Home » Goblin » Sinopsis Goblin Episode 6 – 1

Sinopsis Goblin Episode 6 – 1

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sinopsis Goblin Episode 6 – 1, bercerita tentang Kim Shin yang sudah siap dicabut pedangnya, namun Eun Tak tidak mau melakukannya sebelum Kim Shin memenuhi keinginannya, sedangkan untuk keinginan apa yang Eun Tak mau, Kim Shin harus memikirkannya sendiri. Tentu saja hal itu membuat Kim Shin kesal. Sedangkan untuk kisah asmara Wang Yeo dan Sunny, Wang Yeo kembali menghadapi kebingungan karena Sunny meminta kartu namanya, sedangkan Wang Yeo tak punya hal seperti itu.

Sinopsis Goblin Episode 5 || Part 1 || Part 2

Sinopsis Goblin Episode 6 – 1

Sumber konten dan gambar dari tvN

Ketika melihat pelayan yang menyambut mereka, Kim Shin tiba-tiba mendapat gambaran tentang apa yang terjadi 10 tahun yang akan datang. Dia melihat Eun Tak yang sudah berusia 29 tahun sedang duduk di meja yang biasa mereka gunakan. Eun Tak berkata pada temannya di telpon kalau dia tidak tersesat berada di luar negeri, padahal itu kali pertamanya dia pergi keluar negeri. Setelah menutup telepon dari temannya, Eun Tak memanggil seorang pria yang dia panggil “Presdir”, namun kita tak diperlihatkan pada wajah pria tersebut.

Kim Shin sendiri  sudah berada di kursi yang ada di depannya. Dia terus melihat bayangan Eun Tak yang berusia 29 tahun. Padahal yang ada di depannya adalah Eun Tak yang masih berusia 19 tahun.

“Di usia 29 tahun, Kau masih saja bersinar. Tapi aku tidak… Berada di sisimu…. Kehidupan abadiku… Akan segera berakhir. Saat aku harus mati. Kau masih tetap disini. Kau sudah melupakanku…Dan kehidupanmu akan benar-benar sempurna…Selang kepergianku. Aku harus pergi. Agar kau bisa tersenyum. Ini keputusan yang harus aku ambil. Aku harus mengakhiri hidupku,” ucap Kim Shin dalam hati dan menganggap kalau 10 tahun yang akan datang dia sudah binasa dan Eun Tak tak tidak mengingat tentang dirinya.

“Pada akhirnya, Itulah keputusan yang harus aku ambil,” gumam Kim Shin dan kemudian dia hanya terdiam melihat ke arah Eun Tak. Eun Tak yang sedari tadi melihat daftar menu makanan, baru menyadari kalau Kim Shin terlihat aneh. Dia melihat Kim Shin terdiam dan menatap kearahnya.

Wang Yeo mengajak Duk Hwa untuk menemui Sunny, karena tak ada manusia normal yang jalan kaki ke Incheon, Duk Hwa pun mengajaknya naik mobil. Duk Hwa membawa mobil sport mewah.

Ternyata Sunny sengaja meminta Duk Hwa mengajak teman karena dia juga mengajak teman. Sunny mengajak SPG make up yang sebelumnya me-make-up-in dirinya. Sunny meminta Wang Yeo membawa teman agar dia bisa tahu siapa Wang Yeo sebenarnya. Tepat disaat itu, mereka melihat Wang Yeo dan Duk Hwa datang dengan mengendarai mobil mewah. Melihat kedua pria tampan itu, teman Sunny langsung berkata kalau wanita yang berkencan dengan mereka pasti wanita yang beruntung. Teman Sunny tidak tahu kalau pria-pria yang akan bertemu dengan mereka adalah pria yang dia lihat itu.

Eun Tak sudah berada di kamarnya, begitu juga dengan Kim Shin. Eun Tak kemudian mengetuk pintu kamar Kim Shin, namun Kim Shin tak keluar. Disaat Eun Tak hendak kembali ke kamarnya, Kim Shin keluar dan langsung menghampiri Eun Tak.

Dengan ekspresi wajah serius, Kim Shin meminta Eun Tak untuk mencabut pedangnya sekarang juga. Tentu saja Eun Tak bertanya kenapa, padahal tadi Kim Shin tak mau menemuinya. Kim Shin mengaku kalau dia ingin berhenti, dia ingin berhenti untuk berpikir kalau dia bisa memilih. Namun dia tak mau memberitahu Eun Tak tentang pilihan apa itu. Dengan alasan belum mengetahui semua tentang Kim Shin, Eun Tak pun enggan mematuhi permintaan Kim Shin.

“Kau pernah bilang padaku… Jika aku menemukan sesuatu soal dirimu. Pada akhirnya aku akan sangat membencimu. Hal itu adalah pedang… dan aku melihatnya. Aku tidak benci padamu tapi kau bilang aku bisa membencimu. Itu artinya ada cerita lain kan. Pedang itu… Kau bilang dihunuskan oleh orang yang tidak kau harapkan? Apa kau melakukan kesalahan….. Dan itu sebabnya catatan soal dirimu tidak ada? Jika kau sedang di hukum atau apalah, berarti sebuah kesalahan jika pedangnya di cabut. Apa ahjussi, mungkin… seorang pengkhianat… atau seperti itulah?” tanya Eun Tak dan Kim Shin langsung teringat pada masa lalunya dimana dia berusaha keras melawan musuhnya, namun setelah pulang malah di cap pengkhianat oleh sang Raja.

Setelah diperlihatkan pada Raja Kim Shin di masa lalu, kita kemudian diperlihatkan pada Wang Yeo dan Sunny. Hmmm… aku curiga Wang Yeo dan Kim Shin ada hubungan di masa lalu…. atau mungkin Wang Yeo adalah renkarnasi dari Raja.

Kim Shin membenarkan perkataan Eun Tak, dimana dia sibuk berusaha untuk hidup, jadi kehidupannya tidak tercatat dalam sejarah. Walau dia sudah berusaha sekuat tenaga, dia tetap mati secara tidak terhormat.

“Tidak akan ada harapan…. meskipun tidak dibolehkan mendekati Raja. Tapi aku tetap mendekatinya dan di setiap langkah yang aku ambil manusia yang tidak bersalah kehilangan nyawa mereka. Dosaku tidak terampuni…. Dan sekarang aku sedang dihukum. Pedang ini….sebagai hukumannya. Namun, meskipun ini sebuah hukuman. Bukankah 900 tahun sudah cukup?” tanya Kim Shin menceritakan bagaimana kisah pedang itu bisa menancap di badannya. Mendengar cerita itu, mata Eun Tak mulai berkaca-kaca.

“Tidak. Tidak mungkin itu hukumannya. Dewa tidak akan…. memberikan kelebihan seperti itu sebagai hukuman. Jika kau benar-benar orang yang jahat…. Jika kau benar-benar orang jahat. “Dia” hanya menciptakan goblin. “Dia” tidak mengharuskan kau bertemu…..pengantinmu untuk mencabut pedangnya,” ucap Eun Tak dan Kim Shin meneteskan air mata saat mendengarnya. Dengan lembut, Eun Tak mengusap air mata Kim Shin.

“Aku tidak tahu, seperti apa kau ini. Tapi kau sudah dicintai… dengan tulus, maksudku soal melakukan hal yang salah. Maksudmu seperti mencintai kekasih Raja…. dan dipenjara atau apalah. Maafkan Aku karena menyebutmu pengkhianat,” ucap Eun Tak menyimpulkan semuanya dan kemudian dia berkata kalau dia tak bisa mencabut pedang di tubuh Kim Shin. Rasa sedih yang Kim Shin rasakan pun langsung berubah jadi rasa kesal pada Eun Tak, karena disaat dia sudah siap mati, Eun Tak malah tak mau mencabut pedangnya. Eun Tak tidak mau mencabut pedang Kim Shin secara gratis, dia menyuruh Kim Shin untuk mengingat-ingat kembali apa keinginan Eun Tak dan mengabulkannya, baru setelah itu Eun Tak mau mencabut pedangnya. m

“Tunggu. Lalu, apa yang kau inginkan? Uang, rumah, permata, barang seperti itu?” tanya Kim Shin.

“Kau pikir itu saja?”

“Kalau begitu… Maksudmu sesuatu yang bisa aku lakukan jika kau membutuhkannya?”

“Apa? Cinta? Kau tidak ingin membeli rumah….. yang berisi permata dan uang serta dipenuhi cinta?” tanya Eun Tak dan Kim Shin kesal, diapun menyuruh Eun Tak berangkat kerja saja.

“Aku sudah bilang. Mungkin kau ini seorang pejuang tapi ingatanmu payah,” keluh Eun Tak dan berjalan pergi.

“Hei. Semua pekerjaan itu sama. Jangan meremehkan pekerjaanku!” teriak Kim Shin kesal.

Di kamar, Kim Shin bergumam kalau Eun Tak sudah merasa nyaman berada di sampingnya, karena itu dia tak mau mencabut pedangnya. Dia juga bertanya-tanya bagaimana bisa Eun Tak mengambil kesimpulan di tengah-tengah kesedihannya?

Kim Shin teringat ketika dia melihat bayangan Eun Tak yang berusia 29 tahun memanggil seseorang dengan panggilan, “Presdir.” Dia mengeluh kesal karena Eun Tak nanti akan bertemu pria lain, sedangkan dia sendiri akan mati.

Wang Yeo dan Duk Hwa sudah satu meja dengan Sunny dan temannya. Saat ditanya apa pekerjaannya, dengan sangat percaya diri Duk Hwa menjawab kalau dia adalah seorang pewaris perusahaan. Sedangkan Wang Yeo jadi bingung saat ditanya apa pekerjaannya, karena tak mungkin mengatakan kalau dia adalah malaikat pencabut nyawa, Wang Yeo pun menjawab kalau dia bekerja di sebuah perusahaan jasa.

Sunny ingat kalau dia belum tahu nama Wang Yeo, jadi diapun menanyakannya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Wang Yeo sudah mempersiapkan nama atas saran Eun Tak dan dia pun menggunakan nama Kim Woo Bin. LOL

Ingin memastikan semuanya, Sunny pun meminta kartu nama Wang Yeo. Disaat Wang Yeo mengucapkan alasannya tak membawa kartu nama, teman Sunny memberitahu Sunny kalau Yu Duk Hwa adalah pewaris Chunwoo Group. Karena Duk Hwa lebih jelas statusnya dari pada Wang Yeo, Sunny dan temannya pun langsung fokus pada Duk Hwa. Tentu saja hal itu membuat Wang Yeo kesal.

Dengan menggunakan kekuatan hipnotisnya, Wang Yeo membuat Duk Hwa dan teman Sunny pergi. Jadi hanya tinggal Sunny dan Wang Yeo saja yang ada di meja itu. Sebelum Sunny bertanya apa-apa, Wang Yeo langsung mensugestinya untuk melupakan apa yang baru saja Wang Yeo lakukan terhadap Duk Hwa dan teman Sunny.

Wang Yeo kemudian memberikan cincin yang mereka rebutkan di jembatan pada Sunny dan Sunny menerimanya dengan senang hati. Sunny kemudian meminta nomor telepon Duk Hwa pada Wang Yeo, awalnya Wang Yeo merasa tak suka, tapi karena Sunny menjelaskan kalau tujuan dia meminta nomor Duk Hwa untuk urusan pekerjaan, Wang Yeo pun mau memberikannya. Sunny mengaku kalau Chunwoo Group adalah majikannya, mereka adalah pemilik tanah dimana restorannya didirikan.

Wang Yeo hendak mencari nomor Duk Hwa di ponselnya, namun susah. Melihat itu, Sunny pun ingin membantu, tapi ketika dia mau mengambil ponsel dari tangan Wang Yeo, secara reflek Wang Yeo langsung menjatuhkan ponselnya. Sepertinya Wang Yeo tak mau Sunny menyentuhnya.

Di dalam ponsel Wang Yeo hanya ada kontak Duk Hwa, Goblin dan Pengantin Goblin. Melihat itu, Sunny pun tersenyum dan bertanya Goblin yang Wang Yeo kenal membuka usaha apa, karena Goblin yang dia kenal menjual kue beras. Wang Yeo menjawab kalau Goblin yang dia kenal punya karma yang buruk.

Sunny tertawa mendengar jawaban Wang Yeo dan kemudian menyebut kalau Wang Yeo benar-benar pria yang aneh. Di bilang aneh, Wang Yeo pun hanya terdiam.

Pulang ke rumah, Wang Yeo menemui Kim Shin yang sedang menenangkan dirinya dengan menegak beberapa obat. Berbeda dengan Kim Shin yang memilih minum obat, Wang Yeo memilih minum alkohol untuk menenangkan hatinya. Kedua pria ini kemudian sama-sama curhat, Wang Yeo mengaku kalau dia disebut sebagai pria aneh oleh Sunny dan Kim Shin mengaku kalau kata-kata yang dia ucapkan pada Eun Tak kembali dia dengar.

“Hukumannya sangat besar jika ikut campur kehidupan dan kematian manusia. Aku sudah tua tapi tidak bijaksana sesuai usiaku,” aku Kim Shin.

“Kau hanya sombong,” jawab Wang yeo.

“Setelah hidup selama ini. Seharusnya aku tahu apa yang tidak bisa aku katakan. Mungkin aku pantas mati.”

“Tidak ada kehidupan yang layak untuk mati.”

“Benarkah?” tanya Kim Shin.

“Tapi masalahnya, selalu ada pengecualian untuk segala sesuatu,” ralat Wang Yeo dan Kim Shin menanggapinya dengan tatapan sinis. “Aku pikir kau akan ketawa,” ucap Wang Yeo dan kemudian bertanya alasan Kim Shin minum obat, apa sudah terjadi sesuatu pada Eun Tak?

“Kami sedang bicara dan tiba-tiba saja, dia kasihan padaku dan menangis. Jadi aku tertarik. Dia menangis karena sedih tapi dia tidak akan mencabut pedangnya. Bukan hanya dia yang menangis,” cerita Kim Shin.

“Kau menangis? Di hadapan jiwa yang tersesat?” tanya Wang Yeo dan Kim Shin mengiyakan, karena dia tepat berada di depan Eun Tak. “Kau ini menyedihkan. Sekarang kau sudah tamat. Para gadis tidak menyukai pria yang bodoh, dungu, dan acuh tak acuh. Bagaimana kau bisa menangis di depan dia?” ejek Wang Yeo dan Kim Shin bertanya apa itu sebabnya Wang Yeo menangis didepan Sunny ketika dia pertama kali melihatnya. Mendapat pertanyaan itu, Wang Yeo hanya menghela nafas dan Kim Shin pun menyuruhnya untuk minum saja.

Wang Yeo kemudian menyuruh Kim Shin untuk cepat memutuskan antara membuat Eun Tak menyukai atau membenci Kim Shin. Melihat Kim Shin begitu terlihat depresi, Wang Yeo pun menyarankan agar Kim Shin pergi ke dokter, namun Kim Shin tak mau karena dokter tak bisa menyembuhkannya. Kim Shin mengaku sakit karena pedangnya.

Mendengar itu, Wang Yeo teringat ketika Kim Shin berkata kalau Dewa memberikan tugas yang hanya bisa Wang Yeo atasi, tapi sepertinya Dewa sudah menganggap Kim Shin begitu hebat, sehingga dia diberi tugas yang begitu berat.

loading...

“Karena kau sedih, kau ingin dipeluk?” ucap Wang Yeo dan kemudian merentangkan tangannya, agar Kim Shin bisa masuk dalam pelukannya. Melihat itu, Kim Shin langsung berdiri dan mengeluarkan pedangnya.

“Lupakan saja jika kau sangat membencinya. Ahhh, kau ini menggangguku saja, Hentikan!” ucap Wnag Yeo dan menghela nafas.

Di restoran, Sunny terus melihat cincin pemberian Wang Yeo dan dia juga memberitahu Eun Tak kalau pria yang bertemu dengannya di jembatan penyebrangan jalan lah yang memberikannya. Eun Tak ikut senang dan menanyakan kabarnya. Sunny menjawab kalau pria itu masih sangat tampan dan sangat aneh. Pria itu memang aneh, namun ketika Sunny melihat wajahnya, dia bisa lupa segalanya.

Melihat cincin Sunny, Eun Tak pun berkomentar kalau cincinnya terlihat seperti cincin tua. Mendengar itu, hantu tiba-tiba muncul dari bawah meja dan berkata ada Eun Tak kalau dia dulu juga punya cincin di jarinya. Si hantu mengaku kalau dia ingin balas dendam pada pria yang mengkhianatiinya itu.

“Ada urutannya bahkan di alam baka. Biarkan aku dulu,” ucap si hantu nenek yang kemudian mengeluhkan anaknya yang malang pada EUn Tak dan EUn Tak sendiri pura-pura tak mendengar keluhan para hantu, karena dia tak ingin di lihat sedang bicara sendiri oleh Sunny. Si hantu nenek meminta tolong pada Eun Tak untuk bertanya pada Goblin tentang angka lotre yang akan keluar minggu depan. Mereka semua meminta bantuan Eun Tak karena Eun Tak sudah membantu hantu berkaca mata.

“Akan menyenangkan jika kau tahu angka lotere yang keluar. Kau bisa mengatakan angkanya dan kau juga bisa beli loterenya,” ucap si hantu nenek dan Eun Tak terlihat tertarik pada hal itu.

Pulang kerja, Eun Tak langsung menemui Kim Shin dan memuji-mujinya. Diakhir pujiannya, Eun Tak bertanya lotre yang akan keluar minggu ini. Saat ditanya untuk apa Eun Tak mencari tahu tentang lotre, Eun Tak pun menjawab kalau dia tahu angkanya, dia pasti akan menyempatkan waktunya untuk mencabut pedang Kim Shin.

“Angkanya 40-14-15-18-22,” jawab Kim Shin dan Eun Tak pun tersenyum.

Keesokanharinya, Eun Tak langsung memberitahu si nenek hantu tentang angka lotre yang Kim Shin katakan. Setelah si nenek pergi, Kim Shin muncul di belakang Eun Tak dan membuat Eun Tak kaget. Ketika Kim Shin menyebut Eun Tak sudah menyebar rahasia, Eun Tak pun menjawab kalau si nenek berhak tahu, karena  semua itu untuk mengubah kehidupan anak-anaknya.

Eun Tak lalu berkata kalau dia mau ke perpustakaan untuk belajar. Tapi ternyata dia tak pergi ke perpustakaan, dia pergi ke minimarket untuk membeli lotre. Namun si penjaga minimarket tidak memperbolehkan Eun Tak membeli, karena menurut peraturan anak dibawah umur, tidak boleh membeli lotre.

Ingin mendapatkan uang dan membuktikan kata-kata Kim Shin benar, Eun Tak terus berusaha membeli lotre, bahkan dia mengajak si penjual toko untuk kerja sama dan hasil yang mereka dapatkan nanti bisa di bagi dua. Namun si penjual toko tidak percaya pada yang Eun Tak katakan, jadi dia tak mau menerima penawaran dari Eun Tak dan bahkan dia sampai mengusir Eun Tak dari minimarketnya. Di luar minimarket, Eun Tak masih terus memohon pada penjaga toko untuk percaya.

“Apakah ini perpustakaan?” tanya seseorang dan orang itu adalah Kim Shin. Eun Tak pun menjawab kalau dia hanya mampir sejenak ke minimarket untuk membeli susu. Namun Kim Shin tak bisa dibohongi, karena dia tahu Eun Tak tidak beli susu, dia beli lotre. Karena Kim Shin tahu segalanya, EUn Tak pun mengeluh kesal.

“Baiklah. Aku sedang berusaha keras,  tapi aku masih belum bisa membelinya. Senang!? Aku ingin tahu apa putra ahjumma itu membelinya,” aku Eun Tak.

“Pasti tidak bisa. Dia kerja semalaman dan tidak punya waktu untuk tidur,” jawab Kim Shin dan Eun Tak pun berkata kalau seharusnya mereka membuat anak si nenek tidur.

“Tahun yang buruk bagi ladang pertaniannya. Hujan hanya ada di Seoul,” ucap EUn Tak menyindir Kim Shin yang selalu membuat Seoul hujan.

“Aku tidak berwenang di semua hujannya dan kau harus menghargai kekuatan sang Pencipta.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak akan ada pemenang minggu ini jadi  simpan uangmu.”

“Lalu, apa maksudnya?”

“Mereka petani yang jujur dan baik. Mereka akan bermimpi aneh. Malaikat pelindung akan menuntun mereka,” jawab Kim Shin dan Eun Tak kemudian bertanya apa Kim Shin akan membuat anak-anak si nenek menang minggu depan? dan Kim Shin hanya menjawab iya dengan kedipan mata. Eun Tak pun senang dan menyebut Kim Shin keren.

“Lagipula kau tidak bisa membelinya minggu depan. Kenapa kau senang?” tanya Kim Shin.

“Bukan artinya aku tidak bisa beli selamanya. Usiaku 20, dua bulan lagi. Sabtu ada setiap minggunya dan aku suka malam minggu. Goblin… goblin. bank!!” ucap Eun Tak dan menembak Kim Shin dengan jari yang dibentuknya pistol.

“Jangan bicara denganku,” gumam Kim Shin dan kemudian membalikkan badannya.

Eun Tak kemudian melihat hasil lotre pemenang dan ternyata semua angkanya sama persis dengan angka yang disebut Kim Shin. Tepat disaat itu, si pemilik toko langsung terjatuh, sepertinya dia menyesal tidak mengikuti saran Eun Tak.

Eun Tak kemudian menemui si nenek dan mengatakan kalau Kim Shin akan membantu anak-anaknya minggu depan. Tentu saja si nenek senang dan sangat berterima kasih. Eun Tak lalu bertanya tentang gadis asrama yang sebelumnya dia bantu dan si nenek menjawab kalau berkat Eun Tak, gadis itu sudah diangkat ke akhirat, karena dia sudah menyelesaikan kepedihann hidupnya. Mendengar itu, Eun Tak pun bertanya apa si nenek juga akan pergi? Secara tidak langsung si nenek pun mengiyakan. Si nenek kemudian menyarankan pada Eun Tak untuk hidup bahagia dengan Goblin dan Eun Tak pun tersenyum.

Eun Tak sedang duduk sendirian sambil minum minuman ringan. Tak lama kemudian, Wang Yeo datang dengan membawa minuman susunya. Eun Tak kemudian bertanya pada Wang Yeo, “Apa aku bisa bertemu Maha Kuasa jika aku mati?” tanya Eun Tak dan kemudian mengaku kalau dia ingin memakinya.

“Goblin… malaikat pelindung yang kesepian. Mereka tidak memikirkan itu. Saat kita meninggalkan dunia ini, Ada seseorang yang menahannya disini. Tapi Aku tahu. Itu sebabnya… Aku berencana untuk mencabut pedangnya,” ucap Eun Tak yang menambahkan kalau Kim Shin akan menjadii malaikat pelindung yang bersinar setelah pedangnya di cabut dan Wang Yeo terkejut mendengarnya, karena selama ini dia tahu kalau Kim Shin sampai depresi memikirkan dirinya akan mati.

“Eun Tak. Bukan, jiwa yang tersesat. Kau bukan orang yang harus mengkhawatirkan orang lain. Begitu kau tidak berguna, kau bisa di tendang. Apa kau bisa menerimanya?” tanya Wang Yeo dan Eun Tak mengaku kalau sebenarnya dia juga tak pantas menerima semua ini.

“Hidup itu…singkat. Mereka datang dan pergi kau bisa hidup dalam mimpi buruk …meskipun kau tidak bermimpi,” ungkap Eun Tak yang mengingat kembali bagaimana bibinya menyiksa dia.

“Tapi, Aku bahagia sejak aku pindah kesini. Seperti, seolah-olah Aku mengintip surga. Itu sebabnya aku ingin membalas budi. Aku tidak tahu pasti apa maksudnya dengan dia bisa bersinar. Namun, kau selalu mendukungku untuk mencabut pedangnya. Itu artinya, hal yang baik bagi Goblin,” ucap Eun Tak dan Wang Yeo terlihat menyesal sudah berkata seperti itu. Hmmmm…. sepertinya si malaikat pencabut nyawa ini tidak terlalu bahagia kalau Kim Shin benar-benar mati.

Dengan menggunakan topi kebanggaannya, Wang Yeo menunggu seorang laki-laki buta yang sedang menyebrang jalan. Tanpa dia sadari, si nenek cantik lewat di belakangnya. Si nenek itu bisa melihat keberadaan Wang Yeo yang memakai topi.

Si nenek pergi ke rumah sakit bagian anak dan saat dia melewati seorang anak kecil, anak kecil itu menyapanya dengan sebutan “nenek”. Karena yang orang lain lihat, dia adalah seorang wanita cantik, jadi dia pun memberi isyarat pada anak kecil itu untuk diam. Hmm… anak itu bisa melihat wujud si nenek yang sebenarnya.

Si nenek menemui anak laki-laki yang sedang merasa kesakitan, sambil memegang kening si anak, dia berkata,”Jangan menderita lagi. Kau sudah sangat menderita. Ibumu mengkhawatirkanmu.”

Setelah mendapat kata-kata itu dari si nenek, anak laki-laki itupun tenang, dia tak merasa kesakitan lagi.

Wang Yeo bekerja dan dia menemui bermacam-macam tipe orang. Ada yang ingin dalam kehidupan selanjutnya jadi Kim Tae Hee, ada pasangan suami istri yang bertengkar karena si istri masih ingin mereka jadi pasangan di kehidupan selanjutnya dan suami tak mau lagi. Setelah semua itu, Wang Yeo kemudian mengurus pria buta yang sebelumnya dia tunggu di jalan. Pria itu terlihat malas ketika berjalan menuju akhirat, namun dia langsung bersemangat saat mendengar suara si Happy, anjing kesayangannya yang memang sudah mati lebih dulu darinya. Wang Yeo berkata kalau si Happy merasa menyesal sudah meninggalkan pria itu sendirian, jadi si Happy memutuskan untuk menunggu pria itu datang. Anjing dan majikan itupun pergi bersama.

Wang Yeo pergi ke jembatan penyebrangan dan dia menemukan sebuah kartu nama. Melihat kartu nama itu, Wang Yeo tambah galau, karena dia sendiri tak punya kartu nama. Tepat disaat itu, Wang Yeo mendengar suara langkah kaki dan Wang Yeo bisa dengan cepat menebak kalau langkah kaki itu adalah langkah kaki Sunny.

Melihat Sunny datang, Wang yeo pun panik dan dia langsung memakai topinya, agar Sunnyy tak bisa melihatnya. Sunny kemudian berhenti tepat di depan Wang Yeo dan dia kemudan mendumel karena Wang Yeo tak mengangkat telepon darinya.

“Kenapa dia tidak mengangkat telponnya? Aku tidak bisa bertemu ataupun bicara dengannya di telpon Dia itu siapa?” tanya Sunny kesal dan dalam hati Wang Yeo menjawab kalau dia adalah malaikat pencabut nyawa dan dia melakukan tugasnya sesuai perintah.

“Meskipun orang yang aku percaya adalah Sun Hee…. itu hanya Sunny bagi orang lain, sambung Wang Yeo dalam hati.

“Apa aku bunuh saja dia? Aku sangat kesal. Dia melukai harga diriku. Apa seperti ini cara dia membuatku terobsesi dengannya? Dia membuatku marah. Tunggu saja sampai aku menemuimu,” ucap Sunny kesal dan menelpon nomor Wang Yeo. Sunny langsung terlihat kaget ketika mendengar suara dering ponsel ketika dia mencoba menelpon Wang Yeo. Wang Yeo sendiri tak menyadarinya, karena dia fokus melihat cincin yang Sunny pakai. Ketika Wang Yeo menyadari suara ponselnya, diapun langsung mematikannya.

Merasa kesal, Sunny pun hampir terjatuh, namun dia tak sampai terjatuh ke tanah, dia terbang. Apa yang terjadi? ternyata Wang Yeo ada dibawah Sunny, dia menahan tubuh Sunny agar tak terjatuh. Namun apa yang Wang Yeo lakukan, malah membuat Sunny takut dan Sunny pun langsung ngacir pergi.

Sunny masuk restorannya dengan tergesa-gesa dan setelah dia merasa tenang, dia langsung bertanya pada Eun Tak, apa Eun Tak percaya dengan yang namanya hantu. Mendapat pertanyaan itu, Eun Tak langsung melihat pada dua hantu yang selalu mengikutinya. Tak mau membuat Sunny curiga, Eun Tak pun mengaku kalau dia tak percaya dengan yang namanya hantu.

“Memangnya kenapa?” tanya EUn Tak dan Sunny menjawab kalau dia hanya merasakan sedikit keanehan. Sunny kemudian menyuruh Eun Tak untuk tidak masuk kerja sementara waktu dan fokus pada ujiannya, karena Eun Tak harus mendapat nilai 100.

“Jika aku dapat nilai 100, aku tidak bisa kuliah,” jawab Eun Tak.

“Benarkah? Kalau begitu jangan dijawab semuanya. Yang paling susah dijawab,” pesan Sunny dan Eun Tak mengiyakan.

bersambung

 

 

loading...

Yang banyak dicari

  • sinopsis goblin ep 6
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *