Home » Go Ara » Sinopsis Hwarang Episode 3 – 2

Sinopsis Hwarang Episode 3 – 2

Sinopsis Hwarang Episode 3 – 2, bercerita tentang Moo Myung yang akhirnya menemukan pembunuh Mak Moon, namun dia tak bisa membalas dendam padanya, karena orang itu adalah penjaga Ratu yang punya prajurit. Disisi lain, Maek Jong menemui Wi Hwa dan mengatakan kalau dia ingin menjadi anggota Hwarang, namun keinginan Maek Jong itu di tolak, karena Maek Jong punya tujuan untuk menyingkirkan Ratu, sedangkan tujuan Wi Hwa adalah untuk mengubah Silla menjadi lebih baik.

Sinopsis Hwarang Episode 3 – 1

Sinopsis Hwarang Episode 3 – 2

sumber gambar dan konten dari KBS 2

A Ro kemudian pergi menemui Soo Yeon dan berkata kalau dia sangat berharap Moo Myung bukanlah kakaknya, tapi disisi lain, A Ro juga berharap kalau dia adalah kakaknya. Mendengar A Ro terus menyebut dirinya bodoh, Soo yeon pun bertanya apa A Ro sudah pernah bertemu dengan Moo Myung sebelumnya dan A Ro menjawab kalau Moo Myung ingat semuanya. Namun saat Soo Yeon bertanya apa itu? A Ro tak mau memberitahu, dia hanya membentur-benturkan kepalanya di meja.

Pria yang sebelumnya di kalahkan Moo Myung di tempat judi, langsung pergi ke rumah lama Moo Myung dan menemui Woo Reuk. Woo Reuk pun menjawab kalau Moo Myung sudah mati, namun pria itu bisa tahu kalau Woo Reuk sedang berbohong, karena dia tahu Moo Myung tidak akan mati semudah itu. walaupun Moo Myung mati, dia nanti akan menghidupkannya lagi dan menjualnya sebagai budak dengan harga yang tinggi. Pria itu kemudian berkata kalau Moo Myung sedang mencari pemilik kalung itu, jadi pria itu pun merasa kalau dia bisa menemukan Moo Myung sendiri.

A Ro sedang memberikan obat pada pasien ayahnya ketika Maek Jong datang menemuinya. A Ro pun terkejut melihat si mesum dari Okta datang ke rumahnya. Saat ditanya bagaimana Maek Jong bisa menemukan rumah A Ro, Maek Jong menjawab kalau dia datang untuk bertemu tabib, Maek Jong berpura-pura sakit.

“Kau tidak disini untuk tidur lagi… Kau bukan orang segila itu kan?” tanya A Ro.

“Bukankah orang-orang memikirkan hal seperti itu diam-diam?” tanya Maek Jong dan A Ro bertanya lagi apa tujuan Maek Jong datang. Maek Jong teringat lagi ketika A Ro ketakutan berada di tengah-tengah pertarungan Maek Jong dan Moo Myung dan dia kemudian berkata kalau dia merasa khawatir. Namun dia tak menjelaskan tentang kekhawatirannya itu pada A Ro.

“Jika kau tidak mengerti, anggap saja aku sedang tidak enak badan,” ucap Maek Jong dan diapun kemudian merebahkan badannya di dipan rumah A Ro. Maek Jong meminta A Ro untuk memberinya sesuatu yang panas dan pahit tapi baik bagi tubuh.

“Aku sibuk seperti ini karena besok…..adalah ulang tahun raja. Apa kau harus melakukan ini? Aku harus bekerja,” ucap A Ro.

“Kau membantu orang yang sakit dengan gratis….dan kau bekerja di tempat lain? Kau itu cukup bodoh. Dan raja itu hanya orang bodoh yang tidak bisa menunjukkan wajahnya. Kenapa juga dia butuh parade?” ucap Maek Jong.

“Sekarang kau ini sudah benar-benar jadi baj*ngan.. Sama seperti ini bukanlah dosa untuk jadi sakit…..dan tidak dosa karena jadi muda dan lemah. Bayangkan bagaimana perasaannya, tak mamapu melangkah maju,” jawab A Ro tentang Raja dan Maek Jong pun langsung berdiri lalu bertanya apa A Ro bisa memahami apa yang Raja rasakan karena tak bisa melangkah maju.

“Jika kau sudah pernah sakit, kau akan mengerti bagaimana rasanya. Semua orang pernah jadi muda dan lemah. Kenapa itu jadi sulit untuk mengerti bagaimana rasanya?” tanya A Ro dan kemudian pergi.

Di istana kedua fraksi terus berdebat karena keinginan Ratu yang ingin membuat Hwarang. Fraksi yang menentang Ratu menyatakan kalau Hwarang itu hanya modus bagi Ratu untuk menyandera anak-anak mereka.

“Mereka menolak untuk melepaskan…..kontrol mereka atas Silla. Ini karenamu, Silla jadi yang terlemah…..dan terkecil dari 3 kerajaan,” ucap Wi Hwa dan tepat disaat itu sang Ratu pun datang. Setelah Ratu datang Ho Kong berkata kalau mereka akan tetap menentang Hwarang sebelum hal itu mendapat persetujuan dari Raja. Ratu pun menjawab kalau Raja tak bisa memberikan persetujuan didepan umum.

“Tak ada dari kami yang akan mengirimkan anaknya ke Hwarang. Biarkan kami menunggu sampai  parade ulang tahunnya selesai diadakan. Ini adalah tahun dimana dia sudah jadi dewasa… ..jadi aku yakin dia akan datang. Kita tidak bisa mengadakan parade….dengan tandu yang kosong.  Itu aneh. Kenapa sesusah itu? Siapa tahu? Dia mungkin sudah disini,” ucap Young Sil.

Rapat kerajaan selesai dan Wi Hwa menemui Ratu untuk bertanya apa dia akan menghapis paradenya. Tentu saja Ratu menjawab tidak karena kalau sampai dia menghapus paradenya maka keluarga kerajaan akan kehilangan wibawanya. Ratu juga mengatakan kalau mereka harus berhasil membentuk Hwarang, karena dengan begitu mereka bisa mengatasi perpecahan dan peperangan di Silla. Ingin menjadikan Silla sebagai kerajaan yang kuat, Wi Hwa pun bertekad membentuk Hwarang, namun sebelum itu, dia meminta Ratu untuk memberi padanya wewenang penuh atas hal tersebut.

Setelah mendapatkan wewenang dari Ratu, Wi Hwa langsung pergi ke tempat Joo Ki dan menulis surat dengan menggunakan tangan kiri, agar tulisannya tak dikenali. Wi Hwa sengaja membuat surat itu untuk memancing Soo Ho dan Ban Ryu berkelahi. Dengan bantuan anak buah Joo Ki, surat itu dikirimkan pada Ban Ryu dan Soo Ho. Surat itu berisi tantangan duel di Najeong. Walaupun itu tempat suci, keduanya sama-sama merasa tertantang untuk datang karena tak mau di panggil pengecut.

Young Shil dan anteknya melakukan rapat dan Young Shil menyarankan agar mereka tak datang saat parade besok, kalau Ratu masih mau melakukan parade dengan membawa tandu kosong.

Ratu Ji So sedang berpakaian dibantu oleh para dayangnya. Tak lama kemudian anak buahnya datang dan mengatakan kalau paradenya sudah siap dimulai. Ratu Ji So pun keluar dan dia terkejut melihat lapangan kosong, para mentri dari fraksi Young Shil, tidak ada yang datang dengan alasan sakit. Yang datang hanya para menteri yang mendukung Ratu. Ratu pun tahu kalau keabsenan Young Shil cs pada parade karena mereka menolak pembentukan Hwarang.

“Hanya ada satu cara untuk melenyapkan…..orang-orang sombong itu dan itu adalah…Hwarang,” ucap Ratu dengan nada tak senang.

Parade dimulai dan Ratu berkeliling dengan tandu raja yang kosong. Pemilik toko minuman ikut menonton dan dia merasa senang ketika Raja kembali tak muncul tahun ini, karena dengan begitu dia bebas menjual minuman.

Maek Jong dan Pa Oh ikut menonton parade. Pa Oh mengajak Maek Jong pergi karena terlalu banyak orang di tempat itu. Maek Jong pun tak mempermasalahkannya karena tidak akan ada yang tahu kalau Rajanya jalan-jalan disaat ulang tahunnya sendiri.

“Jadi muda dan lemah itu bukan dosa. Tapi sudah tidak lagi,” ucap Maek Jong.

Moo Myung bersiap pergi dengan membawa pedangnya. Dia berkata pada Ahn Ji kalau dia harus pergi untuk menemui seseorang yang harus dia temui. Ahn Ji pun mengizinkannya pergi dengan catatan jangan pulang terlambat. Khawatir pada Moo Myung, Ahn Ji pun diam-diam mengikutinya. Karena jalanan penuh, Moo Myung pun jadi ikut bergabung dengan barisan orang-orang melihat parade.

Ban Ryu CS hendak melintasi jalan, namun di larang oleh prajurit karena jalan itu sekarang akan di gunakan untuk parade Ratu. Saat hendak menyingkir dari jalan, Ban Ryu kembali bertemu dengan rombongan Soo Ho. Tak punya pilihan lain, Ban Ryu pun terpaksa berdiri di samping Soo Ho dan ikut melihat parade Ratu.

Soo Ho kemudian mengatakan pada Ban Ryu untuk datang nanti malam, kalau tidak dia akan mati. Tentu saja Ban Ryu menjawab kalau dia tak akan kabur.

“Bagaimanapun….kau pasti sangat senang bisa melihat ratumu tercinta,” sindir Soo Ho.


loading...

“Ini itu loyalitas tanpa memandang jenis kelamin! Pemberontak sepertimu takkan pernah mengerti,” jawab Soo Ho dan Ban Ryu menebak kalau Soo Ho pasti belum pernah melihat Ratu. Untuk hal itu, Soo Ho tak bisa menjawabnya, karena dia memang belum pernah bertemu dengan Ratu sekalipun.

Saat parade Ratu melintasi tempat Ban Ryu dan Soo Ho berdiri, pelayan Ratu memberitahu Ratu kalau pemuda yang ada di pinggir jalan itu adalah anak dari Kim Seub dan anak angkat dari Young Shil. Berbeda dari yang lain, Soo Ho tak menunduk walau sudah ditegur oleh temannya. Soo Ho tak menundukkan kepala, dia memberanikan diri melihat wajah Ratu dan sepertinya Soo Ho sudah terhipnotis oleh kecantikan Ratu Jiso, karena dia terus melihat ke arah Ratu sampai Ratu benar-benar pergi dari pandangannya.

Wi Hwa sendiri lebih memilih untuk melihat ke arah lain dari pada melihat pemandangan parade si Ratu. Karena menurut Wi Hwa, parade tanpa raja dan Hwarang tanpa pemimpin, tidak akan bagus. Dia juga menyebut kalau ambisi seorang ibu tidak mengenal batasan, hingga membuat anaknya sendiri tak memiliki ruangan. Joo Ki yang tak mengerti dengan apa yang Wi Hwa bicarakan, memilih pergi, namun ketika dia hendak pergi, tiba-tiba Maek Jong muncul di depannya.

Joo Ki lalu memberitahu Wi Hwa tentang kedatangan Maek Jong dan Maek Jong sendiri mengaku datang untuk bertemu dengan Wi Hwa, karena dia ingin menjadi Hwarang. Saat ditanya nama, Maek Jong berkata kalau Wi Hwa bisa memanggilnya dengan nama Ji Dwi. Sedangkan saat ditanya dia anak siapa, Maek Jong tak bisa memberitahunya, dia hanya berkata kalau keluarganya cukup berantakan.

“Namamu palsu dan keluargamu berantakan. Kau tidak bisa menunjukan identitasmu…dan kau ingin jadi Hwarang,” ucap Maek Jong.

“Sebenarnya.. aku sedang belajar di Barat….jadi aku tidak tahu apa-apa disini. Kudengar kau sedang mengumpulkan pemuda.  Aku harus bergabung….untuk bertahan hidup setidaknya sampai koneksinya dibuat. Maafkan aku bicara informal. Mereka tidak memiliki rasa hormat luar sana,” jawab Maek Jong.

“Kau menggunakan Hwarang untuk membuat konkeksi.”

“Kenapa? Apa itu tidak boleh?”

“Katakan padaku yang sebenarnya…..atau enyahlah.”

“Kebenarannya? Kau mau yang sepenuhnya benar… ..atau setengah benar?

“Biarkan aku dengar yang setengah benar. Apa “setengah kebenaranmu” kau ingin jadi Hwarang?” tanya Wi Hwa dan Maek Jong menjawab kalau dia ingin menyeret turun Ratu dari parade yang mencolok itu.

Kita beralih pada Moo Myung yang akhirnya menemukan pembunuh Mak Moon. Dia adalah pengawal Ratu dan saat melihatnya Moo Myung begitu marah. Dari seberang jalan Ahn Ji bisa melihat kemarahan Moo Myung. Tak bisa membendung kemarahannya, Moo Myung langsung berusaha menyerang penjaga Ratu. Tapi karena dia kalah jumlah, Moo Myung pun dengan cepat di lumpuhkan.

Melihat keributan yang terjadi di depannya, Ratu turun dan bertanya siapa Moo Myung? Namun Moo Myung tak menjawab. Karena kediaman Moo Myung itu, Ratu pun menyuruh penjaganya untuk membunuh Moo Myung.

Melihat Moo Myung hendak dibunuh di depan umum, Ahn Ji langsung berteriak memanggil Ratu dan kemudian berlutut padanya. Melihat Ahn Ji, Ratu terlihat kaget. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Ratu mengenal Ahn Ji?

Flashback!

Ratu mendatangi rumah Ahn Ji dan meminta Ahn Ji membawanya pergi. Dia meminta pada Ahn Ji untuk membiarkan dia untuk meninggalkan ibukota.

Flashback End!

Ahn Ji memberitahu Ratu kalau Moo Myung adalah putranya yang hilang sejak dia kecil. “Dia hidup menderita tanpa ayahnya….dan dia sudah melakukan dosa besar di hadapan anda. Tolong bunuh saya saja. Jika anda bilang kepadaku agar saya mati disini.. Saya bersedia,” ucap Ahn Ji.

“Kau selalu melakukan…..dosa berat terhadapku,” ucap Ratu dan langsung mengambil pedang pengawalnya lalu diarahkannya ke leher Ahn Ji. “Ya….seorang ayah dapat menerima hukuman anaknya,” ucap Ratu dan menekan pedangnya ke leher Ahn Ji sehingga membuat leher Ahn Ji berdarah.

“Apa yang kau lakukan? Aku tidak melakukan apapun untuknya. Bunuh aku! Bunuh aku!” teriak Moo Myung.

“Seorang ayah rela matiuntuk anaknya. Melihat apa yang terjadi kepada ayahmu… ..karenamu. Jika pedang memotongnya disini….dia akan mati,” ucap ratu dan kemudian dia mengayunkan pedangnya.

Semua orang membicarakan tentang apa yang terjadi di parade dan tak lama kemudian A Ro muncul. A Ro diberitahu oleh salah satu warga tentang apa yang terjadi dan orang itu menyebut nama Ahn Ji. Mendengar itu, tentu saja A Ro merasa khawatir dan langsung bertanya dimana mereka sekarang?

Hari sudah gelap dan sekarang Maek Jong sudah berada di tandunya. Dia disana sendirian dan teringat apa yang sudah Wi Hwa katakan padanya. Wi Hwa mengatakan kalau tujuan dia membuat Hwarang bukan untuk menghancurkan Silla, melainkan untuk mengubahnya. Jadi, karena keinginan dia dan Maek Jong berbeda, Wi Hwa pun tak bisa membiarkan Maek Jong masuk ke Hwarang.

“Dia tidak sedang mencoba menghancurkannya….tapi mengubahnya?” gumam Maek Jong dan tersenyum tipis.

Moo Myung sudah berada dalam penjara dan dia diikat rantai agar tak kabur. Dia teringat kembali apa yang terjadi tadi siang. Tak lama kemudian Ratu dan penjaganya datang. Ratu berkata kalau dia akan membunuh Adik dan Ayah Moo Myung dan Moo Myung memohon pada Ratu untuk tidak melakukan hal tersebut, karena dia tak mau adik dan ayahnya mati karena dirinya. Moo Myung bersedia mati agar Ratu tak membunuh mereka.

Ratu kemudian duduk dan mengangkat wajah Moo Myung, “Bocah… Kau kecil dan lemah. Yang lemah…..tidak bisa memilih…..mau mati ataupun hidup. Nasib ayah dan adikmu bergantung padamu. Pergi dan tunggulah,” ucap Ratu.

A Ro sudah berada di depan gerbang istana karena seseorang memberitahunya kalau ayah dan kakaknya di seret ke istana untuk dihukum. Kebetulan Maek Jong muncul dan melihat A Ro dari jauh. “Aku tak melihatnya hari ini….kenapa dia berdiri di hadapanku?” gumam Maek Jong.

Moo Myung keluar dan dia hanya sendirian. Saat Moo Myung berjalan mendekat, A Ro langsung bertanya keberadaan Ahn Ji, namun Moo Myung tak menjawab. Moo Myung hanya berjalan semakin mendekat dan mendekat pada A Ro lalu pingsan di pelukan A Ro. Tanpa A Ro sadari, Maek Jong melihatnya.

bersambung

 

loading...

Yang banyak dicari

  • Sinopsis drama hwarang
  • sinopsis hwarang the beautiful knight
  • sinopsis drama hwarang episode 3
  • Sinopsis drama korea hwarang episode 3
  • hwarang the beginning sinopsis 4
  • sinopsis hwarang episode 12
  • hwarang episode 3
  • sinopsis hwarang eps 7 bagian 2
  • Sinopsis hwarang episode 3 part 2
  • sinopsis hwarang episode 4

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *