Home » Hwang Jung Eum » Sinopsis Lucky Romance Episode 15 – 2

Sinopsis Lucky Romance Episode 15 – 2

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Lucky Romance Episode 15 – 2, bercerita tentang Gun Wook yang akhirnya memberitahu dimana Bo Nui berada. Setelah mendapatkan alamatnya, Soo Ho pun langsung menemui Bo Nui. Tanpa Bo Nui sadari, Soo Ho mendengar ucapannya yang terkesan kalau Bo Nui masih menyukai Soo Ho dan merindukannya. Mengerti tentang apa yang Bo Nui pikirkan, Soo Ho mengabulkan. Dia memberi waktu pada Bo Nui untuk hidup terpisah selama 1 tahun. Tepat setelah 1 tahun berlalu, mereka pun janjian untuk bertemu kembali.

 Sinopsis Lucky Romance Episode 15 – 1

Sinopsis Lucky Romance Episode 15 – 2

Bo Nui meminta maaf pada Bo Ra karena tiba-tiba memindahkan dirinya ke rumah sakit lain. Dia beralasan pindah ke tempat itu karena tempat itu punya udara dan pemandangan yang bagus, sehingga akan bagus untuk proses kesembuhan Bo Ra. Bo Ra kemudian bertanya apa Bo Nui baik-baik saja. Tentu saja Bo Nui menjawab dia baik-baik saja dan dia merasa sangat bahagia. Namun apa yang dia katakan pada Bo Ra semua bohong, karena ketika Bo Nui sendirian, Bo Nui merasa sedih.

Ketika Dal Nim membersihkan meja kerja Bo Nui, pegawai lainnya sibuk mengomentari tentang apa yang seharusnya Bo Nui lakukan karena Soo Ho sekarang sudah menjadi pengangguran dan ujung-ujungnya yang mereka bahas adalah taruhan. Mereka bertaruh Bo Nui dan Soo Ho akan mendirikan perusahaan baru atau tidak. Mendengar sahabatnya menjadi barang taruhan lagi, Dal Nim emosi dan memarahi mereka. Dia bahkan mengancam akan membuat mereka berhenti dari pekerjaan mereka jika mereka tetap melakukan hal tersebut.

Dal Nim pergi ke cafe dan Ryang Ha menghampirinya dengan membawa segelas minuman. Namun Dal Nim tak mau, karena dia ingin sendirian. Saat mengetahui Dal Nim sedih karena Bo Nui, Ryang Ha pun langsung menyebut kalau Bo Nui adalah gadis yang tak punya hati. Tentu saja Dal Nim tidak suka Ryang Ha menyebut Bo Nui seperti itu. Tapi Ryang Ha tetap pada pendapatnya, dia tak suka pada Bo Nui karena Bo Nui meninggalkan Soo Ho setelah Soo Ho jatuh terpuruk sampai dua kali seperti itu.

Dal Nim pun bertanya apa Soo Ho sangat menderita. Ryang Ha pun menjawab kalau Soo Ho makan dan minum dengan baik, tapi tetap saja dia merasa khawatir pada Soo Ho. Kalau saja Ryang Ha dipertemukan dengan Bo Nui, dia ingin mengatakan sesuatu pada Bo Nui. Dal Nim berkata kalau Bo Nui juga pasti merasakan sedih meninggalkan Soo Ho dalam keadaan seperti itu, karena Bo Nui sangat menyukai Soo Ho.

“Kalau begitu kenapa dia memutuskannya kalau dia akan patah hati?” tanya Ryang Ha tak mengerti.

“Itulah maksudku! Tidak bisakah mereka saling mencintai?” ucap Dal Nim.

Tidak bisakah mereka saling mencintai? Seperti ini,” ucap Ryang Ha terbata-bata dan menggenggam tangan Dal Nim, tapi dia kemudian berkata, “Tidak bisakah kita saling mencintai juga?”

Dal Nim pun terdiam mendengar Ryang Ha menanyakan hal itu.

Di kamar rawatnya, Soo Ho sibuk mencari keberadaan Bo Ra dengan cara menelpon semua rumah sakit yang ada di Korea. Ketika Seol Hee masuk menjenguknya, Soo Ho langsung menyembunyikan daftar rumah sakit yang dia telpon-in dari tadi. Seol Hee bertanya apa Soo Ho sudah mendapat kabar dari Bo Nui dan Soo Ho hanya diam saja. Seol Hee melihat daftar rumah sakit itu dan langsung mengambilnya. Mengetahui Soo Ho yang begitu getolnya mencari Bo Nui sampai menelpon semua rumah sakit yang jumlahnya 300-an, Seol Hee pun berkata kalau Soo Ho seharusnya melakukan hal sama ketika dia menghilang dulu. Melihat ekspresi Soo Ho yang berubah serius, Seol Hee pun langsung berkata kalau dia hanya bercanda.

Seol Hee kemudian mengambil satu lembar daftar rumah sakit dan akan membantu menelponinya. Tapi dia melakukan semua itu tidak gratis, dia meminta bayaran 10 sen per telepon, karena Seol Hee saat ini sudah menjadi pengangguran.

Seol Hee keluar dan kemudian menelpon Gun Wook. Dia mengajak Gun Wook ketemuan sebelum Gun Wook kembali ke Kanada, tapi Gun Wook mengatakan tak bisa. Seol Hee kemudian bertanya tentang Bo Nui dan mengatakan apa yang sudah Bo Nui lakukan pada Soo Ho. Mendengar Gun Wook yang menanggapi hal tersebut biasa saja, tentu saja membuat Seol Hee berpikir kalau Gun Wook sedang menyembunyikan sesuatu. Tak mau keceplosan tentang Bo Nui, Gun Wook pun langsung menutup teleponnya.

Gun Wook menemui Bo Nui dan melihat Bo Nui yang terlihat kelelahan. Saat Gun Wook memeriksa kening Bo Nui, ternyata Bo Nui juga demam, namun Bo Nui tak mau diperiksa, Bo Nui berkata kalau dia akan baik-baik saja setelah istirahat.

“Kau pindah jauh-jauh kesini, apa masih banyak yang kau pikirkan? Kau pasti bekerja seperti ini untuk membersihkan pikiranmu,” ucap Gun Wook dan tentu saja Bo Nui membantah. Dia beralasan bekerja seperti itu hanya untuk bantu-bantu dan rasa senang karena kondisi Bo Ra yang semakin membaik. Gun Wook kemudian menanyakan tentang perasaan Bo Nui, namun tak di jawab oleh Bo Nui, dia megalihkan pembicaraan dengan menyuruh Gun Wook menemui Bo Ra.

Malam harinya, Bo Nui terus batuk-batuk, dia terlihat demam. Gun Wook sendiri masih berada di depan rumah sakit, dia kemudian membaca sms dari Soo Ho yang meminta Gun Wook menelponnya balik karena ada yang ingin Soo Ho tanyakan padanya.

Ryang Ha menemui Soo Ho dengan membawa koper Soo Ho, dia memberitahu Soo Ho kalau koper itu di kirim ke kafenya. Selain itu, Ryang Ha juga mengatakan kalau Tuan Won sudah di tangkap tepat di hari Soo Ho kecelakaan dan Bo Nui menemuinya. Ryang Ha hendak menuntut Tuan Won dan meminta ganti rugi, namun Soo Ho melarangnya, dia ingin mereka berdamai saja dengan Tuan Won.

“Darahku rasanya mendidih. Mulai dari Won Dae Hae sampai Park Ha Sang…Dan perusahaan Rusia akan membayar perbuatan mereka, jadi jangan khawatir,” ucap Ryang Ha, tapi karena ekspresi wajah Soo Ho masih terlihat sedih, Ryang Ha pun memintanya untuk lebih bersemangat. Tepat disaat itu Gun Wook menelpon dan Soo Ho pun langsung menemuinya.

Gun Wook meminta Soo Ho menemui Bo Nui dan melakukan sesuatu. Karena Gun Wook tahu, Bo Nui merasa sedih, walau dari luar dia terus berusaha baik-baik saja.

Di kantor, semua pegawai Ze Ze bingung harus menjenguk Soo Ho atau tidak. Mereka semua khawatir pada Soo Ho, tapi mereka takut kalau nanti mereka pergi ke rumah sakit, Soo Ho akan menolak mereka. Di tengah kebingungan mereka, Ryang Ha muncul dan mengatakan kalau Soo Ho sudah keluar rumah sakit. Dal Nim melihat ke arah Ryang Ha dan Ryang Ha pun memberi kode agar mereka bicara di luar.

Dal Nim berkata kalau dia belum mendapat kabar apa-apa dari Bo Nui karena Bo Nui tak menjawab telepon, Bo Nui tak ada di rumahnya dan tak membaca email-nya. Ryang Ha khawatir pada Soo Ho, karena Soo Ho memerlukan Bo Nui di sisinya. Dal Nim pun berjanji akan terus berusaha menghubungi Bo Nui dan Ryang Ha harus menjaga Soo Ho.

“Baiklah. Aku tidak tahu siapa yang harus aku jaga. Aku ingin menjagamu,” ucap Ryang Ha dan menyudutkan Dal Nim ke dinding. Tak mau terlihat oleh dan ketahuan kalau mereka berdua punya hubungan, Dal Nim pun memilih pergi.

Bo Nui masih sibuk bantu-bantu di rumah sakit, dia melihat Soo Ho dimana-mana, namun ternyata itu hanya bayangan Bi Nui saja. Bo Nui duduk di bangku taman dan tak lama kemudian Soo Ho muncul dan duduk di sampingnya.

“Apa kau tidur dengan nyenyak? Maaf meninggalkanmu tanpa memberitahumu… Dan tidak berada di sisimu. Aku… Minta maaf karena tidak bisa menjadi lebih baik. Terima kasih mengijinkan aku melihatmu seperti ini. Kenangan terakhir sangat mengerikan dan kacau. Terima kasih membiarkan aku melihatmu… Melihatmu baik-baik saja seperti ini,” ucap Bo Nui dan bayangan Soo Ho pun menghilang. Bo Nui berjalan pergi dan tanpa dia sadari Soo Ho yang asli berada tak jauh dari tempat dia duduk tadi. Soo Ho mendengar apa yang Bo Nui katakan.

Soo Ho menemui Bo Nui dan mengatakan kalau dia ingin mereka putus. Namun sebelum mereka berpisah, Soo Ho ingin membuat kenangan terakhir yang indah untuk Bo Nui, karena menurut Bo Nui kenangan terakhir itulah yang penting.

Mereka berdua kemudian menyusuri jalan bersama dan Soo Ho berkata kalau mereka akan berpisah di ujung jalan yang akan mereka lewati itu. Bo Nui pun setuju, namun dia berjalan di belakang Soo Ho. Di tengah perjalanan, mereka berdua duduk sejenak di bangku taman. Bo Nui merangkai bunga liar yang ada di sekitar tempat itu ketika Soo Ho pergi untuk membeli air.

loading...

Setelah Soo Ho kembali membawa air minum, Bo Nui bertanya apa Soo Ho merasa kesakitan dan Soo Ho menjawab sedikit.

“Bagaimana Bo Ra?” tanya Soo Ho dan Bo Nui menjawab kalau Bo Ra sudah jauh lebih baik sekarang.

“Apa kau… Tidak melewatkan makan belakangan ini?” tanya Bi Nui dan Soo Ho menjawab iya. “Apa kau…Tidur dengan nyenyak juga?” tanya Bo Nui lagi dan Soo Ho menjawab dengan anggukan. Bo Nui pun kemudian mengajak Soo Ho untuk melanjutkan perjalanan mereka. Melihat bunga yang di rangkai oleh Bo Nui, Soo Ho pun bertanya apa dia boleh menyimpan bunga-bunga itu. Soo Ho menanyakannya tanpa melihat ke arah Bo Nui.

Soo Ho dan Bo Nui melanjutkan perjalanan mereka dan Soo Ho membawa bunga di tangannya. Mereka berdua pun akhirnya sampai di ujung jalan yang mengharuskan mereka untuk berpisah. Walaupun terlihat tak rela, Soo Ho pun harus pergi dari Bo Nui. Namun sebelum pergi, Soo Ho menghampiri Bo Nui.

“Kau bilang semua orang yang kau cintai meninggalkanmu. Tapi tidak diriku. Jadi, carilah aku. Entah itu 1 atau 10 tahun, Itu tidak masalah. Semangatlah. Angkat dagumu dan temuilah aku,” ucap Soo Ho dan kemudian memeluk Bo Nui yang saat itu matanya sudah berkaca-kaca. Sambil memeluk Bo Nui, Soo Ho berbisik, “Selamat tinggal”. Bo Nui juga mengucapkan selamat tinggal ketika Soo Ho sudah berjalan menjauh.

~ 1 tahun kemudian ~
Daebak Software….

Ponsel Soo Ho berdering dan membangunkan Soo Ho yang sedang tertidur. Dengan mata yang masih tertutup Soo Ho pun mematikan ponselnya. Hmmm… sepertinya kantor Daebak Software sudah menjadi rumah untuk Soo Ho. Soo Ho membuka tirai cendela namun tirainya sudah pada rusak, tak ada satupun tirai yang terbuka dengan baik, semuanya miring. Soo Ho kemudian merapikan ruangan dan menyapu lantai. Merasa lelah, Soo Ho pun duduk, tapi ternyata kursi milik Daebak juga sudah rusak dan itu hampir membuat Soo Ho terjatuh.

Ketika Soo Ho mengosok gigi, Ryang Ha menelpon dan berkata kalau dia akan ke rumah Soo Ho. Soo Ho pun menjawab kalau sekarang dia berada di kantor. Mendengar itu, Ryang Ha mengeluh, karena Soo Ho lagi-lagi tidur di kantor, padahal dia sudah punya rumah sendiri. Hmmm… ternyata Soo Ho sudah punya rumah, kirain belum…. hehehhe

Soo Ho kemudian memakai kemeja dan mengenakan dasi. Dia berdandan seperti pekerja kantoran yang lain, bahkan Soo Ho juga membawa tas jinjing. Hmmm… kemana dia mau pergi?

Ternyata Soo Ho dan Ryang Ha pergi menemui investor yang mau berinvestasi pada project baru Soo Ho. Soo Ho menciptakan vaksin yang bisa menghancurkan virus apapun. Keluar dari ruangan, Ryang Ha mengeluh karena Soo Ho berjanji akan membuat video demo dengan waktu 3 minggu.

“Aku bisa melakukannya kalau kita melakukan pekerjaan dengan benar,” jawab Soo Ho.

“Tim pengembangan Zeze berusaha untuk menariknya, bagaimana kau akan melakukannya?” tanya Ryang Ha dan Soo Ho balik bertanya, dia bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan tim pengembangan Ze Ze.

Kita beralih ke kantor Daebak Software, dimana Tuan Ahn sedang sibuk mengerjakan sesuatu di komputer sedangkan Tuan Ahn sibuk makan. Soo Ho dan Ryang Ha datang. Soo Ho langsung pergi ke meja kerjanya dan Ryang Ha menghampiri Tuan Won yang masih fokus pada makanannya.

“Biaya makan siang kita adalah 7 dolar. Kau baru saja makan makanan seharga 20 dolar. Kau membayar tangsuyuk ini dengan kartu kredit perusahaan kan?” tanya Ryang Ha yang tak senang pada Tuan Won.

“Jangan pelit. Itu akan membuat semua keberuntunganmu lenyap. Bo Nui selalu bilang… Bahwa kita harus selalu dermawan dan memberi.”

“Tuan Won, mari kita jujur. Soo Ho seharusnya menanggapmu sebagai musuhnya selamanya. Apa kau akan terus memesan tangsuyuk… Setiap dua hari sekali?” tanya Ryang Ha kesal.

“Aku tidak mengerti. Kenapa kau marah padaku padahal Tuan Je tidak bilang apa-apa?” tanya Tuan Won bingung dengan sikap Ryang Ha.

“Itu karena aku pemegang saham utama di perusahaan ini! Apa kau tahu sudah berapa banyak uang yang aku keluarkan?” tanya Ryang Ha yang kemudian berkata kalau besok, Tuan Won tidak akan mendapat jatah makan siang dan Tuan Won tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya menghela nafas.

Tuan Ahn kemudian menghampiri Soo Ho dan bertanya apa pertemuan dengan investor berjalan dengan baik. Soo Ho menjawab kalau mereka memerlukan proposal untuk game terbaru. Sebuah game yang banyak diinginkan, namun susah di dapatkan.

“Sebuah proposal! Aigoo, aku harus mengatakan bahwa Bo Nui adalah orang terbaik untuk pekerjaan itu. Setiap kali dia melakukan presentasi untuk perusahaanku, Perusahaan lain… Sangat ingin merekrutnya. Tuan Je, kau juga seperti itu,” ucap Tuan Won dengan begitu semangatnya dan Soo Ho hanya tersenyum mendengarnya.

“Bagaimana kau bisa merubah moodmu secara tiba-tiba?” tanya Ryang ha dengan nada tak senang. Tuan Won pun menjawab kalau dia seperti itu karena dia harus bekerja. Tuan Won juga berharap Bo Nui kembali, Soo Ho sendiri hanya senyum-senyum saja mendengar nama Bo Nui di sebut.

Bo Nui sendiri sedang sibuk menjadi pekerja di sebuah panti jompo, dia membantu orang tua yang ada di sana menggunakan ponsel mereka. Berbeda dengan sebelumnya, Bo Nui terlihat ceria, dia bekerja dengan senang.

Selesai bekerja Bo Nui menemui Bo Ra yang saat ini sudah tak berbaring lagi di rumah sakit. Bo Ra sudah tinggal di rumah dan menggunakan kursi roda. Bo Ra juga diminta terus belajar oleh Bo Nui untuk mengejar ketinggalannya dan lulus ujian SMA, karena dia tahu, si Bo Ra lebih sering telponan dengan Gun Wook.

Bo Nui kemudian mengajak Bo Ra jalan-jalan, ketika Bo Nui mencari sesuatu di pinggir jalan. Bo Ra kembali bertanya apa Bo Nui baik-baik saja. “Melihatmu tersenyum membuatku sedih dengan alasan yang aneh,” ucap Bo Ra. Tak menjawab, Bo Nui langsung mengalihkan pembicaraan kalau sebentar lagi akan ada bintang jatuh, jadi mereka bisa membuat permohonan saat itu.

“Baiklah! Kuatkan dirimu. Kau harus melalui banyak hal untuk memenuhi permintaanku,” ucap Bo Ra.

“Shim Bo Ra. Tidak ada yang tidak bisa kulakukan untukmu,” jawab Bo Nui yakin.

Malamnya, Bo Nui melihat bintang sendirian. Dia begitu menikmati pemandangan langit, sampai-sampai dia teringat ketika Soo Ho memberinya kejutan di atap gedung apartemennya. Soo Ho sendiri, malam itu masih sibuk di depan komputernya. Dia kemudian melihat kaktus pemberian Bo Nui sejenak lalu kembali ke komputernya lagi.

Paginya, Bo Nui terlihat sangat bahagia dan Bo Ra bertanya apa Bo Nui merasa gugup. Bo Nui pun mengiyakan.

“Ini hari yang indah dan pakaianmu juga bagus. Semuanya sempurna, pergilah sekarang, dia pasti sudah menunggu,” ucap Bo Ra dan Bo Nui pun langsung berjalan pergi.

Kita kemudian diperlihatkan pada Soo Ho yang juga sudah bersiap-siap pergi. Soo Ho sudah berjalan pergi, tapi dia kembali lagi untuk mengambil bagpaper yang ada di meja kerjanya. Bo Nui dan Soo Ho melangkahkan kaki mereka dengan ekspresi bahagia. Hmmm… apakah mereka akan ketemuan? Tunggu jawabannya di episode 16 ya… episode terakhir…

TRUTH or DARE
(Katakan selamat tinggal dengan benar)

Saat Soo Ho berjalan pergi meninggalkan Bo Nui, ternyata Soo Ho menangis. Padahal di hadapan Bo Nui, Soo Ho sama sekali tak memperlihatkan ekspresi sedihnya.

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *