Home » Hwang Jung Eum » Sinopsis Lucky Romance Episode 9 -1

Sinopsis Lucky Romance Episode 9 -1

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Lucky Romance Episode 9 -1, bercerita tentang Bo Nui yang senang karena akhirnya dia bisa melihat wajah Bo Ra, namun di tengah kesenangan Bo Nui, Gun Wook merasa kecewa dan sedih karena Bo Nui bisa bertemu dengan Bo Ra karena Soo Ho. Perasaan Soo Ho dan Bo Nui pun semakin tumbuh di hati mereka masing-masing. Bahkan Tuan Won yang hanya melihat sebentar saja, bisa menebak kalau mereka berdua saling suka. Hmmm.. pokoknya makin seru drama ini dah, apalagi akting Ryu Joon Yeol sebagai Soo Hoo begitu pas dan lucu… temen-temen pensaran dengan jalan ceritanya? yuk baca sinopsisny…

Sinopsis Lucky Romance Episode 8 -1

Sinopsis Lucky Romance Episode 8 -2

Sinopsis Lucky Romance Episode 9 -1

Soo Ho berhasil membantu Bo Nui bertemu dengan Bo Ra, tentu saja Bo Nui merasa senang dan sangat berterima kasih pada Soo Ho. Melihat Bo Nui menangis karena haru, Soo Ho langsung memeluknya dan berkata, “Saat kau merindukannya, bilang padaku. Akan kutemani.”

Keluar dari rumah sakit, Bo Nui masih tak percaya kalau dia sudah melihat Bo Ra secara langsung, bahkan walau di mimpi juga dia tak berani melihat wajah Bo Ra. Tak mau merepotkan Soo Ho lagi, Bo Ra ingin pulang berjalan kaki, tapi Soo Ho tetap mengikutinya. Soo Ho mengajak Bo Nui makan bersama, karena dari pagi dia sudah menjadi supir Bo Nui dan juga menjadi jimatnya, jadi Bo Nui harus mau makan bersama sebagai tanda terima kasih.

Tak ingin mendengarkan penolakan Bo Nui, Soo Ho langsung mengajak Bo Nui ke restoran yang ada di samping mereka. Ternyata itu adalah restoran yang menjajakan masakan serba ikan, mengetahui kalau semua jenis makanan itu tak bisa Soo Ho makan, Bo Nui pun mengajak Soo Ho ke restoran lain, tapi Soo Ho tak mau, karena di restoran itu masih ada makanan yang tidak terbuat dari ikan.

Ketika makan, Bo Nui bertanya apa perut Soo Ho merasa mual kalau makan ikan, padahal ibu Soo Ho bilang kalau Soo Ho dulu sangat penggila ikan. Soo Ho hanya diam mendengar pertanyaan itu, merasa salah bertanya Bo Nui pun mengurungkan pertanyaannya.

“Aku hampir mati, karena jatuh ke laut. Aku pernah bilang, kan? Khayalanku itu tingkat tinggi. Rasa asin yang tertelan. Bau laut yang kucium. Sangat terasa. Setelah itu, aku tak makan ikan. Akibat trauma kala itu,” aku Soo Ho dan kemudian menyuruh Bo Nui cepat makan karena setelah makan mereka akan minum kopi.

Selesai makan mereka benar-benar minum kopi bersama. Soo Ho tiduran di bangku taman ketika Bo Nui datang dengan membawa dua gelas kopi. Bo Nui ingin mengangetkan Soo Ho dengan berdiri di atas Soo Ho, tapi bukannya kaget, Soo Ho malah dengan dingin bertanya apa yang sedang Bo Nui lakukan. Tentu saja di tanya seperti itu membuat Bo Nui jadi tak enak sendiri dan langsung memperbaiki posisinya.

Melihat Soo Ho di bangku taman, membuat Bo Nui teringat pada pertemuan pertama mereka, saat itu Soo Ho terlihat gugup.

“Hari itu kau sangat gugup karena aku, kan?” tanya Bo Nui.

“Kau itu selalu membuatku gugup.”

“Maaf… karena selalu membuatmu dalam masalah. Takdir orang memang tak bisa diubah. Aku akan lebih hati-hati,” janji Bo Nui dan Soo Ho kemudian mulai bertanya tentang orang tua Bo Nui yang meninggal ketika Bo Nui berusia 16 tahun.

“Kau juga berpikir itu salahmu? Karena takdir?”

“Dulu aku tidak tahu. Awalnya ayamku yang mati. Temanku yang terluka. Lalu orangtuaku… Mereka mati saat pulang beli tiket konser untukku. Aku pikir semua itu kebetulan. Seandainya aku tahu lebih awal. Bo Ra pasti kusuruh adopsi orang,” aku Bo Nui.

“Kenapa bicara begitu? Kau sudah korbankan hidupmu demi adikmu,” tanya Soo Ho tak mengerti.

“Uang bisa kucari, kelaparan juga tak masalah, tapi kalau kehilangan dia… hidupku pasti hancur. Aku terbangun berkali-kali untuk menyentuh wajahnya,” ucap Bo Nui dan itu membuat Soo Ho terus menatap padanya. Bo Nui pun menebak kalau Soo Ho pasti berfikir kalau Bo Nui adalah gadis yang sangat menyedihkan dan naif.

“Pasti berat. Seorang wanita kecil, memberi makan, memakaikan baju, membesarkan… anak kecil lain. Pasti berat,” ucap Soo Ho meralat tebakan Bo Nui. Mendengar itu, Bo Nui terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca. Tak ingin membahas hal itu lebih lanjut, Bo Nui pun mengajak pulang karena dia sudah menghabiskan banyak waktu Soo Ho.

Di rumah, Bo Nui berdoa tapi pikirannya terus memikirkan Soo Ho dan itu membuat Bo Nui berusaha sekuat tenaga untuk tak memikirkan Soo Ho dan hanya memikirkan Bo Ra. Dia hanya minta Bo Ra sadar dan tak menginginkan hal lain lagi.

Tepat disaat itu, orang yang sedang Bo Nui pikirkan sudah berada di tempat tidurnya. Tapi ternyata dia belum tidur, dia masih terbayang ketika wajah Bo Nui ada di atasnya, mengingat Bo Nui seperti itu, membuat Soo Ho tersenyum senang. Soo Ho bangun dan melihat tangannya, dia kembali teringat ketika dia memeluk Bo Nui dan mengusap rambut Bo Nui. Soo Ho dan Bo Nui sama-sama tak bisa tidur. Keduanya saling memikirkan satu sama lain.

Paginya, Soo Ho sudah memegang ponsel dan bingung harus mengirim sms apa ada Bo Nui. Dia ingin bertanya apa tidur Bo Nui nyenyak semalam, tapi dia sebelum pesan itu di kirim, Soo Ho sudah merasa kalau kata-kata seperti itu terlalu gombal.

Bo Nui sendiri sekarang sudah berada di rumah sakit, dia membawakan banyak makanan untuk para perawat dan dia kemudian bertanya tentang perkembangan Bo Ra, karena mulai sekarang Bo Nui akan mencatat semua tentang Bo Ra.

Perawat Lee menjawab kalau sekarang Bo Ra sedang sibuk, dia sedang dikunjungi oleh seorang pria tampan yang sebelumnya pernah datang bersama Bo Nui. Siapa yang datang? Ternyata yang datang adalah Gun Wook.

Bo Nui kemudian memberitahu Gun Wook kalau dia sudah melihat Bo Ra langsung berkat Soo Ho. Tentu saja mendengar hal itu, Gun Wook terlihat sedikit kecewa, apalagi Bo Nui begitu memuji kebaikan Soo Ho di depannya.

Bo Nui dan Gun Wook pulang. Di depan gedung apartemen, Bo Nui melihat pria yang terlihat seperti Soo Ho. Gun Wook kembali kesal dan mengeluh karena Soo Ho selalu ikut campur urusan Bo Nui. Gun Wook juga memberitahu Bo Nui kalau malam dimana Bo Nui tidak pulang, saat itu Soo Ho datang dan mengatakan kalau Bo Nui ingin bunuh diri, jadi mereka harus mencarinya.

“Si bos? Kapan?” tanya Bo Nui tak tahu.

“Hari saat Bo Ra sadar. Noona… hari itu kau tak dirumah,” ucap Gun Wook dan keluar mobil untuk memberi sedikit pelajaran pada Soo Ho agar tahu batasannya sebagai bos. Tapi ternyata pria yang menunggu di depan itu bukanlah Soo Ho, melainkan seorang reporter yang sedang mencari berita tentang Gary.

“Aku reporter Choi dari Women Sense. Aku dengar aku mencari ayahmu, benar?” ucap reporter Choi dan kemudian memanggil temannya untuk mengambil gambar Gun Wook.

Apa yang terjadi semalam langsung di bahas di kantor Ze Ze dan Seol Hee menebak kalau kantor detektif yang Gun Wook sewa lah yang menyebarkan berita itu pada media masa. Seol Hee pusing mengatasi masalah itu dan berniat menuntut reporter yang menemui Gun Wook malam itu.
“Tak ada gunanya melawan media, hanya akan menambah gosip,” ucap Soo Ho dan Gun Wook memberitahu Seol Hee kalau dia ingin tampil di acara TV.

“Meski kali ini kita cegah, nanti juga pasti menyebar. Jika aku masuk TV, game ini akan bebas masalah,” tambah Gun Wook.

“Jangan memaksakan diri, jika Gary tak mau, kami tak memaksa,” jawab Soo Ho yang tak mau memperkeruh masalah.

“Gary, manusia itu kejam. Sekarang mereka memuji, tapi sedikit saja kau salah. Kau bakal dianggap jahat atau dianggap anak yang menyedihkan. Mereka sanggup bicara seperti itu,” ingat Seol Hee agar Gun Wook mengurungkan niatnya, namun Gun Wook tetap pada pendiriannya. Dia berjanji akan tetap kuat, asalkan sang ayah diketemukan.

“Media punya pengaruh yang bagus. Karena menyangkut Gary, pasti penyebarannya akan cepat,” ucap Soo Ho dan Seol Hee akhirnya setuju, tapi dia yang akan membuat konsepnya, karena dia tak mau Gary di hina. Soo Ho pun berjanji akan membantu jika pihak Gary membutuhkan bantuan mereka.

Di luar ruang rapat, Bo Nui sudah menunggu dengan cemas. Ketika Gun Wook keluar, dia langsung bertanya bagaimana dan Gun Wook menjawab kalau dia akan menyerang dengan caranya sendiri. Tentu saja Bo Nui merasa lega mendengarnya.

Soo Ho kembali mengatur waktu untuk target kerja Ze Ze. “Kita luncurkan versi beta sebelum Gary pulang,” ucap Soo Ho pada semua pegawainya. Dal Nim menjawab kalau waktu yang Soo Ho berikan sangat singkat.

“Kita masih butuh persetujuan Gary. Skenarionya diurus oleh Shim Bo Nui. Tulis cerita tentang orang tuanya untuk siaran hari sabtu,” ucap Soo Ho cepat dan Bo Nui menyanggupinya. “Bulan depan kita open beta. Tiga bulan setelahnya kita rilis,” tambah Soo Ho dan membuat semuanya kaget.

“Workshop jumat depan bagaimana? Jangan dibatalkan! Aku ingin makan daging! Daging!” rengek Sung Hyun dan teman-temannya langsung memberi isyarat agar dia diam.

“Workshop saat seperti ini… Sebaiknya kita lakukan,” ucap Soo Ho dan semuanya langsung kaget tak percaya. “Silahkan senang-senang. Pikiran bersih, kerja lebih giat,” tambah Soo Ho dan membuat semua pegawainya senang. Tepat disaat itu Bo Nui mendapat telepon dan langsung keluar ruang rapat. Melihat Bo Nui keluar, Soo Ho pun ikut keluar.

Di luar Soo Ho pura-pura melewati Bo Nui, tapi telinganya di buka lebar untuk mendengar pembicaraan Bo Nui di telepon. Namun Soo Ho tak bisa mendengar apa-apa, karena disaat dia mendekat, Bo Nui menutup teleponnya.

“Iya… Bos, terima kasih,” ucap Bo Nui.

“Untuk apa?”

“Sudah mengalah pada Geon Uk. Akui saja, kau itu macan yang baik.”

“Beda ceritanya kalau denganmu, buat apa aku jadi macan baik untuk Gary? Kenapa kau berterima kasih padaku?” tanya Soo Ho tak mengerti.

“Karena dia adik yang kusayangi,” jawab Bo Nui.

“Kau pasti sangat sayang padanya,” ucap Soo Ho dan kemudian mengajak Bo Nui makan. “Ayo makan, katanya berterima kasih. Kalau begitu traktir aku.”

“Ah, maaf, aku sudah ada janji,” jawab Bo Nui.

“Dengan siapa… Ya sudah,” ucap Soo Ho mengurungkan pertanyaannya dan langsung pergi. Melihat Soo Ho yang selalu mengajaknya makan, membuat Bo Nui bingung.

Masuk kantor, Soo Ho mendengar Sung Hyun dan Dal Nim memuji ketampanan Gary. Ji Hoon yang tak senang mendengarnya langsung berkomentar kalau wanita memang selalu tergila-gila dengan wajah tampan. Soo Ho juga tak senang mendengarnya, dia mendengus tak senang dan kemudian masuk ruangannya dengan langkah kaki yang di hentak kuat.

loading...

Dal Nim melihat Soo Ho dan tersenyum senang. Hmmm…. walaupun dia memuji ketampanan Gary, tapi yang ada di hatinya hanyalah Soo Ho seorang.

Bo Nui pergi ke rumah Tuan Koo dan disana dia bertemu Hee Ae. Hmm.. ternyata Hee Ae yang mengajak Bo Nui ke rumah Tuan Koo agar di ramal dan Hee Ae yang akan membayar biaya ramalnya. Saat mengetahui kalau Bo Nui juga sering datang ke tempat Tuan Koo, Hee Ae merasa senang karena mereka berdua banyak kesamaan.

“Pertama, tentang anakku. Bagaimana dengan rakun itu? Masih mengejarnya?” tanya Hee Ae dan Bo Nui langsung memberi kode pada Tuan Koo untuk tidak mengatakan apa-apa.

“Aku pernah cerita, kan? Si rakun licik,” ucap Hee Ae pada Bo Nui.

“Iya! Rakun yang licik!” jawab Bo Nui pura-pura ikut marah.

Tuan Koo kemudian menyebar berasnya dan sebelum mengatakan ramalannya, dia sejenak melihat ke arah Bo Nui. “Masih berkeliaran. Ada ombak yang datang. Tingginya sepergelangan kaki. Tanpa dia sadari, dia akan tenggelam,” ucap Tuan Koo.

Ketika Tuan Koo mengatakan semua itu, kita melihat Soo Ho sedang melihat video kartun Gary, tapi pikirannya sedang tidak fokus. Dia terus memikirkan Bo Nui, karena tak ingin memikirkan Bo Nui, Soo Ho pun memasukkan kaktus dan garam dari Bo Nui ke laci, tapi hal itu masih tak berhasil, jadi garam dan kaktus itu pun di keluarkannya lagi. Soo Ho kemudian memandangi kaktus dan garam itu sambil tersenyum.

Bo Nui dan Hee Ae sudah berada di restoran. Karena Tuan Koo berkata Soo Ho akan tenggelam, Hee Ae pun bertanya apa di kantor Ze Ze atapnya bocor, WC meluap atau penyaring air-nya rusak. Tentu saja Bo Nui menjawab tidak.

“Anakku tak boleh dekat air. Dulu dia hampir mati tenggelam,” ucap Hee Ae.

“Ah, jadi begitu… Aku pastikan semua aman,” janji Bo Nui.

“Tak bisa dipercaya, si bodoh itu melempar anaknya ke laut untuk mengajarinya berenang.”

“Ada yang sengaja melemparnya?” tanya Bo Nui kaget.

“Orang yang kepalanya bocor kemarin!” jawab Hee Ae dan menebak kalau rakun yang Tuan Koo maksud adalah Mool Po.

Sebelum pulang, Hee Ae menyerahkan mantra pemberian Tuan Koo pada Bo Nui agar di serahkan pada Soo Ho karena Hee Ae tak mau menyerahkan sendiri. Dia hanya akan sakit hati jika melihat langsung Soo Ho membuang jimat tersebut. Tepat disaat itu Tuan Ahn muncul untuk mengantarkan pesanan, dia memanggil Bo Nui dan Bo Nui pun mengenalkan Hee Ae pada Tuan Ahn. Di depan Bo Nui, Hee Ae pura-pura tak kenal dengan Tuan Ahn dan memilih langsung pergi dengan taksi.

Di kantor Ze Ze, Dal Nim dan Sung Hyun panik, karena gambar kartu Gary, wajahnya hancur. Semua pegawai pria tak ada yang mengaku sudah merusaknya, tapi mereka terlihat senang wajah tampan Gary hancur.

Siapa orang yang sudah melakukan semua itu? Ternyata orang itu adalah Soo Ho. Dia bahkan bersembunyi di pantri dan merusak wajah Gary yang ada di tablet-nya. LOL. Ketika dia hendak keluar, dia mendengar suara Bo Nui memanggilo Dal Nim. Soo Ho reflek langsung sembunyi lagi, karena Dal Nim membawa Bo Nui ke meja tempat Soo Ho bersembunyi.

“Kenapa tidak ikut, kenapa?” tanya Dal Nim yang ingin Bo Nui ikut Workshop.

“Aku harus meriksa Bo Ra setiap hari. Bagaimana kalau kecelakaan karena aku?”

Saat kuliah kau tak pernah ikut MT karena kerja. Sekalinya keluar Seoul karena kerja sambilan. Bo Ra sudah sadar, bersenang-senanglah.”

“Aku juga ingin ikut, melihat pemandangan dan makan enak,” jawab Bo Nui dan Soo Ho terlihat tak tega mendengarnya.

“Kalau begitu ikutlah! Ayo Bo Nui, ayo!” ajak Dal Nim.

“Di hari saat Bo Ra kecelakaan, aku merasa bisa jika diberi waktu lagi. Aku terus bepikir begitu, sampai-sampai operasinya Bo Ra ditunda. Seperti katamu, setelah Bo Ra sadar aku jadi ingin liburan. Tapi… itu egois namanya. Kau tahu aku tak bisa begitu,” ucap Bo Nui dan berjalan pergi. Saat sendirian, Soo Ho seperti memikirkan sesuatu.

Bo Nui menemui Tuan Won yang mendapatkan pekerjaan untuk menyebar selebaran milik restoran Tuan Ahn. Sebenarnya Bo Nui lah yang meminta pekerjaan itu untuk Tuan Won, karena Bo Nui merasa bersalah pada Tuan Won. Dia merasa kalau dialah penyebab perusahaan Tuan Won bangkrut dan membuat Tuan Won tak punya pekerjaan. Agar pekerjaan Tuan Won cepat selesai, Bo Nui pun ikut membantu.

Tepat disaat itu Soo Ho muncul dan melihat apa yang Bo Nui lakukan. Dia bahkan membantu Bo Nui menyusun kembali selebaran yang terjatuh gara-gara ada seorang pria yang dengan kasar menyingkirkan Bo Nui.

Soo Ho menemui Bo Nui untuk membahas tentang workshop, tapi sebelum dia sempat membahas hal tersebut, Tuan Won muncul dan menghampiri mereka. Tuan Won hendak menjabat tangan Soo Ho, tapi Soo Ho tak mau, dia malah menatap Bo Nui dengan tatapan tak senang.

Tuan Won kemudian mengajak Soo Ho kerja sama lagi, dia berkata kalau dia punya proyek bagus tentang otak buatan. Melihat ekspresi Soo Ho yang terlihat tak nyaman, Bo Nui pun langsung membawa Tuan Won pergi.

Saat hanya berdua, Bo Nui meminta Tuan Won agar tak berbicara seperti itu dengan Soo Ho. Namun Tuan Won tak terlalu menanggapi, dia lebih penasaran dengan hubungan Bo Nui dan Soo Ho. Dia menebak kalau diantara mereka berdua ada sesuatu. Tuan Won dengan yakin berkata kalau Soo Ho menyukai Bo Nui.

Hee Ae menelpon Tuan Ahn dan meminta maaf karena dia tadi sudah cuek padanya. Tuan Ahn pun mengerti dengan apa yang Hee Ae lakukan. Tanpa Hee Ae sadari, Mool Po pulang dan mendengar percakapan dirinya dan Tuan Ahn. Mool Po akhirnya tahu, kemana perginya satu kotak jus gurame-nya yang hilang.

Setelah menutup telepon dari Hee Ae, Tuan Ahn melihat Soo Ho sudah berdiri di pintu masuk dan melihat ke arahnya. Hee Ae menoleh ke belakang dan Mool Po sudah tak ada lagi disana. Kemana Mool Po? Ternyata dia pergi ke pinggir danau.

Tuan Ahn membawakan bir dan cola ke meja Soo Ho. Awalnya Soo Ho hendak meminum cola tapi tiba-tiba dia meletakkannya kembali dan meminum bir.

“Kenapa, ada yang salah?” tanya Tuan Ahn melihat Soo Ho minum bir.

Sebelum bir masuk ke tenggorokannya, Soo Ho langsung mengeluarkan bir-nya lagi dan menyebut nama Shim Bo Nui.

“Bo Nui kenapa? Dia melakukan kesalahan?” tanya Tuan Ahn tak mengerti.

“Aku sangat frustasi…dia juga bicara aneh-aneh saat bekerja disini?” tanya Soo Ho dan Tuan Ahn tersenyum lalu menjawab kalau Bo Nui hanya merasa khawatir. “Apa salahku?” tanya Soo Ho tak mengerti.

“Bukan karena kau salah, dia khawatir kau kenapa-napa, “ jawab Tuan Ahn dan menunjukkan kertas mantra yang di tempel Bo Nui di atap restoran. “Dia takut aku terluka. Dia melarangku menyetir. Memanaskan minyak dan memakai pisau selalu dia yang lakukan. Dia takut kesialnya menular,” jelas Tuan Ahn dan Soo Ho teringat pada ucapan Bo Nui yang mengaku kalau Tuah Won bangkrut karena dirinya.

“Tiap kali aku ingat Bo Nui, aku jadi sedih. Bukannya menikmati hidup, dia selalu melakukan hal berat,” tambah Tuan Ahn dan tepat di saat itu Ryang Ha muncul dengan senang dan membahas tentang workshop. Namun Soo Ho tak menanggapinya, Soo Ho hanya berdiri dengan memasang wajah serius dan kemudian pergi. Melihat sikap Soo Ho, Ryang Ha pun jadi bingung dan bertanya apa dia sudah membuat Soo Ho marah.

Paginya, Bo Nui melihat Tuan Won menjadi satpam di gedung Ze Ze. Saat ditanya bagaimana bisa Tuan Won bekerja di Ze Ze, Tuan Won pun menjawab kalau Soo Ho lah yang memintanya. Tadi malam, ketika Soo Ho meninggalkan restoran Tuan Ahn, Soo Ho langsung menemui Tuan Won dan menawarinya pekerjaan sebagai satpam. Tentu saja Tuan Won tak menolak.

“Cuma sementara kok. Setelah uangku terkumpul, akan kumulai proyek lagi,” ucap Tuan Won.

“Baguslah! Rasanya bebanku sudah hilang!” jawab Bo Nui senang. Tepat disaat itu Soo Ho muncul. Soo Ho dan Bo Nui naik lift bersama. Suasan di dalam lift terlihat canggung sampai akhirnya Soo Ho berkata kalau semuanya terasa aneh.

“Apa?” tanya Bo Nui tak mengerti.

“Won Dae Hae yang bangkrut karena dirimu. aku dengar sudah dapat kerja. Kau bilang kau bawa sial, tapi keberuntungan terjadi! Aneh sekali,” ucap Soo Ho dan Bo Nui pun tersenyum senang saat membelakangi Soo Ho.

Dari atap apartemennya, Bo Nui terus meneropong Bo Ra. Tepat disaat itu Gun Wook muncul dan membawa minuman untuk mereka berdua. “Pulang kantor tadi sudah kesana, kan?” tanya Gun Wook karena Bo Nui terus meneropong Bo Ra.

“Aku ingin melihatnya terus.”

“Pasti berat meninggalkannya karena workshop,” komen Gun Wook dan Bo Nui menjawab kalau dia tak akan ikut workshop, karena Bo Nui harus mengawasi Bo Ra.

“Oh iya, sudah siap siaran di TV? Jangan gugup,” saran Bo Nui dan Gun Wook kemudian meminta Bo Nui untuk menemaninya. Namun Bo Nui tidak mau, dia takut kesialannya akan berdampak pada acara tersebut.

“Lakukan upacara pembersihan. Aku akan kubawa garam. Noona tahu betapa pentingnya hal ini untukku,” ucap Gun Wook.

“Justru itu aku tak boleh kesana. Jika ayahmu tak ketemu karena aku, kau akan menyesal seumur hidup,” jawab Bo Nui dan Gun Wook terlihat kecewa mendengarnya. Dia kecewa karena Bo Nui tak mau menemaninya.

Gun Wook menelpon Seol Hee dan mengatakan kalau dia ingin membatalkan latihan besok. Mendengar ide itu, membuat Seol Hee terlihat senang dan langsung menyetujuinya. Setelah menutup telepon dari Gun Wook, Seol Hee langsung menyiapkan bekal makanan. Hmmm… sepertinya dia ingin ikut workshop bersama rombongan Ze Ze.

Kita kembali pada Gun Wook yang membuka-buka ponselnya dan tiba-tiba dia tersenyum memikirkan sesuatu.

Bersambung ke sinopsis Lucky Romance episode 9 – 2

loading...

Yang banyak dicari

  • Sinopsis drama lucky romance episode 9 part 1 dan 2
  • www sinopsis lucky romance episode 9 com
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *