Home » IU » Sinopsis Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo Episode 20 – 1

Sinopsis Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo Episode 20 – 1

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo Episode 20 – 1, bercerita tentang Soo yang menikah dengan Jung dan tinggal di rumahnya. Awalnya, So terus mengintai rumah Jung untuk mengetahui apa yang Soo dan Jung lakukan. Tapi karena mengetahui Soo dan Jung semakin dekat, membuat So sangat sakit hati, jadi diapun memutuskan untuk berhenti mencari tahu ataupun mendengar tentang Soo dan Jung. Soo melahirkan seorang putri dan itu bukan anak Jung, melainkan anak So. Walaupun begitu Jung tetap menerimanya.

Sinopsis Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo Episode 19 – 1

Sinopsis Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo Episode 19 – 2

Sinopsis Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo Episode 20 – 1

sumber gambar dan konten dari SBS

Soo datang ke kediaman Jung dan disana Jung menyambutnya dengan pakaian pernikahan. Saat Jung mengulurkan tangannya untuk membantu Soo keluar dari tandu, Soo teringat pada So ketika So juga mengulurkan tangannya pada Jung.

Masuk rumah, Soo sudah mengenakan pakaian pernikahan yang Jung persiapkan. Jung ternyata secara diam-diam menyiapkan pernikahannya, karena So melarang mereka untuk melaksanakan pernikahan.

“Jangan khawatir.  Aku hanya ingin mengeluarkanmu  dari istana ini.  Bahkan jika kita menikah,  aku hanya akan menganggap kita berteman,” ucap Jung.

“Aku tidak khawatir soal itu.”

“Ini jauh dari rumah utama yang bising, akan jadi tempat yang tenang untuk ditinggali. Ini dekat dengan tempat tinggal utamaku, jadi datanglah kapanpun yang kau inginkan,” jelas Jung dan kemudian mengembalikan jepit yang diberikan Soo melalui Baek Ah. Jung kemudian mengucapkan terima kasih karena Soo mengatakan kalau dia menginginkannya. Melihat jepit rambut itu, Soo terlihat sedih, karena jepit rambut itu dari So dan Jung tak tahu tentang hal itu. Setelah memberikan jepit rambut, Jung pergi.  Kembali teringat pada So, Soo pun melihat kembali salinan surat dari So yang dia buat.

Keesokanharinya, Soo menemani Jung berlatih pedang. Sembari menunggu Jung berlatih pedang, Soo melukis wajah So di batu.

Jung selesai berlatih pedang dan tiba-tiba dia kesal sendiri. Melihat itu, Soo menghampirinya dan memberikan sapu tangan untuk mengelap keringatnya. Merasa ada yang memata-matai mereka, Jung pun dengan sengaja meminta Soo yang mengelap keringatnya. Tentu saja Soo melakukannya dengan senang hati. Jung kemudian menangkap tangan Soo dan mengatakan sudah.

Jung kemudian mengajak Soo masuk ke rumah karena tabib istana sudah pensiun dan Jung memintanya datang ke rumah untuk memeriksa Soo. Mendengar kalau dirinya akan diperiksa tabib, Soo sedikit khawatir dan mengatakan kalau dia baik-baik saja, namun Jung tetap ingin Soo diperiksa karena selama ini Soo sudah banyak menderita.

Setelah memeriksa nadi, tabib berkata kalau dia tak merasakan denyut bayi-nya, walau Soo sudah meninggalkan istana. Mendengar kata bayi, Jung sedikit terkejut. Ya, Soo sudah hamil anak So, namun kondisi tubuh Soo sangat lemah.

“Seperti yang ku peringatkan sebelumnya jantungmu berdebar-debardan kesehatanmu tidak baik. Karena bayi yang belum lahir, kau jadi semakin lemah. Jika kau bersikeras menjaga bayi….”

“Aku akan baik-baik saja. Selama bayinya aman, aku tidak peduli,” potong Soo.

“Bagaimana bisa kau bilang begitu?” ucap Jung marah. Dia kemudian meminta tabib untuk menjaga rahasia ini, jadi si tabib harus menunda kepulangannya dan tetap di rumah Jung untuk merawat Soo. Tabib pun bersedia melakukannya, dia kemudian berpesan pada Soo untuk tidak keluar rumah karena saat angin bertiup dingin akan sangat tak baik untuk kesehatannya. Soo di sarankan untuk tetap berada di tempat tidur.

So marah dan kesal ketika mengetahui kalau Soo dan Jung semakin dekat, padahal Baek Ah bilang pernikahan mereka hanya formalitas saja. JI Mong berusaha menjelaskan kalau memang seperti itulah sikap Soo.

“Dia berteman dengan Jung sejak dia masih muda.  Dia memiliki banyak aspek  yang cerah tentang dia. Dia tipe orang yang tidak peduli apakah  seseorang itu laki-laki atau perempuan,” ucap Ji Mong, walaupun So benar-benar kesal dan merasa cemburu.

Soo kembali melukis wajah So di batu. Dia melukisnya di luar rumah sehingga dia terkena angin dan membuat jantungnya kembali sakit. Jung melihatnya dan langsung menghampiri Soo.

“Kenapa kau keluar? Angin dingin bisa membahayakan bayi…,” ucap Jung dan tanpa  keduanya sadari, So melihat mereka dari jauh.  Karena Soo terlalu lemah untuk berjalan, Jung pun membopong Soo ke dalam rumah. Melihat itu, So benar-benar terbakar rasa cemburu.

Demi menjaga Soo yang masih sakit, Jung memutuskan tidur di kamar Soo. Sebelum tidur mereka berdua ngobrol membahas masa lalu mereka yang menyenangkan. Jung bertanya apa Soo ingat saat mereka berdua pertama kali bertemu? Soo pun menebak kalau mereka pertama kali bertemu antara di perpustakaan Wook dan saat Soo menyelamatkan Jung.

“Maksudmu saat kau datang berjalan dengan tongkat itu? Aku sangat terkejut saat itu.  Aku tidak pernah melihat  gadis yang begitu berani,” ucap Jung. “Bagaimana saat kau berkelahi dengan Eun? Aku tertawa kapanpun  aku memikirkan itu.  Rambutmu berantakan dan Eun memiliki memar di kepalanya! Tenagamu masih kuat,” sambung Jung dan Soo mengiyakan.

“Kenapa kau tidak menepati janji untuk bernyanyi di hari ulang tahunku? Aku menunggu setiap tahun,” aku Jung dan Soo pun baru ingat akan hal tersebut, jadi dia berjanji akan bernyanyi untuk Jung di hari ultahnya tahun ini.

“Apa kau ingat? Kau dulu menyelinap ke Damiwon dan mengintip kita yang sedang mandi.  Kenapa kau melakukan hal itu? Jika kau berpikir tentang itu, kau licik karena masih muda,” tanya Jung dan Soo merasa malu ketika Jung membahas hal tersebut.

“Itu sangat tidak adil.  Aku begitu terkejut saat itu sampai  aku bahkan tidak melihat apa-apa,” jawab Soo.

“Jangan bohong! Kau lihat semuanya, kan?”

“Aku sungguh tidak bisa melihat.”

“Ada apa dengan tubuhku?” tanya Jung dan tanpa keduanya sadari, So mendengar apa yang mereka bicarakan. Tentu saja hal itu membuat So sangat cemburu, apalagi saat lampu kamar sudah dimatikan.

Pulang ke istana, So mengatakan pada Ji Mong kalau dia tak lagi ingin mendengar kabar terbaru tentang Jung dan Soo.

Saat berada sendirian di ruang belajar, Soo melihat So ada di depannya. Dalam hati dia berkata, “Akhirnya, tinggal kita berdua sekarang, jauh dari istana. Hanya kau dan aku…Aku dan kau. Sekarang aku bisa lupakan kebenaran dan kebohongan, salah paham dan kecemburuan dan perjuangan genting untuk tahta dan kematian dan hanya mencurahkan waktuku untuk mencintaimu.”


Walaupun menikah dengan Jung, setiap aktivitas yang Soo lakukan ketika sendiri, dia selalu membayangkan ada So disampingnya. Mulai dari ketika dia menulis surat dan melukis wajah di batu. Namun saat dia menyadari kalau hal itu hanya bayangan saja, Soo pun terlihat murung.

[Sekitar 6 bulan kemudian]

Jung merasa cemas dan nervous ketika menunggu Soo lahiran. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dan seorang bidan keluar membawa bayi-nya Soo. Jung langsung menanyakan keadaan Soo? Namun bidan tak langsung memberitahunya, dia malah berkata kalau putri mereka lahir dengan sehat dan cantik. Jung kemudian mengingatkan bidan untuk menganggap anak itu lahir dalam keadaan meninggal dan si bidan pun mengiyakan. Setelah itu, bidan pun membawa bayi Soo ke inang.

loading...

Jung menemui Soo dan memberitahunya untuk tidak mencemaskan bayinya, karena bayinya lahir cantik dan sehat. Selain itu, Jung juga sudah mencarikan inang terbaik yang ada di sekitar rumahnya. Soo pun lega. Jung menyuruhnya untuk berhenti mencemaskan bayinya dan memikirkan keadaan Soo sendiri, karena Soo harus secepatnya memumilihkan kesehatannya.

Soo kemudian memberikan surat yang sudah dia tulis untuk Raja dan meminta Jung mengirimkannya. Soo mengirim surat bukan untuk menunjukkan bayinya, tapi karena dia ingin bertemu dengan So saja.

Jung kemudian mengirim seseorang untuk menyampaikan surat itu dan dia juga berpesan pada si pembawa surat untuk memberitahu raja kalau raja harus membacanya. Melihat tulisan di amplop yang sangat mirip dengan tulisan So, Jung pun menggantinya. Dia bahkan menambahkan disamping amplop dengan namanya sendiri, seolah-olah surat itu dari Jung.

Hmmm…. jadi selama ini tujuan Soo menjiplak tulisan So adalah agar tulisannya jadi sama seperti tulisan So.

Soo sedang menggendong bayinya dan tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing. Sekarang Soo sudah terbaring di ranjangnya dan Jung juga sudah memanggil tabib. Melihat dari ekspresi tabib, sepertinya penyakit Soo semakin parah.

So sedang bersama Ji Mong saat dia mendapatkan kiriman surat tersebut, namun ketika dia melihat nama Jung pada amplopnya, So langsung melemparnya ke tumpukan surat yang tak dia baca. So tak mau membacanya, karena menganggap kalau Jung pasti hanya mengirim kalimat-kalimat benci padanya.

“Dia bilang ada pesan untukmu, Yang Mulia. Dia bahkan mengirim seseorang,” ucap kasim yang menyampaikan surat.

“Apa aku terlihat seperti aku punya  waktu untuk bertemu orang?” tanya So marah dan kasim itupun tak berani berbicara lagi.

Soo bertanya pada Jung apa So belum datang dan Jung mengiyakan. Karena Soo sudah mengirim banyak surat, tapi So tak juga datang, Soo pun menganggap kalau So benar-benar membenci dirinya. Soo kemudian meminta Jung untuk mengirim seseorang ketika mengirim pesan dan reflek Jung menjawab kalau dia sudah melakukan hal tersebut. Tapi karena dia tak mau membuat Soo kecewa, Jung pun berkata kalau dia lupa, jadi dia nanti akan mengirim orang ke istana.

Jung kemudian mengajak Soo keluar untuk mendengarkan lagu dari musisi yang sudah Jung panggil dari istana. Jung ingin Soo merasa senang agar tubuhnya cepat pulih.

Di luar, Jung kemudian meminta musisi itu menyanyikan lagu yang terbaik. Karena tahu Soo adalah dayang yang pernah Raja sekarang cintai, jadi penyanyi itu pun berkata kalau dia kan menyanyikan lagu yang membuat Raja jatuh cinta pada Soo. Mendengar itu, Soo pun ingin mendengarkan lagunya.

Ternyata lagu yang penyanyi itu maksud adalah lagu yang Soo nyanyikan untuk semua pangeran. Saat itu semuanya masih baik-baik saja dan hidup bahagia. Soo kemudian teringat hari-harinya bersama Soo yang begitu membahagiakan.

“Dulu… Kau berjanji akan memperlakukan hidupku seolah-olah hidupmu. Kau ingat itu?” tanya Soo dengan suara pelan. Soo kemudian meminta Jung untuk menjaga dan melindungi putrinya, jangan sampai putrinya pergi ke istana.

Soo kemudian berkata kalau So tidak akan datang menemui dirinya dan Jung bertanya apa Soo akan mengingat dia (jung)  di kehidupan selanjutnya? dan Soo menjawab tidak, karena Soo ingin melupakan semuanya, bahkan dalam mimpinya.

Soo meninggal di pelukan Jung, sahabat terbaiknya. Sahabat yang mau membantunya keluar dari istana.

Kabar tentang meninggalkan Soo sampai ke telinga Raja dan So bertanya-tanya apa Soo sebegitu bencinya pada dia, sampai-sampai Soo meninggalkan dia selamanya.

“Rupanya, dia telah mengirimkan surat, Yang Mulia. Kau tidak membacanya?” ucap Ji Mong dan So langsung mencari surat-surat yang di kirim Jung. So membukanya dan kemudian membaca surat-surat dari Soo yang selama ini dia abaikan.

“Hidup itu seperti mimpi. Benar dan salah. Benci dan cinta. Mereka semua terkubur dengan berlalunya waktu dan pergi diam-diam tanpa jejak. Apa kau masih berpikir bahwa kau tidak memiliki seluruh hatiku dan membenciku?  Aku selalu khawatir bahwa aku mungkin meninggalkanmu dengan kebencian bukan cinta,  tidak mengizinkanmu untuk beristirahat dalam damai,” tulis Soo dalam suratnya dan membuat So menangis.

“Aku masih mencintaimu. Saat kau menyerahkan segalanya dan berdiri di sampingku dalam hujan… Saat kau melemparkan tubuhmu ke arah panah terbang untuk melindungiku… Kau menjadi seseorang yang tidak pernah bisa dilupakan dalam hidupku. Aku menyadari bahwa lawan dari cinta  bukanlah benci, melainkan pergi. Aku takut kau mungkin berpikir bahwa aku meninggalkanmu dan bahwa kau meninggalkan aku. Aku sangat merindukanmu, tapi aku tidak bisa di dekatmu.  Aku berharap dan menunggu untuk melihatmu lagi dalam pagar itu.  Aku akan menunggumu…  Setiap hari,” sambung  Soo dalam suratnya dan So langsung menunggangi kudanya menuju rumah Jung.

Ternyata yang Soo gambar di batu adalah wajah-wajah para pangeran dan disampingnya ada Jung yang terus memandangi guci abu Soo. Baek Ah datang dan Jung langsung memberinya surat yang di tulis Soo untuknya. Baek Ah pun membacanya. Tepat disaat itu, So datang dan seperti orang gila berteriak mencari Soo. Dia kemudian terdiam ketika melihat guci abu Soo.

“Apa yang sudah kau lakukan selama ini? Jangan berpura-pura sedih sekarang,” ucap Jung dan So langsung mencengkram baju Jung.

“Ini semua salahmu.  Namamu tertulis di amplop. Aku tidak tahu surat Soo ada di dalamnya,” jawab So dan dengan perasaan bersalah, Jung mengaku kalau dia melakukan hal itu karena tulisan Soo sangat mirip dengan tulisan So.

“Tetap saja, kau pasti  sudah tahu Soo sekarat. Aku tahu kau menyuruh seseorang  mengintai rumah ini,” ucap Jung tak mau disalahkan.

“Kau satu kamar dengan Soo dan kalian menjadi dekat.  Dia berhenti mendapat laporan tentang kalian,” jawab Baek Ah yang ikut merasa kesal dengan semua yang terjadi. Mendengar itu, Jung kembali terdiam.

So terus menangisi abu Soo dan kemudian membawanya. Dia ingin membawa abu Soo pergi bersamanya, namun Jung menghalanginya. Dia mengklaim kalau itu adalah abu istrinya dan So berkata kalau Soo adalah oranya. Soo adalah miliknya. Jung hendak merebutnya, namun Baek Ah yang mengingatkan Jung kalau Soo lebih menginginkan bersama So daripada dengan dirinya. Mendengar itu, Jung pun membiarkan So membawa abu Soo.

Setelah So pergi, Baek Ah meminta Jung untuk tidak bertarung dengan So lagi dan semua itu demi Soo. “Hae Soo menghabiskan hidupnya terjebak di antara kita semua. Dia tidak bisa melakukan ini atau itu.  Mengetahui itu, kau akan membuat Hae Soo semakin sedih?” ucap Baek Ah.

Jung kemudian mengeluarkan jepit rambut milik Soo yang selama ini dia bawa kemana-mana dan menangis. Melihat itu, Baek Ah pun baru sadar kalau Jung punya perasaan pada Soo.

“Kau tidak benar-benar… Betapa bodoh dirimu,” ucap Baek Ah dan memeluk Jung.

So membawa abu Soo ke tempat Soo biasa berdoa. Dia kemudian teringat pada hari-harinya bersama Soo, dimana Soo berkata kalau dia tak merasa sendiri di istana, karena ada So bersamanya. Dia juga teringat pada janji Soo yang tak akan pernah meninggalkan So.

Bersambung

 

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis the legend of the blue sea
  • sinopsis scarlet heart ryeo lengkap
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *