Home » Kim Sae Ron » Sinopsis Mirror of the Witch Episode 2 – 2

Sinopsis Mirror of the Witch Episode 2 – 2

Sinopsis Mirror of the Witch Episode 2 – 2 bercerita tentang Joon yang akhirnya bertemu dengan Yeon Hee. Yeon Hee adalah putri Raja yang disembunyikan dari Hong Joo, karena terlahir dari ilmu hitam Hong Joo dan mendapat kutukan dari Hae Ran. Yeon Hee harus terkurung di dalam sebuah rumah yang dipagari kertas mantra selama 17 tahun. Selama 17 tahun ini, Yeon Hee di rawat oleh Hyun Seo dan semua itu atas perintah sang Raja. Ingin mengetahui cerita singkatnya? yuk simak sinopsisnya.

Sinopsis Mirror of the Witch Episode 2 – 1

Sinopsis Mirror of the Witch Episode 2 – 2

Joon terus berlari dari kejaran harimau. Di sisi lain Dong Rae baru sadar kalau dia sudah terpisah dari Joon. Dong Rae hendak kembali untuk mencari Joon, namun karena dia mendengar auman harimau, Dong Rae pun memutuskan kembali berlari untuk mencari jalan keluar. Setelah berlari sekuat tenaga, akhirnya Joon bisa sembunyi dan terlepas dari kejaran harimau.

Namun sayang, ketika dia keluar dari tempat persembunyian dan hendak meneruskan perjalanannya, si harimau kembali muncul. Berhadapan dengan si harimau, Joon sejenak melihat ke arah layang-layang.

“Maafkan aku. Tapi..aku benar-benar membutuhkan uang itu. Jadi, hmmm…minggirlah,” ucap Joon dengan gemetaran sambil menunjukkan pisaunya pada si harimau. Si harimau berjalan mengelilingi Joon dan kemudian pergi tanpa menerkam ataupun melukai Joon sedikitpun. Joon terlihat lega dan lemas.

Tiba-tiba langkah harimau terhenti dan berbalik, dia berlari ke arah Joon dan menerkamnya. Tentu saja Joon shock berada di bawah harimau. Ketika si harimau hendak memakan Joon, tiba-tiba pecahan perisai milik teman Hyun Seo yang dia ambil di istana, memberikan cahayanya dan itu membuat si harimau pergi, tanpa melukai Joon.

Joon melewati gua, dia meneruskan perjalanannya menuju layang-layang walau dengan kaki yang lelah karena habis berlari-lari. Setelah melewati semak-semak, Joon kemudian menemukan sebuah rumah yang di sekelilingnya di beri kertas mantra kuning. Melihat rumah itu, Joon pun bertanya-tanya kenapa ada rumah di tempat seperti itu.

“Hmm, permisi!…Apa ada orang disini?” tanya Joon namun tak mendapat jawaban. “Hmm, kalau begitu aku akan masuk,” karena masih tak ada jawaban, Joon pun langsung menerobos masuk halaman rumah itu dan naik pohon untuk mengambil layang-layang yang diminta Heo Ok.

Joon akhirnya mendapatkan tali dari layang-layang dan memotongnya. Namun tiba-tiba muncul seekor merpati dan membuatnya terjatuh dari pohon. Karena talinya sudah dipotong oleh Joon, layang-layang itu pun langsung terbang ke udara. Joon hanya bisa menghela nafas melihatnya. Kesempatan mendapatkan uang 500 nyang sudah hilang.

Joon mendengar sesuatu dari balik rumah dan mengeceknya, namun disana tidak ada apa-apa. Ketika Joon berbalik, tiba-tiba wajahnya dipukul sampai membuatnya pingsan. Joon tersadar dan mendapati dirinya sudah di ikat di pohon.

Di depan Joon sudah berdiri seorang wanita dengan wajah di tutup dengan menggunakan tutup kendi. Itu adalah benda yang wanita itu gunakan untuk memukul wajah Joon. Joon terus bertanya siapa wanita itu dan meminta dia memperlihatkan wajahnya.

“ Apa yang akan kau lakukan denganku?” tanya Joon karena sudah diikat dipohon.

“Kaulah yang menerobos masuk. Jadi, kenapa kau bertanya padaku, apa aku lakukan disini? Bukankah itu lebih pantas ditanyakan padamu?” ucap wanita itu dan dia masih menyembunyikan wajahnya.

“Hmm, aku rasa kau sudah salah paham. Aku bukan orang gila, ya? Aku akan menjelaskan semuanya, lepaskan aku dulu. Lalu, kita akan bicara…ya?” pinta Joon dan wanita itu bertanya bagaimana bisa dia percaya pada Joon. Joon sendiri bingung mengatakan bagaimana cara agar wanita itu percaya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Meninggalkan aku disini selamanya? Ha?” tanya Joon dan wanita itu akhirnya memperlihatkan wajahnya. Dia berkata kalau Joon lah yang sudah kurang ajar masuk ke rumah orang tanpa izin.

“Hmm, rumah?..Ini rumahmu?” tanya Joon dan wanita itu mengangguk. “Ini terlihat seperti tempat tinggal hantu,” gumam Joon dan dia kemudian teringat pada ucapan Dong Rae yang berkata kalau di hutan mengerikan itu tinggal hantu terkutuk yang akan muncul di hadapan manusia dengan wajah yang sangat cantik. Kemudian hantu itu akan masuk ke tubuh manusia dan merobek jantungnya.

“Tidak mungkin. Pantas…kepalaku terasa pening sejak aku tiba disini,” gumam Joon dan wanita itu berkata kalau kepala Joon pusing karena dia sudah memukulnya dengan tutup kendi. Namun Joon tak mau mendengar, dia tetap beranggapan kalau wanita yang ada di depannya itu adalah wanita jahat.

“Apa kau bilang?” tanya si wanita mulai kesal.

“Kau berusaha merayuku dengan wajah itu sehingga kau bisa merobek hatiku!Kau pikir aku tidak tahu soal itu?” ucap Joon dan mulai berdoa, “Enyahlah, Kau hantu!Mohon lindungi aku dari iblis… Surga, dengarkan permohonanku dan kabulkan ini…ah!”

(Oia, alasan aku belum menyebut nama wanita ini karena di asianwiki namanya ada dua, aku belum tahu kalau yang bertemu Joon ini di panggil apa, Yeon Hee atau Seo Ri)


Wanita itu kemudian mengembalikan tutup kendi dan kemudian mengambil lobak, “Kau ini berisik sekali!” ucap wanita itu dan kemudian menyumpal mulut Joon dengan lobak. Dia kemudian memperhatikan semua bagian wajah Joon, mulai telinga mata dan lain-lain, lalu berkomentar, “Sepertinya kau ini sangat pengecut, jadi kau tidak berbahaya.” Karena tidak berbahaya, wanita itupun berkata akan melepaskan Joon dan sebagai gantinya, Joon harus membantunya.

“Apa? Apa?…Apa?” tanya Joon.

“Bisakah kau…,” wanita itu mendekatkan wajahnya pada Joon.

“Apa? Apa?”

“Memberiku makanan?” ucap si wanita dan Joon langsung berteriak ketakutan, dia takut akan menjadi santapan si wanita. Tapi ketakutan Joon langsung sirna disaat dia tahu kalau wanita itu ingin minta diambilkan buah.

“Itu! Itu!…Itu semuanya!” ucap si wanita dan menunjuk semua buah yang masih berada di pohon.

“Jadi..semua ini yang ingin kau makan?” tanya Joon dan wanita itu mengiyakan. “Mereka sudah matang dari dua hari yang lalu dan kelihatannya sangat enak!”

“Hei. Jika kau benar-benar ingin makan ini..Kenapa kau tidak keluar dan mengambilnya sendiri? Buahnya bahkan tidak terlalu tinggi,” ucap Joon heran dan si wanita menjawab kalau dia tak bisa keluar dari tempat itu, dia tak bisa melewati pagar yang diberii kertas mantra itu.

“Kenapa? Apa Kau, seperti..terpenjara disini atau apa?” tanya Joon masih penasaran, namun wajah wanita itu langsung berubah murung sehingga membuat Joon bersedia memetikkan buah itu untuknya. Melihat Joon memetik buah dengan cara yang lucu, wanita itupun mulai tersenyum kembali.

Di hutan kita melihat Hyun Seo datang bersama seorang wanita. Mereka melihat jebakan yang mereka buat sudah mengenai seseorang. Kembali ke rumah dimana wanita itu sedang asik makan buah yang dipetik oleh Joon. Dia kemudian menawari Joon untuk ikut makan, namun Joon menolak.

“Hei. Apa kau ini benar-benar manusia?” tanya Joon masih penasaran.

“Kenapa? Apa kau masih berpikir kalau aku ini hantu?” tanya wanita itu balik dan Joon bergumam kalau orang-orang yang takut dengan hantu pasti akan merasa malu jika sudah bertemu dengan hantu seperti wanita itu.

“Hei, jadi jika kau bukan hantu, kenapa kau tinggal di tempat seperti ini?” tanya Joon karena masih penasaran.

“ Karena ini rumahku.”

“Kau terus saja mengatakan ini rumahmu. Jadi apa itu artinya kau benar-benar tinggal disini? Lalu, bagaimana dengan keluargamu?”

“Keluargaku…,” ucap wanita itu hendak bercerita namun tak jadi dan balik bertanya kenapa Joon perduli soal itu. “Oh ya, lagipula, kenapa kau pergi kesini?”

Joon pun akhirnya mengaku kalau dia datang untuk mengambil layang-layang. Membahas layang-layang, akhirnya Joon sadar kalau layang-layang seharga 500 nyang sudah hilang, terbang di bawa angin.

“Layang-layangku!..Dimana layanganku?” tanya si wanita karena itu memang layang-layang miliknya. Joon menjawab kalau tadi dia memotong benangnya dan sekarang layang-layangnya sudah terbang. Dengan nada kesal wanita itu berkata kalau itu adalah layang-layang kesukaannya dan layang-layang itu sangat spesial baginya.

“Kau tahu, itu juga layang-layang spesial bagiku, Oh, sial, layanganku!” keluh Joon.

“Kenapa kau terus saja mengatakan itu milikmu? Itu milikku!” tanya si wanita tak mengerti.

“Ahh, masalahnya, layanganmu itu, tapi itu seperti layanganku juga. Dan tepatnya itu bukan layanganku, tapi harus menjadi milikku…,” jawab Joon berusaha menjelaskan.

“Apa yang sedang kau katakan? Jadi kau ini hanya seorang pencuri, kan?” tuduh si wanita dan Joon berusaha menjelaskan kalau dia hanya berniat mengambil dan tak tahu kalau layang-layang itu ada yang punya. Joon kemudian melihat alat pembuat layang-layang dan diapun berkata kalau dia akan membuatkan layang-layang yang baru untuk wanita itu.

Joon akhirnya selesai membuat layang-layang dengan caranya sendiri. Wanita itu memperhatikan hasilnya dan kemudian bertanya “Apa ini?”

“Kau tidak tahu? Ini layang-layang!” jawab Joon dengan yakin dan si wanita menghela nafas lalu bertanya apa Joon pikir layang-layang yang dia buat itu bisa terbang. Joon tak bisa menjawab.

“Ah, sudahlah. Lagipula, aku tidak berharap banyak darimu,” keluhnya dan Joon langsung berkata akan membuatnya lagi, namun wanita itu mencegahnya dengan mengambil layang-layang milik Joon. “Aku sudah katakan, ini tidak apa-apa! biasanya, yang kedua pasti lebih baik.”

“Kemarikan. Kali ini aku akan membuat yang benar-benar bagus,” ucap Joon dan hendak mengambil kembali layang-layangnya, namun tak diberikan oleh wanita itu, sehingga terjadi tarik-tarikanlah diantara mereka. Joon menarik dengan keras, sehingga membuat wanita itu tertarik dan memeluk Joon. Bukannya langsung melepaskan pelukan, wanita itu malah asik mendengarkan detak jantung Joon yang berdegub kencang.

“Wuahh. Jadi kau ini benar-benar laki-laki sejati, kan?” tanya si wanita.

“Apa?”

“Dadamu sangat keras!” ucap si wanita dan menepuk-nepuk dada Joon.

“Hei, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Joon dan hendak menjauhkan wanita itu darinya, namun si wanita tak mau pergi menjauh, dia terus menempelkan telinganya ke dada Joon.


loading...

“Hei, diam!.. Wuahh, detak jantungmu juga sangat kencang. Ba bam..Ba bam..Ba bam..Ba bam..,” ucap wanita itu dengan polosnya, dia tidak sadar kalau detak jantung Joon berpacu cepat karena dipeluk olehnya.

“Apa kau sudah gila?..Ahh..,” ucap Joon dan mendorong wanita itu. “Hei, seorang wanita seharusnya tidak boleh seperti itu!” jelas Joon.

“Tidak boleh?”

“Tentu saja!”

“Kenapa?” tanya si wanita dengan polos.

“Wahh, apapun itu, kau tidak boleh, ya? “ ucap Joon berusaha menenangkan dirinya dan si wanita kemudian melihat wajah Joon memerah. Diapun bertanya apa Joon sakit sambil menyentuh kening Joon. Karena masih tak karuan gara-gara baru di peluk oleh wanita itu, Joon pun memberontak dan menepis tangan si wanita.

“Oh, hentikan! Sungguh wanita yang memalukan kau ini!” ucap Joon kesal dan tiba-tiba wanita itu kemudian mengedipkan matanya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Joon tak mengerti.

“Kau tidak merasakan apa-apa?”

“Perasaan apa?”

“Itu aneh. Buku ini mengatakan kalau seorang wanita mengedipkan mata kepada pria hidung pria itu akan mimisan!” ucap si wanita dan menunjukkan bukunya. “Aku rasa itu tidak semudah yang aku pikirkan,” tambahnya dengan polos. Dia kemudian melakukannya lagi, dia mengedipkan matanya pada Joon dan Joon memintanya untuk menghentikan hal tersebut.

“Yeon Hee!” teriak seseorang dan itu langsung membuat si wanita kelabakan. Diapun langsung menyuruh Joon pergi sebelum ketahuan, karena kalau Joon sampai ketahuan, maka Joon tidak akan bisa dengan mudah keluar dari tempat itu.

( Sekarang kita bisa memanggil wanita itu dengan nama, namanya adalah Yeon Hee)

Hyun Seo muncul dan Yeon Hee memanggilnya dengan sebutan “ayah”. Dengan ekspresi tegas, Hyun Seo bertanya kenapa Yeon Hee tak menjawab panggilannya.

“Hmm, ada tupai besar dekat pagar..sebesar ini atau mungkin sebesar ini,” jawab Yeon Hee dan membentu dengan tangan nya. “Hmm, dia tiba-tiba saja masuk, jadi…”

“Seekor tupai?” tanya Hyun Seo dan hendak mencari tupainya, namun Yeon Hee mencegah dengan mengatakan kalau tupainya sudah pergi.

“Kau! Apa kau sudah lupa dengan perkataanku?” tanya Hyun Seo dengan penuh emosi. “Apa kau akan mengejar tupai itu dan melewati pagarnya jika aku tidak datang?”

“Tidak, bukan seperti itu…,” jawab Yeon Hee berusaha menjelaskan.

“Diam! Apa kau tidak ingat apa yang aku minta padamu? Kenapa kau tidak menjawabku?” tanya Hyun Seo dengan penuh emosi.

“Aku tahu. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Apapun yang terjadi,” jawab Yeon Hee dengan pelan dan Hyun Seo kemudian memegang pundak Yeon Hee.

“Kau tidak boleh melupakan itu. Apa kau mengerti?” tanya Hyun Seo dan Yeon Hee mengiyakan. Wanita yang datang bersama Hyun Seo tadi kemudian menghampiri Yeon Hee dan memakaikan sebuah rompi pada Yeon Hee.

“Ibu,” panggil Yeon Hee, namun ekspresi wanita itu terlihat tak senang mendengarnya. Setelah memakaikan rompi, wanita itu kemudian berjalan pergi.

Dari balik semak-semak, Joon melihat dan mendengar apa yang terjadi dan dia kemudian memutuskan pergi sebelum ketahuan. Hyun Seo kemudian berkeliling untuk mengecek kertas mantra yang dia pasang.

Sekarang Hyun Seo sudah bersama teman-temannya, mereka sudah menemukan letak kuil Chungbing di sebuah peta. Melihat lokasi itu, Hyun Seo pun berkata, “Jadi inilah tempat terkutuk Grimoire itu.”

“Tuan. Apa benar-benar ada cara untuk membatalkan kutukannya jika kita hanya menemukan buku itu?” tanya Yo Gwang.

“Aku yakin ada jawabannya di buku itu. Tidak…pasti ada jawabannya disana. Kau tidak boleh mendekati istana sekarang, dan sampai seterusnya. Jika Hong Joo mengetahui kalau sang putri masih hidup. Dia akan menggunakan Yeon Hee sebagai korban bagi ilmu hitamnya,” ucap Hyun Seo dan Yo Gwang bertanya kenapa.

“Untuk menambah kekuatan ilmu hitamnya. Salah satu harus dikorbankan demi menggantikan kekuatan yang sudah digunakannya. Dia akan berusaha mengorbankan tubuh Yeon Hee, yang sudah dikutuk dan menyerap enerji didalam tubuh Yeon Hee. Jadi dia akan menjadi ahli sihir yang bertambah hebat dan menggunakan kekuatan barunya untuk mengambil alih Joseon? Tidak, tapi sebaliknya yang paling diinginkan Hong Joo adalah menghancurkan Joseon,” jelas Hyun Seo dan saat Hyun Seo menjelaskan hal tersebut, kita diperlihatkan pada Hong Joo yang sedang melakukan sebuah ritual.

“Kalau begitu, bisakah kita menghentikan rencana Hong Joo jika kita menghilangkan kutukan pada Yeon Hee?” tanya salah satu teman Hyun Seo.

“Itu satu-satunya cara yang kita punya sekarang ini dan jika Hong Joo mengetahuinya. Dia pasti akan berusaha untuk membunuh Yeon Hee. Kita harus menemukan Grimoire terkutuk itu, apapun caranya,” jawab Hyun Seo.

Flashback!
Raja menemui Hyun Seo sebelum prosesi pembakaran putri dilakukan. Pada Raja, Hyun Seo mengatakan kalau Putri itu terlahir melalui ilmu hitam yang dimiliki Hong Joo dan putrilah satu-satunya orang yang bisa menghentikan Hong Joo.

“Aku tahu kalau ibuku bekerja sama dengan dukun itu, lima tahun yang lalu untuk menggulingkan Raja sebelumnya. Namun, Aku tidak melakukan apa-apa, terlepas dari kenyataan kalau aku tahu semuanya. Mungkin kenyataannya kalau aku menjadi seperti ini karena hukuman atas dosa itu,” aku sang Raja dan dia kemudian melihat putrinya, “Aku benar-benar minta maaf. Aku ini ayahmu, dan Raja negeri Joseon, namun aku tidak berdaya untuk melakukan apapun.”

Raja kemudian meminta Hyun Seo untuk menyelamat sang Putri, “Bebaskan anak ini dari kutukan dan menyelamatkan negeri ini. Pastikan kalau tidak ada lagi seorang Raja yang pengecut dan tak berdaya seperti aku. Hilangkan kutukan negeri Joseon melalui anak ini. Kau harus…kau harus menghentikan dukun itu.”
Flashback End

Dalam hati Hyun Seo berkata kalau dia akan melindungi putri raja walaupun harus mempertaruhkan nyawanya.

Kita beralih pada Yeon Hee dimana dia sekarang sedang melihat layang-layang buatan Joon. Dia berkomentar kalau layang-layang itu sangat berantakan. Yeon Hee kemudian teringat kembali saat dia mendengar detak jantung Joon.

“Apa kau baik-baik saja, Seo Ri?” tanya Poong Yeon yang tiba-tiba muncul di hadapan Yeon Hee. (Haeduuh…. ne orang manggil dengan nama Seo Ri, tapi Hyun Seo manggil dengan nama Yeon Hee, #bingung)

Orang yang Yeon Hee panggil dengan sebutan Orabonie itupun kemudian memberikan seikat bunga pada Yeon Hee. “Apa yang sedang kau pikirkan sampai se-serius itu?” tanya Poong Yeon.

“Bukan apa-apa, tapi apa ini?” tanya Yeon Hee melihat bunga yang Poong Yeon bawa.

“Desa dipenuhi bunga-bunga. Aku ingin menunjukkan padamu pemandangan indah itu. Tapi aku tidak bisa, jadi aku harus memperlihatkanmu bunga-bunganya saja,” ungkap Poong Yeon.

“Mereka sangat indah, oraboni,” jawab Yeon Hee dan Poong Yeon kemudian menanyakan layang-layang yang selalu tergantung di pohon. Dengan terbata-bata Yeon Hee menjawab kalau layang-layang sudah terbang di bawa angin.

“Oh, begitu. Lalu…apa yang berantakan disana itu?” tanya Poong Yeon saat melihat layang-layang buatan Joon. Reflek Yeon Hee langsung menutupinya dan berkata kalau itu adalah layang-layang yang belum jadi.

Yeon Hee lalu bertanya apa yang membuat Poong Yeon datang ke rumahnya. “Kau akan dimarahi jika ayah tahu,” ucap Yeon Hee mengingatkan.

“Aku datang karena aku bawa hadiah untukmu,” jawab Poong Yeon dan kemudian memberikan sebuah lampion terbang untuk Yeon Hee. “Ada festival lampion di desa besok malam. Jika kau menuliskan keinginanmu di lampion itu dan menerbangkannya, itu akan terjuwud!”

“Apa itu benar? Tapi..apa gunanya bagiku untuk menuliskan keinginanku? Aku bahkan tidak bisa menerbangkannya di desa, bersama yang lainnya,” ucap Yeon Hee.

“Jangan khawatir. Aku yang akan menerbangkannya untukmu…Ini,” jawab Poong Yeon dan memberikan secarik kertas untuk Yeon Hee tulis. Sambil menulis keinginannya, Yeon Hee lalu bertanya kenapa Poong Yeon tiba-tiba memberikannya sebuah hadiah dan Poong Yeon menjawab karena besok adalah hari ulang tahun Yeon Hee.

“Oraboni. Kau benar-benar yang terbaik!” ucap Yeon Hee dan tersenyum. Melihat Yeon Hee yang kembali menulis, Poong Yeon teringat pada percakapananya dengan Hyun Seo, dimana Hyun Seo melarang Poong Yeon menemui Yeon Hee apapun alasannya.

“Dia hanya seorang anak yang menghabiskan waktunya sendirian dirumah itu. Dia akan merasa kesepian jika aku tidak kesana untuk berbicara dengannya,” jawab Poong Yeon.

“Lagipula itu tidak ada gunanya bagi dia jika kau menemuinya tidak ada gunanya bagi dia!” ucap Hyun Seo dan kemudian bertanya apa Poong Yeon punya perasaan pada Yeon Hee.

“Jangan….apapun itu. Sudah pasti tidak boleh!” ucap Hyun Seo, sebelum Poong Yeon menjawab pertanyaannya tadi. Alasan Hyun Seo melarang hal tersebut karena berdasarkan kutukan dari Hae Ran, siapapun yang mencintai Yeon Hee dan di cintai Yeon Hee, maka orang itu akan mati.

Kita kembali pada Yeon Hee yang sudah selesai menulis permintaannya. Poong Yeon hendak membacanya, namun di larang oleh Yeon Hee karena itu rahasia.

“Lalu, apakah festival di desa akan dimulai besok?” tanya Yeon Hee.

“Kenapa? Apa kau berharap bisa melihatnya?” tanya Poong Yeon dan Yeon Hee terdiam sejenak lalu dengan wajah yang dipaksakan senang dia menjawab, tidak.

“Aku selalu mendengar soal festival itu setiap tahunnya darimu. Jadi aku merasa bosan dengan semua itu sekarang! Selain itu, pasti sangat bising selama festival berlangsung! Itu akan sangat menggangguku! Aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Terlalu terang dan berisik!” jawab Yeon Hee dan berusaha menutupi rasa inginnya dia pergi ke festival, walaupun begitu Poong Yeon bisa tahu apa yang Yeon Hee inginkan. Yeon Hee kemudian mengingatkan Poong Yeon kalau sebentarlagi malam, jadi Poong Yeon harus segera pergi sebelum Hyun Seo tahu.

Joon sudah dalam perjalanan pulang, saat dia hendak melintasi gua, dia teringat kembali pada Yeon Hee yang berkata kalau dia tak bisa keluar dari tempat itu.

“Jadi, dia benar-benar terperangkap disana bukannya tinggal disana? Tapi, kenapa? Oh, entahlah. Seharusnya aku lebih mengkhawatirkan diriku sendiri saat ini,” gumam Joon dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Namun langkahnya kembali terhenti saat dia melihat layang-layang milik Yeon Hee tersangkut di pohon yang ada di tebing. Karena kelihatannya si layang-layang susah untuk diambil, Joon pun memutuskan pergi tanpa mengambilnya.

Baru saja dia membalikkan badan, Joon kembali teringat pada kata-kata Yeon Hee kalau itu adalah layang-layang kesukaannya dan paling spesial. Mengingat kata-kata Yeon Hee, Joon pun tanpa pikir panjang lagi langsung memanjat batu dan berusaha mengambil layang-layang itu. Ketika dia menaiki akar pohon untuk mengambil layang-layang, kaki Joon menginjak batu yang tak kuat, sehingga membuat Joon hampir terpeleset. Untungnya, Joon masih berpegang kuat pada akar pohon sehingga membuat dia selamat.

Joon berhasil mengambil layang-layang, namun sayang dia kembali terpeleset dan terjatuh. Apakah yang akan terjadi pada Joon? Apa ada yang akan menolongnya? Apa dia akan selamat? Tunggu jawabannya di sinopsis episode 3.

Bersambung ke sinopsis Mirror of the Witch ep 3

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis yoon shi jin saat di pukul dan pingsan
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *