Home » Go Ara » Sinopsis Hwarang Episode 7 – 1

Sinopsis Hwarang Episode 7 – 1

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Hwarang Episode 7 – 1, bercerita tentang Maek Jong yang mengaku menyukai A Ro pada Sun Woo dan Sun Woo terlihat tak senang, namun dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia hanyalah kakak A Ro. Pada bagian ini juga, kita akan mengetahui kalau ternyata dulunya Ratu dan Tuan Ahn punya hubungan, tapi karena Ratu meninggalkan Tuan Ahn, jadi Tuan Ahn pun menikah dengan ibunya A Ro. Di tengah kebahagiaan Tuan Ahn dan keluarganya, Ratu muncul lagi dan meminta Tuan Ahn kembali padanya dan membawa dia keluar dari Silla, karena Ratu tidak mau dinikahkan dengan pamannya yang berumur lebih dari 60 tahun.

Sinopsis Hwarang Episode 6 || Part 1 || Part 2

Sinopsis Hwarang Episode 7 – 1

sumber gambar dan konten dari KBS 2

Dengan kesal karena A Ro selalu menyebut kakaknya, Mak Jong pun mencium A Ro. Merasa A Ro tidak memberontak, Mak Jong pun hendak menciumnya untuk kedua kalinya, namun A Ro membenturkan kepala mereka dan membuat Mak Jong kesakitan. Sun Woo datang dan A Ro langsung menarik Mak Jong untuk bersembunyi. Dia bahkan membekab mulut Mak Jong agar tak bersuara.

Sun Woo masuk dan tak menemukan A Ro disana, jadi diapun langsung keluar lagi. Merasa Sun Woo sudah pergi, A Ro pun langsung berlari ke ruang tabib karena mengira Sun Woo pergi ke sana. Tapi ternyata Sun Woo tidak ke ruang tabib, dia ada di balik pintu. Dia bersembunyi disana. Setelah A Ro pergi, Sun Woo keluar dan menemui Mak Jong.

Tak senang Mak Jong mendekati A Ro, Sun Woo pun langsung memukulnya. Sun Woo juga menyuruh Mak Jong untuk tidak mendekati, bertemu dan bicara dengan A Ro lagi. Namun Mak Jong tak bisa melakukan hal itu, dia bahkan mengaku pada Sun Woo kalau dia menyukai A Ro.

Sun Woo menemui A Ro di ruang tabib dan berkata kalau malam ini mereka istirahat saja, tak perlu belajar dulu. Dia juga mengaku kalau semuanya masih terasa baru baginya, jadi dia akan berusaha menjadi kakak yang baik bagi A Ro.

Mak Jong masih berada di ruangan tadi dan dia melihat kembali gambar tentang Raja yang A Ro jelaskan.

A Ro pulang dan Joo Ki mengantarnya karena Sun Woo yang memintanya. Padahal Joo Ki sudah memberitahu Sun Woo kalau A Ro adalah wanita yang kuat, namun Sun Woo tetap meminta dia untuk mengantarkan A Ro. Joo Ki kemudian bertanya apa Sun Woo benar-benar kakak A Ro, karena pada pertemuan pertama mereka, Sun Woo mengatakan pada Joo Ki kalau kalung itu adalah milik temannya.

Sun Woo berjalan sendiri dan bertemu dengan Wi Hwa yang sedang memancing di kolam. Wi Hwa mengingatkan Sun Woo kalau dia tak boleh berkeliaran sendiri malam-malam, dia harus berada di kamar bersama teman-temannya. Namun Sun Woo tak perduli dengan hal tersebut. Wi Hwa tahu kalau julukan Sun Woo adalah anjing-burung dan dia mengaku kalau dia menyukai Sun Woo, karena Sun Woo beranggapan semua orang adalah musuhnya. Sun Woo punya sikap tempramental yang membutakannya sehingga membuatnya bodoh.

“Orang sepertimu membuatku semangat mengajar,” ucap Wi Hwa dan tertawa senang.

Besoknya, ketika para hwarang yang lain lari pagi, Sun Woo dan semua teman sekamarnya di hukum mengangkat tandu Wi Hwa. Mereka dihukum karena tadi malam Sun Woo berkeliaran di luar kamar. Tahu kalau hukuman itu karena Sun Woo, Ban Ryu dan Soo Hoo langsung marah padanya. Mak Jong sendiri bergumam kalau Po Ah akan tertawa jika melihat dia mengangkat tandu seperti itu.

Selesai lari pagi, semua anggota Hwarang duduk sambil memandang matahari terbit. Wi Hwa lalu berkata kalau mereka semua harus menjadi seperti matahari yang selalu bersemangat setiap hari. Mereka juga harus membuang semua prasangka dan kesombongan, hingga mereka bisa seperti terlahir kembali.

Masih merasa kesal pada Sun Woo, Ban Ryu dan Soo Hoo memberikan cucian mereka pada Sun Woo. Tapi sikap Soo Ho jauh berbeda dari Ban Ryu yang kasar, Soo Ho terlihat perduli pada Sun Woo, dia bertanya kenapa Sun Woo berkeliaran di luar kamar. Mendapat pertanyaan itu, Sun Woo menghela nafas dan kemudian bertanya, “Kau punya adik kan?”

Mak Jong menemui A Ro di ruang tabib dan membahas tentang ciuman mereka semalam. A Ro yang tak merasakan apa-apa terhadap Mak Jong, menanggap kalau ciuman semalam seperti amukan anak-anak, karena Mak Jong mencium tanpa persetujuan A Ro. Selain itu, A Ro juga meminta agar mereka berdua menganggap kalau ciuman tadi malam tidak pernah terjadi. Tentu saja Mak Jong tak senang dengan pemikiran A Ro itu.

Mak Jong hendak mendekati A Ro dan A Ro mencegahnya dengan ancaman jarum akupuntur. Namun Mak Jong tak perduli, jadi A Ro pun langsung menancapkan jarum akupuntur yang dia ambil diam-diam. Menyadari hal itu, Mak Jong langsung terdiam.

“Kau tidak akan bisa bergerak untuk beberapa saat. Aku sungguh akan menancapkan jarumnya ke titik akupuntur, jadi jangan mendekatm,” ucap A Ro kesal dan langsung pergi.

A Ro kemudian menemui Soo Yeon di pagar dan meminta Soo Yeon meminjaminya 20 perak. Mendengar itu Soo Yeon terkejut, karena dia pikir A Ro tidak mau berhutang padanya. A Ro menjawab kalau dia punya hutang yang harus segera di bayar. Namun dia tak bisa memberitahu Soo Yeon pada siapa dia berhutang, A Ro hanya bilang kalau orang itu kasar, kejam dan menyusahkan.

“Aku tidak pernah ragu dalam hal apa pun selama ini, tapi kau selalu membuatku berhenti.” Kedengarannya, orang ini mencemaskanku, bukan?” tanya A Ro kemudian, dia ingin tahu pendapat Soo Yeon dan Soo yeon bertanya apa itu adalah orang yang sama yang meminjami A Ro perak. Dengan cepat A Ro menjawab bukan.

“Inilah alasannya kamu tidak boleh mempelajari cinta melalui teks. Dengar. Mencemaskan itu bagaikan saat pedagang garam takut hujan, pembuat penyumbat tidak takut hujan. Begitulah maksud mencemaskan. “Kamu selalu membuatku berhenti.” Bukankah mereka menganggap ini sebagai cinta?

Cinta?

Jadi, maksudmu pria itu mencemaskanmu gara-gara penagih utang itu rupanya. Aku cemburu. Sudah kusangka kamu akan mendapatkan sesuatu di sana. Tak bisa mengatakan kalau pria yang mengatakan itu adalah orang yang mengaku sebagai kakaknya, A Ro pun mengakhiri obrolan itu dan menyuruh Soo Yeon makan kue berasnya saja.

Di kamar, Sun Woo bertanya pada Soo Ho tentang cara memperlakukan adik perempuan dan Soo Ho menjawab kalau hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan menganggap adik perempuan mereka itu seorang wanita. Karena kasih sayang pada adik dan kakak akan tumbuh ketika mereka saling bertindak kasar. Kalau mereka melihat adik mereka dari jauh, mereka harus lari menghampirinya  dan memitingnya sampai sang adik menyerah. Saat mereka pulang ke rumah, mereka tak perlu melakukan apa-apa dan menyuruh adik mereka yang melakukannya. Mendengar itu, Sun Woo pun bertanya apa Soo Ho benar-benar akrab dengan adiknya.

“Adik-adik kita lebih kuat dari yang kita pikir. Serta, semua kakak bertanggung jawab melatih adik-adiknya menjadi lebih kuat. Kalau tidak, bagaimana dia bisa bertahan di dunia kejam ini saat kamu tidak bisa menjaga dia?” jelas Soo Ho dan kemudian meminta Sun Woo mengulangi apa yang sudah dia katakan. Namun Sun Woo masih belum mengingatnya dengan baik, jadi dia meminta Soo Ho untuk mengulangi.

A Ro tengah berada di dalam kebingungan, dia takut bertemu dengan Mak Jong dan juga khawatir Sun Woo tahu tentang apa yang terjadi semalam. Tapi kalau dia pergi dari rumah Hwarang, dia tak bisa membayar hutang-hutangnya.

Tiba-tiba Sun Woo muncul dan langsung memiting A Ro. Namun karena Sun Woo terlihat ragu melakukannya dan tak menyakiti A Ro sedikitpun, seperti yang Soo Ho ajarkan, A Ro pun jadi bingung dengan tingkahnya yang tiba-tiba seperti itu. Setelah memiting A Ro, Sun Woo langsung pergi dan bergumam kalau dia sudah melakukannya dengan sangat alami.

loading...

Ratu teringat kembali ketika dia melihat Mak Jong dan A Ro sedang bersama. Dia kemudian menanyakan tentang Tuan Ahn pada pelayannya dan pelayannya menjawab kalau Tuan Ahn baru sampai di istana. Mendengar itu, Ratu langsung menemui Tuan Ahn dan baru sampai di ruangan dimana Tuan Ahn menunggu, Ratu langsung jatuh pingsan.

Ratu sudah di baringkan di atas tempat tidur dan Tuan Ahn berniat menancapkan jarum akupuntur di bawah telinga Ratu, karena jika jarum akupuntur di tusukkan pada titik itu, maka Ratu akan mati dalam hitungan detik. Namun Tuan Ahn tak bisa melakukannya dan tepat disaat itu Ratu bangun.

Tahu kalau penyebab Ratu pingsan karena stres dan banyak pikran, jadi Tuan Ahn pun menusukkan jarum akupuntur di pergelangan tangan Ratu agar Ratu merasa tenang. Mendengar itu, Ratu pun jadi ingat pada masa lalunya.

Flashback!

Tuan Ahn menusukkan jarum akupunturnya di pergelangan tangan Ratu dan berkata kalau jarum itu akan membuatnya tenang. Ratu kemudian memohon pada Tuan Ahn untuk membawanya lari dari Silla, namun Tuan Ahn menolak karena dia sudah berkeluarga.

“Kamu sungguh akan meninggalkanku? Kamu akan membiarkanku begitu saja menikah dengan pamanku yang usianya lebih dari 60 tahun?” tanya Ratu.

“Kamulah yang meninggalkanku,” jawab Tuan Ahn dan hendak pergi, namun Ratu memegang tangannya.

“Kalau kamu melepas tangan ini, kamu akan menyesal. Kupastikan itu,” ancam Ratu dan Tuan Ahn tetap melepaskan tangan Ratu.

Flashback End!

“Bagaimana aku tahu kamu tidak akan membunuhku dengan jarum-jarum ini?” tanya Ratu dan Tuan Ahn langsung memeriksa mata Ratu lalu berkata  kalau Ratu sakit akibat sirkulasi darah yang mendadak buruk.

Tuan Ahn merapikan jarum-jarumnya dan menyuruh Ratu memanggil tabib istana, karena jarum itu harus di cabut setelah 15 menit.

“Dia mirip dengan ibunya. Putrimu bekerja sebagai tabib di Rumah Hwarang,” ucap Ratu dan Tuan Ahn langsung menoleh dengan ekspresi cemas.  “Kurasa cuma itu caranya agar bisa melihat wajah cemasmu.”

“Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya mengontrol semua yang ada di hidupku?” tanya Tuan Ahn.

“Haruskah aku mengontrol hidupmu?” tanya Ratu dan dalam hati Tuan Ahn berkata, “Itu sebabnya aku akan memikirkan cara agar bisa merenggut sesuatu darimu,” lalu pergi.

Di kamar, Sun Woo terus melihat bukunya. Yeo Wool menghampiri dan bertanya berapa banyak yang bisa Sun Woo pelajari. Tau kalau Sun Woo adalah kandidat pertama yang akan di keluarkan dari Hwarang, Yeo Wool pun menyarankan pada Sun Woo untuk tidak membuang-buang  tenaganya untuk belajar. Menurut Yeo Wool, selain BanRyu… Sun Woo adalah orang yang sulit bertahan di Hwarang.

“Jangan ikut campur. Aku tidak tertarik kepadamu,” ucap Sun Woo dan Yeo Wool merasa sedih karena di remehkan oleh Sun Woo.

Membahas tentang tugas mereka mengenai Raja dan air, Soo Ho pun bertanya-tanya dimana Raja sebenarnya. Mendengar pertanyaan itu, Maek Jong langsung sedikit melirik.  Ban Ryu kemudian menjawab kalau hal itu tidaklah penting, karena Raja tanpa wajah itu lemah dan tak bisa disebut Raja.

“Tidakkah orang-orang memberitahumu bahwa kamu seperti pohon? Kamu selalu kasar bagaikan pohon cemara,” ucap Soo Ho dengan nada tak senang pada Ban Ryu.

Maek Jong kemudian teringat pada A Ro yang menjabarkan tentang Raja yang diibaratkan dengan lukisan burung. Menurut A Ro, Ratu tidak mau turun takhta sampai Raja bisa menjadi kuat dan terbang sendiri. A Ro juga berkata kalau dia mengasihani burung muda itu.

Membahas wajah Raja, Sun Woo teringat pada Mak Moon yang berkata kalau dia melihat wajah Raja. Namun saat itu Sun Woo tidak mempercayainya.

Ujian tentang tema “Raja dan Air” pun di laksanakan. Hampir semua peserta membuat contekan, termasuk Soo Ho dan Han Sung. Han Sung kemudian bertanya bagaimana kalau Sun Woo kali ini tidak lulus, Soo Ho menjawab kalau dia akan kehilangan satu dari tiga kesempatannya dan itu berarti Sun Woo akan sulit bertahan di rumah Hwarang. Sun Woo sendiri sedang pusing menghafal tulisan.

Wi Hwa membuka ujian dengan mengatakan kalau mereka harus menulis mengenai Raja dan Air berdasarkan pendapat Tae Te Ching. Setelah itu mereka pun mulai menulis di kertas yang sudah disediakan. Hanya Maek Jong sendiri yang terlihat santai diantara yang lain dan Sun Woo hanya menulis beberapa kata dalam kertasnya.

Penasaran dengan ujian yang Sun Woo lakukan, A Ro pun diam-diam mengintip. Namun dia ketahuan oleh asisten Wi Hwa, jadi diapun langsung melarikan diri.

Waktunya memeriksa hasil dan baru sekali lihat Wi Hwa bisa tahu mana orang-orang yang menyalin kalimat dari buku Tae Te Ching dan mana yang tidak. Dari semuanya hanya jawaban dari Ban Ryu yang menurut Wi Hwa benar. Dia kemudian menanyakan tentang jawaban Maek Jong dan Sun Woo karena mereka mengumpulkan kertas kosong.

“Apa kalian berdua berencana gagal? Mungkinkah ini ide cemerlang kalian?” tanya Wi Hwa.

“Menurutku Lao Tzu tidak akan menjawab pertanyaan ini dengan tulisan. Filosofinya menentang tindakan pemaksaan,” jawab Maek Jong dan sedangkan Sun Woo menjawab kalau dia tidak bisa menulis apa yang dia inginkan, jadi dia ingin menyampaikan apa yang di pikirkan lewat lisan.

Wi Hwa kemudian bertanya siapa yang akan mengatakan jawabannya duluan. Keduanya ingin duluan, namun Sun Woo kalah cepat oleh Maek Jong.

“Hukum Silla adalah Sistem Tingkatan Tulang. Jalur air. Hukum adalah jalur air. Jadi, aliran alaminya ditentukan oleh alam. Tapi jalur air tidak ada di mana-mana. Sebagian tanah mengering saat yang lainnya dilimpahi air. Mengikuti jalur yang dibentuk oleh air mengalir. Ada harmoni dan kekuatan dari kekosongan yang tidak mengusik. Hukum raja dan jalur raja ada di sana,” jawab Maek Jong.

“Itu omong kosong. Kebangsawanan menggunakan rendah hati sebagai akarnya, dan ketinggian menggunakan kerendahan sebagai dasarnya. Itu bahkan lebih omong kosong,” timbal Sun Woo.

“Kamu berani menyebut “Tao Te Ching” sebagai omong kosong?” tanya Wi Hwa.

“Sebuah jalur air membuat air mengalir dari permukaan tinggi ke rendah. Lalu di manakah sesuatu yang berasal dari permukaan rendah menemukan jalurnya? Jalur yang membuat rendah menjadi tinggi. Bukan hanya jalur air yang mengalir dari tinggi ke rendah, tapi jalur yang kering dan tandus yang harus diberi air untuk membasahinya. Aku tidak bisa menemukan jawaban di buku “Tao Te Ching”. Tidak ada jalur yang dimulai sebagai jalur. Seseorang harus berjalan di atasnya agar itu menjadi jalur. Kita harus menghantam dan menghancurkan tanah yang keras serta membuat lubang agar air bisa mengalir melewatinya. Jika hukum mengabaikan tanah yang kering dan ada yang namanya jalur raja, maka raja seharusnya tidak menjadi raja,” jelas Sun Woo dengan berani dan Maek Jong sendiri sampai tercengang mendengarnya.

 

bersambung

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis hwarang episode 11
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *