Home » Go Ara » Sinopsis Hwarang Episode 3 – 1

Sinopsis Hwarang Episode 3 – 1

Sinopsis Hwarang Episode 3 – 1, bercerita tentang Maek Jong yang berhasil kabur dari Moo Myung. Untuk urusan Hwarang, A Ro berhasil mengumpulkan daftar pemuda tampan dan pintar yang ada di ibu kota, diantaranya ada Ban Ryu, Soo Ho, Yeo Wool dan Han Sung. Tak mau terjadi apa-apa pada Moo Myung, Ahn Ji pun mengangkatnya sebagai anak dengan memberinya identitas Sun Woo. Tentu saja A Ro tak percaya kalau Moo Myung adalah kakaknya, namun dia tak bisa membantah, karena Moo Myung mempunyai kalung milik kakaknya.

Sinopsis Hwarang Episode 2 || Part 1 || Part 2

Sinopsis Hwarang Episode 3 – 1

sumber gambar dan konten dari KBS 2

Moo Myung terus mencari keberadaan Maek Jong yang bersembunyi dibalik pintu-pintu. Dari balik pintu-pintu tersebut, Maek Jong berkata kalau ada pintu yang seharusnya takk pernah dibuka oleh orang seperti Moo Myung. Namun Moo Myung tak perduli, dia berteriak dan menyuruh Maek Jong keluar dari persembunyiannya.

Mendengar itu, Maek Jong langsung mengeluarkan pedangnya dan berkata, “Jika kau pergi sekarang…..aku akan mengampunimu.”

Moo Myung tak perduli, dia kemudian mengeluarkan pedangnya dan berkata kalau dia akan membunuh Maek Jong. Namun saat Moo Myung hendak mengarahkan pedangnya pada Maek Jong, A Ro muncul tepat didepannya dan berada di depan pedang yang Moo Myung hunuskan. Moo Myung terkejut dan bertanya siapa A Ro. Saking shocknya, A Ro tak bisa menjawab, hingga membuat Moo Myung terus mengarahkan pedangnya pada A Ro.

Melihat A Ro dalam bahaya, Maek Jong yang sebenarnya hendak pergi, jadi mengurungkan niatnya. Dia berusaha menyelamatkan A Ro dengan cara menyerang Moo Myung. Diserang terus oleh Maek Jong, Moo Myung pun melindungi A Ro agar dia tak terkena tebasan pedang.

Moo Myung dan Maek Jong kemudian bertarung, sedangkan A Ro langsung keluar dari rumah tersebut. Maek Jong berhasil membuat Moo Myung terjatuh dan itu dimanfaatkan Maek Jong untuk melarikan diri. Namun Moo Myung masih tak putus asa, dia terus berusaha menyerang Maek Jong. Hingga akhirnya dia sendiri yang terluka, dia terkena tebasan pedang dibagian lengannya. Maek Jong berhasil melarikan diri dan tanpa dia sadari gelangnya terlepas dan jatuh. Gelang itu ditemukan oleh Moo Myung.

A Ro sudah berada di luar rumah, namun dia tak bisa berjalan. Akibat saking shock-nya, kaki A Ro sampai lemas, jangankan untuk berjalan, untuk berdiri saja kaki A Ro tak bisa. Gerobak yang digunakan A Ro untuk bersembunyi pergi dan tepat disaat itu Moo Myung keluar. Reflek A Ro langsung menundukkan kepalanya, agar Moo Myung tak melihat dirinya. Setelah melihat Moo Myung sudah pergi, A Ro pun bernafas lega.

“Baj*ngan gila itu… Kenapa mereka adu pedang di siang bolong?” gerutu A Ro, tapi ketika diingat bagaimana Moo Myung melindunginya dari pedang, A Ro pun berpendapat kalau Moo Myung tidak terlihat seperti pembunuh.

A Ro kemudian teringat pada buku hariannya dan dia lega ketika melihat buku hariannya masih tersimpan dalam tasnya. Namun dia kebingungan karena dia harus menemui Joo Ki sekarang juga, tapi kakinya masih terasa lemas.

Moo Myung terus berlari ke sana kemari dengan membawa pedang tanpa sarung. Tentu saja hal itu membuat semua orang ketakutan, mereka takut terkena pedang Moo Myung.

Kemana Maek Jong? ternyatadia sudah bersama Pa Oh disebuah kedai. Pada Pa Oh, Maek Jong mengaku kalau dia kehilangan pedangnya, dia juga menceritakan tentang apa yang terjadi padanya barusan. Pa Oh pun meminta maaf karena dia tak bisa melindungi Maek Jong tadi, dia bahkan berkata kalau dia pantas mati untuk hal tersebut.

“Jika kau mati apa yang akan terjadi padaku? Jika ibuku takkan menyatakanku  sebagai raja….takkan ada orang yang tahu siapa aku,” ucap Maek Jong dan Pa Oh meminta Maek Jong untuk tidak menakut-nakutinya.

Tepat disaat itu ada salah satu pengunjung kedai berkata kalau alasan Raja tak pernah menampakkan wajahnya karena dia adalah seorang kasim dan orang paling bodoh sedunia. Jadi itulah kenapa Ratu selalu melakukan berbagai cara untuk mencegah Raja muncul di depan umum.

Mendengar itu Pa Oh terlihat kesal dan Maek Jong menyuruhnya untuk tidak melakukan apa-apa. Maek Jong bahkan berharap kalau dia adalah kasim yang bodoh. Diapun teringat pada pernyataan Ratu yang berkata kalau Ratu lah yang akan memutuskan kapan Maek Jong memperkenalkan dirinya di depan dunia. Jadi, sampai waktu itu tiba, Maek Jong harus tetap bersembunyi.

Maek Jong kemudian menyambungkannya dengan perkataan Moo Myung yang menyebut kalau kebiasaan Maek Jong adalah bersembunyi. Maek Jong takut menunjukkan wajahnya.

“Ya, itu benar. Bersembunyi tidak bisa jadi kebiasaan,” ucap Maek Jong.

Wi Hwa sudah bersama Joo Ki dan Wi Hwa hanya diam, dia berkata kalau dia sedang berkonsentrasi. Joo Ki kemudian berkata kalau orang yang membawa rincian pribadi para pemuda sedang dalam perjalanan ke tempatnya.

Orang yang Joo Ki tunggu akhirnya datang, tapi sebelum A Ro bicara, dia minum terlebih dahulu. Karena dia terlihat sangat kehausan. Setelah itu, A Ro memberikan buku hariannya, namun ketika Wi Hwa hendak melihatnya, A Ro langsung mencegahnya dan berkata kalau hanya dia saja yang bisa membaca tulisannya. Tapi sebelum A Ro menjelaskan, A Ro minta tambahan uang sebagai imbalannya. Wi Hwa dan Joo Ki pun menyanggupinya.

A Ro kemudian menggantung nama-nama di papan dan menjelaskan semuanya. “Ada tiga kekuatan di Silla. Biarkan aku menjelaskan ketiganya. Sederhananya saja, ada prianya ratu.. pria yang melawan ratu, dan negaranya. Sejak ada aturan Park Hyeokgeose, Keluarga Kim, Suk, dan Park… ..bergantian untuk bertakhta. Begitulah negeri ini diatur. Tidak akan salah jika dikatakan bahwa keturunan bangsawan…..punya cukup kekuatan yang sebanding dengan ratu,” jelas A Ro dan Wi Hwa berkata kalau dia tahu akan hal tersebut.

“Kalau begitu kami akan anggap kalau anda sudah tahu,” jawab A Ro yang menganggap kalau Wi Hwa tidak tahu apa-apa.

“Kubilang aku tahu!” jawab Wi Hwa dengan kesal dan saat A Ro melihat ke arah Joo Ki, Joo Ki malah menggelengkan kepalanya. Mereka berdua beranggapan kalau Wi Hwa tak tahu apa-apa.

“Sekarang….kau harus fokus. Beginilah. Pertama, orang yang netral. Jika kita harus memilih pria paling tampan di Silla, 9 dari 10 orang akan mengatakan nama ini. Tidak hanya perempuan yang terpesona, tetapi pria juga,” ucap A Ro dan kita diperlihatkan pada Yeo Wool. A Ro menambahkan kalau Yeo Wool sudah diberi kekuasaan, namun dia tak tertarik. Yeo Wool sendiri adalah tipe orang yang tak bisa diam, dia selalu bergerak seperti angin.

“Apa maksudmu angin?” tanya Wi Hwa.

“Ibunya adalah saudara dari raja sebelumnya. Dia adalah keturunan suci. Bagaimanapun, dia tidak tahu…..siapa ayahnya dari semua bangsawan,” jawab A Ro dan kita kemudian melihat Yeo Wool yang menanyai beberapa bangsawan, apa dia adalah ayahnya dan apakah dia boleh memanggilnya ayah.

“Setiap kali dia melakukan itu,..para bangsawan dari ibukota terkejut. Sekarang aku mau memberitahumu sesuatu yang penting,” jelas A Ro dan kemudian beralih untuk menjelaskan tentang pemuda yang lain.

Kita melihat Soo Ho yang sedang bertanding bola dengan kelompok Ban Ryu. “Apa kau mengatakan kalau kuda itu merajalela? Dia memang seperti kuda….tapi dia tidak pernah diikat sebelumnya. Mereka punya kekuatan dan bisa mendapatkan apapaun yang mereka minta. Mereka juga berbakat di berbagai bidang. Diantara mereka ada dua yang khusus,” jelas A Ro tentang Soo Ho dan Ban Ryu.

“Tuan Ban Ryu. Dia diadopsi oleh Tuan Park Young Shil….dan anak kandung dari Tuan Ho. Kau bisa mengatakan dia lahir dengan dua sendok perak,” jelas A Ro dan Wi Hwa tiba-tiba kentut.

Kita kemudian diperlihatkan Ban Ryu yang yang dikerumuni oleh para wanita, namun Ban Ryu tak menggubris mereka sama sekali. “Dia itu tampan dan berpengetahuan luas. Tetapi, dia itu dingin. Wanita selalu lebih tertarik kepada pria yang dingin,” jelas A Ro mengenai Ban Ryu.

Setelah Ban Ryu, A Ro kemudian menjelaskan tentang Soo Ho yang saat itu sedang bermain bola dengan Ban Ryu dan dengan sengaja Ban Ryu menendangnya. Tentu saja Soo Ho merasa kesal dan berusaha membalasnya. Soo Ho menangkap Ban Ryu dan mendudukinya. Berbeda dengan Ban Ryu yang selalu menggunakan otak, Soo Ho selalu menggunakan kekuatan fisiknya.

“Dia adalah anak dari Tuan Kim Seub…..yang ada di pihak ratu. Dia tinggi dan tampan. Tidak ada orang yang bisa dibandingkan…..keberanian dan kekuatannya di ibukota,” jelas A Ro dan kemudian menambahkan kalau Soo Ho juga terkenal genit dan playboy. Karena keplayboy-annya, Soo Ho sering mendapatkan tamparan dari para wanita yang merasa dibohongi.

“Berkat ayah mereka yang pejabat dengan reputasi tinggi,..mereka suka membentuk geng dan saling berkelahi. Mereka mirip dengan ayahnya,” tambah A Ro mengenai permusuhan antara Soo Ho dan Ban Ryu.

“Ada juga pria yang menjadi…..tidak menyadari sekitarnya begitu ia terfokus. Dia penasaran dengan berbagai benda  dan sering tersenyum. Kakaknya selalu mengawasinya,” jelas A Ro tentang pria muda selanjutnya.

“Tunggu, aku punya pertanyaan. kau bilang Tuan Han Sung dan Dan Sae itu kakak adik. Kenapa mereka berada di pihak yang berbeda?” tanya Wi Hwa.

“Itu karena mereka berasal dari tingkatan berbeda. Tentu saja mereka ada di pihak yang berbeda,” jawab A Ro dan maksud dari tingkatan berbeda adalah karena Han Sung dan Dan Sae lahir dari ibu yang berbeda. Ibu Dan Sae adalah seorang pelayan, jadi jika Han Sung adalah seorang bangsawan secara utuh, sedangkan Dan Sae adalah setengah bangsawan.


loading...

Soo Ho terlihat kesal karena dia kalah dalam pertandingan sepak bola dari Ban Ryu. Sebagai hukuman bagi yang kalah, Soo Ho di haruskan membayar minuman di Okto untuk  Ban Ryu dan kawan-kawan selama 2 minggu. Setelah rombongan Ban Ryu pergi, Soo Ho melampiaskan amarahnya pada teman-temannya.

“Aku bisa mengalahkannya di kompetisi pedang dan mengendarai kuda. Kenapa aku selalu kalah kalau sepak bola? Juga.. aku paling marah kalau kalah main sepak bola. Kenapa ya?” tanya Soo Ho kesal.

“Bukankah karena itu?” jawab teman Soo Ho dan menunjuk Ban Ryu cs yang disambut oleh para wanita. Melihat itu, Soo Ho langsung sakit leher karena stres.

“Dengan itu….kau akan tahu siapa pria paling terkenal di ibukota,” ucap A Ro dan kemudian berkata kalau ada satu pria yang belum dia teliti. Orang yang A Ro maksud adalah Maek Jong, tapi karena tak tahu bagaimana mencari tahu identitasnya, A Ro pun merasa kalau dia tak harus mengenal Maek Jong.

A Ro kemudian mengambil buku hariannya dan mempersilahkan Wi Hwa untuk bertanya kalau ada yang masih tak dia mengerti. Tapi A Ro menerapkan biaya tambahan jika ingin bertanya. Sebelum pergi, A Ro berkata pada Joo Ki kalau dia akan kembali lagi untuk mengambil sisa gajinya.

Setelah A Ro pergi, Joo Ki lalu membertahu Wi Hwa kalau A Ro adalah putri dari Kim Ahn Ji dan Wi Hwa sepertinya mengenal Ahn Ji.

A Ro pulang ke rumah dengan langkah ringan, namun langkahnya langsung terhenti dan dia pun lalu bersembunyi ketika dia melihat ada Moo Myung berdiri di depan rumahnya. A Ro merasa takut, karena dia mengira Moo Myung mengikuti dan hendak membunuhnya.

A Ro beranjak dari persembunyiannya dan dia tak melihat lagi ada Moo Myung di depan rumah. Kemana Moo Myung? ternyata Moo Myung sudah berdiri tepat di belakang A Ro dan tentu saja A Ro kaget melihat Moo Myung sudah berada di belakangnya. Moo Myung bertanya kenapa A Ro ada di tempat itu? dengan takut A Ro pun menjawab kalau dia tinggal di rumah yang Moo Myung datangi.

Moo Myung terkejut dan teringat ketika A Ro memperkenalkan dirinya, namun saat itu Moo Myung tidak melihat ke arah A Ro, jadi Moo Myung tidak tahu bagaimana wajah A Ro. Dengan nada pelan, Moo Myung bertanya apa A Ro adalah anak Ahn Ji? Namun A Ro tak langsung menjawab, dia lebih fokus pada baju yang Moo Myung kenakan. Itu adalah baju yang A Ro buat untuk kakaknya. Untuk memastikan kalau itu benar-benar baju yang dia buat, A Ro pun tanpa ragu langsung melihat bagian celananya dan Moo Myung sampai terjatuh dibuatnya. Setelah yakin kalau itu adalah baju yang dia buat, A Ro pun bertanya kenapa Moo Myung memakai baju itu? Tak bisa menjawab, Moo Myung berusaha pergi, namun A Ro langsung mendudukinya.

“Siapa kau? Darimana kau mendapatkan pakaian ini?” tanya A Ro dan tepat disaat itu Ahn Ji muncul.

Moo Myung sekarang sudah bersama Ahn Ji dan Ahn Ji memberitahunya kalau penduduk kota tahu ada petani masuk ibu kota maka dia akan dihukum, begitu juga dengan orang yang menyembunyikannya. Jadi agar Moo Myung tak ditangkap, Ahn Ji pun menyuruhnya untuk mengaku kalau namanya adalah Sun Woo. Selain itu, Ahn Ji juga menginginkan agar A Ro berpikir kalau Moo Myung adalah Sun Woo, kakaknya yang hilang. Diminta menjadi anak Ahn Ji dan kakaknya A Ro, Moo Myung langsung menolak dan mengembalikan tanda pengenal yang diberikan Ahn Ji sebelumnya.

Alasan Ahn Ji melakukan semua itu karena Moo Myung masih memerlukan pengobatan. Ahn Ji tahu kalau Moo Myung sering kehilangan kesadarannya dan selain itu Moo Myung juga masih cidera parah. Dia yakin kalau Moo Myung akan kembali pingsan sebelum matahari terbenam jika Moo Myung pergi sekarang . Jadi, Ahn Ji ingin Moo Myung tetap tinggal sampai dia benar-benar merasa baikkan.

“Ini bukan kehendaku. Ini pasti kehendak Sun Woo,” ungkap Ahn Ji dan Moo Myung terdiam mendengarnya.

Ahn Ji keluar dan A Ro langsung menanyainya, tentang siapa Moo Myung sebenarnya. Saat Ahn Ji memberitahu A Ro kalau Moo Myung adalah kakaknya, A Ro tak bisa percaya. Karena selama ini memang banyak yang datang dan mengaku sebagai kakaknya, namun mereka semua adalah pembohong. Apalagi yang A Ro tahu, Moo Myung adalah pria berbahaya.

Walaupun begitu, Ahn Ji tetap mengatakan kalau dia adalah kakak A Ro, sebagai buktinya Ahn Ji menunjukkan kalung milik Sun Woo dan A Ro langsung memasangkannya dengan kalung miliknya.

Dengan perasaan masih tak percaya, A Ro menemui Moo Myung dan ketika melihat A Ro, Moo Myung langsung teringat pada Mak Moon ketika dia menceritakan tentang adiknya. Karena Mak Moon begitu semangatnya ketika menceritakan tentang sang adik, Moo Myung pun bertanya apa Mak Moon sangat menyukai adiknya dan sambil tersenyum Mak Moon menjawab kalau dia sangat ingin bertemu dengan adiknya sebelum dia mati.

A Ro langsung melihat kaki Moo Myung dan dia tak menemukan bekas luka disana padahal saat kecil kakaknya tergelincir dan jatuh disungai. Masih ingin memastikan, A Ro memeriksa pundak Moo Myung dan disana juga tak ada bekas sengatan serangga, padahal kakaknya dulu menyentuh sarang lebah dan hampir meninggal karena sengatan lebah.

“Kenapa juga sengatan lebah…..masih membekas disini?” tanya Moo Myung.

“Bagaimana dengan luka yang lain?”

“Jika kau punya luka yang lebih besar diatasnya,..luka yang lama mungkin tidak terlihat,” ucap Moo Myung dan A Ro mengatakan kalau mata, hidung dan mulut mereka tidak ada yang mirip. Moo Myung hendak menghapus air mata A Ro, namun ditolak A Ro.

“Aku tak tahu kenapa aku menangis. Kami bahkan tidak tahu kau itu asli atu palsu. Kau mungkin tak tahu…..tapi seseorang pernah datang kesini sebelumnya dan mengaku kalau dia kakaku. Hanya karena kau memiliki kalung itu.. Aku takkan mempercayai kalau kau itu kakaku. Jadi…,” ucap A Ro dan Moo Myung lansung menariknya mendekat. Moo Myung melihat bekas luka yang ada di punggung A Ro.

“Kau masih memiliki… ..bekas lukanya,” ucap Moo Myung dan A Ro masih tak percaya padanya. Dia meminta Moo Myung untuk tidak bertingkah sebagai kakaknya. Moo Myung pun menawari A Ro untuk bertanya padanya jika A Ro penasaran pada masa kecilnya, karena Moo Myung masih bisa mengingat hal yang mungkin tidak A Ro ingat.

Malam harinya, A Ro terus berpikir dan mengingat-ingat mengenai kejadian tadi siang, dimana Moo Myung dan Maek Jong bertarung. Karena Moo Myung tahu dimana letak bekas lukanya, A Ro pun mulai bertanya-tanya apa Moo Myung benar-benar kakaknya.  A Ro kemudian merasa kalau wajah Moo Myung tak asing baginya, namun dia tak ingat pernah bertemu dengan Moo Myung dimana. Saat tak sengaja melempar sepatunya, A Ro pun akhirnya ingat kalau Moo Myung adalah pria yang dia temui saat dia mabuk.

Di kamar, Moo Myung teringat kembali pada pertarungannya dengan Maek Jong dan dia kemudian memakai gelang Maek Jong yang dia temukan. Moo Myung menghela nafas dan tiba-tiba bayangan Mak Moon muncul.

“Apa kau merasa bersalah? Aku bicara tentang tidur di kamarku. Apa kau merasa bersalah?” tanya Mak Moon.

“Ya.”

“Adikku cantik kan? Dia gadis yang baik.”

“Kelihatannya kau tidak begitu mengenalnya. Adikmu…..sangat aneh. Dia banyak menangis. Tapi…..dia cantik seperti yang kau katakan,” jawab Moo Myung dan Mak Moon mengingatkan Moo Myung kalau dia sudah janji akan melindungi A Ro, jadi Moo Myung harus menepatinya.

“Aku melihatmu sekarang….tapi kenapa aku sangat merindukanmu?” ucap Moo Myung sedih dan Mak Moon tersenyum padanya.

Paginya, A Ro masak untuk sarapan dan dia juga meyakinkan dirinya sendiri kalau Moo Myung tidak ingat pada kejadian dimana A Ro mabuk. Waktunya makan dan Moo Myung makan dengan lahap, sedangkan Ahn Ji terlihat tak punya nafsu makan. Ahn Ji pun kemudian meninggalkan keduanya dengan alasan tak enak badan.

Saat hanya berdua, A Ro terus melihat ke arah Moo Myung, sampai-sampai Moo Myung menyuruhnya untuk berhenti melihat. Mendengar itu A Ro langsung menyangkal dengan berkata kalau dia tak melihat Moo Myung, dia hanya ingin tahu apa Moo Myung tahu kalau A Ro punya kepribadian yang menjengkelkan.

“Aku penasaran jika kau tahu kau itu ceroboh. Kau mabuk hari itu….dan kebiasaan mabukmu itu cukup ekstrim,” jawab Moo Myung dan A Ro terdiam mendengarnya, karena ternyata Moo Myung masih ingat dengan pertemuan pertama mereka.

Bersambung

 

 

loading...

Yang banyak dicari

  • Sinopsis hwarang episode 3
  • sinopsis hwarang episode 5
  • sinopsis hwarang eps 3
  • hwarang the beginning sinopsis
  • drama korea hwarang
  • Hwarang sinopsis
  • sinopsis hwarang the beginning
  • sinopsis hwarang ep 11
  • sinopsis hwarang episode 10
  • sinopsis hwarang ep 12
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *