Home » Choi Minho » Sinopsis Hwarang Episode 1 – 1

Sinopsis Hwarang Episode 1 – 1

Sinopsis Hwarang Episode 1 – 1, bercerita tentang pemuda dari daerah terpencil yang pergi ke ibu kota untuk membantu sahabatnya mencari keluarganya. Pemuda itu punya julukan “Anjing-Burung” karena dia bisa melompat dengan tinggi. Dikerajaan, Raja hidup layaknya tak seperti Raja. Dia disembunyikan oleh Ratu Ji So yang begitu protektif padanya. Sang Ratu kemudian meminta Hwa Kong untuk mengumpulkan 5 pemuda tampan untuk melindungi Raja, jika Hwa Kong berhasil mendidik kelima pemuda itu menjadi pengawal Raja, maka Ratu Ji So akan mundur dari posisinya.

Sinopsis Hwarang Episode 1 – 1

sumber gambar dan konten dari KBS 2

Hwarang dibuka dengan sebuah narasi, “Sekitar 1,500 tahun yang lalu, selama 12 tahun pemerintahan Raja Jinheung, Silla adalah yang terkecil dan paling lemah… dari Tiga Kerajaan. Raja Muda Jinheung merasa hidupnya dalam bahaya… karena ketidakstabilan otoritas dalam negaranya. Karena itu, dia hidup dalam persembunyian. Ratu Ji So, Ibu suri, mengumpulkan pria tampan untuk masa depan Silla… dalam rangka untuk memperkuat kekuasaan kerajaan.”

Scene diawali oleh Moo Myung yang di hadang oleh 3 preman, dimana salah satunya berkata kalau dalam sebuah kota, tida bisa memiliki 2 pimpinan. Tak mau ambil pusing, Moo Myung pun menyuruh pria itu yang menjadi pimpinannya. Merasa tak percaya dengan apa yang Moo Myung katakan, pria itu pun kemudian bertanya apa yang sebenarnya Moo Myung rencanakan? dan Moo Myung menjawab kalau dia hanya tak mau membuat masalah, karena ayahnya bisa membunuhnya kalau dia terlibat dalam masalah lagi.

Moo Myung hendak pergi, namun salah satu preman itu masih belum puas kalau Moo Myung tidak melakukan perlawanan, jadi diapun berkata kalau ibu Moo Myung berkata untuk tidak memberi nama saat dia membuang Moo Myung. Dia juga menyuruh Moo Myung untuk hidup seperti orang mati dan berhenti mengganggu dirinya.

Mendengar ocehan si preman, Moo Myung berbalik lagi dan mengeluarkan dadunya. Setelah di lempar ke atas, dadu menunjukkan tulisan, “Memukul hidung.” Ketiga preman itu reflek memegangi hidung mereka ketika Moo Myung menyebutnya. Namun Moo Myung tiba-tiba merasa pusing dan melihat itu, salah satu preman menyuruh pimpinannya untuk langsung menghajar Moo Myung.

Si pimpinan berlari ke arah Moo Myung sambil mengayunkan tinjuannya, namun Moo Myung terlebih dahulu jatuh ke tanah dan pingsan sebelum mendapat pukulan dari si pimpinan. Melihat Moo Myung jatuh, si pimpinan mengira kalau dia sudah berhasil meninju Moo Myung sampai pingsan, tentu saja hal itu membuat si pimpinan dan kedua anak buahnya merasa senang.

Mak Moon muncul dan langsung menendang si pimpinan. Dia berusaha melindungi Moo Myung. Tapi apa yang terjadi beberapa menit kemudian, Mak Moon dikeroyok oleh tiga preman itu. Disaat Mak Moon sudah terjatuh ke tanah, Moo Myung sadarkan diri dan langsung berdiri. Melihat itu, Mak Moon mengeluh karena seharusnya, Moo Myung bangun lebih cepat, sebelum dia babak belur seperti itu.

“Apakah itu sakit?” tanya Moo Myung.

“Walaupun begitu, jangan membunuh mereka,” jawab Mak Moon dan mendengar itu, ketiga preman pun merasa ketakutan. Moo Myung kemudian menyuruh ketiga preman itu lari dan ketika mereka semua lari, Moo Myung dan Ma Moon pun mengejarnya.

Mereka semua terus berlari sampai ke hutan. Kaki Mak Moon terkilir, jadi dia tak meneruskan pengejarannya, sedangkan Moo Myung terus mengejar tiga preman. Tiga preman berhasil menyebrangi tebing dan saat Moo Myung hendak menyebrang juga, mereka langsung menyingkirkan jembatannya.

Mereka bertiga pun tertawa senang karena Moo Myung tak bisa menangkap mereka. Moo Myung berbalik dan salah satu preman kemudian bertanya apa julikan Moo Myung. Temannya menjawab kalau julukan Moo Myung adalah “Anjing-Burung” semua itu karena Moo Myung seperti anjing dan seperti burung. Mendengar nama julukannya disebut, Moo Myung langsung berbalik dan melompat ke tempat 3 preman itu berada. Moo Myung melompat seperti burung yang terbang.

Di kerajaan, Ratu Ji So ( Ibu dari Raja Jinheung ) sedang berpakaian dibantu oleh para dayang. Selesai berpakaian, Ratu Ji So kemudian menemui Wi Hwa Kong di pejara. Dia kemudian bertanya, bagaimana bisa teman dekat almarhum Raja bisa terkurung di dalam penjara. Hwa Kong menjawab kalau dia dan Raja tidak mengakhiri hal-hal dengan cara yang baik, dia sudah menjalin hubungan dengan salah satu selir Raja. Itulah sebabnya orang-orang menuduh Hwa Kong melakukan kesalahan.

Ratu Ji So pun beranggapan kalau Hwa Kong sangat mencintai Kerajaan Silla dan Hwa Kong berkata kalau kerajaan ini adalah negara dimana seorang ibu diusir oleh anaknya sendiri, dimana ibu tersebut sudah menghabiskan waktu 10 tahun sebagai ibu suri dan masih tidak bisa meninggalkan keserakahannya. Jadi dia sebenarnya tak menyukai Kerajaan Silla.

Ratu Ji So kemudian mengatakan maksud kedatangannya adalah untuk mengatakan rencananya pada Hwa Kong. Dia berencana mengumpulkan sebuah kelompok penjaga kerajaan yang akan melindungi Raja dengan nyawa mereka. Hwa Kong berkomentar kalau itu adalah ide yang bagus, karena semua prajurit sudah diambil semua oleh para pejabat sehingga membuat Raja tak ada lagi yang menjaganya. Ratu Ji So menambahkan kalau dia berniat merekrut anak-anak dari para pejabat dan dia ingin Hwa Kong yang melatih mereka semua, sebagai ganti ayah dan keluarga mereka agar mereka setia pada Raja dan Kerajaan Silla. Jika Hwa Kong mau melakukannya dan berhasil, maka Ratu Ji So bersedia mundur dari posisinya sebagai Ibu Ratu. Mendengar itu, Hwa Kong pun terlihat menyukainya.

Mak Moo berkata pada Moo Myung kalau dia ingin pergi ke ibukota mencari keluarganya dan dia juga ingin mengetahui identitas aslinya. Dia akan mencari mereka dengan menggunakan kalungnya sebagai petunjuk. Sebagai teman, Moo Myung pun akan membantu Mak Moon untuk masuk ke ibu kota. Dia tidak takut masuk ibukota walau ada aturan kalau rakyat rendahan tidak boleh masuk ibukota. Mendengar itu, Mak Moon berkomentar kalau Moo Myung sama sekali tak punya rasa takut.

“Hanya merekalah yang memiliki banyak ketakutan. Jika kamu tidak memiliki apapun, kamu tidak bisa memiliki rasa takut,” ucap Moo Myung yang kemudian teringat pada pajak yang harus dia bayar. Moo Myung pun langsung lari pulang.

Sampai rumah, Moo Myung mendapati rumahnya sepi dan Mak Moo berkata kalau sepertinya para penagih pajak tidak datang. Merasa aman, mereka pun langsung berjalan ke depan rumah untuk minum. Saat Moo Myung hendak minum, tiba-tiba muncul anak panah dan menancap tepat di tiang yang ada di dekat wajah Moo Myung. Menyadari kalau anak panah itu hampir mengenai wajahnya, Moo Myung pun berteriak kalau Woo Reuk karena dia hampir membunuh Moo Young. Tanpa rasa bersalah, Woo Reuk berkata kalau semua itu adalah nasib Moo Myung untuk mati di tempat itu dengan damai. Pria itu kemudian mengeluarkan anak panahnya lagi dan mengarahkannya pada Moo Myung. Sambil mengarahkan anak panahnya pada Moo Myung, dia bertanya apa Moo Ryung tidak pernah merasa penasaran kenapa ibunya membuang Moo Myung dirumah itu? semua itu karena tidak ada seorangpun yang akan menyambut Moo Myung di dunia ini dan itulah sebabnya Moo Myung tak punya nama.

“Kamu sudah mengatakan itu selama 10 tahun. Kumohon hentikan itu!” teriak Moo Myung karena Woo Reuk kembali menembakkan anak panagnya dan hampir mengenai wajah Moo Myung. “Apakah kamu mau saya mati?” teriak Moo Myung.

“Jika kamu tidak punya cukup uang untuk membayar pajak. Tetanggamu akan dipukul untuk itu,” ucap Woo Reuk dan Moo Myung tahu akan hal itu, tapi dia punya alasan melakukan semua itu. Namun Woo Reuk sudah tahu alasan Moo Myung, dia selalu menggunakan alasan kesehatan untuk menghindari pajak.

Woo Reuk kembali melepaskan panahnya dan anak panahnya tepat mengenai kening Moo Myung. Moo Myung pingsan, namun dia tak terluka karena anak panah yang Woo Reuk lepaskan, sengaja dibuat tak tajam.

Ratu Ji So mendapat surat dari Pa Oh yang mengatakan kalau mereka ( belum di ketahui siapa yang dimaksud ) akan melewati Gerbang Timur sekitar jam 2 pagi. Mendapat kabar itu, Ratu Ji So terlihat marah karena orang itu datang tanpa ijinnya. Ratu Ji So pun kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengawal orang itu secara diam-diam.

Orang yang dimaksud sudah sampai gerbang ibu kota dan dia datang dengan menggunakan masker. Pria bermasker itu kemudian melewati gerbang ibukota dan saat bertemu mata dengan orang suruhan Ratu Ji So, pria bermasker itu seperti memberi kode mata padanya. Setelah pria bermasker itu pergi, orang yang datang bersama suruhan Ratu bertanya apa pria tadi adalah “Yang Mulia” dan dia merasa senang bisa bertemu dengan “Yang Mulia” seperti itu. Pria itu mengaku kagum dengan kemuliaan dari “Yang Mulia.” Mendengar itu, orang suruhan Ratu Ji So langsung menebas pria itu.


loading...

Disisi lain benteng yang membatasi ibu kota dengan dunia luar, kita melihat Moo Myung dan Mak Moon sedang berusaha memanjat benteng. Sampai diatas benteng mereka berdua sama-sama shock ketika melihat banyak kepala yang di gantung disana. Karena Moo Myung sudah lebih dulu melihat kepala-kepala itu, jadi ketika Mak Moon melihatnya, Moo Myung langsung membekab mulut Mak Moon agar teriakannya tidak didengar siapapun dan membuat mereka dapat masalah. Mak Moon jadi takut melanjutkan perjalanan mereka ke ibu kota, dia takut mereka nanti akan berakhir seperti orang-orang yang kepalanya dipenggal seperti itu.

Agar Mak Moon berani masuk ibu kota, Moo Myung mengingatkan Mak Moon kalau Mak Moon harus menemukan keluarganya. Cara yang Moo Myung gunakan berhasil, Mak Moon tak lagi merasa takut dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.

Paginya, kedua sahabat ini kemudian mencuri pakaian orang yang sedang dijemur. Moo Myung juga mencuri topi jerami yang ada di rumah itu. Mereka melakukan semua itu, agar mereka terlihat sama dengan penduduk kota. Setelah mengenakan pakaian yang mereka curi, mereka berdua merasa begitu bangga karena mereka terlihat sama dengan penduduk kota lainnya.

Mak Moon lalu bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang dan Moo Myung menjawab kalau mereka harus menemukan keluarga Mak Moon dengan menggunakan kalungnya. Tepat disaat itu terdengar suara perut Mak Moon dan secara berlebih Moo Myung langsung berteriak histeris. Moo Myung merasa malu karena suara perut Mak Moon begitu keras, jadi dia pun langsung pergi meninggalkan Mak Moon dan Mak Moon mengejarnya.

A Ro membuat sebuah pertunjukan dengan bercerita sebuah kisah. Seperti terhipnotis, semua orang senang mendengarnya. Bahkan mereka merasa penasaran dengan cerita tang A Ro ceritakan. Diantara pendengar, kita melihat Sam Maek Jong menjadi salah satu pendengarnya. Yang membuat semua orang hanyut dalam cerita A Ro adalah cara berceritanya yang begitu meyakinkan.

Maek Jong ketiduran dan dengan setianya Pa Oh mengipasinya. Bangun-bangun, Maek Jong langsung melihat kebelakang dan kumpulan orang yang mendengar cerita A Ro sudah hilang, begitu juga A Ro-nya. LOL Maek Jong sampai ketiduran mendengar cerita A Ro.

Maek Jong kemudian bertanya pada seorang pelayan, tentang dimana dia bisa bertemu dengan A Ro?

Tak ada jawaban dari si pelayan, kita langsung dialihkan pada Moo Myung dan Mak Moon yang sekarang sudah berada di tempat judi. Pada salah satu orang yang berkunjung disana, Mak Moon bertanya apa dia bisa menemukan seseorang dengan petunjuk kalung? pria yang Mak Moon tanya, menyarankan agar Mak Moon pergi ke Dayiseo atau Okta, mungkin mengetahui sesuatu. Mendengar dua nama itu Mak Moon pun bertanya nama apa itu?

Orang yang sedang bermain judi mendengar percakapan Mak Moon dan dia menyadari kalau Mak Moon bukan penduduk asli ibukota. Tentu saja Mak Moon langsung membantahnya.

Permainan judi dimulai dan Moo Myung bisa mengetahui kalau pria yang curiga dengan Mak Moon tadi sudah bermain curang. Dia bekerja sama dengan si pengocok dadu, sehingga dia bisa menang terus dan mendapatkan semua harta benda orang yang datang, bahkan pria itu juga menerima taruhan leher. Kebetulan pria yang datang berjudi membawa anak perempuannya dan si penipu mengatakan kalau pria itu bisa menggunakan leher anaknya sebagai taruhan. Mendengar itu, Mak Moon langsung menarik anak perempuan itu agar tak digunakan sebagai taruhan.

“Saya akan bermain untukmu untuk taruhan itu,” ucap Moo Myung dan dia mempertaruhkan lehernya. Karena Moo Myung mempertaruhkan lehernya, maka dia juga meminta si penipu untuk mempertaruhkan lehernya. Si penipu pun menyanggupi tantangan Moo Myung.

Dadu di kocok dan dengan yakin Moo Myung menjawab lebih tinggi, jadi si penipu tak punya pilihan lain selain memilih lebih rendah. Ketika si pengocok dadu hendak melihat jumlah dadunya dan mengubah angka dadu agar Moo Myung kalah, Moo Myung dengan cepat menahan tabung dadunya agar tidak dibuka lebih dulu. Tentu saja hal itu membuat si penipu kalang kabut, karena ketahuan sudah menipu. Dia terus menahan tabung dadu agar tak dibuka oleh Moo Myung, karena dia takut kalah. Moo Myung sendiri tak takut mati, dia terus menantang si penipu untuk melihat angka dadunya. Dengan kesal si penipu langsung menjungkir balikkan meja dan hal itu langsung dimanfaatkan oleh Mak Moon untuk mengumumkan pada semua orang yang ada di sana kalau pria itu adalah seorang penipu.

Semua orang yang pernah dikalahkan oleh penipu itu langsung mengerubutinya dan Moo Myung langsung memberi kode pada Mak Moon untuk lari. Melihat Moo Myung dan Mak Moon kabur, si penipu langsung menyuruh anak buahnya untuk mengejar mereka. Agar tidak mudah tertangkap, Moo Myung mengajak Mak Moon berpisah dan mereka nanti bertemu di penginapan yang ada didekat gerbang istana.

Moo Myung terus berlari dan melompati orang-orang yang ada di pasar. Dia kemudian berhasil lolos dari pengejaran si penipu. Tentu saja hal itu membuat si penipu kesal dan menyuruh anak buahnya untuk terus mencari Moo Myung.

Hwa Kong pergi ke kedai teh Joo Ki dan ketika dia melihat Joo Ki, dia menyuruhnya mendekat. Dengan malas-malasan, Joo Ki menghampiri Hwa Kong. Pada Joo Ki, Hwa Kong berkata kalau dia sedang mencari pria muda dan tampan.

Joo Ki kemudian menjelaskan kalau kedainya itu selalu mengikuti semua tren terbaru dan nama kedainya adalah Dayiseo. Dayiseo menjual semua barang yang trend dan bagus, sehingga banyak kalangan yang berkumpul di tempat itu.

A Ro sudah berada di tempat penjualan arak dan dia meminta si pemilik tempat untuk membayar gajinya. Namun rasa kecewa dan marah yang harus A Ro rasakan, karena gaji 3 bulannya hanya diberi satu perak. Melihat A Ro terus protes, si majikan pun menyindirnya.

“Hanya karena saya memanggilmu “Nona”, apakah kamu pikir kamu adalah keluarga bangsawan? Bahkan jika ayahmu adalah golongan bangsawan yang paling tinggi, jika ibumu adalah seorang petani, kamu dan saya adalah sama. Berani sekali kamu datang kemari, pencuri?” ucap si majikan dan A Ro tak terima dikatai pencuri, jadi diapun meluapkan kekesalannya dengan cara meminum arak yang si majikan jual. A Ro menghabiskan arak satu kendi dan itu membuatnya mabuk berat. A Ro kemudian berkata kalau mulai sekarang dia akan mengambil gajinya dengan meminum arak milik majikan setiap hari.

A Ro jalan pulang dalam keadaan mabuk dan ketika dia melihat dua anak mencuri makanan, dia ikut mengejar mereka. Karena mabuk, A Ro lari dengan sempoyongan dan diapun tak sengaja menabrak Moo Myung. Untungnya langsung ditangkap Moo Myung, sehingga A Ro tak terjatuh. Namun Moo Myung hanya sejenak menahan A Ro, dia kemudian melepaskan A Ro begitu saja.

Saat terjatuh tadi, sepatu A Ro terlempar dan diapun meminta bantuan Moo MYung untuk mengambilkannya, namun Moo Myung tak mau, walau A Ro terus memegangi kaki Moo MYung dan memohon padanya. Moo Myung melihat seseorang berkuda dari ujung jalan, jadi diapun langsung menarik kakinya dan berjalan pergi.

A Ro yang tak tahu hal tersebut, masih berada di tengah jalan. Melihat itu Moo Myung langsung menolongnya dari pria berkuda. Kembali di tangkap Moo Myung, A Ro pun bisa melihat dengan jelas wajah tampan Moo Myung. A Ro bahkan mengatakan kalau Moo Myung sangat tampan. Merasa tak nyaman di bilang tampan seperti itu, Moo Myung pun kembali menjatuhkan A Ro ke tanah dan langsung pergi. Ditinggal begitu saja, A Ro pun mengoceh, karena Moo Myung tak mau mengambilkan sepatunya, padahal itu bukanlah permintaan yang sulit. Tepat disaat itu, seseorang melempar sepatu A Ro dan sepatunya mengenai kepala A Ro. Siapa yang melempar? ternyata orang itu adalah Moo Myung.

A Ro melanjutkan perjalanan pulang dan sesampainya di rumah, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di dipan yang penuh dengan obat-obatan herbal.

Bersambung

 

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis hwarang ep 3
  • sinopsis hwarang episode 1
  • sinopsis pinocchio
  • berbagi sinopsis
  • chief kim sinopsis
  • Sinopsis Hwarang : And The Beginning
  • Sipnosis Hwarang
  • novel film hwarang
  • sinopsis hwarang episode 14
  • DRAMA KOREA HWARANG TAMAT EPISODE BERAPA
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *