaat itu Byung Yeon dan Putra Mahkota datang. Sam Nom pun memberitahu Putra Mahkota kalau semua itu adalah surat-surat kosong dari Raja yang ingin Seok Hui bakar. Mengingat kalau di kamar Seok Hui memang penuh dengan surat-surat, Putra Mahkota pun berkata kalau semua itu pasti bukan surat balasan dari Raja, karena surat dari Seok Hui pasti tidak akan sampai pada Raja.

Sam Nom pun meralat kalau untuk kali ini beda, Sam Nom benar-benar berhasil menyampaikan surat dari Seok Hui untuk Raja dan Raja juga yang meminta dia untuk membawakan surat balasannya. Sam Nom kesal, kenapa dia sampai di panggil Raja, kalau hanya diberi surat kosong.

Mendengar apa yang terjadi, putra mahkota terlihat kecewa dan berucap kalau Sam Nom sudah membuat satu-satunya harapan Seok Hui pupus. Putra Mahkota berjalan pergi. Dia menemui sang Raja dan memberitahu raja kalau Seok Hui sedang tidak sehat, jadi dia meminta sang Raja untuk menengoknya. Namun Raja tak bisa melakukannya, dia lebih memilih untuk mengirim tabib kesana. Raja beralasan tidak bisa ketempat Seok Hui karena Ratu sedang mengandung dan Ratu sekarang sangat sensitif, jadi Raja akan menunggu waktu yang tepat dan memikirkannya.

Mendengar alasan itu, Putra Mahkota terlihat marah dan kemudian bertanya apa yang sebenarnya Raja takutkan sampai tak bisa melakukan apapun. Bahkan Raja waktu itu berkata kalau ibu Putra Mahkota meninggal karena penyakit yang tak dikenal, itu saja. Padahal Putra Mahkota mendengar dari pelayan istana kalau ibunya tidak sakit sama sekali, tapi dia tiba-tiba meninggal.

Saat itu, Putra Mahkota meminta Raja untuk mengusut kasus itu dan mencari pembunuh ibunya, tapi Raja malah meneriakinya.

“Kau tidak melakukan apapun dan lihat dimana kau saat ini, aku disuruh menunggu… meskipun tidak ada yang berubah jika kau bertindak, meskipun tindakan itu sia-sia, kau harus melakukan sesuatu daripada Cuma disini dan ketakutan! Karena kau adalah…. Raja Joseon.” Ucap Putra Mahkota dengan emosi dan kemudian keluar ruangan Raja.

Byung Yeon sibuk mengelap pedagnya dan ketika Sam Nom berkata kalau kertas dari raja berbau wangi, Byung Yeon langsung memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Sam Nom menambahkan kalau aromanya seperti wangi apel manis. Mendengar hal itu, Byung Yeon langsung terpikir sesuatu.

Putra Mahkota kembali mengunjungi Seok Hui. Karena putra mahkota melihat peti yang sebelumnya berisi surat kosong dari Raja, Seok Hui pun berkata kalau dia sudah membuangnya dan berjanji tak akan mengganggu Raja lagi. Selama 7 tahun dia terus mengirim surat pada Raja, namun tak ada balasan. Karena 7 tahun lalu, Seok Hui yang mengiburnya saat ibunya meninggal, sekarang giliran Putra Mahkota yang memeluk Seok Hui untuk menghiburnya.

Sam Nom hendak membakar kertas kosong dari Raja, tapi dengan cepat di cegah oleh Byung Yeon dengan melempar pisaunya untuk mematikan api, tentu saja hal itu membuat Sam Nom kaget. Byung Yeon turun dan kembali menyalakan api-nya. Dia kemudian mendekatkan kertasnya ke api dan perlahan tulisan muncul di atasnya. Ternyata Raja menulis kertas dengan menggunaan cuka apel dan tulisannya hanya akan muncul jika di dekatkan ke api.


loading...

“Kim Hyung! Mulai sekarang, aku bisa memanggilmu Hyungmin, kan?!” ucap Sam Nom dengan senang.

“Aku tidak pernah setuju dengan persaudaraan begitu,” jawab Byung Yeon dan hendak kembali ke atas.

“Eey, kenapa begitu? Aku suka dengan kata “Kim Hyung”. Ucap Sam Nom dan Byung Yeon langsung pergi meninggalkannya. Saat sendiri, Sam Nom mendekatkan semua bagian kertas ke api, agar tulisannya muncul.

Setelah semua tulisannya muncul, Sam Nom langsung menuju ke istana Seok Hui. Secara kebetulan, dia bertemu dengan si sendok emas di luar dan diapun langsung memberitahu sendok emas kalau ternyata suratnya tidak kosong.

Saat bertemu dengan Seok Hui, Sam Nom langsung berkata kalau Seok Hui harus segera bersiap, karena Raja sedang menunggunya. Agar Seok Hui percaya pada ucapannya, Sam Nom memberikan kertas yang mana tulisannya sudah muncul.

“Seok Hui, aku mengirim surat ini setengah berharap kau membacanya dan setengah berharap kau tidak akan tahu sampai akhir. Aku adalah Raja tak mampu, suami tak berdaya dan ayah yang pengecut. Mohon maafkan aku,karena hanya bisa menyampaikan perasaanku dengan cara seperti ini. Sementara menunggumu suatu hari membaca surat ini, aku tiap malam, pergi ke pavilion tempat kita bertemu dulu,” isi surat Raja.

Seok Hui pun langsung bergegas pergi ke tempat dimana Raja menunggu. Tak jauh dari tempat Raja dan Seok Hui ketemuan, kita melihat Sam Nom dan si sendok emas sedang melihat mereka. Putra Mahkota pun teringat dengan ucapan Raja sebelumnya, dimana Raja berkata kalau dia memutuskan tidak melakukan apapun itu karena tak ingin Seok Hui terluka, juga demi Putra Mahkota sendiri.

“Kalau aku bertindak sebagai Raja, aku akan kehilangan 2000 orangku! Kalau aku bertindak sebagai Raja, aku kehilangan Ratuku! Semua guruku, teman-temanku, semuanya pergi seperti itu… karena aku tidak berguna, hanya itulah caraku melindungi orag-orangku. Tidak melakukan… tidak melakukan apa-apa!” ucap Raja dengan mata berkaca-kaca.

Kembali lagi pada Sam Nom dan si sendok emas yang masih melihat Raja dan Seok Hui. Sam Nom penasaran kenapa Raja menyampaikan perasaannya dengan cara yang penuh rahasia, padahal Raja adalah penguasa negeri ini. “Sebenarnya kenapa ia harus bersembunyi da menahan diri?” tanya Sam Nom dalam gumamannya.

“Sekarang akhirnya aku mengerti. Ia bukanlah hanya seorang Raja, ia juga seorang suami pada orang yang ia kasihi dan… satu-satunya ayahku,” batin Putra Mahkota dengan mata berkaca-kaca.

Di rapat istana, Raja terlihat emosi karena apa yang dia putuskan di tentang oleh semuanya. Raja ingin mundur dari posisinya, namun tak ada dari mereka yang menerima keputusan itu dan juga tak ada yang mau menggantikan posisinya. Kasim pun langsung menyuruh kasim untuk memanggil Putra Mahkota.

Putra Mahkota pun pergi ke istana sambil mengenakan pakaiannya. Setelah Putra Mahkota datang, dihadapan semua menteri, Raja mengumumkan kalau dia mengangkat Putra Mahkota sebagai walinya. Tentu saja para menteri tak setuju dengan keputusan Raja itu, namun pendapat mereka berbeda dengan pendapat Kim Hun. Kim Hun berkata pada Raja kalau Putra Mahkota menerima titah itu, akan jadi lebih menyenangkan.

Sekarang giliran Putra Mahkota yang menjawab, awalnya dia berkata kalau dia tak pantas menerima tanggung jawab itu dan mendengar hal itu membuat para menteri terlihat senang dan menang. Tapi raut wajah mereka langsung berubah, ketika Putra Mahkota berkata kalau tidak ada alasan baginya untuk menolak keputusan Raja.

“Hamba, atas perintah Yang Mulia dengan tulus dan senang hati menerimanya,” ucap Putra Mahkota dengan tegas dan sang Raja tersenyum bangga padanya.

Flashback pada malam sebelumnya….
Putra Mahkota menemui Raja dan mengatakan kalau dia mau menanggung setengah beban Raja. Jadi, dalam rapat istana besok, Raja harus menunjuk dia sebagai walinya. Tapi Putra Mahkota punya syarat, disaat dia lemah dan menjadi takut, yang bisa dia andalkan saat itu hanyalah ayahnya. Raja berkaca-kaca mendengar ucapan Putra Mahkota.

Kembali ke istana, dimana Raja terus melihat Putra Mahkota dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Putra Mahkota menatap sang ayah dengan tatapan yakin.

Sam Nom di pindah tugaskan lagi, sekarang dia bertugas di istana Putra Mahkota. Dia kemudian diberitugas oleh kasim Jang untuk meletakkan beberapa buku di ruang baca Putra Mahkota, karena di dalam sana putra mahkota sedang membaca, jadi Kasim Jang berpesan agar Sam Nom masuk dan meletakkannya secara perlahan-lahan.

Sam Nom masuk ruang baca dan melihat-lihat ruangannya. Dia kemudian melihat si sendok emas dan bertanya kenapa dia bisa berada di ruangan itu. Sam Nom masih tidak tahu kalau si sendok emas adalah Putra Mahkota karena dia melihatnya dari balik rak buku, jadi yang terlihat hanya kepala si sendok emas saja. Si sendok emas tak menjawab, dia menutupi pakaiannya.

Sam Nom kemudian bertanya apa si sendok emas melihat putra mahkota, karena kata Kasim Jang dia ada di ruang baca. Si sendok emas pun hanya tersenyum menahan tawa. Tepat disaat itu seseorang muncul dan menyuruh Sam Nom keluar karena hanya Putra Mahkota yang boleh masuk ruangan itu. Sam Nom pun mengajak si sendok emas untuk keluar bersamanya. Tapi si sendok emas masih berdiam diri di tempatnya, karena dia bingung kalau sampai Sam Nom melihat bajunya.

Tak punya pilihan lain, si sendok emas pun kemudian memperlihatkan pakaianya pada Sam Nom dan memperkenalkan dirinya dengan nama Lee Young. Tentu saja Sam Nom kaget mengetahui semuanya.

Bersambung ke sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 4

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis moonlight drawn by clouds episode 5
  • sinopsis moonlight episode 3
  • drama monlight episode 3 part 1
  • foto gong yoo bawa kertas kosong
  • sinopsis drama monlight episode 3 part 1
  • sinopsis film korea moonlight drawn by clouds episode 3
  • sinopsis moonlight drawn ep 3part 2
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *