Home » Kim Sae Ron » Sinopsis Mirror of the Witch Episode 2 -1

Sinopsis Mirror of the Witch Episode 2 -1

[ 17 Tahun Kemudian ]

 

 

Episode 2 ini dimulai dengan pertandingan pacu kuda antara kedua putra Hae Yoon, yaitu Hae Joon dan Hae Ok. Disaat mereka saling mengejar satu sama lain, semua penonton mulai memasang taruhan mereka. Rata – rata dari mereka memilih Joon karena mereka semua tahu kalau Joon lebih hebat dibandingkan Hae Ok. Tepat disaat itu, muncul seorang pria dengan membawa kipas untuk menutupi wajahnya. Berbeda dengan semua penonton, pria itu mempertaruhkan uangnya untuk Hae Ok.

Joon berhasil menyusul Hae Ok. Tak ingin kalah, Hae Ok pun memberi kode sapu tangan putih pada orang suruhannya agar membuat Joon tak keluar jadi pemenang. Orang suruhan Hae Ok menyiram bubuk ke arah Joon dan menyebabkan Joon terjatuh dari kuda, sehingga membuat Hae Ok yang keluar sebagai pemenangnya. Melihat hal itu, semua penonton berteriak kesal karena mereka sudah kehilangan uang mereka. Mereka kalah taruhan dan pria yang tiba-tiba datang tadilah yang berhasil memenangkan semua taruhan.

Dengan membawa bendera kemenangan, Heo Ok menghampiri Joon dan dengan nada mengejek, dia bertanya apa Joon tidak apa-apa. Tanpa terlihat marah sedikitpun, Joon menjawab kalau dia tidak apa-apa. Dia menerima kekalahan dan kecurangan Heo Ok dengan senang hati.

“Ahh, ya. Jangan berkecil hati. Lagipula, ini kan hanya perlombaan,” ucap Heo Ok sombong.

“Tentu saja! Bagaimanapun juga, ini tidak menjamin kau sebagai pemenangnya,” jawab Joon dengan tersenyum senang. Heo Ok kemudian mengajak Joon ke Chong Mong Gak dan dia yang akan mentraktir Joon, namun Joon menolak dengan alasan ada yang harus dia kerjakan.

Pria yang menang taruhan tadi adalah Dong Rae dan ternyata dia sudah bersekongkol dengan Joon. Jadi, tadi Joon memang sengaja mengalah dari Hae Ok agar Dong Rae menang taruhan dan sekarang uang taruhan diambil semua oleh Joon, karena memang dia lah orang yang sudah merencanakan semuanya. Uang yang Joon dapatkan adalah sebesar 10 nyang.

“Bagaimana kau akan mendapatkan 500 nyang, jika seperti ini? Joon. Ayo kita gunakan uang ini, dan kali ini…”

“Apa kau sudah gila?” potong Joon.

“Lalu apa kau berencana untuk mencuri atau apa? Butuh waktu seumur hidup kita jika caranya seperti ini!” keluh Dong Rae.

“Tapi tetap saja. Aku harus mendapakan uang itu, apapun caranya. Harus!”

“Ahh…baiklah. Ya, kau bisa. Ahh, jika seperti ini, hari ini kau harus bekerja lebih keras!” ucap Dong Rae dan kemudian pamit. Baru beberapa langkah Dong Rae pergi, Joon langsung menghentikannya.

Joon kemudian menyuruh Dong Rae membuka bajunya karena Joon tahu kalau Dong Rae sudah mengambil beberapa miliknya dan disembunyikan di balik baju.

Heo Ok sudah berada di Chong Mong Gak bersama teman-temanya. Dia kemudian bertanya apa teman-temannya itu sudah berhasil mengumpulkan uang berkat dirinya. Dengan rasa tak enak teman-temannya pun mengaku kalau mereka sudah kalah taruhan karena mereka lebih memilih Joon daripada Heo Ok.

“Hei, dasar bodoh! Aku sudah katakan pada kalian semua kalau hari ini aku akan menang, apapun itu. Apa yang harus aku lakukan dengan kalian semua, saat aku beritahu.. Tapi kalian tidak mengambil kesempatan itu? Aigoo, yang benar saja,” ucap Heo Ok kesal dan kemudian bertanya sipa yang sudah memenangkan taruhan hari ini.

“Seorang laki-laki bernama Dong Rae memenangkan semua uang taruhannya,” jawab salah satu teman Heo Ok. “Orang yang selalu bersama-sama dengan Heo Joon.Dia sudah mempertaruhkan semua uangnya padamu hari ini, dan memenangkan semuanya!”

Mendengar itu, Heo Ok pun teringat dengan kata-kata Joon. “Bagaimanapun juga, ini tidak menjamin kau sebagai pemenangnya.”

Heo Ok akhirnya menyadari kalau Joon sudah memanipulasi semuanya. Dia memang sengaja mengalah agar mendapatkan semua uang taruhan. Tentu saja Heo Ok kesal menyadari hal tersebut.

Kita kemudian beralih pada Joon yang sedang menyamar menjadi perempuan dengan Dong Rae dan menyelundup masuk ke dalam istana bagian akademi dukun. Salah satu dukun muda mengeluh pada Joon.

“Ahh, bahkan jika dia tidak memiliki ‘Itu… Apa masuk akal dengan tidak memberikanku sedikit tanda, dengan wajah seperti aku?” keluh dukun muda dan Joon pun terus memperhatikan wajah si dukun muda.

“Proporsi wajahmu sangat bagus. Matamu indah, dan kau memiliki hidung yang mancung. Khususnya warna bibirmu, sangat bagus,” ucap Joon setelah menganalisis bentuk wajah dukun muda.

“Jadi…kalau begitu, apa alasannya?” tanya dukun muda penasaran. Joon dan Dong Rae sengaja tak langsung memberitahunya, mereka sengaja membuat dukun muda itu jadi penasaran. “Ada apa sebenarnya? Tidak apa-apa, katakan saja padaku,” pinta dukun muda dan Joon Ki berjalan pergi.

Dukun muda itu mengejar Joon dan menuntut Joon untuk menjawab. Karena si dukun muda terus memaksa, akhirnya Joon menjawab kalau permasalah si dukun muda adalah dia terlalu polos. Maksudnya terlalu polos adalah si dukun muda punya dada kecil, jadi hal tersebut membuat para pria tidak tertarik padanya. Selain memberikan komentar Joon pun memberikan solusi, dia menawarkan obat yang bisa membesarkan dada. Awalnya si dukun muda ragu membelinya, namun karena cara promosi yang Joon lakukan begitu meyakinkan, si dukun muda pun mau membelinya.

Tepat disaat itu dukun gendut muncul dan berkata pada semuanya kalau Joon dan Dong Rae adalah penjual obat palsu.

“Aku sudah sering kali minum ini karena itu membuat wajahku mengecil tapi bukannya mengecil, malah membuat wajahku jadi lebih besar!” protes dukun gendut.

“Dukun! Seberapa besar kepercayaanmu dengan apa yang sudah oraboni katakan?” tanya Joon dengan memasang wajah yang sangat serius, namun dukun gendut tetap mengatakan Joon sebagai penipu. “Kau harus percaya. Semua ini dimulai dari dalam hati,” ucap Joon dengan sangat meyakinkan sehingga membuat si dukun gendut tak bisa berkata-kata lagi, karena Joon mengarahkan tangan si dukun gendut ke dadanya. Joon kemudian menyuruh Dong Rae untuk menuntun semua dukun agar mengikuti kata-kata, sehingga mereka bisa memantapkan hati mreka untuk percaya pada diri sendiri.

Setelah mendapatkan motivasi dari Dong Rae dan Joon, mereka semua pun jadi percaya pada obat milik Joon.

Selesai berdagang obat, Joon dan Dong Rae pun pulang. Namun gara-gara Dong Rae kebelet pipis, jadi mereka pun masih berada di sekitar istana. Dong Rae kemudian bertanya apa ubi China dan manisan buahnya, benar-benar ada di catatan ramuan obat milik Joon.

“Hee, sekarang! Ahh..mana aku tahu!” jawab Joon dan tertawa. Dong Rae pun berkomentar kalau Joon sangat meyakinkan saat mengatakan hal tersebut pada dukun-dukun tadi.

Tanpa sengaja Joon melihat pecahan perisai milik teman-teman Hyun Seo. Mengira kalau benda itu bisa dijadikan uang, Joon pun mengambilnya. Tepat disaat itu muncul beberapa penjaga dan berusaha menangkap Joon dan Dong Rae. Agar tak mudah tertangkap mereka berdua pun memilih jalan terpisah.

Joon berhasil sembunyi dari kejaran pengawal. Namun ditempat persembunyian, Joon berjalan mundur dan tak sengaja menabrak Hong Joo. Tanpa basa basi anak buah Hong Joo langsung menghunuskan pedangnya pada Joon.

“Kenapa kalian semua bersikap seperti ini? Aku menabraknya tanpa sengaja. Oh, sangat mengerikan…Tolong, turunkan itu. Oh, ayolah turunkan,” ucap Joon dan terus mengelak dari pedang mereka. Disaat Joon sibuk menghindari serangan, Hong Joo terus melihat kearah Joon, seperti ada sesuatu yang dia lihat dari Joon.

“Maaf soal itu,” ucap Joon pada Hong Joo dan berjalan pergi. Anak buah Hong Joo hendak mengejar Joon, namun Hong Joon mencegahnya. Tepat disaat itu dukun gendut muncul dan berusaha mengejar Joon. Karena dia melihat Hong Joo, jadi diapun memberi salam terlebih dahulu pada Hong Joo kemudian melanjutkan pengejaran.

Putra Mahkota Soonhwe sudah berada di ruangan Ibu Suri bersama Ratu Shim. Ibu Suri membahas tentang perayaan hari lahir Putra Mahkota yang akan di selenggarakan besok. Saat ditanya apa ada sesuatu yang diinginkan, Putra Mahkota menjawab tidak ada. Melihat ekspresi Putra Mahkota yang terlihat murung, Ibu Suri pun bertanya apa Putra Mahkota sakit.

“Tidak, aku hanya merasa sedikit … gelisah, akhir-akhir ini,” aku Putra Mahkota dan Ibu Suri bertanya kenapa? Pangeran Mahkota menjawab kalau dia sendiri tidak tahu.

“Tanpa alasan apa-apa, hatiku terasa berat dan sering berdebar-debar,” jawab Putra Mahkota dan Ibu Suri langsung bertanya pada Eunuch Park, karena hanya dialah satu-satunya orang yang selalu bersama dan melayani Putra Mahkota.

“Menurut pendapatku, mungkin sekarang ini Putra Mahkota.. sudah melewati usia dimana dia seharusnya sudah menikah,” jawab Eunuch Park dan tentu saja Putra Mahkota langsung membantah hal tersebut.

Berbeda dengan tanggapan Putra Mahkota, Ibu Suri dan Ratu Shim tertawa mendengar jawaban Eunuch Park. Ibu Suri bahkan mengiyakan ucapan Eunuch Park, dia setuju kalau Putra Mahkota sudah waktunya menikah. Jadi, mereka harus segera mencari pasangan yang cocok untuk Putra Mahkota. Ratu Shim juga setuju dengan pendapat Ibu Suri.

“Tidak! Bukan itu maksudku, bukan sama sekali!” bantah Putra Mahkota.

Tunggu saja sebentar. Nenekmu akan mencarikan pasangan yang pantas untukmu,” ucap Ibu Suri dan itu membuat Putra Mahkota jadi merasa malu.

“Tapi..aku dengar kau masih tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari. Apakah tempat tidurmu tidak nyaman?” tanya Ratu Shim dan Putra Mahkota menjawab kalau penyebab tidurnya tidak nyenyak karena dia selalu bermimpi aneh.


loading...

“Seorang gadis selalu muncul dalam mimpiku dan dia selalu menangis sangat sedih. Tapi, wajahnya mirip denganku, jadi aku merasa terkesima saat aku terbangun,” cerita Putra Mahkota dan itu membuat Ibu Suri dan Ratu Shim langsung saling lihat. Putra Mahkota pun melihat apa yang mereka berdua lakukan dan dia langsung bertanya ada apa? Ratu Shim langsung berkata kalau hal tersebut bukan apa-apa dan dia kemudian mengingatkan kalau sudah waktunya bagi Putra Mahkota belajar.

“Ya….kalau begitu aku pamit sekarang,” ucap Putra Mahkota dan keluar.

“Mengapa Putra Mahkota bermimpi seperti itu?” tanya Ibu Suri pada Ratu Shim saat mereka hanya berdua.

“Jangan terlalu khawatir soal itu, Ibu Suri. Aku yakin itu hanya mimpi aneh karena beliau sudah memasuki usia dewasa,” jawab Ratu Shim yang kemudian teringat pada kutukan Hae Ran sebelum dia mati.

Hong Joo menemui Ratu Shim dan bertanya tentang persiapan perayaan yang akan Hong Joo lkukan besok. “

“Bagaimanapun juga, Putra Mahkota dan Raja harus mengadirinya,” ucap Hong Joo dan Ratu Shim bertanya apakah semuanya akan berjalan dengan lancar.

“Besok hari lahir putraku yang 17 seperti yang dukun itu katakan. Apakah dia akan baik-baik saja?” tanya Ratu Shim dengan khawatir dan Hong Joo pun memintanya untuk tidak khawatir, karena semuanya sudah teratasi lama sekali.

Ratu Shim kemudian menceritakan tentang mimpi Putra Mahkota tentang mimpinya, dimana Putra Mahkota bertemu dengan seorang gadis dalam mimpinya setiap malam. Dia sangat khawatir kalau gadis yang Putra Mahkota lihat itu adalah kembarannya dan berakibat sesuatu terhadap Putra Mahkota.

“Yang Mulia. Sang putri dan Aku saling terhubung melalui ilmu sihir. Jika aku hidup, sang putri akan mati dan jika dia hidup, Aku akan mati. Tapi, lihatlah aku. Aku baik-baik saja, bukan..Yang Mulia? Kenyataannya kalau aku masih hidup membuktikan kalau semua sudah berakhir 17 tahun yang lalu. Jadi tolong, jangan terlalu khawatir. Mimpi hanyalah mimpi. Tidak lebih Seorang gadis biasa?” jawab Hong Joo agar Ratu Shim tak khawatir. Namun setelah mengatakan semua itu, ekspresi wajah Hong Joo terlihat serius. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari Ratu Shim.

Keluar dari kamar Ratu Shim, Hong Joo bertanya-tanya tentang gadis yang Putra Mahkota lihat di mimpinya. Ternyata dia juga penasaran.

Heo Ok masih bersama gisaeng dan berkeliling pasar. Tepat disaat itu para prajurit lewat dengan membawa mayat dari hutan mengerikan. Gisaeng yang bersama Heo Ok pun bercerita kalau akhir-akhir ini ada banyak mayat yang ditemukan di hutan tersebut.

“Tempat itu sangat berbahaya, tidak seorangpun yang kembali hidup-hidup dari sana! Bahkan ada desas desus mengatakan..Kalau layang-layang yang disana itu terbuat dari pakaian mayat yang ditemukan disana!” cerita gisaeng sambil menunjuk ke arah layang-layang yang ada di hutan itu.

Tepat disaat itu Joon dan Dong Rae muncul sambil bercerita mengenai pengalaman mereka yang dikejar-kejar pengawal. Heo Ok melihat Joon dan langsung menghampirinya. Tak mau berdebat dengan Heo Ok, Joon pun memilih pergi. Namun baru beberapa langkah Joon pergi, Heok Ok langsung memanggilnya sambil melihat ke arah layang-layang.

“Aku dengar kau akan melakukan apa saja demi uang. Apa kau butuh uang, Joon? Hah? Kau ingin aku membantumu?” tanya Heo Ok dan menunjuk ke arah layang-layang. Dia meminta Joon untuk mengambilkan layang-layang tersebut, dengan alasan kalau dia sangat memilikinya. Awalnya Joon menolak tawaran tersebut, namun setelah Heo Ok berkata kalau dia akan memberikan uang sebesar 500 nyang, Joon pun langsung menerimanya.

“Aku akan mengambilkan layangan itu untukmu. Sebagai gantinya, kau harus menepati janjimu 500 nyang,” ucap Joon dan membuat semua orang terkejut.

“Jangan khawatir! Semua orang yang ada disini menjadi saksi. Jadi jangan khawatir soal itu, Joon…. Aku ini hyung-nim mu, kan?” janji Heo Ok dan Joon langsung berjalan pergi menuju hutan.

Dong Rae mengikuti Joon dan bertanya apa dia benar-benar akan melakukannya. Dengan yakin Joon menjawab kalau dia siap melakukan hal tersebut.

“Apa kau sudah sinting? Itu hutan yang mengerikan! Kau bisa mati disana!” ucap Dong Rae dan dengan ekspresi setegah bingung Joon berkata kalau yang ada dipikirannya adalah 500 nyang.

“Kau tahu berapa banyak ramuan yang harus kita jual untuk punya uang sebanyak itu?” ucap Joon dan Dong Rae menyebutnya sinting.

Teman Heo Ok bertanya apa Heo Ok benar-benar akan memberikan 500 nyang ketika Joon berhasil membawakan layang-layang tersebut.

“Hei, Aku ini Heo Ok…Apa kau pernah melihat aku menarik kembali perkataanku?”tanya Heo Ok sombong. Dia berkata kalau dia akan melakukan apa yang sudah dia janjikan, dengan syarat Joon benar-benar membawa layang-layang itu. Teman-teman Heo Ok pun menyadari kalau Heo Ok sudah mengirim Joon untuk mati dan mereka juga menyebut Joon bodoh karena mau melakukan semua itu hanya demi uang.

Dong Rae terus mengejar Joon dan mencegahnya untuk tidak masuk hutan. Namun keputusan Joon sudah bulat, dia terus masuk dan Dong Rae mengikutinya sampai masuk hutan. Saat mendengar sesuatu, Dong Rae reflek memeluk Joon karena takut.

“Oh, aigoo! Kenapa kau mengikutiku jika kau benar-benar merasa takut? Kau ini jadi pengganggu saja! Aigoo,” ucap Joon kesal.

“Pengganggu?…Aku seorang pengganggu? Aku sudah mengikutimu karena kau temanku dan sekarang..,” keluh Dong Rae dan dia kembali mendengar sesuatu, jadi dia langsung mengejar Joon yang terus berjalan maju.

“Hei, Joon, apa kau sudah dengar desas desusnya?” tanya Dong Rae.

“Soal apa?” tanya Joon tak tahu.

“Kau…kau belum mendengarnya?”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Kau tahu, desas desus kalau ada hantu terkutuk yang muncul di hutan mengerikan ini!” cerita Dong Rae yang kemudian berkata kalau wajah si hantu kabarnya sangat cantik tapi hantu itu akan masuk ke tubuh mereka dan merobek jantung mereka. Mendengar itu Joon mulai sedikit ketakutan.

“Dan…lalu? Seberapa cantiknya dia, tepatnya?” tanya Joon yang ternyata tidak percaya pada apa yang Dong Rae ceritakan. Joon tidak percaya dengan yang namanya hantu.

Joon kemudian menyuruh Dong Rae diam, karena dia menemukan sebuah tulang. Joon kemudian berpesan pada Joon untuk berhati-hati jika Dong Rae ingin terus mengikutinya. Mereka melanjutkan perjalanan, tanpa mereka sadari dari balik semak-semak terlihat ada sesuatu. Kita melihat beberapa mata disana.

Karena benar-benar takut, Dong Rae terus berjalan sambil memegangi baju Joon. Tiba-tiba terdengar suara gonggongan dan reflek Dong Rae langsung berlari ke depan dan ternyata disana ada lubang. Untung saja Joon dengan cepat menangkap Dong Rae, sehingga Dong Rae tak masuk lubang itu. Dong Rae merangkak ke depan dan lagi-lagi dia terkena jebakan. Kakinya tertangkap jebakan dan membuatnya tergantung di pohon. Saking ketakutannya, Dong Rae sampai kencing di celana. wkkwkwkw

Setelah menurunkan Dong Rae dari jebakan, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sambil menutupi celananya, Dong Rae meminta Joon berjanji untuk tidak memberitahu siapa-siapa mengenai apa yang terjadi barusan.

“Hmm…ya. Tentu saja,” jawab Joon dan kembali melanjutkan perjalanan. Joon melewati sebuah pohon yang sudah diberi kertas mantra kuning dan saat Joon melewatinya, tulisan kertas mantra kuning itu terlihat menyala.

Joon seperti merasakan ada sesuatu dan dia mengangkat tangannya. Melihat itu Dong Rae langsung mendekati Joon dan memeluknya karena takut. Tak jauh dari mereka kita melihat seekor hewan melintas.

“Apa…apa itu?” tanya Dong Rae dan Joon menyuruhnya diam. Saat mereka melihat sesuatu dibaik semak-semak, reflek Dong Rae langsung berteriak dan menyudutkan dirinya ke pohon. Dong Rae menebak kalau hewan yang ada di balik semak-semak adalah harimau.
“Hei, Dong Rae.”

“Ya?”

“Dengarkan aku,” pinta Joon. “Saat aku bilang, “satu, dua, tiga”, jangan menengok dan lari. Mengerti?” ucap Joon dan mengeluarkan pisaunya.

“Satu! Dua!…,” ucap Joon dan Dong Rae langsung berlari pergi tanpa melihat ke arah Joon lagi. Joon ternyata tidak berlari dari tempat itu, dia masih berada di sana walau dengan perasaan takut.

Harimau pun menampakkan dirinya dan tentu saja Joon merasa semakin takut, hingga diapun memilih lari. Namun sialnya, si Harimau mengejar Joon. Apa yang akan terjadi pada Joon? Apakah dia akan di makan oleh si harimau atau dia berhasil menyelamatkan dirinya? Jangan kemana-mana… tunggu kelanjutan ceritanya di part selanjutnya.

Bersambung ke Mirror of the Witch ep 2 – 2

loading...

Yang banyak dicari

  • mirror of the witch sinopsis episode 2
  • sinopsis mirror of the witch ep 2
  • wajahnya mirip denganku
  • putra mahkota of the wicth
  • sering dengar kata withces tapi ga tau tulisannya
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *