Home » Kim Sae Ron » Sinopsis Mirror of The Witch Episode 3 – 1

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 3 – 1

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 3 – 1 bercerita tentang Hong Joo yang berusaha mencari keberadaan putri, namun semua itu tak bisa karena sang putri dilindungi oleh kekuatan mantra milik Hyun Seo. Jika pada episode sebelumnya Joon terlihat jatuh dari tebing, pada episode ini kita akan melihat dia baik-baik saja, dia hanya sedikit terluka dan kemudian menginap di rumah Yeon Hee. Namun sangat disayangkan, saat dia kembali ke rumah untuk menagih janji Heo Ok, Heo Ok malah mengingkari janjinya dan berkata kalau dia tidak akan melepaskan ibu Joon dari status pelayan. Disisi lain, Hyun Seo berhasil mendapatkan buku untuk mengatasi kutukan. Bagaimana cerita selengkapnya? yuk kita simak sinopsisnya dibawah ini.

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 2 – 2

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 3 – 1

Gara-gara mendapat informasi dari Ratu Shim mengenai Putra Mahkota yang bermimpi melihat sorang gadis yang mirip dengannya, Hong Joo pun langsung melakukan sebuah ritual untuk mencari tahu apakah si Putri masih hidup atau tidak. Dia menggunakan bayangan hitam untuk mencaritahu keberadaan si Putri. Bayangan itu kemudian pergi ke rumah Yeon Hee.

Mendengar suara genderang dan angin kencang, Yeon Hee langsung menutup rapat rumahnya. Setelah semua terkunci dengan aman, Yeon Hee langsung menutup telinganya di tempat tidur. Dia terus berkata, “Aku tidak takut sama sekali… Aku tidak takut sama sekali,” untuk menguatkan diri.

Poong Yeon pulang dan saat di tanya dari mana, dia jujur menjawab kalau dia baru menemui Yeon Hee. Tentu saja Hyun Seo marah mendengarnya, karena dia sudah pernah mengingatkan Poong Yeon untuk tidak menemui Yeon Hee. Merasa tak punya hubungan darah, Poong Yeon pun bertanya kenapa dia tak boleh menemui Yeon Hee dan suka padanya. Dia juga penasaran dengan alasan kenapa Yeon Hee harus di kurung di tempat seperti itu. Hyun Seo tak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya, dia hanya menjawab kalau dia tak ingin kehilangan mereka berdua, jadi mereka tak boleh bertemu. Tentu saja Poong Yeon tak mau menuruti apa yang Hyun Seo katakan, karena Hyun Seo tak bisa memberikan alasan yang jelas padanya, lagipula Poong Yeon merasa kalau perasaannya pada Yeon Hee sudah tak bisa dibendung lagi.

Ibu Joon sedang mencuci kaki Ibu Hae Ok. Ibu Hae Ok pun mengatakan kalau dia pergi ke seorang peramal dan peramal itu berkata kalau Joon akan mempermalukan Hae Ok. Namun ibu Hae Ok berkata kalau dia tak mempercayai ramalan seperti itu dan ibu Joon pun membenarkan, karena tak mungkin Joon berani melakukan hal seperti itu.

“Namun, aku mengungkitnya untuk berjaga-jaga. Kudengar Joon melakukan hal-hal yang aneh. Dia melakukan apa saja demi uang. Aku sangat cemas dia akan berbuat hal-hal yang memalukan nama keluarga Heo,” ucap ibu Hae Ok dan ibu Joon langsung berjanji kalau dia akan meminta Joon untuk lebih berhati-hati lagi. Namun ibu Heo Ok langsung memotong dengan berkata kalau dia jangan meminta Joon berhati-hati, tapi harus berhenti. Selain itu, kalau Joon mau mengambil ujian pegawai negeri atau jabatan pemerintahan, ibu Heo Ok berpendapat kalau Joon bisa jadi salah paham.

“Waktu itu, dia berbuat begitu karena masih terlalu muda. Sekarang sudah tak seperti itu,” ucap ibu Joon dan ibu Heo Ok bertanya kenapa Joon selalu melakukan apa yang Heo Ok lakukan. Diapun meminta Ibu Joon untuk mengendalikan Joon, karena dia hanya seorang anak pelayan.

“Jangan cemas, mulai sekarang takkan terjadi lagi,” janji ibu Joon.

“Kalau begitu, aku hanya akan mempercayaimu. Joon tergantung padamu,” ucap ibu Heo Ok dan kemudian bertanya kenapa sudah bertambah usia kulit ibu Joon masih terlihat lembut. Namun Ibu Joon tak menjawab, dia hanya terus menunduk. Ibu Heo Ok terlihat kesal dan langsung berdiri sambil berkata kalau airnya sudah dingin.

Ibu Joon duduk diluar dan teringat semua kata-kata dari ibu Heo Ok yang meminta agar Joon berhenti untuk tidak mengikuti ujian pegawai negeri atau jabatan pemerintah. Tepat disaat itu Heo Ok pulang dalam kondisi mabuk. Dia menyuruh ibu Joon masuk rumah dan tidur. Melihat Joon tak pulang bersama Heo Ok, ibu Joon pun bertanya keberadaannya.

“Joon? Dia belum pulang? Karena cuaca dingin, dia mungkin akan segera pulang. Masuklah tidur,” jawab Joon dan masuk rumah.

Kita beralih pada Joon yang pingsan dengan tubuh penuh luka dan tangan memegang layang-layang. Di rumah, Yeon Hee masih merasa ketakutan. Dia kemudian mendengar suara orang di luar, penasaran, Yeon Hee pun memberanikan diri untuk keluar rumah. Di luar rumah, Yeon Hee melihat Joon terduduk di tanah dengan tubuh penuh luka.

“Sebodoh apapun, ini tetap salah. Kenapa kau ke tebing yang berbahaya demi benda sepele?” ucap Yeon Hee ketika mengetahui kalau Joon terluka sampai seperti itu gara-gara untuk mengambil layang-layang.

“Apa? Sepele? Kau bilang ini penting maka aku mengambilnya,” jawab Joon.

“Apa yang lebih penting dari nyawa manusia?” tanya Yeon Hee sambil mengobati luka Joon. “Lagipula kalau kau mengambilnya, harusnya kau baik-baik saja. Kenapa sampai terluka?”

“Memang. Aku yang sinting. Hanya sekedar layangan sepele,” ucap Joon menyadari kalau dia sudah melakukan sesuatu yang sia-sia. Joon kemudian melihat Yeon Hee yang dengan perhatiannya mengobati luka-lukanya, dia tanpa sadar tersenyum melihat Yeon Hee.

Selesai mendapat pengobatan, Joon pun memutuskan pulang, walaupun Yeon Hee menyuruhnya menginap karena terlalu bahaya melewati hutan malam-malam seperti itu. Namun ketika melihat semak-semak yang sangat gelap, Joon terlihat ragu untuk berjalan pulang. Diapun langsung kembali duduk disamping Yeon Hee.

“Hey! Begini, setelah kupikir-pikir, bukan sikap seorang pria jika meninggalkanmu sendirian di sini di tempat yang berbahaya. Hanya kali ini, aku akan tidur di sini malam ini,” ucap Joon mencari alasan. “Kita tidur bersama di satu ruangan?” tanya Joon.
“Tentu aku tidur di dalam dan kau tidur d luar,” jawab Yeon Hee dan mau tak mau Joon pun harus mengikuti peraturan Yeon Hee. Agar Joon tak kedinginan, Yeon Hee memberikan selimut untuk Joon.

Mereka sekarang sudah sama-sama berbaring di tempat tidur mereka masing-masing. Yeon Hee berada di dalam ruangan, sedangkan Joon berada di luar.

“Kau sudah tidur?” tanya Joon dari luar dan Yeon Hee menjawab belum. “Hey kesemek, apa namamu Yeon Hee?” tanya Joon lagi.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Yeon Hee balik dan Joon menjawab kalau dia tahu dari Hyun Seo yang memanggil namanya tadi pagi. Joon kemudian bertanya kenapa ayah Yeon Hee meninggalkan Yeon Hee tinggal di rumah itu sendirian.

“Apa kau juga terlahir di keluarga dimana tak seharusnya kau dilahirkan?” tanya Joon.

“Dilahirkan di keluarga dimana tak seharusnya dilahirkan?” tanya Yeon Hee tak mengerti.

“Maksudku apa kau terlahir di tempat dimana keberadaanmu menjadi beban dan menyusahkan orang lain. Itu sebabnya ayahmu menyembunyikanmu di tempat seperti ini.”

“Katanya tak ada seorangpun di dunia ini yang tak seharusnya dilahirkan. Itu yang dikatakan kakakku. Siapapun itu, kaya atau miskin, sakit atau sehat. Orang terlahir dengan alasannya masing-masing, setiap orang terlahir dengan berkah yang akan bermanfaat bagi dunia. Menemukan tujuan itu adalah artinya hidup,” ucap Yeon Hee dan menutup matanya. “Maka jangan terlalu sedih. Aku yakin pasti ada alasan mengapa kau juga dilahirkan,” tambah Yeon Hee dengan mata tertutup, dia seolah-olah tahu dengan apa yang Joon rasakan.

“Hey! Hey! Hey! Kenapa pembicaraan kita mengarah ke sana? Aku tak pernah bersedih,” bantah Joon.

“Kalau tidak, ya sudah,” jawab Yeon Hee yang terlihat sudah mengantuk. Namun Joon terus berbicara, dia menyuruh Yeon Hee untuk tidak membiarkan seorang pria menginap seperti malam ini.

“Kau sangat ceroboh…Untung saja aku orang baik. Kau paham?” tambah Joon.
“Karena kau orang baik, kau masuk tanpa ijin ke rumah orang dan mencuri?” tanya Yeon Hee dan membuka matanya lagi dan Joon berusaha membantah pernyataan Yeon Hee. Tak mau ribut, Yeon Hee pun menyuruh Joon untuk tidur saja.

Joon tersenyum mengingat ucapan Yeon Hee yang berkata kalau dia yakin pasti ada alasan mengapa Joon juga dilahirkan. Mereka berdua pun sama-sama tertidur dengan hanya di skat dinding.

loading...

Bayangan hitam dari Hong Joo datang dan dua srigala dari kertas mantra yang paling besar keluar untuk mengusirnya.

Paginya, Hyun Seo bersama teman-temannya pergi ke suatu tempat dengan mengendarai kuda. “Hari ini ulang tahun Yeon Hee ke-17, kutukannya dimulai, maka kutukan kematian akan terjadi. Kalian harus mencari cara untuk menghentikan kutukan di tempat ini. Itu jalan terakhir untuk bertahan hidup.” Hyun Seo sampai di tempat tujuan.

Heo Ok sedang bermain bersama gisaeng dan teman-temannya, saat Joon datang membawa layang-layang. Semua orang terkejut melihatnya, karena mereka tahu kalau hutan itu adalah hutan yang mengerikan.

“Seperti janjiku, aku sudah membawa layangannya,” ucap Joon pada Heo Ok dan ternyata Yeon Hee yang menyuruh Joon membawa layang-layang itu, karena memang tujuan Joon masuk hutan karena ingin mendapatkan layang-layang itu. Namun Yeon Hee tidak memberikan layang-layang itu padanya, dia hanya meminjamkan, jadi Joon harus mengembalikannya.

“Sekarang giliranmu, Tuan Muda. Tolong tepati janjimu,” ucap Joon dan Heo Ok menyuruh teman-temannya untuk memberi tepuk tangan pada Joon karena sudah melakukan sesuatu yang menakjubkan.

“Karena aku sudah berjanji, aku harus menepatinya. Ya, ini. Bagaimana ini? Tak ada uang lagi. Ini, terima ini dulu,” ucap Heo Ok yang sudah setengah mabuk dan melempar uangnya pada Joon. “Akan kuberikan sisanya setelah aku pulang,” janji Heo Ok dan menyuruh Joon memungut uang yang sudah dia lempar. “Kenapa? Kau cemas aku akan menipumu? Jangan cemas, akan kuberikan setelah aku pulang,” ucap Heo Ok dan Joon mulai memunguti uang-uangnya. Melihat Joon memungut uang, Heo Ok pun kembali mengejeknya.

“Dengan begitu kau bisa membebaskan ibumu. Apa? Kau pikir aku takkan tahu alasanmu begitu tekun mengumpulkan uang, hanya untuk membeli kontrak budak ibumu,” hina Heo Ok dan kemudian menyuruh teman-temannya untuk melempar uang mereka pada Joon.

Heo Ok tak henti-hentinya menghina Joon. Dia memberi Joon minum dan kemudian bertanya bagaimana cara Joon mengambil layang-layangnya, karena ada kabar yang mengatakan kalau ada hantu cantik di tempat itu.

“Apa kau serahkan tubuhmu padanya sepanjang malam untuk membawa ini ke sini? Mungkin memang begitu. Ibumu juga begitu, seperti ini dan mengandungmu. Seperti ini dan melahirkanmu. Seperti ini,” ucap Heo Ok dan membuka bajunya. “Joon. Tapi bagaimana ya? Aku tak berencana untuk menyerahkan kontrak budak ibumu. Ibumu, sampai dia mati, dia harus terus menjilat kakiku. Seperti ini,” bisik Heo Ok pada Joon dan itu berhasil membuat Joon emosi sampai lepas kontrol sehingga memukul Heo Ok. Joon di pegangi oleh teman-teman Heo Ok, namun dia terus memberontak dan kembali memukul Heo Ok sampai Heo Ok nyebur ke kolam.

Joon pulang dan ibunya langsung menghampirinya. Dia bertanya kemana saja Joon sampai tidak pulang. “Kenapa kau membuat ibumu sangat mencemaskanmu? Kenapa kau seperti ini? Apa kau terluka? Di mana kau sampai terluka begini?” tanya Ibu Joon dan tepat disaat itu Heo Ok pulang dengan marah-marah karena dia basah kuyub dan muka lebam.

“ Kenapa wajahmu..,” tanya ibu Joon.

“Tanyakan padanya. Tanya dia!” jawab Heo Ok dan saat Ibu Joon menanyakan pada Joon, Ibu Heo Ok muncul. Tentu saja pada ibunya, Heo Ok langsung mengadukan apa yang sudah Joon lakukan.

“Berani sekali, anak pelayan sepertimu!” ucap ibu Heo Ok dan Ibu Joon langsung menampar Joon.

“Anak kurang ajar, dimana kau belajar tata krama? Begitu caranya ibu mendidikmu? Kurang ajar sekali, kau berani melayangkan tanganmu ke wajah Tuan Muda?! Cepat minta maaf padanya! Cepat minta maaf! Cepat!” perintah Ibu Joon namun Joon tak mau melakukannya.

“Tidak mau. Ibu, aku tak berbuat salah. Jadi, aku tak perlu meminta maaf,” jawab Joon dan langsung pergi.

Di rumah Heo Ok diobati oleh ibunya. Sang ibu mengobatinya dengan kasar karena dia memang sedang merasa marah, dia beranggapan kalau ibu Joon sudah mengakali dirinya dengan pura-pura memarahi Joon. Dia bahkan memarahi Heo Ok yang mabuk disiang bolong. Heo Ok pun memberitahu ibunya kalau Joon sedang berusaha mengumpulkan uang untuk membebaskan ibunya dari status pelayan.

“Ibu, kenapa Heo Joon bersusah payah membebaskan ibunya? Mungkin setelah ibunya bebas, dia punya rencana lain. Dia anak yang cerdas!” hasut Heo Ok dan sang ibu tidak ingin mendengarnya lagi, dia menyuruh agar Ok fokus pada pelajarannya saja. Karena Ibu Heo Ok punya rencana sendiri untuk menggagalkan rencana Joon.

Tepat disaat itu, Ibu Joon memanggil Ibu Heo Ok. Di luar, ibu Ok berlutut dan meminta maaf atas nama Joon. Dia juga menyalah diri sendiri karena tidak bisa mendidik Joon dengan baik. Dengan alasan karena ibu Joon sudah membuat kesalahan, jadi Ibu Ok pun memutuskan untuk menghukumnya. Hukuman yang diberikan pada Ibu Joon adalah di gulung dalam tikar jerami kemudian di pukuli dengan keras.

Joon sendiri tak tahu apa yang sedang terjadi pada ibunya. Dia masih duduk terdiam di pasar. Tepat disaat itu Dong Rae melintas, sebenarnya Dong Rae ingin pergi, namun rasa persahabatannya pada Joon, membuatnya tak bisa meninggalkan Joon begitu saja. Tapi dia masih tak berani menghampiri Joon, dia hanya berdiri di tempat sambil melihat ke arah Joon.

Joon melihat Dong Rae dan tanpa berkata sepatah katapun pada Dong Rae, Joon hendak berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah, Joon berhenti dan mengajak Dong Rae menjual barang-barang yang Dong Rae bawa. Melihat Joon tak marah padanya, Dong Rae merasa senang dan langsung memeluk Joon. Dong Rae lega, Joon bisa kembali dalam keadaan selamat.

“Hey, tapi kenapa wajahmu? Apa terjadi sesuatu?” tanya Dong Rae, tapi karena Joon tak menjawab, Dong Rae langsung mengalihkan pembicaraan. Dia menunjukkan obat-obatan yang berhasil dia buat. Melihat usaha keras Dong Rae untuk membuat obat-obatan itu membuat Joon tersenyum dan Dong Rae senang melihatnya.

Hyun Seo dan rombongan, berjalan kaki menuju kuilnya karena kuilnya terdapat di bebatuan yang terjal. Mereka semua kemudian masuk ke sebuah gua yang gelap. Dengan kekuatannya, Hyun Seo menyalakan lilin yang terdapat ditempat itu, agar bisa melihat kesekeliling. Hyun Seo dan kawan-kawan bingung, karena mereka tidak menemukan apa-apa disana, padahan kalau menurut peta, kuilnya ada di tempat itu.

Salah satu teman Hyun Seo yang menggunakan tongkat berkata kalau dia merasakan kehadiran sesuatu di tempat itu. Tak lama kemudian terdengar suara ngiangan yang membuat telinga mereka sakit. Selain suara itu, mereka juga diserang oleh banyak binatang. Melihat hal itu, Hyun Seo menyuruh teman-temannya untuk tidak takut, karena semua itu hanyalah ilusi belaka. Namun mereka tak mendengarkan perkataan Hyun Seo, karena mereka sedang sibuk merasa ketakutan.

Hyun Seo kemudian menghampiri seekor ular yang sendirian, dengan berani dia hendak menangkap ular tersebut dan tiba-tiba ular itu menjadi lilin yang menyala. Berkata keberanian Hyun Seo yang hendak menangkap ular tersebut, semua ular yang menjadi ilusi teman-temannya pun hilang.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dan sampai di dasar. Hyun Seo sangat yakin kalau di tempat itu pasti ada sesuatu yang bisa mengatasi kutukan Yeon Hee, jadi diapun menyuruh teman-temannya untuk mulai mencari. Mereka semua berpencar untuk mencari sesuatu yang bisa di gunakan sebagai penghilang kutukan Yeon Hee.

Hyun Seo kemudian menemukan sebuah kitab dan Yo Gwang langsung memanggil teman-temannya untuk berkumpul. Yang Hyun Seo temukan adalah “Kitab Pengusir Roh Jahat.” Apakah Hyun Seo berhasil mengatasi kutukan Yeon Hee dengan buku itu? Dan apakah Hong Joo bisa menemukan keberadaan Yeon Hee? Jangan kemana-mana tunggu sinopsis selanjutnya…

Bersambung ke sinopsis Mirror of the Witch ep 3 -2

loading...

Yang banyak dicari

  • foto mirror of the witch
  • sinopsis mirror of the witch eps 3
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *