Home » Hwang Jung Eum » Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 2

Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 2

Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 2, bercerita tentang Soo Ho yang mulai menyukai Bo Nui, namun disisi lain Seol Hee menceritakan alasan dia meninggalkan Soo Ho dan itu membuat Soo Ho berhenti marah pada Seol Hee. Pada episode 7 ini, Bo Nui memutuskan berhenti dari Ze Ze factory dan membawa pulang adiknya. Buat teman-teman yang belum membaca sinopsis lengkap LuckyRomance, yuk baca sinopsisnya dibawah ini:

Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 1

Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 2

Tim Ze Ze bersiap melakukan lembur untuk membuat penguji beta dalam waktu tiga bulan dan mereka juga harus mulai menulis skenarionya. Mereka semua mengeluh karena mereka harus bekerja cepat dan teliti. Ji Hoon lalu bertanya-tanya kemana Soo Ho dan Bo Nui, karena mereka berdua sama-sama melewatkan acara makan malam perusahaan dan sekarang mereka berdua sama-sama terlambat.

“Apa ada sesuatu antara mereka?” tanya Ji Hoon dan DalNim terlihat kaget mendengarnya. Apalagi rekan kerjanya yang lain setuju dengan pendapat Ji Hoon.

“Apa yang kau bicarakan? Bos sudah datang,” jawab Dae Kwon. Hmmmmm? Kemana Soo Ho? Kalau dia sudah datang ke kantor tapi kenapa dia tak terlihat di kantornya. Ternyata Soo Ho sedang berada di samping jendela kaca dan menunggu Bo Nui datang. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 7 tapi Bo Nui belum juga datang.

“Apa dia pingsan?” tanya Soo Ho penasaran. “Dia tidur nyenyak tiap malam,” ucap Soo Ho lagi dan kemudian memilih balik ke kantor. Sambil jalan ke kantor Soo Ho terus bergumam, “Dia merepotkan. Dia membuatku mengunjunginya. Aku akan memberinya pelajaran kalau dia tidak datang ke kantor. Kau terlambat! Kau malas!” ucap Soo Ho dan ketika dia menekan tombol lift, Gun Wook lah yang keluar dari dalam lift.

“Ah, kau ada rapat hari ini, kan?” tanya Soo Ho ketika berpapasan dengan Gun Wook dan Gun Wook menjawab kalau dia datang untuk bertemu dengan Soo Ho. Mereka berdua kemudian pergi atap untuk bicara berdua.

Gun Wook bertanya Soo Ho dimana dan dengan siapa tadi malam. Namun Soo Ho tak langsung menjawab, dia malah balik bertanya, kenapa Gun Wook penasaran tentang hal itu.

“Apa aku harus bertanya lagi? Kemarin, apa kau bersama Bo Nui noona? Aku sudah bilang padamu. Aku sudah seperti adik Bo Nui. Sebagai adiknya, aku harus tahu itu,” jelas Gun Wook.

“Sebagai adiknya, kau seharusnya tanya pada Bo Nui. Aku tidak mau mengekspos privasi karyawanku pada orang luar,” jawab Soo Ho dan hendak pergi, namun Gun Wook mencegahnya.

“Apa kau bilang? Noona… Bagaimanapun, dia memiliki situasinya sendiri. Makanya dia sangat terobsesi dengan ramalan konyol itu. Kalau kau waras, kau tidak bisa menyetujui semua yang dia mau,” ucap Gun Wook dengan nada sedikit kesal.

“Aku tahu itu semua untuk adiknya,” jawab Soo Ho.

“Dia menceritakan tentang adiknya Bo Ra padamu?”

“Kau bicara seperti kau paling tahu banyak tentang dia. Aku tahu cukup baik. Dan kami mengurus hal-hal antara kami…sendiri.”

“Antara kami?” ucap Gun Wook dengan nada mengejek.

“Bagaimanapun, ini sangat mengecewakan. Kau ikut campur dengan privasi tetanggamu. Gary, kau seperti anak kecil yang sangat ingin tahu. Ini kerugian sebagai karakter game kami. Kalau begitu aku pergi,” ucap Soo Ho dan pergi karena Gun Wook sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ketika berjalan pergi, kita melihat Soo Ho tersenyum puas.

Hee Ae menemui Tuan Ahn di restorannya. Awalnya Tuan Ahn tak terlalu mengenali Hee Ae, tapi setelah Hee Ae berkata, “Yeong Il oppa, itukah kau?” Tuan Ahn seperti mengenali siapa Hee Ae.

Di ruangannya, Soo Ho terlihat bimbang, dia terus berjalan mengelilingi meja. Tepat disaat itu Ryang Ha muncul dan bertanya apa Soo Ho sibuk. Soo Ho pun menjawab kalau dia sedang berpikir. Ingin tahu apa yang Soo Ho pikirkan, Ryang Ha pun bertanya apa Soo Ho mau menceritakan padanya. Karena Soo Ho tetap diam, Ryang Ha pun memutuskan pergi.

“Jaga kesehatan,” ucap Soo Ho.

“Khawatirkan saja dirimu sendiri,” jawab Ryang Ha karena mengira Soo Ho mengatakan hal itu untuk dirinya.

“Apa maksudnya itu? Jaga kesehatan,” tanya Soo Ho.

Ryang Ha menjawab kalau itu adalah komentar yang positif dan berarti selamat tinggal. “Dia bilang begitu padamu? Artinya kau dicampakkan…. kau sudah dicampakkan,” ledek Ryang Ha dan membuat Soo Ho kesal, sampai-sampai dia menendang Ryang Ha dan mendorongnya keluar. Tapi Ryang Ha tak mau di lihat oleh pegawai mereka kalau dia diusir oleh Soo Ho, jadi Ryang Ha minta dilepaskan dan akan keluar sendiri. Sebelum keluar Ryang Ha meminta agar Soo Ho tak lupa untuk menyiapkan rapatnya.

Saat melihat Ryang Ha lewat, Dal Nim reflek menundukkan kepalanya. Namun sialnya Ryang Ha melihat dan dengan usilnya, Ryang Ha menyanyikan kata-kata yang sudah dia baca di buku catatan Dal Nim untuk menggoda Dal Nim.

Tepat disaat itu Bo Nui datang dan langsung meminta maaf karena dia sudah terlambat. Mendengar Bo Nui masuk kerja, Soo Ho pun langsung mengintipnya dari balik tirai. Ryang Ha menghampiri Bo Nui dan bertanya apa dia sakit karena wajahnya pucat, namun Bo Nui menjawab kalau dia tidak apa-apa.

“Bos dimana?” tanya Bo Nui.

“Dia menangis… maksudku berpikir,” jawab Ryang Ha yang hampir keceplosan. Bo Nui pun langsung menuju meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya.

Setelah melihat Bo Nui, Soo Ho pun bergumam kalau Bo Nui terlihat sehat. Ketika dia akan keluar ruangan, Soo Ho memeriksa dirinya terlebih dahulu di layar ponsel. Merasa penampilannya sudah rapi, Soo Ho pun langsung keluar. Dia memanggil Bo Nui dan mengajaknya bicara berdua.

Mereka keluar kantor Ze Ze, baru saja mau mulai berbicara, Seol Hee muncul dan itu membuat Soo Ho tak jadi mengatakan apa yang ingin dia katakan. Seol Hee datang dan langsung bertanya apa acara kencan Bo Nui kemarin berjalan lancar.

“Maaf?” tanya Bo Nui tak mengerti dan Seol Hee memberitahu kalau Gun Wook sudah menunggu Bo Nui semalaman. “Ah iya. Kami bertemu pagi tadi,” jawab Bo Nui.

“Tadi pagi?” tanya Seol Hee kaget.

“Kau ada rapat kan?” tanya Soo Hee pada Seol Hee agar Seol Hee berhenti menginterogasi Bo Nui. Seol Hee pun memberitahu kalau alasan dia ke Ze Ze adalah untuk bertemu Soo Ho, karena kemarin Soo Ho berkata kalau mereka akan ketemuan hari ini.

“Kita bicara diluar sambil minum kopi. Ada yang harus kukatakan,” tambah Seol Hee dan melihat ekspresi bingung Soo Ho, Seol Hee pun bertanya apa Soo Ho lupa dengan janjinya. “Kau berjanji setelah acara kemarin,” ucap Seol Hee mencoba mengingatkan. Karena Seol Hee dan Soo Ho punya pembicaraan yang serius, Bo Nui pun memilih masuk kembali ke kantor.

Tepat disaat itu Ryang Ha keluar karena di dorong Dal Nim. “Semuanya disini,,.Cinta pertama Soo Ho dan jimat keberuntungannya…,” ucap Ryang Ha ember dan Soo Ho langsung mengingatkannya untuk diam.

“Bos ji, Kau terlalu kejam pada cinta pertamamu,” keluh Seol Hee.

“Akan kuperjelas. Dia bukan cinta pertamaku,dan juga bukan jimat keberuntunganku,” jawab Soo Ho.

“Meskipun kau menyangkal, sudah pasti dia cinta pertamamu,” ucap Ryang Ha dan Seol Hee tersenyum senang mendengarnya. Tak mau melanjutkan pembicaraan itu, Soo Ho pun memilih pergi dan sebelum pergi dia mengatakan “sampai nanti” pada Bo Nui dan Seol Hee ikut pergi dengan Soo Ho. Namun Soo Ho tak mau hanya pergi bersama Seol Hee, jadi dia kembali dan mengajak Ryang Ha ikut serta dengannya.

Tuan Ahn mengaku senang bisa bertemu lagi dengan Hee Ae dan bertanya apa Hee Ae tinggal di dekat restoran Tuan Ahn. Hee Ae kemudian memberitahu Tuan Ahn kalau anaknya bekerja di sekitar tempat itu, anaknya itu bekerja di Ze Ze Factory

“Zeze?Aku kenal perusahaan itu. Mereka sering makan disini,” jawab Tuan Ahn senang.

“Benarkah? Bosnya,Je Soo Ho adalah anakku,” aku Hee Ae.

“Ohh begitu. Kau telah membesarkannya dengan baik,” ucap Tuan Ahn kagum dan Hee Ae pun balik bertanya tentang anak Tuan Ahn. Hee Ae menebak kalau anak-anak Tuan Ahn pasti akan sepintar Tuan Ahn juga.

“Aku hidup sendirian. Kami bercerai setelah bisnisku bangkrut. Aku senang saat itu kami belum punya anak. Tapi sekarang, Aku menyesalinya,” jawab Tuan Ahn.

“Ohhh…begitu,” ucap Hee Ae dengan nada tak enak.

Soo Ho dan Seol Hee sudah duduk bersama di bangku taman. Berbeda dengan Seol Hee yang terlihat senang, Soo Ho terlihat malas dan cuek. Karena mereka hanya diam satu sama lain dalam waktu yang cukup lama, Seol Hee pun memutuskan untuk berbicara duluan.

“Kenapa baru bicara? Orang akan berpikir kita sedang bertengkar atau apa,” ucap Soo Ho dan Seol Hee sedikit tersenyum mendengarnya.

Flashback!
Seol Hee tertidur di meja dengan banyak buku pelajaran di bawahnya. Soo Ho diam-diam menghampirinya. Tanpa membangunkan Seol Hee, Soo Ho langsung mengerjakan tugas-tugas Seol Hee dan sebelum pergi, Soo Ho meninggalkan kemejanya untuk menyelimuti Seol Hee. Tepat disaat Soo Ho pergi, Seol Hee terbangun dan kaget melihat tugasnya sudah selesai.
Flashback End!

“Aku lari dari diriku sendiri, bukan darimu. Aku sangat takut… Aku mungkin akan terus memanfaatkanmu. Aku mendekatimu bukan karena tesisku. Aku bersumpah. Aku hanya… orang yang dipilih oleh ayahmu selain oppaku. Aku ingin tahu,” aku Seol Hee.

“Oppa?” tanya Soo Ho tak mengerti.

“Ya. Dia tidak sepintar dirimu, tapi dia anak yang brilian. Ada kecelakaan. Ayahku kehilangan anak dan muridnya . Ibuku menderita depresi dan gangguan saraf . Dan sebagai adiknya… aku merasa bersalah. Jadi aku mengambil jurusan fisika yang kubenci. Ini klise ,bukan?”

“Kenapa tidak cerita padaku?”

“Selama ini aku hanya ingin menyimpannya. Juga,tentang tesisku… aku membatalkannya… karena kau sudah kembali ke korea. Soo Ho, Aku tahu,kau tidak akan memaafkanku. Tapi,aku harap kau bisa mengerti. Dulu tahun 2004, Aku seorang gadis egois dan tidak dewasa,” aku Seol Hee.

“2005… bukan 2004 tapi 2005,” ralat Soo Ho dan kemudian berjalan pergi.

Seol Hee kembali ke ruangannya sendiri dan melempar sepatunya dengan santai. Dia merasa sangat lega dan senang karena masalahnya dengan Soo Ho sudah dia akhiri dengan baik, jadi sekarang dia bisa memulai lembaran baru lagi dengan Soo Ho.

Tepat disaat itu, pintu ruangannya ada yang mengetuk. Reflek Seol Hee bergegas mencari sepatunya dan langsung memakainya lagi. Setelah dia merasa dirinya sudah rapi, dia mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk. Ternyata orang yang datang adalah Dal Nim dan Dal Nim datang untuk memberikan free pass untuk Seol Hee. Tentu saja Seol Hee senang menerimanya, tapi ketika Seol Hee hendak mengambil kartu free pass itu, Dal Nim menahan talinya dan berkata kalau kartu itu hanya bisa digunakan sementara waktu sampai proyek mereka berlangsung.

Seol Hee menarik paksa kartu tersebut dan Dal Nim langsung keluar. Seol Hee benar-benar senang karena Soo Ho sudah tak marah lagi padanya. Sepertinya Soo Ho memang sudah tak marah lagi pada Seol Hee, karena sekarang dia kembali mengambil miniatur sepeda yang dia simpan di laci dan meletakkanya di meja kerja. Dia sedikit tersenyum melihat miniatur sepeda itu. Pandangan Soo Ho kemudian beralih pada kaktus yang tak biasanya ada di meja kerjanya.

Soo Ho kemudian keluar dan bertanya siapa yang meninggalkan bunga kaktus itu di mejanya. Dae Kwon pun menjawab kalau sepertinya Bo Nui yang meletakkan kaktus itu, karena mereka semua juga mendapatkan kaktus yang sama. Bo Nui berkata kalau bunga kaktus itu untuk menangkal gelombang elektromagnet dan penangkal sial.

“Dimana dia?” tanya Soo Ho.

Bo Nui sedang berada di ruang rapat bersama Hyun Bin. Mereka berdua sedang membahas sesuatu yang berhubungan dengan Game IF. Tak lama kemudian Soo Ho muncul dan bertanya apa yang sedang mereka lakukan dan Hyun Bin menjawab kalau Bo Ni sedang menjelaskan tentang rencana awal “IF”.

“Tugasmu kau alihkan padanya?” tanya Soo Ho pada Bo Nui, namun Bo Nui hanya diam. Hyun Bin yang menjawab kalau Bo Nui tidak bermaksud seperti itu. “Jawab aku,Nona Shim,” ucap Soo Ho, tapi karena Bo Nui masih belum mau berbicara, jadi Soo Ho pun menyuruh Hyun Bin keluar agar dia dan Bo Nui bisa bicara berdua.

Saat hanya berdua, Soo Ho menghampiri Bo Nui dan dengan kesal membuka-buka file yang ada di dekat Bo Nui.

“Bos,” panggil Bo Nui.

“Kau bilang kau akan berhenti?” bentak Soo Ho. “Pihak RS menelpon… mereka bilang keadaan Bo Ra semakin membaik.”

“Aku tahu. Aku menelpon RS setiap 10 menit untuk mengecek kondisinya.”

“Lalu kenapa kau masih bicara tentang tolak bala dan kesialan? kapan kau tahu dia sudah membaik?”

“Karena hal tersebut memang ada,” jawab Bo Nui.

“Astaga.Kau lupa? Tukang ramal dan pembaca garis tangan semuanya penipu.”

“Baik jimat atau kaktus, entah ada efeknya atau tidak. Tapi aku mempercayainya, apa itu salah?” tanya Bo Nui dan Soo Ho menjawab kalau yang dilakukan Bo Nui memang salah.

“Kuberitahu padamu,kau tidak bisa,,,menerima kenyataan karena terlalu percaya hal-hal berbau tahayul. Kau bisa sesat,” ucap Soo Ho berusaha menjelaskan dan Bo Nui mengangguk mengerti.

“Jika berdasarkan standarmu, menurutmu aku memang salah. Karena aku percaya pada tahayul,iya. Aku takut bersiul, memotong kuku malam hari. Aku bahkan tidak berani menulis namaku dengan tinta merah,” jawab Bo Nui dan Soo Ho merasa kalau Bo Nui belum mengerti maksud ucapannya.


loading...

“Baiklah!Akan kujelaskan… semua kesalahanmu itu hari ini. Asal kau tahu,dalam ilmu pasti selalu bisa dibuktikan. Akan kubuktikan kesalahanmu itu. Hipotesis pertama, menulis dengan tinta merah bisa sial!” ucap Bo Nui dan kemudian menulis nama Bo Nui dengan pena merah. “Kutulis namaku dengan tinta merah. Apakah terjadi sesuatu? Bangunannya tidak roboh.petir juga tidak ada. Serangan jantung juga tidak! Tidak kan…jantungku masih sehat,” ucap Soo Ho memastikan dan Soo Ho kemudian ingin membuktikannya lagi dia menulis nama orang tuanya sendiri, namun Soo Ho baru sempat menulis nama ayahnya saja, karena sebelum dia menulis nama sang ibu, Bo Nui langsung merebut bukunya.

“Kenapa kau lakukan ini? ini dilarang,” ucap Bo Nui.

“Kenapa dilarang? ayahku,Je Mool Po, badannya sehat, jantungnya sehat, sangat sehat. kita tunggu apa yang akan terjadi,” jawab Soo Ho santai.

“Kau tahu bagaimana rasanya… Kalau mereka mati karena dirimu?” tanya Bo Nui.

“Kalau mereka… mati karena dirimu.”

“Kau akan merasa menderita jangan pernah… jangan pernah lakukan lagi,” ucap Bo Nui dan langsung pergi. Soo Ho berusaha menjelaskan kalau apa yang dia lakukan tadi agar Bo Nui tidak terlalu percaya dengan tahayul.

Kita beralih pada Mool Po yang sendirian di rumah, dia tersandung gara-gara kayu dan kemudian terjungkal di troli.

Bo Nui berjalan keluar dan tepat disaat itu dia mendapat telepon dari Hee Ae. Hee Ae menelpon karena ingin minta Bo Nui menemaninya pulang, karena Hee Ae mendapat kabar kalau Mool Po jatuh.

“Tekanan darahku turun drastis karena sanagt terkejut, “ ucap Hee Ae.

“Aku yakin beliau akan baik-baik saja. Anda yakin tidak mau mengubungi bos?” tanya Bo Nui dan Hee Ae menyuruh Bo Nui untuk tidak melakukannya, karena Hee Ae sudah menghubunginya tadi. Hee Ae pun mengucapkan maaf dan terima kasih karena dia sudah merepotkan Bo Nui, Bo Nui sendiri merasa tidak masalah karena dia hanya ingin membantu.

Bo Nui teringat kembali disaat Soo Ho menulis nama ayahnya dengan pena tinta merah, mengingat itu membuatnya jadi ikut khawatir pada Mool Po. Sesampainya di rumah orang tua Soo Ho, Bo Nui langsung menangis lega karena Mool Po tidak apa-apa, dia hanya luka dibagian kepalanya saja. Melihat sikap Bo Nui yang terlihat over itu, Hee Ae dan Mool Po hanya bisa melihatnya dengan pandangan bingung.

Hee Ae kemudian menjamu Bo Nui makan, karena Bo Nui sudah jauh-jauh datang ke rumahnya. Dia kemudian bertanya pada Bo Nui tentang Soo Ho saat dia berada di kantor.

“Dia sangat keren. Dia jenius dan dia bekerja dengan baik. Meski tidak ketara, tapi dia menjaga pegawainya dengan baik. Jika kami membuat kesalahan, dia akan memperbaikinya,” ucap Bo Nui dan komentar itu membuat kedua orang tua Soo Ho terkejut dan bingung karena sikap Soo Ho pada mereka berdua sangat buruk. “Sebenarnya aku akan mengundurkan diri, Itulah sebabnya aku mengangkat telpon anda,” aku Bo Nui.

“Kenapa? Soo Ho membutuhkan Orang berbakat sepertimu,” ucap Hee Ae.

Di rumah, Soo Ho melihat-lihat kembali gambar untuk game IF. Tapi tiba-tiba dia merasa aneh dan saat dia melihat ke bawah, dia melihat Bo Nui tidur di lantai. Namun semua itu hanyalah imajinasi Soo Ho saja.

Bo Nui juga sudah berada di rumah, dia duduk di ruangan gelap dan tiba-tiba lampu belajar Bo Ra menyala. Bo Nui melihat Bo Ra sedang belajar dan kemudian mengeluh lapar. Dia bertanya pada Bo Nui apa mereka harus makan ramyun atau tteokbokki. Karena tak ada jawaban dari Bo Nui, Bo Ra pun menghampirinya dan bertanya kenapa Bo Nui terlihat kelelahan. Bo Ra minta Bo Nui untuk tersenyum, melihat itu Bo Nui pun perlahan-lahan mulai tersenyum. Namun ketika dia sudah tersenyum, bayangan Bo Ra pun menghilang.

“Aku harus terus menjaga Bo ra… sampai saat-saat terakhirnya,” janji Bo Nui pada dirinya sendiri.

Keesokanharinya, Soo Ho masuk kantor dan melihat meja kerja Bo Nui sudah bersih, tak ada lagi barang-barang milik Bo Nui. Diapun bertanya pada Hyun Bin dan Hyun Bin menjawab kalau Bo Nui datang ke kantor pagi-pagi buta dan memberesi barang-barangnya. Soo Ho kemudian bertanya keberadaan Dal Nim untuk mendapatkan konfirmasinya, tapi Dal Nim juga tak ada di tempat karena Dal Nim membantu Bo Nui membawakan barang-barangnya.

Dal Nim sudah berada di rumah Bo Nui dan dia bertanya kenapa sekarang Bo Nui membolehkan dia masuk ke rumah Bo Nui, padahal sebelum-sebelumnya Bo Nui selalu melarang Dal Nim masuk. Bo Nui menjawab kalau dia hanya ingin makan dengan Dal Nim.

Saat makan, Dal Nim bertanya apa Bo Nui benar-benar akan berhenti dari Ze Ze.

“Tinggal pengembangan saja, Tidak perlu ada aku,” jawab Bo Nui dan Dal Nim bertanya lagi tentang biaya pengobatan Bo Ra. Bo Nui menjawab tak apa-apa.

“Apa maksudmu? Kau pasti membutuhkan uang setiap bulan, batalkan saja. Apa Bos membuatmu tidak nyaman?” tanya Dal Nim lagi dan Bo Nui menjawab bukan. Bo Nui kemudian mengeluarkan sebuah surat dan minta pada Dal Nim untuk diberikan pada Soo Ho, karena Bo Nui merasa bersalah pada Soo Ho.

Sesampainya di kantor, Dal Nim langsung memberi surat dari Bo Nui pada Soo Ho. Awalnya Soo Ho ingin langsung mengambil surat itu tapi tak jadi, dia bertanya apa Bo Nui tidak memberikan pesan lain atau dia kelihatan beda dari biasanya.

“Tidak,kami hanya makan bersama dan dia menyuruhku dietku,itu saja,” jawab Dal Nim.

“Apa dia…memintamu jaga kesehatan?” tanya Soo Ho lagi.

“Ya,bagaimana bos tahu?” tanya Dal Nim dan Soo Ho tak bisa menjawab.

Kita langsung dialihkan pada Gun Wook yang bertanya pada Bo Nui, apa Bo Nui yakin tidak mau masuk untuk melihat Bo Ra. Dengan yakin Bo Nui mengiyakan, karena dia sudah merasa senang ketika melihat Bo Ra dari luar ruangan.

“Semuanya sudah berakhir. Bo Ra akan siuman, kau sungguh akan melakukannya?” tanya Gun Wook.

“Begitulah. Kita tidak pernah tahu, kita harus menghindari hal buruk terjadi.”

“Jadi… kau tidak pernah melihat wajah Bo Ra sejak kecelakaan itu?” tanya Gun Wook kaget, namun Bo Nui tak mau menjawabnya. Bo Nui pun menyuruh Gun Wook untuk cepat masuk karena Bo Nui sendiri akan menemui dokter.

Gun Wook duduk di samping tempat tidur Bo Ra dan memperkenalkan dirinya dengan nama “piku”. Bicara sendirian dengan Bo Ra yang tak sadarkan diri, membuat Gun Wook merasa canggung dan bingung.

“Buka matamu. Kau akan lihat sekarang aku tampan. Kau harus cepat bangun… supaya si Bo Nui yang egois bisa hidup normal lagi,” pinta Gun Wook.

Bo Nui sendiri sudah berada di bangku taman bersama dokter. Dia berkata pada dokter kalau dia ingin membawa Bo Ra pulang, karena Bo Nui ingin bersama Bo Ra sampai akhir. Walaupun mengejutkan, si dokter menyetujui keputusan Bo Nui.

Setelah dokter pergi, Gun Wook muncul dan bertanya apa dokter mengatakan Bo Ra baik-baik saja dan akan segera bangun. Dengan senyum di wajahnya, Bo Nui mengangguk iya.

“Anak kecil yang dulu selalu mengikutimu, sekarang sudah besar… Dia cantik seperti noona,” ucap Gun Wook.

“Benarkah?”

“Ya. Kulitnya bersih dan sehat. Sepertinya dia akan segera bangun,” ucap Gun Wook.

“Tentu saja,pastinya.”

“Akhirnya noona bisa menyelamatkan Bo Ra,” ucap Gun Wook dengan nada sedikit sedih.

“Syukurlah… Aku bersyukur,” jawab Bo Nui.

“Saat Bo Ra sadar,aku akan manyuruhnya untuk selalu merawatmu!” janji Gun Wook dan Bo Nui mengucapkan terima kasih lalu memeluk Gun Wook.

“Aku senang bertemu denganmu lagi,” aku Bo Nui.

“Aku juga sangat senang kita bertemu seperti ini,” jawab Gun Wook yang kemudian memeluk Bo Nui juga. Bo Nui kemudian berpesan agar Gun Wook bisa bekerja sama dengan Ze Ze demi IF. Gun Wook mengiyakan, karena Bo Nui juga ada di Ze Ze.

“Semuanya lancar selama noona disana, aku akan bersabar,meski disana ada orang yang kubenci. Aku pemain pro selama 6 tahun ini. Aku mudah beradaptasi karena ada noona,” ucap Gun Wook

“Jangan sombong,” pesan Bo Nui dan tersenyum lebar lalu mengajak Gun Wook pulang.

Di ruangannya, Soo Ho membaca surat dari Bo Nui.
“Bos
aku tulis salam perpisahan yang lebih layak.
Terima kasih dan maaf atas segalanya
Kau sudah sangat bersabar terhadapku.
Semua ini salahku.
Akulah sumber kesialannya.
Aku membawa sial padamu.
Tapi…
kaulah orang pertama yang memayungiku,
Aku jadi tidak basah hari itu.
Kenangan saat itu, akan kusimpan.
Aku harap…
kau selalu sehat.”

Setelah membaca surat dari Bo Nui, Soo Ho langsung berlari keluar dan di lobi dia bertemu dengan Tuan Won yang sedang mencari Bo Nui. Tuan Won datang untuk meminta bayaran 5 kardus air ajaib, karena Bo Nui tiidak ada, dia minta bayaran pada Soo Ho.

Tak mengerti dengan apa yang Tuan Won katakan, Soo Ho pun memilih pergi dan menyuruh Tuan Won berbicara sendiri dengan Bo Nui.

Bo Nui sudah berada di bus, di layar ponselnya terlihat Soo Ho menelpon namun sengaja tak diangkat oleh Bo Nui. Disisi lain, Soo Ho dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah Bo Nui sambil terus menelpon Bo Nui. Tanpa keduanya sadari kendaraan yang mereka naiki saling bersalipan.

Soo Ho sampai di rumah Bo Nui, dia terus menggedor-gedor rumah Bo Nui, namun tak ada jawaban. Gun Wook yang ada di rumah langsung keluar karena mendengar suara Soo Ho. Gun Wook kemudian mengatakan pada Soo Ho kalau Bo Nui sedang tidak ada di rumah, dia pergi.

“Kapan?” tanya Soo Ho.

“Tadi kami pergi bersama, lalu kami berpisah, dia bilang mau ke suatu tempat,” jawab Gun Wook dan itu membuat Soo Ho bertanya kenapa Gun Wook membiarkan Bo Nui pergi begitu saja. Dengan panik, Soo Ho bertanya kemana Bo Nui pergi dan Gun Wook tak tahu karena Bo Nui tidak bilang.

“Kau ini Kenapa? Kau tidak ada hubungan apapun dengannya, jadi jangan berlebihan,” ucap Gun Wook yang masih tak mengerti.

“Itu tidak penting sekarang . Kau tidak lihat wajahnya? Dia sangat pucat. Kenapa kau biarkan dia pergi?”

“Dia tertawa dan baik-baik saja saat kami bersama tadi. Kami tadi mengunjungi Bo Ra!”

“Kau pikir orang yang mau bunuh diri akan bilang-bilang?”

“Kenapa noona mau bunuh diri? Dia hanya harus menunggu Bo Ra sadar! Dia sudah melakukan semua itu denganmu.”

“Tidak terjadi apa-apa, tidak ada yg terjadi hari itu! Dia menyimpulkan sendiri kalau adiknya akan mati,” jawab Soo Ho dan keduanya langsung bergegas pergi.

Di rumah sakit, Bo Ra di pindahkan ke ambulance dan kemudian di bawa pergi. Dari kejauhan Bo Nui melihat Bo Ra di pindahkan. Dia masih tak berani melihat wajah adiknya. Setelah Bo Ra dibawa pergi, Bo Nui juga ikut pergi.

Tepat disaat itu Soo Ho dan Gun Wook sampai ke rumah sakit, namun mereka sudah terlambat. Bo Ra sudah tidak ada lagi di kamar rawatnya dan perawat yang menjaganya, tak mau memberitahukan, Bo Ra akan di pindahkan kemana.

“Dimana Shim Bo Nui sekarang?” tanya Soo Ho dan si perawat menjawab kalau Bo Nui akan membawa Bo Ra ke tempat yang indah. Mereka akan menghabiskan saat-saat bersama disana. Mendengar itu, Soo Ho pun langsung berlari pergi.

Kemana Bo Nui pergi, ternyata dia pergi ke sungai Han dan dia melepaskan tasnya lalu berjalan menuju sungai.

Truth or Dare
~Semalam dengan Macan~

Malam itu, Soo Ho berbaring di samping Bo Nui karena ingin terus melihat wajah Bo Nui yang sudah terlelap tidur. Soo Ho pun tertidur dan tanpa sengaja tangannya sedikit menyentuh tangan Bo Nui. Tepat disaat itu, tangan Bo ra mulai bergerak.

Bersambung ke sinopsis Lucky Romance Episiode 8

loading...

Yang banyak dicari

  • Sinopsis lucky romance episode 7

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *