Home » Hwang Jung Eum » Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 1

Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 1

Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 1, bercerita tentang Soo Ho yang mulai perhatian pada Bo Nui, karena dia membawa Bo Nui ke rumahnya, padahal Soo Ho paling tidak suka ada orang lain datang ke rumahnya. Pada episode ini, kita akan mengetahui kalau Dal Nim punya perasaan pada Soo Ho, bahkan dia mengungkapkan rasa senangnya pada buku catatannya, sialnya buku itu jatuh pada Ryang Ha. Dasar Ryang Ha usil, dia pun meledek Dal Nim. Ingin cerita lengkapnya? yuk baca ceritanya dari sinopsis dibawah ini:

Sinopsis Lucky Romance Episode 6 – 1

Sinopsis Lucky Romance Episode 6 – 2

Sinopsis Lucky Romance Episode 7 – 1

Bo Nui melihat Soo Ho di depan kamar Bo Ra, ya… Soo Ho memang sudah tau tentang Bo Ra, dia tak sengaja mendengar saat Bo Nui berlatih untuk mengatakan alasan dia ingin tidur dengan pria kelahiran tahun macan. Bo Nui tak mau menghampiri Soo Ho, dia memilih pergi. Melihat Bo Nui ada di rumah sakit di jam semalam itu, perawat pun bertanya apa yang sedang dia lakukan. Bo Nui pun hanya menyebut nama Bo Ra dan si perawat menjawab kalau Bo Ra dalam keadaan stabil, dia baik-baik saja hari ini.

Bo Nui pun meminta si perawat untuk terus mengawasi Bo Ra dan langsung menghubungi dia jika terjadi sesuatu. Tentu saja si perawat menyanggupi, karena selama ini memang hal itu yang selalu dia lakukan.

Bo Nui pergi dan Soo Ho mengikutinya. Dia memanggil Bo Nui tapi Bo Nui pura-pura tak dengar, dia meneruskan langkahnya. Di luar hujan dan Bo Nui tetap melangkahkan kakinya. Di tenga hujan Bo Nui berhenti dan menengadahkan wajahnya ke atas.

Aku harap ini hanya mimpi. Aku harap ini hanya mimpi buruk yang menakutkan,” batin Bo Nui dan tepat disaat itu sebuah payung menutupi wajah Bo Nui dari hujan. Ternyata yang datang membawakan payung adalah Soo Ho. Dia memayungi Bo Nui dan membiarkan dirinya sendiri ke basahan.

“Anggap saja aku seperti tiang lampu,” ucap Soo Ho dan kemudian mengikuti Bo Nui melangkah. Namun baru beberapa langkah Bo Nui berhenti dan menoleh ke arah Soo Ho. “Aku tiang lampu yang bisa bicara. Aku bisa bicara, berjalan… dan memegang payung untukmu. Kau tahu aku jenius, kan? Aku punya banyak fungsi.”

Bo Nui melanjutkan langkahnya dan masuk ke pojangmacha tanpa mengatakan sepatah katapun pada Soo Ho. Melihat sikap Bo Nui yang seperti itu, Soo Ho pun jadi penasaran dengan masalah yang Bo Nui alami.

Di halte bis, Gun Wook terus menghubungi Bo Nui tapi tak diangkat. Dia terlihat sedang menunggu Bo Nui, karena dia menunggu disana dengan membawa 2 payung. Gun Wok kemudian teringat pada percakapan dirinya dengan Bo Nui mengenai pria kelahiran tahun macan. Saat itu, Bo Nui berkata kalau dia harus tidur dengan pria itu.

Mengingat hal itu, Gun Wook pun langsung membayangkan dimana Bo Nui sedang merayu Soo Ho dan kemudian mereka tidur bersama. Membayangkannya membuat Gun Wook sedih dan terus berkata kalau hal itu pasti tidak mungkin terjadi.

Karena tak bisa meninggalkan Bo Nui yang terlihat sedih, Soo Ho pun ikut masuk ke pojangmacha dan terus memperhatikan Bo Nui dari meja yang lain. Di samping meja Bo Nui ada beberapa pria sedang minum-minum. Dua diantara pulang dan hanya tinggal satu pria yang tinggal. Saat sendirian, pria itu menghampiri Bo Nui dan mengajaknya minum bersama.

“Menurutmu kau bisa mengatasiku? Aku… Shim Bo Nui… wanita paling sial di dunia. Kalau kau di sampingku, kau mungkin mati,” aku Bo Nui dan kemudian bertanya apa pria itu lahir di tahun macan.

“Kalau iya, aku akan tidur denganmu,” sambung Bo Nui.

“Kau terus terang sekali,” koment si pria dan pria itu pun langsung ingin mengajak Bo Nui pergi ke tempat lain. Tentu saja Soo Ho tak membolehkan pria itu membawa Bo Nui. Soo Ho langsung membawa pria itu keluar tenda pojangmacha.

“Siapa kau? Siapa kau ikut campur?” tanya pria itu.

“Aku Je Soo Ho. Kau tidak tahu? Si jenius. Lupakan. Kalau kau mau menggodanya, setidaknya kau harus berusaha. Kau memakai kartu identitas perusahaan dan cincin. Kau sangat malas, tuan yang sudah menikah,” ucap Soo Ho dan kemudian berusaha menelpon nomor manager tempat pria itu bekerja. Tentu saja pria itu langsung mencegahnya dan berkata kalau dia akan langsung pergi. Setelah pria itu pergi, Soo Ho terlihat gemas pada Bo Nui yang tak pernah tahu dengan apa yang sudah dia lakukan.

“Kemana dia pergi? Aku rasa dia juga takut. Macan pengecut lebih buruk dari kucing. Kemana dia pergi?” tanya Bo Nui dan kemudian melihat Soo Ho menghampirinya. Soo Ho meminta agar Bo Nui berhenti. Melihat Soo Ho yang tiba-tiba perduli padanya, membuat Bo Nui tertawa dan bertanya kenapa Soo Ho peduli. Bo Nui ingin minum lagi, tapi Soo Ho dengan cepat merebut botol soju-nya.

“Aku bilang hentikan,” pinta Soo Ho.

“Apa yang kau lakukan? Kembalikan,” teriak Bo Nui dan Soo Ho menjauhkan tangan Bo Nui dari botol soju sambil berkata kalau Bo Ra belum mati.

“Aku memeriksanya sendiri. Adikmu…baik-baik saja.”

“Jadi? Haruskah kita menari untuk merayakannya? Dia masih belum sadar.”

“Bukan itu maksudku,” jawab Soo Ho dan Bo Nui langsung keluar. Soo Ho kembali mengejarnya dan memayunginya, namun kali ini Bo Nui menepis payung dari Soo Ho. Dia minta pada Soo Ho untuk membiarkannya sendiri.

“Kalau kau mau menolongku, kau seharusnya menolongku saat aku butuhkan. Apa bagusnya sekarang? Aku memohon padamu, kau tahu? Aku memohon padamu untuk menolongku sekali saja. Kalau kau menolongku saat itu…,” teriak Bo Nui kesal.

“Apa yang akan berubah? Kau masih belum tahu? Takhayul konyol yang kau percaya itu sudah selesai sekarang. Sudah lewat tengah malam, dan tidak ada bulan purnama. Jadi tolong berpikir dengan baik,” jawab Soo Ho dengan nada tinggi dan berusaha membuat Bo Nui mengerti.

“Hentikan. Hentikan sekarang!” teriak Bo Nui.

Soo Ho mendekati Bo Nui dan dengan lembut bertanya bagaimana Bo Nui bisa terlibat dengan orang-orang gila itu dan mereka hendak memfilmkan video Bo Nui. Mendengar pertanyaan itu, Bo Nui pun balik bertanya, bagaimana Soo Ho tahu dan Soo Ho tak menjawab.

“Apa kau… yang menelepon polisi?” tanya Bo Nui.

“Ini untuk kebaikan…”

“Kenapa kau melakukan hal ini padaku? Menurutmu kau itu siapa? Jadi bagaimana dengan itu? Apa salahnya kalau difilmkan? Hidup seseorang bergantung pada hal itu. Aku bisa… menyelamatkan Bo Ra-ku,” ucap Bo Nui kesal dan Soo Ho langsung menariknya pergi.

“Lepaskan aku,” pinta Bo Nui.

“Ayo pergi. Matahari belum terbit. Aku akan mengabulkan permintaanmu,” ucap Soo Ho sambil terus menarik Bo Nui pergi, namun Bo Nui menepis tangan Soo Ho. “Aku ini macan, kau tahu?” ucap Soo Ho dan kembali menarik Bo Nui.

Seol Hee pergi ke rumah Gun Wook dan dia terkejut ketika melihat Gun Wook tertidur di depan pintu rumah Bo Nui. Seol Hee pun langsung membangunkannya dan ketika Gun Wook terbangun dia langsung menyebut “Noona” dia mengira kalau Bo Nui yang membangunkannya, tapi ternyata bukan.

Mereka berdua pun masuk rumah dan Seol Hee langsung mengambilkan handuk agar Gub Wook bisa mengeringkan tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan? Kau harus ganti baju. Berapa lama kau seperti ini? 30 menit? Satu jam? Baiklah. Aku akan membawamu ke sauna,” ucap Seol Hee khawatir, karena dia tak mau Gun Wook sakit.

“Tenanglah. Ini bukan apa-apa.”

“Kau kedengaran depresi, jadi aku datang ke sini. Kau terlihat menyedihkan di depan rumah orang lain,” ucap Seol Hee dan Gun Wook langsung mengalihkan topik pembicaraan dengan mengajak Seol Hee minum bir.

“Kau menyukai Bo Nui?” tanya Seol Hee.

“Aku? Menyukai Bo Nui? Kau belum tahu tipe wanita yang aku suka? Ini sudah larut malam, dan di luar hujan,” jawab Gun Wook.

“Dia tidak akan mengangkat teleponnya.”

“Ya.”

“Dia melewatkan acara makan malam perusahaan. Dia tidak pulang. Gary, dia pasti bersama… pacarnya,” tebak Seol Hee dengan yakin dan kita langsung beralih pada Bo Nui yang masih diseret-seret oleh Soo Ho. Bo Nui terus memberontak untuk dilepaskan karena menurutnya semua itu sudah terlambat. Kesal, Soo Ho pun langsung mendorong Bo Nui ke dinding.

“Dengarkan aku baik-baik. Pertama, adikmu mati kalau kau tidak tidur dengan macan. Kedua, kau tidak melakukan hal gila itu. Ketiga, adikmu masih hidup. Kesimpulan penalaran ini adalah takhayul itu salah. Oke, Bo Nui? Jadi tolong keluarkan dirimu dari khayalan itu… dan lihatlah kenyataannya,” jelas Soo Ho.

“Kenyataan? Kau mau tahu apa kenyataanku? Orang yang aku cintai meninggalkanku. Orang tuaku meninggal saat aku 16 tahun. Bo Ra dan aku tinggal berdua di dunia ini. Dan… aku harus melepaskan adikku sekarang. Bagaimana aku… Aku harus bagaimana? Aku sangat takut. Aku sangat ketakutan. Aku harap aku bisa mati sebelum dia. Tiap hari rasanya seperti berjalan di es yang tipis. Aku tidak tahu kapan pecahnya, jadi tiap detik menyakitkan. Inilah kenyataanku. Kau tahu itu? Dia masih hidup sekarang? Bisa hari ini atau besok. Kalau bukan besok, mungkin lusa,” jawab Bo Nui.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Soo Ho.

“Aku akan mengoreksi diriku. Itu bohong… saat aku bilang ini karena dirimu. Aku mau… menghindari perasaan bersalah seperti itu. Ini semua salahku.”

“Kenapa salahmu? Ini secara logis salah.”

“Kau tidak akan pernah mengerti. Jadi pergilah sekarang. Berhenti mengikutiku,” ucap Bo Nui dan berjalan pergi. Tentu saja diperlakukan seperti itu membuat Soo Ho kesa.

“Kau… Kau pergi saja seperti itu lagi. Aku sudah selesai sekarang. Ini seperti mengetok pintu orang tuli. Aku membuang-buang waktuku! Aku juga pergi. Aku pergi,” ucap Soo Ho kesal dan memilih pergi, namun dia tak bisa membiarkan Bo Nui sendiri. Alhasil Soo Ho pun menyusul Bo Nui. Tapi dia kehilangan jejak Bo Nui, dia pikir Bo Nui sudah pergi, namun tepat disaat itu dia mendengar suara gumaman seseorang. Ternyata itu suara Bo Nui yang duduk jongkok sambil menyembunyikan wajahnya. Soo Ho pun menghampirinya dan duduk jongkok di depan Bo Nui.


loading...

 

“Shim Bo Nui, ayo pulang,” ajak Soo Ho dengan lembut, tapi Bo Nui tak mau pulang.

“Aku tidak tahan melihatnya. Tempat tidur Bo Ra. Mejanya. Barang-barangnya… aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak pantas,” ucap Bo Nui sambil memejamkan matanya dan kembali bergumam. Soo Ho pun tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya memandangi Bo Nui. Tak lama kemudian Soo Ho menggendong Bo Nui pergi.

Di rumah, Gun Wook berkata pada boneka burung hantu kalau boneka itu didiskualifikasi, sebab tak bisa menemukan Tuan Choi dan Shim Bo Nui. Setelah berkata seperti itu Gun Wook langsung membalik boneka burung hantu tersebut. Namun baru beberapa langkah akan pergi. Gun Wook berbalik lagi dan berkata pada boneka burung hantu kalau dia masih punya permintaan pada si burung hantu. Karena Gun Wook masih butuh bantuan si boneka, Gun Wook pun kembali membalik posisi si boneka ke arah jendela.

Kita kembali pada Soo Ho dan Bo Nui. Ternyata Soo Ho membawa Bo Nui ke rumahnya. Saat hendak meletakkan Bo Nui ke sofa, Bo Nui malah merosot, alhasil Bo Nui pun tidur di lantai. Ada Bo Nui di rumahnya dan tidur seperti itu, membuat Soo Ho kebingungan. Dia mengambil selimut, handuk, bantal, tapi dia mengembalikan selimut miliknya dan memilih selimut yang tipis.

Soo Ho kemudian kembali menghampiri Bo Nui dan menyelimutinya. Tepat disaat itu, Soo Ho melihat tangan Bo Nui dan bergerak, hal itu membuat Soo Ho ingin memegangnya, namun sebelum Soo Ho sempat memegang tangan Bo Nui, ponsel Soo Ho berdering dan itu membuat Soo Ho bergegas menjauh dari Bo Nui lalu menjawab telepon dengan nada pelan.

Ternyata yang menelpon adalah Ryang Ha yang sudah dalam kondisi mabuk berat, dia berkata pada Soo Ho kalau Dal Nim dan kawan-kawan sudah mabuk berat, jadi mereka tak bisa pulang ke rumah, mereka berencana pergi ke rumah Soo Ho. Mendengar itu Soo Ho langsung melihat ke arah Bo Nui.

“Tidak, jangan pernah,” jawab Soo Ho.

“Aku tahu tidak ada orang kecuali aku yang boleh masuk ke rumahmu,” ucap Ryang Ha dan Yoon Bal nyeletuk kalau dia tahu alamat rumah Soo Ho. “Mereka semua kecewa dan merengek… karena kau tidak bergabung dengan mereka hari ini,” ungkap Ryang Ha.

“Dengar. Kalau aku melihat mereka malam ini, mereka harus membayarnya, apakah itu lembur atau potong gaji,” ancam Soo Ho.

“Hei, kalau aku bercanda, tidak bisakah kau anggap lelucon? Kau membuat situasinya canggung karena terlalu serius.”

“Tolong, hyung,” pinta Soo Ho dan Ryang Ha terkejut mendengarnya, karena baru kali ini Soo Ho memanggilnya dengan sebutan “Hyung.” Tak mau dibahas lebih panjang dan lebar, Soo Ho pun langsung menutup ponselnya.

Soo Ho kembali menghampiri Bo Nui, dia hendak mengelap rambut Bo Nui yang basah dengan handuk, tapi Soo Ho terlihat canggung, jadinya dia hanya mengelap sedikit wajah Bo Nui. Soo Ho kemudian meletakkan kepala Bo Nui di bantal lalu dia duduk di sofa.

Namun pandangan Soo Ho terus kearah Bo Nui, sehingga membuat dia kembali duduk di samping Bo Nui. Dia kemudian bertanya-tanya tentang hidup seperti apa yang Bo Nui jalani karena Bo Nui terlihat sangat menderita. Di luar kita melihat bulan purnama yang memancarkan sinarnya.

Pagi tiba, Bo Nui membuka mata dan dia menyadari kalau dia berada di tempat yang asing. Saat Bo Nui menoleh ke samping, dia melihat Soo Ho tertidur di sebelahnya. Tepat disaat itu, Soo Ho juga perlahan-lahan membuka mata dan mereka sejenak saling menatap, namun Soo Ho dengan cepat bangun dan langsung duduk di sofa.

“Dimana aku?” tanya Bo Nui bingung dan Soo Ho menjawab kalau Bo Nui sedang berada di rumahnya. “Apa yang aku lakukan di sini?” tanya Bo Nui lagi.

“Kau harus diperiksa untuk demensia karena alkohol. Ingatanmu terhapus dengan baik setiap kau mabuk,” ucap Soo Ho dan beranjak pergi sambil bergumam kalau dia tidur nyanyak.

Bo Nui kemudian berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, mulai dari dia melihat Soo Ho di rumah sakit, Bo Nui yang menolak payung Soo Ho, Soo Ho yang kemudian menarik Bo Nui dan mengatakan kalau dia akan mengabulkan perminraan Bo Nui, sampai Soo Ho yang duduk jongkok di depan Bo Nui dan kemudian menggendong Bo Nui pulang.

Soo Ho menghampiri Bo Nui dan memberikan air minum untuk Bo Nui, namun tak diterima oleh Bo Nui, dia hanya menuntut jawaban dari Soo Ho tentang Soo Ho yang tahu mengenai Bo Ra dan rumah sakit tempat dia di rawat. Soo Ho tak langsung menjawab, dia malah menghabiskan air putih yang dia bawakan untuk Bo Nui.

“Bagaimana aku harus menjawabnya agar kau menyingkirkan ide bodoh itu? Kau bilang padaku kemarin… bahwa itu hari ini, besok atau lusa. Menurutmu itu masalah waktu?” tanya Soo Ho.

“Maafkan aku karena membuatmu dalam masalah lagi. Aku tidak tahu kenapa aku terus merepotkanmu,” ucap Bo Nui.

“Ini baik-baik saja.”

“Tidak, ini tidak baik-baik saja. Tidak bisa baik-baik saja. Aku mengganggumu, membuatmu kaget dan frustrasi.”

“Kau mungkin tidak rasional, tapi kau kenal dirimu. Kau benar. Aku terganggu dan frustrasi karena dirimu. Jadi mulai sekarang… “

“Terima kasih…” potong Bo Nui. “Untuk semua yang kau lakukan untukku. Aku janji hal sepeti ini tidak akan pernah terjadi lagi,” tambah Bo Nui dan menunduk memberi salam. “Aku harap yang terbaik untukmu,” ucap Bo Nui lagi dan kemudian langsung pergi.

Di rumah, Soo Ho merapikan selimut yang Bo Nui kenakan, sambil bertanya-tanya kenapa Bo Nui terlihat sangat sopan sekali tadi, dia merasa ada yang salah. “Apa ini epidemi takhayul? Apa yang aku katakan? Aku bicara omong kosong. Kalau dia berterima kasih padaku, seharusnya dia lebih baik mulai sekarang. Kenapa dia berharap yang terbaik untukku? Tidak masuk akal,” ucap Soo Ho sambil terus merapikan barang-barangnya, dan setelah itu, dia akhinya menyadari kalau dia sudah menyusun semua barang-barangnya menumpuk di satu sisi. Merasa sudah melakukan hal yang salah, Soo Ho pun mengembalikan posisi barang-barang rumahnya, ke tempat semula.

Bo Nui pergi untuk menemui Tuan Kim, namun rumah Tuan Koo kosong, di depan pintu tertempel tulisan kalau dia sedang pergi untuk berdoa. Walaupun sudah tahu tidak ada orang, Bo Nui terus memanggil-manggil Tuan Koo, sampai akhirnya dia berusaha menelpon Tuan Koo, namu sayang ponsel tuan Koo sudah tak aktif.
“Tuan Koo. Aku harus bagaimana? Kau harus bilang padaku… apa yang harus aku lakukan sekarang” ucap Bo Nui.

Kita beralih pada Hee Ae yang sedang sibuk berdandan. Dia mengelu karena sudah banyak keriput di leher. Tepat disaat dia tengah sibuk melihat diri di cermin, dia terhenti karena mendengar suara dengkuran si suami.

“Kau juga banyak uban,” ucap Hee Ae dan hendak memiringkan kepala Mool Po, namun sebelum sempat dia melakukan hal tersebut, Mool Po berbalik dan membelakangi Hee Ae. Di belakangi seperti itu membuat Hee Ae kesal, sampai-sampai dia menendang pantat si suami.

Gun Wook sudah berada di depan rumah Bo Nui dan mengetuk pintu rumahnya, namun tak ada jawaban. Dia pun memilih keluar dan diluar dia akhirnya bertemu dengan Bo Nui. Melihat ekspresi sedih Bo Nui, Gun Wook pun bertanya apa Bo Nui baik-baik saja, namun Bo Nui tak menjawab.

“Gun Wook,” ucap Bo Nui ketika melihat Gun Wook ada di sampingnya.

“Kau baru pulang? Kau tidak melihatku?”

“Kau pasti keluar untuk latihan. Lanjutkan,” ucap Bo Nui dan hendak pergi, namun Gun Wook tetap ingin berbicara dengannya. Gun Wook bertanya tentang keadaan Bo Ra dan Bo Nui menjawab kalau Bo Ra baik-baik saja.

“Apa kau terjaga sepanjang malam di rumah sakit?” tanya Gun Wook.

“Tidak.”

“Jadi kau dimana?” tanya Gun Wook dan kemudian mengurungkan pertanyaannya karena melihat wajah lelahnya Bo Nui. Gun Wook pun menyuruh Bo Nui masuk rumah dan istirahat.

Saat latihan di taman bermain, Gun Wook terus berbicara sendiri. Dia bertanya-tanya dimana Bo Nui bermalam dan dengan siapa.Gun Wook kemudian teringat kalau Bo Nui pernah berkata kalau dia harus tidur dengan Soo Ho, karena dengan begitu Bo Ra akan sadar.

“Itu tidak benar. Tidak peduli betapa konyolnya noona, Je Soo Ho tidak akan melakukannya kalau dia waras. Tapi dia sangat cantik, dan dia juga seorang pria,” gumam Gun Wook sambil terus berolahraga dan memikirkan hal itu membuat Gun Wook kesal, sampai-sampai dia menjatuhkan dirinya ke tanah. Melihat Gun Wook jatuh, para anak yang sedang bermain di taman bermain -langsung mengerubunginya. Tiba-tiba Gun Wook berkata,”Auch!” sehingga membuat anak-anak kaget dan langsung berlari pergi.

Ryang Ha membuatkan kopi untuk semua tim Ze Ze, karena tadi malam mereka mabuk berat. Ryang Ha membuatkan kopi khusus untuk Seung Hyun dan setelah mendapatkan kopinya, Seung Hyun pun langsung berjalan pergi. Ketika hanya tinggal Dal Nim, Ryang Ha bertanya kenapa wajah Dal Nim terlihat bengkak dan apakah Dal Nim sudah meninggalkan sesuatu tadi malam. Dengan yakin Dal Nim menjawab tidak, namun Ryang Ha langsung mengeluarkan buku catatan milik Dal Nim.

Flashback!
Tadi malam, ketika semua rekan kerjanya sibuk bertanya apa mereka harus pergi ke rumah Soo Ho atau tidak, Dal Nim sibuk dengan buku catatannya sendiri. Dia mencatata sesuatu tentang Soo Ho disana. Tepat disaat itu, salah satu temannya menarik dirinya, sehingga Dal Nim tanpa sadar menjatuhkan buku catatannya. Ketika Ryang Ha hendak menyusul, tanpa sengaja dia menginjak buku milik Dal Nim yang ternyata di beri judul, “Cerita J”.
Flashback End!

Dal Nim shock melihat buku pribadinya ada di tangan Ryang Ha, dia pun langsung berusaha merebut buku itu kembali, namun tak bisa. Dasar usil, Ryang Ha pun membaca tulisan Dal Nim.

“Dia menyerang seperti guruh… Rekan yang dipercayanya mengkhianatinya. Dan dia harus menanggungnya sendiri,” isi buku catatan Dal Nim dan Ryang Ha berpendapat kalau tulisan Dal Nim sangat menakjubkan, diapun jadi tak heran kenapa game Zeze Factory memiliki cerita yang bagus.

“Ini bukan milikku,” ucap Dal Nim.

“Jadi kenapa kau berusaha mengambilnya?” tanya Ryang Ha dan kemudian lanjut membaca tulisan Dal Nim.

“Sementara hari berganti malam, kau hanya bekerja. Kau pecandu kerja. Betapa bagusnya kalau aku bisa memijat pundaknya yang kaku,” tulis Dal Nim dalam bukunya dan Ryang Ha berkomentar kalau dia jadi merinding membacanya. “Aku tidak mau penghargaan. Aku cukup puas menyukainya,” sambung Ryang Ha dan tepat disaat itu, Dal Nim berhasil menangkap bukunya. Mereka berdua pun jadi tarik-tarikan buku. Ryang Ha berkata kalau sebentar lagi dia menemukan siapa si pemilik buku, jadi dia meminta Dal Nim melepaskan buku itu. Namun, Dal Nim tak mau mengembalikan bukunya, dia berkata kalau dia sendirilah yang akan mencari tahu siapa pemilik buku itu. Setelah Dal Nim berhasil merebut bukunya, dia langsung berlari pergi dengan membawa buku catatn pribadinya dan juga kopi yang sudah dia pesan.

“ Aah… Semua orang menyukai Soo Ho. Semua wanita di dunia ini menyukainya,” gumam Ryang Ha dan kemudian berkata kalau dia suka dengan kata-kata yang Dal Nim gunakan dalam menulis kalimat.

Bersambung ke sinopsis Lucky Romance Episode 7 part 2

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis doctors episode 7
  • sinopsis lucky romance episode 6
  • aku memayungi mu kau memayunginya
  • Sinopsis drama lucky romance episode 7
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *