Home » Kim Sae Ron » Sinopsis Mirror of the Witch Episode 1 – 1

Sinopsis Mirror of the Witch Episode 1 – 1

Mirror of the Witch merupakan terbaru dari Kim Sae Ron dan Yoon Si Yoon, yang berlatar belakang Joseon dan membawa genre sedikit horor. Buat teman-teman yang penasaran pada jalan ceritanya, namun tak bisa download videonya sendiri, jangan khawatir karena saya akan membuat recap-annya di blog baru saya ini. Sebelum memulai sinopsis perdananya, tidak ada salahnya untuk kita perkenalan terlebih dahulu dengan para pemainnya, karena selain Kim Sae Ron dan Yoon Si Yoon, masih ada banyak lagi aktris dan aktor yang meramaikan drama ini.

Pemain drama Mirror of The Witch:

  • Kim Sae Ron – Yeon Hee / Seo Ri
  • Yoon Si Yoon – Heo Jun
  • Kwak Si Yang – Poong Yeon
  • Yum Jung Ah – Hong Jo
  • Lee Sung Jae – Choi Hyun Seo
  • Jang Hee Jin – Ratu Sim
  • Kim Young Ae – Ratu Yoon
  • Jung In Sun – Hae Ran
  • Lee Yi Kyung – Yo Gwang
  • Jo Dal Hwan – Heo Ok
  • Mun Ka Young – Sol Gae
  • Yoon Bok In – Ibu dari Poong Yeon
  • Choi Sung Won – Dong Rae
  • Lee Ji Hoon – Raja Sunjo
  • David Lee – Raja Myungjong
  • Yeo Hol Hyeon – Putra Mahkota Soonhwe
  • Jeon Mi Sun – Ibu dari Heo Ok
  • Kim Hee Jung – ibu dari Hae Jun

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 1
~ Kemiripan terhadap segala kisah atau kejadian bersejarah hanyalah fiktif~

 

Choi Hyun Seo masuk ke sebuah ruangan dan kemudian mencuci tangannya. Tepat disaat itu, terdengar juga Hyun Seo bernarasi, “Sudah lama sejak terakhir langit Joseon disinari matahari. Kegelapan menutupi matahari, dan rakyat Joseonterserang penyakit dan putus asa. Bencana ini tampaknya takkan berakhir dan kesetiaan rakyat pada negeri semakin berkurang. Itu sebabnya, kekuasaan keluarga kerajaan mulai menurun. Aku, Choi Hyun Seo, dengan khusyuk memohon berkah dari surga agar dilimpahkan ke tanah ini, begitu juga Cabang Taoist Kerajaan kami. Raja harus menapaki jalan yang benar agar negeri ini subur kembali. Kegelapan yang menutupi tanah ini hanya memperburuk situasi. Tolong limpahkan kami dengan matahari baru yang bisa menghiasi tanah ini dengan sinarnya. Dan jika akhirnya cahaya diizinkan menyinari tanah inikedamaian akan datang ke tanah ini, keluarga kerajaan, dan rakyat.”

Saat mendengar narasi Hyun Seo, kita diperlihatkan pada bencana yang sedang dialami pada jaman itu dan Hyun Seo ditugaskan untuk melakukan persembahan agar bencana itu berakhir.

 

Ratu Sim sedang di periksa oleh tabib dan sambil diperiksa dia mengaku kalau dia mendapat mimpi yang sedikit aneh pada Hyun Seo.

“Sejujurnya, aku memimpikan bayangan hitam memasuki perutku. Bukankah mimpi seperti ini bisa dianggap ramalan akan hadirnya seorang anak?” tanya Ratu Sim.

 

“Apakah Yang Mulia bilang… bayangan hitam?”

“Ya. Bayangan yang cukup besar menutupi langit. Saat bayangan mencapai langit, langit cerah berubah gelap saat malam. Masih belum bisa kulupakan tatapan mata makhluk itu,” cerita Ratu Sim dan saat dia melihat Hyun Seo terlihat khawatir bukannya senang, Ratu Sim pun bertanya ada apa? Namun Hyun Seo tetap tak bisa langsung menjawab. Ratu Sim kemudian bertanya pada tabib tentang hasil pemeriksaannya. Namun kekecewaan harus dirasakan oleh Ratu Sim, karena si tabib berkata kalau Ratu Sim tidak sedang mengandung.

Berita tentang Ratu Sim yang tak hamil mulai menyebar di kalangan para dayang. Ibu Suri Yoon bahkan dikabarkan sangat marah karena Ratu Sim tak kunjung hamil, adahal mereka sudah mendoakannya di Cabang Taoist Kerajaan setiap pagi.

Salah satu dayang berkata kalau hal tersebut malah bagus, karena dengan begitu Ibu Suri Yoon akan bisa sering pergi ke Taoist. Ibu Suri Yoon sangat menyukai Taoist.

“Gara-gara mereka, kita, dukun Sungsuchung jadi kesulitan!” ucap salah satu dayang dan Hae ran yang sedari tadi sibuk menjahit jadi sedikit terganggu ketika mendengar pernyataan itu.

“Ya. Setiap kali ada kejadian, Ibu Suri selalu mencari Choi Hyun…..,” ucap dayang yang gendut, namun sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, temannya langsung menyumpal mulut si dayang dengan makanan dan menyuruhnya diam.

Hae Ran beranjak dari duduknya dan dengan tatapan flet menatap ke arah langit. Semua dayang yang melihatnya langsung berkata kalau dia kumat lagi. Hae Ran terus menatap ke arah langit dan tiba-tiba muncul petir. Mata Hae Ran mulai berkaca-kaca dan hujan pun turun.

Ibu Suri Yoon sedang bersama Ratu Shim dan Raja Myungjong. Dia memarahi keduanya, karena tak kunjung memberikan ahli waris, padahal sudah menikah selama 5 tahun. Ibu suri sudah memberikan cara-cara yang efektif untuk mendapatkan seorang anak, namun Raja Myungjong terlihat tak begitu bersemangat. Raja terlihat tak menyukai Ratunya sendiri.

Ibu Suri kemudian memanggil Eunuch Park dan bertanya kapan Ratu Sim dan Myungjong dijadwalkan tidur bersama. Eunuch Park menjawab malam Sabtu ini.

“Batalkan semua rencanaku hari itu. Aku akan ke sana untuk menyaksikan pasangan ini. Beritahu semua dokter istana untuk kosongkan jadwal dan ikut menyaksikan juga. Katanya kau keluar dari ruangannya setelah dua menit. Akan kuperiksa sendiri apa masalah sebenarnya,” ucap Ibu Suri.

“Tolong, hentikanlah,” pinta Raja Myungjong

“Apa katamu?”

“Kubilang, hentikanlah! Aku bukan lagi anak kecil. Semua karena Ibu terus bersikap begini hingga orang menyebutku raja yang lemah! Siapa sebenarnya raja negeri ini?” protes Raja dan Ibu Suri langsung emosi sampai-sampai dia menjungkir meja yang ada di depannya.

“Apa kau tahu apa yang harus kulalui hingga kau mendapatkan posisi itu? Sudah lupa dengan semua perjuanganku demi mengamankan dan mempertahankan posisi itu untukmu?” jelas Ibu Suri.

“Tidak. Perjuangan Ibu selama ini untuk melindungi posisi Ibu, bukan posisiku,” ucap Raja dan langsung pergi. Ratu Sim sendiri langsung merasa serba salah dan diapun memilih ikut pergi.

“Aku tak bisa hanya duduk menyaksikan kejadian ini,” ucap Ibu Suri marah dan kemudian menyuruh Eunuch Park untuk memanggil Hong Joo. Mendengar perintah itu, Eunuch Park terlihat kaget.

Ditengah gerimis, Eunuch Park pergi ke sebuah gubuk yang seram. Setelah beberapa kali memanggil nama dukun, seseorang dengan penampilan seram membuka sedikit pintu rumahnya yang terbuat dari tikar.

Di istana para menteri melapor kalau banjir yang terjadi sudah menimbulkan banyak bencana para rakyat dan hal itu membuat semangat rakyat mulai goyah, bahkan ada satu keluarga yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

“Sungguh memalukan. Sebarkan pemanah untuk bertanggungjawab atas bantuan bencana dan secepatnya urus agar perjuangan rakyat berkurang,” perintah Raja dan semua menteri menerima perintah tersebut.

“Tunggu. Kenapa kau sebarkan pemanah istana untuk masalah sepele begitu?” ucap Ibu Suri yang ternyata sedari tadi duduk di belakang kursi Raja. “Menurutku cukup kurangi pajak mereka saja, ya kan?” saran Ibu Suri dan Raja dengan berat hati menyetujui saran tersebut.

Raja kemudian bertanya apa agenda selanjutnya pada Do Seunji. Sebelum Do Seunji sempat melaporkan sesuatu, tiba-tiba ruang rapat kedatangan Hong Joo. Tentu saja hal tersebut membuat Do Sunji marah, karena Hong Joo menerobos masuk, padahal Raja dan para menteri sedang melakukan rapat. Do Seunji hendak menyuruh pengawal membawa Hong Joo pergi, namun langsung diurungkan karena Ibu Suri muncul dan berkata kalau dialah yang sudah mengundang Hong Joo datang.

Mereka berdua kemudian pergi ke ruang pribadi untuk mengobrol. Sebelum Ibu Suri mengatakan tujuan dia memanggil Hong Joo, ternyata Hong Joo sudah bisa menebaknya. Dia pun berjanji akan memberikan pewaris untuk Ibu Suri dengan cara apapun. Tentu saja Ibu Suri senang mendengarnya.

Di kamarnya, Ratu Sim sedang di dandani oleh para dayang. Melihat ekspresi Ratu Sim yang terlihat sedih, Dayang senior pun bertanya ada apa. Ratu Sim mengaku kalau dia sangat yakin akan segera hamil.

“Jika mimpi itu bukan ramalan akan hadirnya seorang anak…lalu mimpi apa itu?” tanya Ratu Sim sedih.

“Tolong jangan berkecil hati, Yang Mulia,” pinta sang dayang. “Pasti Yang Mulia akan dengar kabar bagus nanti.”

Tak lama kemudian Ratu Sim mendapat tamu dari Sungsuchung dan ternyata orang itu adalah Hong Joo. Setelah Hong Jo memperkenalkan diri sebagai ketua dukun Sungsuchung, Ratu Sim pun bertanya tujuan dia datang ke istana. Sebelum dia mengatakan tujuannya datang, Hong Joo meminta para dayang keluar.

Setelah para dayang keluar, Hong Joo langsung memberi kode pada anak buahnya untuk memegangi Ratu Sim dan juga melepas pakaiannya. Tentu saja Ratu Sim berusaha memberontak, namun dia tak bisa melawan. Hong Jo kemudian menghampiri Ratu Sim dan menempel kertas mantra di perut Ratu Sim.

“Beraninya kau perlakukan aku seperti ini, jalang!” ucap Ratu Sim kesal marah dan anak buah Hong Joo tiba-tiba mencambuk Ratu Sim sebanyak 2 kali.

“Aku sedang mengeluarkan semua energi jahat dari tubuh Yang Mulia.Yang Mulia harus dikaruniai energi baik dan hamilagar bisa menjadi Ibu Suri yang sah,” jawab Hong Joo dan kemudian menyuruh anak buahnya untuk melanjutkan prosesinya. Karena tujuannya agar Ratu Sim hamil, Ratu Sim pun membiarkan tubuhnya di cambuk sampai dia tak berdaya lagi.

Ratu Sim kemudian kembali di buat berdiri dan ternyata kertas mantra yang ditempel tadi sedikit gosong.

Hong Joo kemudian menyampaikan semua yang terjadi pada Ibu Sri. Ternyata kertas mantra itu jadi gosong karena Ratu Sim mandul. Namun Hong Joo meminta Ibu Suri untuk tidak khawatir, karena Hong Joo punya solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Mendengar itu, Ibu Suri sepertinya tahu tentang cara yang akan Hong Joo lakukan untuk membuat Ratu Sim hamil.

“Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi jika mantranya tidak sesuai!” ucap Ibu Suri.

“Benar, Yang Mulia.Bagaimanapun, bukankah prioritas utamanya mendapatkan pewaris secepatnya?Keputusan di tangan Yang Mulia. Akan kulakukan segala perintah Yang Mulia,” ucap Hong Joo dan akhirnya Ibu Suri menyetujui cara yang akan Hong Joo gunakan, mendengar itu Hong Joo terlihat sedikit tersenyum.

“Prioritas utama sekarang mendapatkan pewaris takhta dan pewaris itu harus lahir dari tubuh Ratu,” ucap Ibu Suri.

Di sebuah ruangan, dimana para dayang sedang nyenyaknya tidur. Tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang merasa gelisah dan merasa kesakitan. Karena tak bisa menahannya, dayang itupun memilih keluar. Dayang itu adalah Hae Ran.

Choi Hyun Seo buru-buru berjalan ke suatu tempat, ternyata dia ingin menemui Hong Joo. Saat mereka bertemu, Hyun Seo langsung bertanya tentang bagaimana cara Hong Joo bisa kembali ke istana.

“Ibu Suri memanggilmu lagi?” tanya Hyun Seo.

“Serajin apapun Cabang Taoist Kerajaan berdoa setiap hari. Ratu takkan bisa hamil, itu sebabnya Ibu Suri agak menderita.Karena itulah, aku kemari menawarkan pelipur,” ucap Hong Joo dan kemudian berkata kalau Ratu Sim memang tidak bisa mengandung. Mendengar itu, Hyun Seo pun meminta Hong Joo untuk mengecilkan suaranya, karena takut ada yang mendengar pernyataan itu.

“Bagaimanapun, bukan masih ada kemungkinan Ratu hamil.Jalang ini akan coba lakukan yang surga tak bisa lakukan,” ucap Hong Joo.

“Apa maksudmu?Kau tidak akan melakukannya… ya kan?Kami masih merasakan akibat perbuatanmu lima tahun silam!Perbuatan busuk apa lagi yang akan kau lakukan di istana kali ini?” tanya Hyun Seo.


loading...

“Apa maksudnya busuk?Kita ini sama saja, kan?Lagipula, kita ini berdoa demi kebaikan bangsa ini.”

“Jangan asal bicara!Bagaimana bisa kau sebut kita sama, di saat aku menyembah surgadan kau menyembah setan?”

“Jadi, kau sia-siakan doamu setiap hari ke surga, yang bahkan tidak dengarkandoamu memohon bunga mekar di ladang batu? Naif sekali,” ucap Hong Joo dan berjalan pergi. Saat dia melewati Hyun Seo, Hong Joo sempat melihat kearah Hyun Seo dan kemudian berkata kalau sepertinya luka Hyun Seo masih belum bisa sembuh. Hong Joo hendak menyentuh Hyun Seo, namun dengan cepat Hyun Seo menangkap tangan Hong Joo.

“Dasar penyihir. Jika kau coba lagi menentang keinginan surga…aku takkan cuma berdiri kali ini,” ucap Hyun Seo dan kemudian menghempaskan tangan Hong Joo lalu pergi. Hong Joo terlihat kesal diperlakukan seperti itu.

Saat Hong Joo hendak keluar, tiba-tiba Hae Ran muncul dan berkata, “Darurat, darurat!Orang itu… orang itu dalam bahaya!”

Kita beralih pada Hyun Seo yang menemui Ibu Ratu. “Yang Mulia bilang untuk menutupi kejadian lima tahun silam. Yang Mulia takkan pernah memangil Hong Joo ke pengadilan kerajaan lagi!Yang Mulia sudah janji, kan?Kenapa memanggil dia lagi?” tanya Hyun Seo.

“Kucoba yang terbaik dengan segala cara yang ditawarkan oleh Cabang Taoist Kerajaan.Tapi, kenapa begini? Kau mengkhianatiku,” ucap Ibu Suri dan Hyun Seo tak mengerti perkataannya.

“Kau tahu, kan? Ratu mandul,” ucap Ibu Suri dan Hyun Seo hanya bisa terdiam tak berkata apa-apa. “Ya. Mana mungkin tidak?Tak ada lagi yang menginginkan keseimbangan di istana ini selain kau. Bagaimanapun, mengamankan pewaris juga bagian dari mempertahankan keseimbangandalam istana, dan di negeri ini!Kenapa kau tipu aku seperti ini?

“Menurutmu apa yang akan terjadi jika kukatakan yang sebenarnya padamu?Ratu akan kehilangan nyawanya. Sama seperti ratu sebelumnya,” ucap Hyun Seo mengingatkan, namun mendengar itu malah membuat Ibu Suri murka. Dia bahkan berkata kalau dia tak bisa lagi percaya pada Cabang Taoist Kerajaan, jadi semua urusan gaib di istana akan di urus oleh Hong Joo dari Sungsuchung. Ibu Suri juga menyuruh agar Hyun Seo turun dari posisinya sekarang.

“Ibu Suri, terserah apapun Yang Mulia lakukan padaku!Tapi jangan biarkan wanita itu, Hong Joo, di sini!” pinta Hyun Seo.

“Akibat cuaca malapetaka itu, kita diserangoleh banyak ketidakseimbangan politik.Kenapa kau yang bernafsu menentang ini?”

“Aku mengerti perasaan Yang Mulia.Tapi jangan terpedaya oleh tipu daya Hong Joo!Yang Mulia tahu bahwa sihir hitam Hong Joo hanya menyebabkan bencana!Keluarga kerajaan akan bercokol dalam kutukannya!” ucap Hyun Seo, namun Ibu Suri sudah tidak percaya lagi padanya.

“Tutup mulutmu! Apa aku ini seperti mainan dukun menurutmu?Kau anggap apa aku?Sudah kukatakan semua yang mesti dikatakan, cepat tinggalkan istana.Jangan pernah lagi keluyuran di sekitar istana!” perintah Ibu Suri dengan marah dan Hyun Seo sudah tak bisa lagi membantah.

Raja Myungjong jatuh sakit dan kondisinya kritis. Ibu Suri shock mendengarnya dan langsung pergi melihatnya sendiri. Tabib istana berkata kalau sang Raja mengalami gangguan pencernaan serius. Untungnya, pihak tabib mengetahuinya lebih cepat jadi mereka bisa langsung mengurusnya. Ibu Suri merasa lega, namun dia jadi bertanya-tanya dari mana tabib tahu mengenai Raja yang sedang merasa kesakitan.

Ternyata tabib tahu hal tersebut dari Hae Ran dan saat ditanya oleh Hong Joo, tentang bagaimana Hae Ran bisa mengetahuinya, Hae Ran pun menjawab kalau dirinya sendiri tidak yakin. Dia hanya mendengar suara-suara. Hae Ran lalu mengaku pada Hong Joo kalau dia bisa mendengar suara yang orang lain tidak bisa dengar. Setiap Hae Ran merasa mendengar sesuatu, maka apa yang dia dengar itu pun akan segera terjadi.

“Sejak kapan kau punya kemampuan ini?” tanya Hong Joo penasaran.

“Aku tidak yakin, tapi sejak muda aku sudah mampu mendengar yang seperti itu,” aku Hae Ran.

“Tugas dukun yang kau lakukan itu bagus aku yakin kau akan menerima hadiah. Kembalilah ke kediamanmu,” ucap Hong Joo dan Hae Ran pun kembali ke kamarnya.

“Aku merasakan aura aneh. Sudah pasti dia bukan gadis biasa,” ucap Hong Joo dalam hati dan tersenyum.

Apa yang Hong Joo ternyata benar-benar terjadi. Paginya, Hae Ran mendapat hadiah pulang ke rumah dengan menggunakan tandu. Semua dayang dan para dukun muda langsung merasa iri padanya. Oh iya, tadi saya salah ternyata Hae Ran itu bukan dayang, melainkan dukun.

Salah satu dukun yang gendut berkata kalau Hae Ran sangat beruntung bisa meramal kesehatan Raja dalam saat tidur, sedang kan dirinya hanya mendapat keram ketika tidur. Tepat disaat itu Hae Ran muncul dengan mereka semua langsung menghampirinya. Ada yang berpesan minta ambilkan sisir, riasan dan lain-lain di rumah mereka.

Dayang dari Ratu Shim muncul dan memberikan hadiah untuk keluarga Hae Ran. Dia berkata kalau hadiah itu dari Ratu Shim untuk keluarga Hae Ran. Tentu saja Hae Ran senang menerimanya.

Ratu Shim sedang tidur dan dia langsung beranjak kaget ketika membuka mata didepannya sudah ada Hong Joo.

“Apa lagi sekarang?” tanya Ratu Shim dengan ekspresi takut.

“Ratu Shim. Ratu mandul,” ucap Hong Jo.

“Apa katamu? Benarkah itu? Apa Ibu Suri juga tahu hal ini?” tanya Ratu Shim mulai cemas dan Hong Joo kemudian bertanya apa Ratu Shim benar-benar ingin hamil. Jika Ratu Shim ingin hamil, maka dia harus mengikuti perintah Hong Joo. Awalnya Ratu Shim ragu, namun akhirnya dia berkata kalau dia bersedia melakukannya.

Ratu Shim bertanya apa yang harus dia lakukan. Saking inginnya punya anak, dia bahkan sampai memohon pada Hong Joo untuk membantunya.

Hae Ran masih dalam perjalanan pulang, dia masih belum sampai rumah padahal sudah malam. Di dalam tandu, Hae Ran membuka hadian dari Ratu Shim dan dia terlihat senang. Tiba-tiba tandu berhenti sejenak dan kemudian jalan kembali dengan cepat.

Anak buah Hong Joo muncul dan mencegat tandu. Sepertinya hal tersebut sudah di rencakan, karena setelah melihat anak buah Hong Joo, sipembawa tandu langsung menurunkan tadu dan mengatakan pada Hae Tan kalau mereka sudah sampai. Hae Ran hendak keluar, namun disaat dia membuka kain tandu, tiba-tiba anak buah Hong Joo menutupi kepalanya dengan kain hitam.

Hae Ran dibawa untuk bertemu dengan Ratu Shim dan Ratu Shim berkata kalau mulai sekarang, Hae Ran harus mematuhi semua perintahnya. Perintah dari Ratu Shim adalah Hae Ran bermalam dengan sang Raja.

“Aku dukun yang di dalam tubuhnya sudah didiami suatu roh. Tubuhku tak boleh disentuh oleh pria!” ucap Hae Ran dan Ratu Shim langsung menamparnya.

“Dia bukan sekedar pria! Dia Raja Joseon! Jika kau cuma dukun, tugasmu cuma bersihkan tubuhnya dengan energi.”

“Tapi…”

“Katanya kau punya adik. Jika kau layani Raja dengan baik seperti perintahku akan kuawasi kau dan keluargamu selamanya. Masih mau menentangku?” tanya Ratu Shim dengan tatapan tajam dan Hae Ran hanya bisa menunduk takut.

Hae Ran lalu dimandikan kembang, agar tubuhnya bersih. Ratu Shim sendiri yang melakukan semuanya, dia yang membersihkan tubuh Hae Ran dengan handuk dan dia sendiri juga yang memotongi kuku Hae Ran.

Sebelum Hae Ran masuk ke kamar Raja, Ratu Shim berpesan agar Hae Ran tak langsung menatap mata Raja, jangan ribut dan jangan menyakiti tubuhnya sendiri meski tidak sengaja. Melihat Hae Ran yang terlihat ketakutan, Ratu Shim pun menggenggam tangannya dengan lembut dan kemudian memeluknya.

Hae Ran sudah berada di kamar Raja dan Ratu Shim memilih pergi. Raja masuk dan berbaring disamping Hae Ran. Seperti yang sudah Ibu Suri janjikan, dia meminta seseorang untuk menjaga malam kebersamaan Raja. Orang yang memberi instruksi pada Raja hanya disekat kain dari tempat tidur mereka. Selain memberi instruksi, ada juga beberapa orang yang ditugaskan untuk mencatat apa yang dilakukan Raja, semua itu dilakukan agar mereka tahu apa yang salah sehingga Raja tak kunjung mendapatkan anak.

Raja mulai membuka baju Hae Ran dan menidurinya. Dari luar, Ratu Shim melihat semuanya. Ternyata dia tak pergi meninggalkan mereka begitu saja. Dia bisa melihat Hae Ran sedang menahan tangisnya.

Di kediamannya, Hyun Seo sedang duduk diam dan tiba-tiba lilin di sampingnya padam dengan sendirinya. Dengan santai Hyun Seo menyalakannya lagi dan tak ada hitungan menit, lilin itu kembali mati lagi. Mendapati hal seperti itu, Hyun Seo pun merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Paginya, Hae Ran langsung diperiksa oleh tabib. Melihat Ratu Shim terlihat khawatir, Hae Ran pun berkata kalau dia baik-baik saja.

“Kudengar dari dayang-dayang, katanya kau tidak begitu bergairah. Aku harus pastikan semua baik-baik saja, jadi diamlah dan terima perawatannya,” ucap Ratu Shim.

“Yang Mulia, aku sungguh baik-baik saja. Aku cuma tak bergairah,” jawab Hae Ran dan Ratu Shim mengatakan kalau tubuh Hae Ran sekarang bukan miliknya sendiri, melainkan milik raja. Jadi, Hae Ran hanya harus diam dan jangan bergerak.

Ratu Shim terus melihat tabib dengan ekspresi bertanya-tanya. Melihat itu, Hae Ran tertawa kecil dan itu membuat Ratu bertanya kenapa Hae Ran tertawa.

“M… maaf, Yang Mulia! Aku cuma teringat dengan ibuku. Ekspresi ibuku selalu begitu saat aku sakit dan ibu akan menatapku. Terima kasih, Yang Mulia. Yang Mulia selalu mengurusku. Besok aku akan bangun dan berdoa agar Yang Mulia hamil!” ucap Hae Ran dengan polosnya. Mendengar itu, Ratu Shim pun teringat pada kata-kata Hong Joo.

Flashback!
“Apa maksudnya, orang lain hamil, bukannya aku?” tanya Ratu Shim tak mengerti.

“Orang lain yang hamil, tapi bayinya akan lahir dari tubuhmu,” jawab Hong Joo dan kemudian memberitahu kalau ada dukun yang bisa melakukan semua itu untuk Ratu Shim. Hong Joo pun berjanji akan melakukan semuanya untuk Ratu dan jika dia tidak berhasil, Hong Joo berani di hukum mati.

Setelah melakukan pemeriksaan si tabib kemudian meleporkan kalau Hae Ran sudah hamil, namun Hae Ran sendiri belum tahu akan hal tersebut. Hae Ran hanya mengetahui kalau dia sedang agak demam.

Si tabib keluar dan Hong Joo langsung berkata kalau sekaranglah waktunya bagi mereka untuk beraksi. Ratu Shim kemudian memberikan barang-barang milik Hae Ran pada Hong Joo dan salah satu barangnya adalah rambut milik Hae Joo.

“Tolong kuatkan keyakinan hati Yang Mulia. Ini akan jadi perjalanan cukup sulit bagi Yang Mulia,” ucap Hong Joo dan walaupun merasa ragu, Ratu Shim sudah membulatkan tekad untuk melakukan semuanya.

Apakah Hong Joo berhasil membuat Ratu Shim hamil? Dan bagaimana nasib Hae Ran setelah ini? Apakah dia akan benar-benar kehilangan anaknya? Tunggu kelanjutan ceritanya pada part selanjutnya.

Bersambung ke Sinopsis Mirror of The Witch episode 1 – 2

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis drama korea
  • apakah putra mahkota soonhwe dan raja diperankan oleh orang yg sama dalam drama mirror of the wicht
  • kang ha na mirror of the witch
  • mirror of the witch ep 1
  • Mirror of the witch episode 1
  • sinopsis drama korea mirror of the witch episode 1 part 1
  • pemeran raja myeungjong di drama mirror of the witch
  • peran lee cho hee dalam drama mirror of the witch
  • ratu jalang
  • ratu shim joseon

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *